Puisi-Puisi Mawar

Penantian Yang Sia-Sia

Lama aku coba untuk bersabar
Agar kau bisa berubah
Lama aku coba untuk mengerti
Tapi pengertianku kau pecundangi

Terlalu sering kata sumpah kau ucapkan
Untuk menghibur hatiku yang terluka
Tapi apa balasanmu
Kau kembali dan kembali
Menghancurkan semua impian dan harapanku
Akhirnya aku sadari cinta ini harus berakhir


Janji Suci

Mahligai cinta ini
Hati ini telah hancur
Peri....sakit...Oh, luka itu tersayat kembali

Janji suci yang kau ucapkan
Di altar yang suci itu
Telah kau khianati
Adakah kau tahu
Hari itu engkau berjanji dengan Jesus bukan denganku

Jika ada mawar lain menghampiri mahligai cinta kita
Aku menatap wajah Yesus yang tersalib
Terima kasih Tuhan
Aku boleh merasakan salib ini

Tersungkur aku di bawah salibNya
Dengan bersimbah air mata, sembari memohon
Bolehkah aku putuskan janji suci di altarMu itu
Agar luka lara di hatiku berakhir

Karena cintaku tak lagi indah
Kasih tak lagi mewarnai cinta
Jika ia menetaskan amarah dan dendam




Puisi-Puisi Cici

Penantian

Waktu bergulir begitu cepat
Kita melihat dua sisi tersembunyi yang semakin jelas terlihat
Antara 'ya' dan 'tidak'
Antara senyuman dan tangisan
Dua pilihan yang salah satunya akan terjadi dalam sekali waktu

Di tiap tetesan tinta ada banyak belukar
Yang membuat kita susah untuk dilalui
Namun tak ada jalan lain selain itu


Kenangan

Berhias lembut salju di hatinya menangkap sinaran hangat di wajahnya
Menatap binaran matanya tanpa kebimbangan
Semakin lama di sana semakin ia jauh dalam hatinya

Senandung rindu dikibaskan dengan semua harapan
Walau tak dapat disangka kilauan wajahnya hingga tak terlihat
Kenyataan menanjak gunung harapan baru dalam dirinya
Walau mungkin tak ada yang tahu ucapan maksud tersembunyi yang membekas Dalam putih batu hatimu yang dalam
Di dasar sana kini hanya terlintas kenangan
Membekas tanpa tanda, tertinggal tanpa tapak

Apa makna dari semua ini
Hingga tak dapat kurasakan getaran sesaat jiwanya dalam tubuhku?


Alamku

Gemerlap gemerlip mentari
Dedaunan bergoyang bebas
Kadang diam tersipu malu dengan pantulan cahaya biru
Dedaunan tetap kokoh berdiri menutupi panas mentari yang memaparkan kesejukannya
Merangkai jutaan warna, menyinari dinginnya hari

Tersenyum kekuningan pun ada, hanya pasrah menanti aliran kasih
Jalinan kasih tak sempurna tak seperti harapan
Adakah yang bersahabat melalui aliran kasih itu


Pos Kupang Minggu 20 Desember 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda