Puisi-puisi Santisima Gama

Setahun Menjerit
(Mengenang Kematian Romo Faustin, Pr.)

Dibalut dinginnya kabur malam
Kami datang untukmu
Tapi senyum ramah itu
T'lah lenyap dibalik nisan
Ragamu tidur dalam peti misteri
Kau pergi membawa cerita kalbu

Kini setahun tak terasa
S'gala jalan kami tempuh
Demi sebuah kebenaran
Namun sia-sia saja
Masih ada bayangan samara
Bersembunyi di balik tirai

Faustin, saudaraku...
Kami terus menjerit
Angin akan selalu berhembus
Kelak tirai itu pasti tersibak
Meski hak hidupmu dieksekusi
Bagai kisah gembala mati ditangan domba

Faustin, tataplah ibumu
Dia begitu pasrah dalam tangisan
Hanya memandang potret bisu
Diatas pusara berlapis keramik merah
Yah...merah itu darahmu yang tercabik
Oleh jahanam yang buta nilai kemanusiaan


Puisi Bumi Bicara
Kulitku makin keriput
Wajah kusam pertanda tua
Usiaku berabad-abad mulai letih
Berat bebanku memikul dosa


Aku muak pada manusia
Yang serakah pada alam
Tak pernah puas mencicipi
Sikaya mengejar harta
Si miskin hanya menganga

Kukirim SMS kepada sang Pencipta:
"Tuhan, beri mereka pelajaran sejarah
Agar semua makhluk di perutku sadar
Mereka hanya pengembara hampa
Semua kekayaan adalah milik-Mu
Nikmati bersama tanpa ada mahkota Raja"

Pos Kupang Minggu 29 November 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda