Puisi-puisi Vicktor Feka

Hidup dan Kehidupan

Tatkala dunia membenci
tataplah pada kata
kata hati
nyanyian jiwa

Tatkala syahdu nyanyian rindu
menggelantun penuh tawa
canda nan tenggelam
lalu hinggap di dahan
antara cinta dan bahasa

aku termangu...
sekilas mataku berbinar
meratapi sunyi dan sepi
bergelut bersama sedih dan pedih
merinding...
mengatup jiwaku

Oh...
melambai asa tak kubiarkan
menimbang impian kusambung
terpaut pada tatapan yang kelam
membuatku tersadar
bahwa ini adalah hidup dan kehidupan.


Tanyaku

Di tengah pekatnya atmosfer jagad ini
di tengah derasnya arus politik
kududuk sendiri dalam kesepian
merenung roda kehidupan nan kian berputar
mengiringku pada sebuah realita dan fenomena
rotasi politik dan kepemimipinan

Genta Pileg t'lah bergema
syair-syair pileg t'lah dilantunkan
membangunkanku dari impian dan utopia
menatap hari esok
sembari bertanya dalam kalbu
apa suratan takdir bumi flobamora ini
lima tahun di hari esok?

Para politisi t'lah bergencar melewati rimba politik
menerobosi karang dan semak belukar
menebar pesona bahasa dengan segurat janji
menyulap sajak-sajak atraktif
memikat rakyat dengan performa
tuk dapat tahta dan mahkota
dasi dan jas politik
dalam istana perwakilan terhormat

meski kelak sekedar duduk berlipat tangan
di atas singgasana nan empuk
membuatnya terlelap dan terlahap
dalam bui hedonistis nan menawan
tanpa menengok mereka nan kian berlinang
air mata ketakadilan dan kesewenang-wenangan

Ada sebuah tanya dalam sukmaku
apa nurani mereka nan tak kuasa bersuara
kan disuarakan kelak?
apa suara mereka nan tercecer
kan dikumpulkan kelak?
apa kan jadi titian aspirasi?

Biarlah mereka nan punya tahta
menjawab s'mua tanyaku
dalam aksi nyata di hari esok.



Puisi Yos T.
Perempuan Tua Itu


Wajah itu entah kapan pernah kulihat
Suatu ketika
Ada serpihan kenyataan yang berputar-putar
Menghadirkan beberapa guratan teduh wajah itu
Perempuan tua itu
Entahkah ia saudaraku?

Kuhentikan sejenak langkahku untuk menoleh
Menemukan alibi untuk terbang elang yang hanya sekepak siang tadi
Kutemukan kembali guratan-guratan bening wajah itu
Perempuan tua itu
Di antara ceceran-ceceran kenangan
Simfoni-simfoni nostalgia
Tapi nada itu diam tak berlagu
Ahhà
Bingkai tua itu membungkusnya terlalu keras
Adakah ia nyaman di sana?

Sepuluh tahun itu kemarin yang tidak sedikit
Tapi ia masih ada
Perempuan tua itu
Butiran-butiran keringat masih menetes menyisakan kecantikan
Ia masih seperti dulu
Tak kulihat terik matahari menghanguskannya, memerihkan hatinya
Tak kudengar kilat guntur mengejutkannya
Mengalihkannya dari ingatan
Menjauhkannya dari kerinduan, dari pergulatan pikirannya,
Tentang anaknya?

Masih khusuk ia bersujud
Seakan bercakap ia dengan seseorang
Apa yang ia lakukan?
Mungkinkah ia sedang berdoa pada Tuhannya?
Tapi untuk siapa ia berdoa?
Untuk anaknya?

Adakah Tuhan di sana untuknya?

Ingin kudekati perempuan tua itu
Menanyakan di mana anaknya
Mencari dan membawanya pulang untuknya
Mendekapnya, memanggilnya ibu!

Entahkah ia masih mengenal anaknya?
(Untuk sang ibu)

Pos Kupang Minggu, 13 Desember 2009, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda