Rosario Cinta..

Cerpen Agustino Arifin Nusi

SENJA kini akan berganti malam. Mentari yang sejak pagi memamerkan keperkasaannya di atas bumi telah menyalesaikan tugasnya dengan sempurna. Seperti biasa, sekarang dia akan kembali ke peraduannya. Berkas-berkas cahayanya membuat sore itu menjadi begitu indah. Memang sungguh dasyat kekuatan Tuahn, hingga sanggup mewarnai sore itu menjadi begitu manis.

Kulihat dari jauh, seorang gadis kecil sedang duduk termenung memandang indahnya sore itu. Dia duduk sendirian, tak ada yang menemaninya. Kecantikan gadis itu seakan bisa menyaingi indahnya sore itu. Tetapi waktu yang terus berpacau membuat kau harus kembali melepas pergi semuanya. Gadis itu akan segera pergi, dan aku pun harus kembali ke rumah.

Hari berganti hari. Aku terus menyaksikan semua hal yang sama seperti yang pernah aku lihat pertama kalinya. Dan sekarang, aku sudah tahu siapa gadis itu. Dia adalah gadis yang periang, manis, baik tapi agak manja. Namanya Gafriella. Dia tinggal di De La Banlieue, sebuah kota kecil yang begitu damai dan sejahtera. Hari-harinya selalu penuh dengan warna. Teman-tema, keluarga dan semua orang di kota itu sangat menyayanginya. Tepi dia tidak berubah jadi gadis yang sombong. Dia tetap menjadi Gafriella yang baik dan rendah hati.

Kehidupan mereka di De La Banlieue tidak pernah mengalami gangguan. Mereka saling bergandengan tangan untuk bersama menata hidup menjadi aman. Aku hanya bisa tersenyum senang melihat keharmonisan hidup mereka dari kejauhan. Dan sejak waktu itu, aku pun berjanji untuk menjaga mereka, terlebih Gafriella, gadis kecil yang manis itu. Namun, kedamaian itu tak berkangsung lama. Kedengkian dan iri hati telah berhasil membakar jiwa orang-orang di Kota Leito, kota tetangga mereka. Mereka cemburu ketika melihat kedamaian yang ada di kotanya Gafriella. Mereka mulai menyusun segala bentuk rencana jahat. Mereka berencana untuk menyerang dan menghancurkan Kota De La Banlieue. Dan aku tetap hanya melihat semuanya itu dari kejauhan.

Aku ingin sekali memberi tahu tentang semua yang akan terjadi pada Gafriella dan yang lainnya, tapi itu tak bisa aku lakukan. Aku ingin sekali berlari dan pergi melindungi mereka, tapi itu juga tak mungkin bisa aku lakukan. Semakin hari aku semakin gelisah saat memikirkan semua yang akan terjadi. Aku takut kehilangan Gafriella. Di otak ku, aku berpikir bahwa tidak seharusnya dia terlibat dalam pertentangan ini. Dia masih kecil dan lugu.

Dia belum tahu apa-apa tentang mana yang salah atau benar. Dia belum tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Hatinya masih seputih kapas. Jiwanya masih terlalu murni, belum terjamah yang namanya dosa.

Dia bagai malaikat kecilku. Tetapi mustahil bagiku untuk bisa melepasnya dari semua ini. Aku tak sanggup melakukannya karena aku berbeda dengan dia. Aku punya pimpinan dan aku sudah berjanji untuk selalu setia pada-Nya. Dan sekarang, aku hanya bisa terdiam, tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Waktu yang terus berjalan telah membawa hari penumpasan itu semakin dekat. Dan sekarang, perang pun sudah terjadi. Korban nyawa sudah mulai bertebaran di segala penjuru Kota De La Banlieue. Kota yang dulu indah menawan, kini telah hancur berantakan. Dan aku hanya bisa kembali menatap dan menangisi semua ini dari kejauhan. Aku hanya bisa berpasrah dan berdoa kepada Tuhanku. Dan Tuhan mengabulkan semua doaku.

Ternyata Tuhan dan penghuni surga lainnya juga bersedih saat melihat semua ini, karena mereka tahu siapa yang salah dan patut dihukum. Bala tentara surga pun disiapkan untuk dikirim ke bumi. Dan aku dipercaya untuk memimpin pasukan. Sebelum meninggalkan surga, segala pujian pun kami arahnka kepada Tuhan untuk mohon kekuatan dari-Nya..

Kemudia langit pun terbelah seakan membuka pintu untuk aku dan bala tentara surga lainnya. Tanda salib berwarna merah telah disematkan pada pakaian perang kami. Kilat dan guntur tak henti-hentinya bergemuruh seakan ingin menunjukan segala kedasyatan Tuhan. Kami pun meninggalkan surga dengan memikul sebuah misi yang teramat mulia.

Peperangan di bumi yang semula tak seimbang itu, kini berubah jadi sama kuat, saat kami ikut berperang. Sambil menumpas lawan-lawanku, mata ku terus berputar terus mencari tahu di mana sososk Gafriella berada. Dari kejauhan aku melihat sebuah pedang sedang diayunkan menuju leher seorang gadis kecil. Dan ternyata gadis itu adalah Gafriella.

Aku pun berlari dengan sekuat tenaga berusaha menyelamatkan nyawanya dari maut. Pedang yang semula ku pegang, ku ayunkan lebih cepat ke arah penjahat itu. Aku tidak terlambat. Penjahat itu sudah lebih duluan tewas sebelum membunuh Gafriella. Peperangan pun terhenti dengan sendirinya. Kulihat mereka semua berlari meninggalkan medan perang. "Mungkin yang tewas di pedangku ini adalah pemimpin mereka," pikirku dalam hati.

Kemudian Gafriella pun berlari ke arahku dan memelukku dengan eratnya. Kulihat dia terus menangis dalam pelukanku. Aku hanya berpiklir, mungkin dia masih takut. Lalu ku bisik dengan perlahan di telinganya,"semuanya sudah berakhir..!!". Tangisnya pun mulai terhenti. Dia pun melepaskan pelukannya dari badanku.

Namun, kulihat dia masih merasa trauma dengan semua yang baru saja berakhir. Kuberanikan diri untuk kembali memeluknya. Kupeluk dia dengan begitu erat sambil meyakinkan dia kalau semua benar-benar telah berakhir. Dan Gafriella sekarang sudah lebih tenang dari sebelumnya.

Peperangan kini sudah berakhir. De La Benlieue sudah kembali aman seperti dulu. Aku dan bala tentara pun akan kembali ke surga. tugas kami telah selesai. Dan Tuhan kami pasti sudah menunggu kami di sana untuk memberi tugas yang lainnya.Namun ketika kami akan pergi, kulihat gadis kecil itu kembali berlari dan memelukku dengan eratnya. "Aku tidak ingin kamu pergi..!!," katanya dengan polos.

Lalu kujelaskan padanya bahwa masih banyak tugas yang harus kami emban sebagai bala tentara surga. Tapi aku pun berjanji padanya bahwa aku akan selalu menjaganya dan kota tercintanya. Sebelum pergi, kukeluarkan sebuah kalng Rosario dari dalam mantelku. Lalu kuberikan pada Gafriella, gadis kecil yang manis itu. "Kalung Rosario ini yang akan menjagamu, selagi aku tidak ada, di saar kamu membutuhkanku. Kalung Rosario ini yang akan mengikat cinta kita sebagai saudara. Dan kalung Rosario ini yang mungkin akan mempertemukan kita lagi suatu saat nanti..!!".

Hari pun kembali berganti mengiringi putaran waktu. Sore itu, kulihat lagi seorang gadis kecil kembali duduk termenung sambil menatap indahnya sore. Kulihat di leher gadis kecil itu bergantung sebuah kalung Rosario. Dari senyuman gadis kecil itu pertanda bahwa dia sudah kembali menjadi Gafriella yang periang dan manis. Dan aku pun kembali hanya bisa tersenyum senang melihatnya dari kejauhan.**
(Penulis adalag Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana Kupang)


Pos Kupang Minggu 22 November 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda