Sakit Apebede

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda


RUPANYA beliau terkena penyakit apebede, jenis penyakit baru yang belum diketahui sebab-musabab dan belum ditemukan obat yang paling jitu untuk menyembuhkannya. Karena itulah seluruh anggota keluarga dan kelompoknya dikerahkan untuk mencari dukun yang paling jitu agar penyakit aneh itu dapat disembuhkan. Karena itulah Nona Mia pun bersedia menolong.

***
"Penyakit apebede?" Tanya dukun sambil mengkerutkan kening. "APBD?" Tanya dukun lagi.
"Bukan Pak Dukun Rara! Nama penyakitnya apebede! Bukan APBD!"

"Aduh, kalau penyakit APBD saya tahu cara menyembuhkannya, tetapi kalau apebede, penyakit apa pula itu? Bagaimana gejalanya?"

"Sesuai dengan kepanjangannya Pak Dukun! A Atas P panas B bawah D demam. Maksudnya, seluruh bagian atas tubuhnya, apalagi bagian kepala panas tinggi, sedangkan seluruh bagian bawah tubunya apalagi bagian kaki terasa demam!"

Sang dukun mengkerutkan kening. Bagaimana mungkin ada penyakit baru yang lebih parah dari HIV-AIDS? Aduh, penyakit AIDS mematikan ini belum ada obatnya, sudah muncul apebede yang lebih mematikan.

Bayangkan. Bagian kepala panas bukan main-main sampai terasa bagi orang lain yang berada di radius sekian meter, bagian bawah demam dan getaran demamnya juga membias kemana-mana sampai ke radius sekian kilometer.

"Sudah berapa orang yang tertular?" Tanya dukun.
"Itu yang kami takutkan Pak Dukun Rara. Kalau sampai tertular apa yang akan terjadi? Kalau panas seluruh tubuh atau demam seluruh tubuh, atau panas dan demam seluruh tubuh, biasa diatasi dengan obat malaria tropikana. Tetapi ini panas di atas demam di bawah. Kalau jangkit bagaimana?"

"Ya Pak Dukun, tolong kasih penangkal menular lebih awal sebelum dicari jalan keluar lain!" Nona Mia gugup. "Saya tidak mau sampai tertular penyakit mematikan ini.

***
Sang dukun memejamkan mata dan komat-kamit mencari petunjuk. Sementara Benza makin meringkuk mengatasi panas dan demam yang kian lama kian meningkat serangannya. Astaga! Jaki pun mulai perlihatkan tanda-tanda terserang apebede.


"Bagaimana Pak Dukun?" Nona Mia sudah tidak sabar.
"Cuci tangan! Cuci tangan!" Sang Dukun komat kamit mengucapkan kata cuci-tangan berkali-kali. Nona Mia segera ambil seember air dan memberikannya kepada Benza dan Jaki untuk mencuci tangan. Cuci tangan terus, sebab penyakit apabede ini untuk sementara tidak akan menular jika penderitanya cuci tangan sepanjang waktu.

Maka, terduduklah Benza dan Jaki di hadapan seember air, sambil terus mencuci tangan. Sementara Pak Dukun Rara terus berkomat kamit mencari jalan terbaik untuk menyembuhkan penyakit apabede itu.

"Pe a de, pe a de, pe a de," demikian seruan yang mirip igauan Pak Dukun Rara.

"Apa maksudnya Pak?" Nona Mia penasaran. Apalagi dilihatnya Jaki dan Benza hampir terlena dengan urusan cuci tangan. Nona Mia memperhatikan dengan saksama apa yang diinginkan Sang Dukun Rara.

"Ooooh pe a de pilih panas atau demam?" Tanya Nona Mia dan Sang Dukun Rara pun mengangguk cepat. "Jadi Benza dan Jaki boleh pilih mau sakit panas atau sakit demam, agar lebih mudah disembuhkan?" Nona Mia penasaran. Dukun pun mengangguk.

***
"Kamu boleh pilih mau panas atau demam? Biar Sang Dukun bisa sembuhkan kalian berdua, segera! Pilihan yang sama, panas atau demam!" Nona Mia menjelaskan pada Jaki dan Benza yang cuci tangan terus menerus tidak berhenti.

"Panas atau demam!" teriak Nona Mia tidak sabar lagi.
Eh, ternyata Benza dan Jaki bertengkar hebat, yang satu maunya panas, yang satu maunya dingin. Akibatnya tidak ada keputusan, dan dukun pun tak dapat menolong. Akibat yang lebih parah lagi keduanya tetap cuci tangan dan cuci tangan teruuuuusss.

Nona Mia sampai pusing tujuh keliling memikirkan nasib kedua temannya. Nona Mia pun mengeluh. "Kok bisa Benza yang berpendidikan tinggi, berpengaruh, berkedudukan, berhasil, berduit, tidak sanggup memilih panas atau demam.

Bagaimana mungkin Jaki yang selama ini dikenal vokal luar daripada biasa, berani, tajam, dan tidak peduli itu, tidak sanggup menentukan demam atau panas! Duuuuuh," Nona Mia kecewa berat.
***
Astaga! Benza dan Jaki teruuuus mencuci tangan. Penyakit apebede pun mewabah. Berapa orang yang akan tertular? *

Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda