Sebingkai Hujan Buat Fajar

Cerpen Martha Hebi

AKU membenci hujan, sama hal aku mencintainya. Perasaanku bergulung-gulung bila renai hujan menggesek genteng rumah dan menggelontor debu-debu dedaunan.

Aku paling suka menontonnya dari bingkai jendela kamarku. Melihat tetes-tetesnya melumuri kaca jendela atau bila jendela kubuka hempasan dari genteng menerobos kamarku.

Bau segar hujan menggodaku untuk menonton butir-butir yang seindah mutiara, bening, basah dan dingin. Beberapa kali kudapati diriku masih menekur di bingkai jendela kamar sementara hujan sudah lama pergi. Seperti sore ini. Aku sesungguhnya mencintai hujan sama hal aku membencinya.

Januari sembilan puluh delapan, siang yang panas luar biasa tidak menghalangi kami untuk tetap meneriakkan tuntutan. Bersama kawan-kawan, mengangkat poster, meneriakkan yel- yel. Bernyanyi, membaca puisi. Dan sesekali meneguk air dari botol aqua. Suara kami jadinya lebih lantang dari pada suara di megapon.

Semangat kami dihancurkan insiden kecil dan berakhir dengan sepatu-sepatu bersol keras berlarian sambil membunyikan bedil. Dor...dor...dor. Saling dorong. Batu berseliweran. Dan manusia-manusia yang terkapar di jalan raya. Aku berlari, cepat sekali entah ke mana. Gerimis dan remang sore menyembunyikan bayangan tubuhku.

Dan, ...tiba-tiba sebuah tangan menjulur menangkap lenganku aku terguling ke dalam parit dan tangan kasar itu membekap mulutku. Aku meronta, melepas diri dari cengkeraman makluk yang belum kulihat wajahnya.

Tidak! Dia semakin keras menekan kepalaku dan membenamkanku ke dalam parit, menindihku dengan dadanya. Lemas sudah ragaku. Aku hanya berdoa, dan inilah doa paling khusyuk, Aku hanya seorang perempuan yang tidak mau dimatikan, Tuhan semoga Kaulah yang sedang mendekapku.

"Jangan ke arah timur mereka sedang menunggu dengan pentungan," bisik makluk tak berwajah itu. "Maaf aku terpaksa agak kasar, karena tadi seorang kawan telah ditangkap dan dipukul dengan pentungan, mungkin kakinya patah," ia melonggarkan tangan dan tubuhnya dariku.

Secepat mungkin aku mencari wajahnya. Matanya redup, rambut ikal sangat berantakan, sepotong senyum dingin seperti terpaksa ia menarik ujung bibirnya agar terlihat ramah.
"Terima kasih", sahutku belum hilang rasa takut yang tak terkira.

"Lututmu luka, juga siku dan kepalamu berdarah". Ia tetap dingin tapi tangannya menyentuh lutut yang masih tertutup celana kain, sudah basah oleh darah yang merembes keluar dan sikuku yang tergores panjang, terseret jalan aspal tadi, kemudian sedikit menunduk memeriksa kepalaku yang basah berdarah.

Ia mengambil sehelai sapu tangan dari saku celananya dan mengikat sikuku yang terluka dan meneteskan cairan merah. Aku meringis menahan sakit yang sejak tadi tak kurasakan. Kemudian membuka syal berwarna merah marun yang ia ikatkan dilengannya.

Ia menggeser kakiku dan memiringkan kepalaku ke sebelah kanan. Ia menekan di atas telingaku dan aku secara refleks menarik kepalaku, sakit.

"Kamu jangan bergerak dulu, luka di kepalamu cukup besar tapi tidak parah. Mungkin kamu terkena lemparan batu tadi," ujarnya sambil hati-hati mengikat kepalaku. Hari sudah agak gelap. Gerimis yang tadi yang pelan tiba-tiba membesar seperti biji beras yang menusuk-nusuk kulitku dan kepala yang terluka.

Ia naik ke atas lalu menjulurkan lengannya, dan membantuku naik dari dalam parit. Suasana sekitar parit sepi dan gelap. Jauh juga aku berlari rupanya, sekitar 1 km lebih dari kampus. Hujan tidak ramah mengguyur kami hingga menggigil dan kuyup. Tangan kirinya menggenggam tangan kiriku dan dengan tangan kanannya, merangkul pundakku dan menuntunku berjalan sekitar 200 meter Lalu kami mampir ke sebuah rumah kecil dengan penerangan yang sangat lemah.

Mungkin bohlamnya hanya 5 watt atau 10 watt.
"Masuklah," ia mendorong pintu yang tak terkunci.
"Nek... Nek... ini ada tamu." Aku lemas sekali, dingin, lapar, was-was. Tadi pagi hanya sarapan indomie rebus dan segelas teh manis. Siang tidak sempat makan. Sementara separuh hatiku masih was-was dan curiga kepada lelaki yang baru kukenal ini.

Aku tidak tahu siapa dia, hanya naluriku mengatakan dia bukan orang jahat.

Aku menangkap ada langkah kaki diseret dan dari pintu ruang tengah muncul seorang perempuan tua sekitar 60 tahun. Ia tersenyum padaku dan menatapku ramah, aku membalas tapi otot wajahku tidak mau bergerak.
"Dia terluka Nek. Juga basah, hujan deras sekali."

Perempuan tua yang ia panggil nenek itu mengangguk, berbalik ke dalam. Sekitar lima menit kemudian ia datang lagi.

"Mari, Nak." Ia memegang pundakku, dan kami masuk ke dalam kamar kecil berukuran 2x3m. Di atas tempat tidur ada sebuah handuk, sarung dan kaos oblong.

"Salinlah, setelah itu kita obati lukamu." Nenek keluar sambil menutup pintu dari luar. Aku masih termangu. Pakaian lengket dengan tubuhku. Aku menggigil.

Pelan-pelan kutanggalkan celana panjangku, bagian lututnya koyak dan luka di lututku mulai menggigit lagi. Aku mengeringkan tubuh dan bersalin dengan pakaian kering yang disiapkan nenek. Ah siapa lagi nenek ini.
Lelaki itu saja belum kukenal, siapa lagi orang-orang yang akan datang?

"Sudah Nak?" Ia bertanya dari balik pintu. Aku membuka pintu dan berusaha tersenyum. Kepalaku pusing sekali. Aku kembali duduk di atas tempat tidur. Nenek membawa segelas teh panas dan meletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Minumlah biar tubuhmu hangat." Nenek menggeser meja kecil ke dekatku. Kemudian keluar lagi. Aku mengambil teh panas dan meneguknya pelan-pelan sampai habis. Benar, teh panas membuatku lebih hangat. Nenek masuk dengan kotak P3K dan air panas di tangan kanannya.

Ia meletakkan kotak di atas tempat tidur dan air panas di meja. Aku heran juga melihat isi kotak itu. Lengkap sekali. Aneh juga, di situ ada perban, plester, gunting, betadine, semua yang pernah kulihat di kotak P3K kampus dan di tempat lain lagi yang lengkap sekali. Seperti itulah kotak P3K nenek.

"Mari Nenek bersihkan lukamu."
Ia membersihkan lukaku. Pelan dan hati-hati. Baru ingat aku sekarang teman-temanku yang lain. Aku tidak tahu lagi nasib Hendra, Jajang, Goris, Hamid, Irma, Suban, Anawaru. Terakhir kuingat Anawaru memegang megapon sedang membacakan puisi Peingatan milik Wiji Thukul. Lalu Hendra dan Jajang mengepalkan tangan kirinya dan mengacungkan ke udara.

Irma membagi-bagikan lembaran kertas, Goris menenangkan massa yang hendak menerobos pasukan dalmas. Tiba-tiba batu melayang dari arah samping mengenai lengan Anawaru, tapi ia tetap berteriak "hanya satu kata LAWAN!...."

Disambut yang lain..."Lawan!" Serta merta batu beterbangan, dan pasukan yang sejak tadi berdiri di depan kami mengacung-acungkan pentungan berlarian mencari asal batu yang sudah tidak karuan lagi. Massa kocar kacir, aku sempat lihat kamera Anton dirampas dan Anton ditendang.

Aku berlari sambil menyembunyikan wajahku dengan ranselku. Suasana kacau sekali aku diseret, dan punggungku diinjak dengan sepatu keras tapi aku meronta dan berhasil lepas. Aku berlari tanpa arah. Tanpa tujuan sampai waktu tiba-tiba ada yang menyeretku masuk ke dalam parit.

"Nah sudah selesai,"Nenek membangunkanku dari lamunan dan ia telah membaluti lukaku dengan perban."Sekarang Nak makan dulu,nanti baru istirahat ."
"Terima kasih, Nek." Ia tersenyum dan menggandeng tanganku ke luar kamar, ke meja makan. Di luar hujan makin deras, sesekali ada bunyi guruh.

"Fajar, makan dulu." Suara Nenek memanggil. Aku duduk di kursi kayu di ruang makan yang juga tidak terlalu luas. Ada televisi hitam putih 14 inch, sebuah lukisan surealis. Dan dari depan langkah kaki menuju ruang makan.

Lelaki itu, ah berarti namanya Fajar. Ia tersenyum padaku. Ia sudah ganti pakaian juga. Kaos oblong putih dan memakai sarung lipat kotak-kotak.

"Ayo kita makan, ini rumah nenek saya" ujarnya ramah tidak sedingin tadi. Ia menyodorkan piring dan sendok untukku. Kami makan berdua, dia duduk di depanku, entah nenek ke mana. Aku berusaha sesekali mencuri pandang. Seperti mengenali wajah ini, tapi aku tidak ingat. Beberapa kali aku pernah bertemu dengannya tapi entahlah di mana.


"Anawaru dan Hendra ditangkap," katanya tiba-tiba. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Sudah kuduga karena minggu lalu mereka berdua hampir tertangkap.

Aku kembali melihat wajah lelaki di depanku, iya sekarang ingat aku, dia teman Hendra yang dulu pernah membantuku lay out majalah kami. "Moga-moga mereka selamat," sambungnya. Aku hanya terdiam. Kami lalu terdiam. Hanya hujan yang terus menggerus atap rumah.

Kami makan malam dalam keheningan. Aku ingat Hendra, Anawaru, entahlah bagaimana nasib mereka. Anawaru salah satu perempuan yang menjadi target operasi. Kemarin sudah kami ingatkan agar dia tidak turun dulu. Hanya saja dia ngotot dan berjanji tidak akan macam-macam saat aksi.

"Bagaimana lukamu, Anisa?" Terkejut juga dia tahu namaku.
"Tidak parah dan sudah diobati Nenek,"sahutku.
Begitu awal kedekatanku dengan Fajar. Dia suka sekali mengajakku ke sanggarnya menonton teman-temannya berlatih, ya puisi, teater atau sesekali ikut diskusi. Aku kaget waktu mendapat hadiah ulang tahunku yang ke-21 dari Fajar.

Sebuah lukisan berukuran 90 cmx60cm yang dilukis sendiri olehnya. Perempuan kehujanan dan kuyup berjalan membungkuk mendekap dada. Aku jadi ingat kejadian dua bulan lalu. Dan aku makin jatuh cinta pada hujan. Pada hujan yang mengirimkan keindahan, kepada hujan yang memberiku cinta, pada hujan yang mengguyur pundakku.
Dua Mei sembilan delapan.

Telepon di ruang tamu menjerit-jerit, tidak ada yang peduli. Hari sudah malam pukul sembilan mungkin. Entah di mana orang-orang rumah. Aku sejak sore berkutat dengan novel klasik Victor Hugo yang kupinjam dari Ola. Aku malas pergi-pergi, Si Bongkok dari Notredame mengurungkan langkahku ke tempat Jajang.

Telpon kembali berteriak. Jengkel juga aku.
"Halo, selamat malam."
"Selamat malam," balasku.
"Ini Anisa?" Suaranya mengecil. Aku mengenali suaranya, Goris.

"Iya benar. Ada apa, Goris, pakai bisik-bisik segala." Orang ini kalau telpon biasanya teriak-teriak sekarang malah bisik-bisik. Kalau orang Timor, omongnya memang begini, keras-keras, kata Goris bila kami menegur dia berbicara keras sekali.

"Fajar diculik. Kemarin malam sekitar jam 12, dia dibawa pergi tiga laki-laki dengan mobil kijang. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa yang membawanya dan ke mana Fajar dibawa."

Informasi teman kostnya, Fajar baru pulang dari sanggar, selang 15 menit ada mobil berhenti. Tiga laki-laki berbadan tegap menemui Fajar kemudian terlihat 2 orang merangkul Fajar dari sebelah kiri dan kanan, sedikit memaksa mendorongnya ke dalam mobil. Yang seorang lagi mengunci pintu kamar Fajar .

Lalu pergi. Cepat sekali. Mungkin 7 menit. Dua teman Fajar hanya berani mengintip dari kamar. Mereka takut. Kakiku lemas, dadaku berdegup cepat sekali. Aku terduduk lemas dekat telpon. Habis sudah pikirku. Aku ingat orang-orang hilang yang belum kembali. Tapi Fajar hanya orang biasa itu tidak mungkin. Aku tidak yakin dia hilang.

Tidak ada kabar dari Fajar. Aku berharap, ia hanya diajak sebentar, lalu disuruh pulang. Tapi tidak juga, sudah sebulan, dua bulan, tiga bulan. Berita di koran, televisi, radio memang memberiku harapan. Fajar masih hidup.

Tapi bila masih hidup mestinya dia memberi kabar, kalau bukan padaku, paling tidak untuk keluarganya di Lampung. Kami memang saling berkabar dan belum ada berita dari Fajar. Menurut kawan-kawan dia sedang menunggu bila situasi sudah aman baru pulang, dia takut menghubungi keluarganya karena bisa ketahuan tempat ia menyembunyikan diri.

Aku akhirnya tahu siapa Fajar sesungguhnya. Dialah salah seorang yang merancang aksi-aksi perlawanan terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Puisi-puisinya sering dibacakan dalam aksi, dan menjadi monumental karena ia menulis realita. Fajar aku merasa sangat dekat denganmu.

Aku merasa dia hadir di sampingku. Lukisan perempuan kehujanan darinya mengikat rasa rinduku, rasa cintaku padanya. Dan hujan selalu menghantarku pada masa-masa yang ingin kuenyahkan dari memori.

Hujan membangunkan kerinduanku. Hujan menghadirkan wajah diamnya dengan sebatang dji sam soe di tangan kiri dan tangan kanan memegang kuas. Hujan mengiris kesendirianku. Aku mencintai hujan seperti membencinya. Hujan mengirimkan aroma Fajar juga mengingatkan padaku Fajar tidak sedang bersamaku.

Aku masih menekur di jendelaku berbingkai coklat. Hujan menyisakan gerimis dan sebongkah kristal dalam dadaku, aku tidak tahu rasanya. Hanya...Perasaanku yang bergulung-gulung tidak karuan.Menusuk sekujur rasaku. Aku sangat yakin Fajar masih hidup. Ia akan menelponku. Mungkin sebentar malam, besok, minggu depan, bulan depan.... Karena aromanya makin merasuk, dia telah menjadi napasku.

Aku sedang membingkai hujan untukmu Fajar. Biar kau juga mengingat..... Aku sedang duduk menunggu.
* Kotagede, Yogyakarta 1999 - Solo, 2003
Buat Mbak Sipon


Pos Kupang Minggu, 6 Desember 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda