Dokter Valens yth,
Salam kenal dalam doa dan kerja. Kehadiran surat saya ini pasti berbeda dengan surat dari remaja lainnya. Karena umur saya sekarang sudah 27 tahun dan masih single.

Bukan berarti saya belum pernah pacaran . Namun sejak Barto, pemuda yang pertama menggauli saya, pemuda yang sangat saya cintai, yang pergi ke mana dan entah dengan siapa, saya tidak tahu. Sejak itu saya benar-benar menutup diri dan tidak mau pacaran lagi.

Pertama karena saya merasa seluruh cinta saya telah saya serahkan itu kepada Barto. Kedua, kalau saya pacaran dan menikah dengan orang lain, apa jawaban saya ketika ditanya tentang kemurnian dan kegadisan saya. Untuk apa bercinta dan menikah. Semua lelaki yang saya kenal saat ini, terasa hambar dan tidak menarik. Oleh karena itu, saya benar-benar berkonsentrasi pada pekerjaan.

Dan syukur alhamdulilah, karena saat ini saya sudah dipercaya mengepalai suatu divisi dalam perusahaan tempat saya bekerja. Saya juga sering membaca di Pos Kupang Minggu tentang semua hal yang bisa dan pernah terjadi pada remaja dan orang muda pada umumnya.

Saya merasa perlu mengutarakan ini, dan saya yakin masih ada teman lain yang pernah merasakan seperti apa yang sedang saya rasakan. Untuk dokter ketahui bahwa, orangtua saya kebetulan sudah meninggal keduanya. Saya hanya punya dua orang kakak yang saat inipun sudah menikah dan tinggal jauh dari saya. Saya tinggal di suatu rumah dengan satu orang pembantu.

Oleh karena itu pada kesempatan ini saya ingin bertanya pada dokter tentang beberapa hal, antara lain : 1. Salahkah bila saya tidak ingin menikah dalam hidup ini ? 2. Saya tidak benci laki-laki, tapi saya tidak suka lagi. Apakah ini suatu kelainan ? Walaupun singkat namun saya yakin dokter bisa memberi banyak nasihat untuk saya. Akhirnya, sambil menunggu jawaban dari Pos Kupang, saya titipkan salam untuk semua kru di Redaksi Pos Kupang.
Terima kasih, Salam, Yeni - BTN - Kolhua - Kupang.

Saudari Yeni yang baik,
Salam dari kami semua juga untuk Anda. Surat Anda cukup simpatik, cuma kurang banyak menyinggung latar belakang Anda dengan Barto sehingga saya coba menjawabnya dengan lebih umum. Hidup ini adalah milik Allah yang sementara ini dititipkan dalam diri Anda. Kapan yang empunya kehidupan mau mengambilnya tak seorang manusiapun boleh membantahnya.

Soal model hidup atau gaya hidup, life style itu adalah pilihan Anda, karena setiap manusia dititipkan juga seperangkat kehendak bebas untuk mewarnai sendiri hidupnya. Oleh karena itu semestinya tak seorangpun boleh menilai gaya hidup seseorang.

Tak perlu ada pertanyaan, mengapa hidupmu berwarna merah dan bukan kuning seperti kebanyakan orang lainnya. Orang cendrung menilai dan lantas menyebutnya sebagai suatu kesalahan hanya karena adanya sedikit variasi atau berbeda dengan sesuatu yang dimiliki banyak orang.

Seperti juga Mary Whelchel dalam bukunya Common mistakes Singles Makes (kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan kaum lajang), tahun 2003, diantaranya menulis bahwa, pada era modern ini banyak orang muda merasakan ada banyak keuntungan yang bisa didapat dari gaya hidup melajang.

Kalau dikalkulasi sana-sini, maka menurut mereka (orang-orang muda itu) terdapat lebih banyak keuntungannya daripada kerugiannya. Kaum muda lajang merasa memilki kebebasan yang utuh untuk menentukan langkah hidupnya, seperti membuat keputusan sendiri, mengubah rencana, membelanjakan uangnya dan memprioritaskan waktunya, benar-benar merupakan karunia dan sumber daya yang luar biasa. Betapa menyenangkan hidup lajang karena tidak perlu harus melapor kepada seseorang bagaimana mereka menghabiskan waktu atau uangnya.

Bahkan tidak perlu merasa bersalah apabila jadwalnya tidak cocok dengan orang lain. Berapa banyak waktu yang bisa dihemat karena tidak punya tanggung jawab untuk memasak secara teratur. Bahkan untuk memperkuat alasannya, dikatakan bahwa ada keyakinan yang kuat bahwa teman-teman lainnya yang menikah, walaupun mungkin mereka tidak mengakuinya, ingin sekali merasakan nikmatnya hidup melajang lagi.

Sampai pada suatu saat Anda kehilangan kebebasan itu, Anda benar-benar dapat menghargainya. Orang baru menyesali aspek kehidupan lajangnya manakala dia merasa tak ada yang membantunya di kala mengangkat sesuatu barang yang agak berat, atau tak ada orang yang bisa makan malam bersamanya.

Bahkan saat di mana dia dinilai sebagai orang yang sangat egois dan yang menghidar dari tanggung jawab. Ada juga orang justru menilai mereka yang hidup lajang dengan istilah yang lebih keras yakni orang yang tidak bertanggung jawab atas kehidupan yang dititipkan Allah kepadanya.

Baiklah saudari Yeni, uraian panjang dari Mary Whelchel ini semoga bisa disimak sebagai jawaban untuk pertanyaan Anda yang pertama tentang apakah merupakan sutau kesalah bila Anda memutuskan untuk tidak ingin menikah dalam hidup ini.

Selanjutnya, menyimak pertanyaan Anda yang kedua nampaknya ada kelembutan dibalik kuatnya keinginan Anda untuk tidak berumah tangga. Anda tidak membenci pria, hanya Anda sudah tidak suka lagi. Ini berarti secara emosional Anda masih seorang wanita sejati. Sejarah hidup masa lalu yang berisi kenangan-kenangan ( indah maupun pahit), terangkum bersama dalam "trauma" pergaulan Anda bersama Barto.

Ini belum bisa dikatakan suatu kelainan permanen, sehingg tidak dikategorikan sebagai kelaian mental. Masih ada ruang dan waktu yang menyembuhkannya. Datang dan perginya cinta, tak perlu direkayasa. Cinta yang indah adalah cinta yang hadir tanpa diundang dan langgeng tanpa direkayasa. Cinta hadir karena kecocokan hati dan Jodoh. Dan soal jodoh hampir semua orangtua mengakui bahwa itu ditentukan dari Atas Sana.

CINTA = Cara Ini Nama Tuhan akan Abadi. Cinta hadir karena kebesaranh Tuhan. Jadi jangan menolak cinta kalau besok ada lagi yang hadir. Demikian jawaban saya, mudah-mudahan Anda lebih bersemangat.
Salam...Dr. Valens Sili Tupen, MKM.

Pos Kupang Minggu 29 November 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda