Tunggu Aku, Ibu

Cerpen Mario F Lawi

AKU menetas sebagai seekor angsa buruk rupa. Bahkan menurut mereka, aku lebih mirip bebek. Aku menjadi bahan olok-olokan teman-teman sebangsaku. Yang berlainan jenis pun memandangku sambil memicingkan mata seolah menyaksikan tragedi paling hebat terjadi di muka bumi ini. Kata-kata seakan habis menceritakan keburukanku. Betapa aku tak layak untuk hadir di dunia, bahkan dalam wujud menyedihkan ini.

Aku dibesarkan oleh seekor angsa yang cantik. Ke mana pun ia melenggang, semua mata akan tertuju padanya. Setiap detik seakan menjelma es yang beku, hujan pun seolah tertahan di udara ketika ia berjalan mencari perlindungan. Kakinya jenjang dan panjang, seperti pepohonan yang tumbuh di tengah padang.

Bulu-bulunya putih dan bersih, serupa salju yang tak pernah terlihat di bumi yang seribu tahun memendam letih di balik awan putih. Gayanya anggun, membuat setiap yang memandang tertegun, seakan sebutir salju telah tumbuh dari tengah gurun.

Berlaksa angsa jantan berusaha menarik perhatiannya, mendandani diri mereka hanya untuk mendapat kesempatan sesaat mendekati ibuku. Seolah mereka sedang memperjuangkan surga. Tapi ibuku adalah angsa yang setia, yang begitu sabar dan setia menyimpan cintanya bagi ayahku. Bahkan jauh sebelum aku menetas, ketika ayahku dikabarkan mati akibat terkena peluru nyasar seorang pemburu. Cintanya seperti merpati.


Bagaimana pun gayanya dan apa pun keadaannya, ia tetap terlihat cantik. Bahkan ketika ia baru saja berjuang mempertahankan seekor ikan di kubangan lumpur untuk aku, ia tetap terlihat menawan.

Lumpur dan kotoran yang melekat seakan menambah keanggunan dalam dirinya hingga mereka yang melihat semakin tercekat. Pun ketika ia sedang berjalan sehabis bulunya basah diguyur hujan, ia putih seperti melati yang mekar di tengah gerimis. Tak ada yang salah pada dirinya. Tidak ada, sungguh, hingga ia memiliki seekor anak seperti aku.

Aku bagaikan kutukan baginya. Aku ditetaskan seolah untuk menghadirkan penderitaan yang tak pernah ia rasakan lagi setelah kehilangan ayah. Semua cemooh yang ditujukan padaku selalu berujung pada perbedaan kami yang bagaikan langit dan bumi. Sebagian kecantikan yang dimilikinya seolah lenyap bersama keberadaaanku.

***
Aku mencintainya seperti mencintai kekasihku yang dulu. Sebab dia seolah hadir untuk menghibur keputusasaanku. Semua telurku habis dicuri sebelum aku sempat melihat mereka menetas. Tapi ternyata masih sebutir telur lagi meronta dari dalam tubuhku. Karena itulah dia sendiri.

Setiap detik mengawasinya meretakkan cangkang yang membatasi kami seperti mengubah sedetik menjadi setahun. Aku akan sabar menanti, sebab dari telur itu akan muncul seekor angsa yang akan dengan bahagia kupanggil anakku. Dia adalah hadiah terakhir yang ditinggalkan kekasihku. Aku akan setia menjaganya.

Betapa bahagianya aku ketika melihatnya hadir dengan miniatur ayahnya.

Ia tak bersalah, meski ia ditakdirkan tumbuh dengan rupa yang menurut mereka buruk. Tidak, ia tidaklah seburuk itu. Karena itulah aku selalu melindunginya dari cemoohan bangsaku.

Mereka tak tahu, kelak dari rupa yang menurut mereka buruk itu, akan tampil seekor angsa jantan yang gagah perkasa. Setiap angsa betina kelak akan berusaha memperebutkannya seperti sekarang ketika para jantan itu mengejar-ngejar aku.

Sungguh, aku tak bohong. Ia menyimpan rupa dan mata ayahnya yang membuatku selalu jatuh cinta setiap kali melihatnya. Meski kecil, ia akan kuajarkan artinya tabah dan bertahan. Aku sedih setiap kali melihatnya menangis ketika diejek teman-temannya.

Segala hal kuusahakan agar melihatnya tersenyum, termasuk membiarkan diriku mendapat bagian cemoohan akibat kehadirannya.

Tak dapat kubohongi diriku, kehadirannya membawa perubahan dalam hidupku. Aku jadi tahu bagaimana mencintai dari sebuah kekurangan. Dan dia yang mengajarkannya padaku. Dia selalu meminta maaf setiap kali aku diejek karena memilikinya. Tapi aku selalu memaafkannya, jauh sebelum permintaan maaf terlontar darinya.

Karena dia juga, aku jadi tahu siapakah di antara para jantan yang sungguh-sungguh mencintaiku. Jika mereka mencintaiku dengan sungguh, mereka tentu akan juga menerima kehadirannya. Tapi, lihatlah, tak ada satu pun yang berusaha mendekatiku bila aku bersama putraku. Mereka tak akan pernah bisa menerimaku apa adanya.

***

Kadang aku berpikir aku bukan anak ibu. Meskipun berkali ibu meyakinkanku bahwa aku mirip ayah. Tapi kecantikan ibu meruntuhkan semua hal yang coba ia yakinkan padaku. Betapa bodohnya ibu, dulu, jika ia menerima cinta dari angsa buruk rupa seperti ayah, itu pun jika benar ayah mirip denganku. Tapi ibu tak mungkin menyimpan kebodohan dalam kecantikannya.

Pastilah ayah itu angsa jantan yang tangguh dan rupawan. Dan asmara mereka pastilah direstui semua bangsaku. Anak-anak mereka pastilah akan sama dengan mereka. Jika jantan seperti ayah, dan yang betina seperti ibu. Sedangkan aku?

"Buruk sekali rupamu, kau pasti bukan anaknya," ujar salah satu dari angsa jantan yang berusaha mendekati ibuku.

"Ya, angsa secantik dia tak mungkin memiliki anak sepertimu. Sahabat kami yang dulu menjadi kekasihnya adalah angsa yang gagah," sambung angsa jantan yang lain.

Mereka mungkin benar. Aku lebih senang membayangkan bahwa aku adalah anak angsa yang lain. Dalam wujud telur yang dulu, mungkin ada sebuah bencana atau apa pun di tempatku dan aku menggelinding tanpa sengaja ke dalam sarang ibuku sekarang, yang waktu itu semua telurnya habis dicuri.

Dan karena ia tak ingin bersedih lebih lama, maka, dengan setia, ia merawat aku yang bukan bagian dari dirinya.

Lebih baik, aku pergi dari sini. Aku ingin menemukan ibu kandungku. Ibuku pastilah sama seperti aku, buruk rupa dan dicemooh banyak orang. Tidaklah sulit menemukan angsa seperti itu.

Di mana ada cemooh dan olok-olokan yang mengingatkanku pada kisahku, mungkin di situlah ibu kandungku berada, dan aku akan pergi membelanya. Meski rupa kami sama buruknya. Karena itulah, semoga kami ditakdirkan kembali bersatu.

Dan di seberang rawa dari ujung terjauh tempat tinggal kami, hidup sekawanan angsa yang katanya mirip aku. Mereka pasti koloniku.

***
Anakku pergi.
Ia tak meninggalkan apa pun padaku selain kecemasan. Kutanyakan pada teman-temannya yang sering mengejeknya. Mereka bilang ia pergi mencari ibu kandungnya. Aku tersentak. Tak mungkin. Aku ada di sini.

Kukepakkan sayapku dalam limbung dan bingung. Akan kupastikan bahwa berita mereka tak benar. Mereka toh biasa mengejeknya. Mungkin yang mereka katakan adalah kebohongan. Kusibak semak dan rerumputan di sekitar tempat tinggal kami, mencoba mencari tahu keberadaannya. Samar-samar, kudengar suara di sela belukar.

"Ia pasti sudah pergi menuju rawa-rawa itu. Bodohnya anak itu," suara itu mirip dengan yang dimiliki salah satu jantan yang pernah mengejarku.

"Biarkan saja, kematiannya akan mempermudah jalan kita mendekati ibunya," kudengar suara lain menimpali pembicaraan.
Yang mereka bicarakan pastilah anakku. Mataku seketika nanar menahan amarah. Kusibak belukar itu untuk menemukan sosok-sosok yang sedang bergunjing. Kutemukan mereka berada di antara sekawanan angsa.

Tanpa pengantar dan pembukaan, aku langsung mendamprat mereka, "Apa yang kalian lakukan pada anakku?"
"Tenanglah dulu cantik, tak usah marah seperti itu.

Kecantikanmu bisa luntur." Mereka mencoba basa-basi tapi itu semakin menyulut amarahku.

"Baiklah, kami hanya mengatakan bahwa mungkin ia bukan anakmu," ujar seekor jantan yang lain seakan ingin menarik perhatianku dengan kejujurannya.

Darahku berdesir. Tidak. Tadi mereka menyinggung rawa-rawa itu. Ia pasti pergi ke rawa-rawa di ujung terjauh tempat ini. Tapi rawa-rawa itu dijaga sekawanan buaya. Jangan-jangan....

"Jika terjadi apa-apa pada anakku, kalian tak akan kumaafkan!" Tanpa pamit aku langsung berbalik pergi. Akan kuajak anakku kembali. Semoga belum terlambat menemukannya.

***
Itu dia rawa-rawa yang mereka ceritakan.
Samar-samar mulai kubayangkan wajah ibu kandungku yang dengan gembira akan menyambutku dengan hangat dekapan bulu-bulunya di seberang sana. Dan saudara-saudaraku pasti akan gembira menyambut kedatanganku. Setelah itu mereka akan menyiapkan pesta untukku.

Ah, baiklah, tunggu aku ibu. Setelah melintasi rawa-rawa ini, anakmu akan kembali dalam dekapanmu.*

Naimata, Ujung Tahun 2009

Pos Kupang Minggu 20 Desember 2009, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda