Valentino Rossi dan Kepala Desa Kami

Cerpen Amanche franck

SEBENARNYA tidak ada hubungan darah antara si Valentino Rossi, pembalap nomor satu dunia dengan Kepala Desa kami. Aku mengatakannya demikian karena kenyataannya jelas sekali. Valentino Rossi orang Italia, seorang pembalap ternama, kaya lagi, dan ganteng memang, sedangkan kepala desa kami orang kita, seorang yang sederhana, dengan wajah biasa-biasa kalau tidak mau dikatakan jelek, dan ia hanya kepala desa, aparatur negara kita. Mungkin hubungan antara Valentino Rossi dan kepala desa kami adalah hubungan sebab akibat. Tersebab oleh si Valentino Numero Uno yang beraksi di laga Moto GP, maka habislah babi-babi di kandang kepala desa kami.

Begini latar belakang ceritanya. Kepala desa kami sangat doyan sama balap motor apalagi Moto GP, lebih lagi sama si Valentino Rossi, yang katanya sangat hebat sampai digelari The Doctor. Kepala desa kami sangat menghargai si Valentino Rossi. Atau yang paling parah dikatakan dia sangat mencintai figur si Valentino Rossi, atau ngefans, atau sangat mengidolakan si pembalap ini. Bayangkan saja, pakaian kadesnya sering diganti dengan kostum Valentino Rossi yang dibeli di pasar inpres desa kami. Semua barang di kantor desa dan di rumahnya ditempel dengan stiker Rossi.

Mulai dari lemari, laci meja, meja kerja di kantor, sampai peralatan makan di rumahnya berlabel Rossi. Motor win tua berplat merah pun di tulis The Doctor, di samping body motor itu. Agenda kerjanya bahkan sangat dipengaruhi agenda Rossi. Kegiatan di kantor desa harus libur kalau malamnya ada balap Moto GP. Mulai dari pagi kepala desa dan beberapa stafnya sudah mulai menganalisis dan berkonferensi pers ala kadarnya, khusus membahas trik dan strategi terbaru Rossi supaya tetap terdepan. Jangan pernah ada satu staf pun atau warga desa yang menggemari Casey Stoner, Jorge Lorenzo, atau pembalap lain.

Tentu, ia langsung bertentangan dengan pucuk pimpinan desa kami, yakni kepala desa kami yang terhormat. Begini katanya ketika Rossi ingin tampil di sirkuit Sepang Malaysia: "Aaaaaa. Saudara-saudari yang terkasih para staf desa, sesama penggemar Rossi yang saya hormati, hari ini kegiatan kita di kantor dihentikan mengingat malam ini ada kegiatan balap dari saudara kita Rossi di Malaysia, kebetulan Malaysia sangat dekat dengan negara kita, jadi sebagai bentuk toleransi baiklah hari ini kita berdiam sambil mengarahkan kegiatan kita di depan layar kaca nanti malam".

Ajakan dan seruan kepala desa itu disambut hangat semua staf. Ada di antaranya yang juga sangat gemar sama Rossi, tapi ada juga yang mau cepat-cepat kembali ke rumah.

Oh yach..., tentang babi-babi milik kepala desa kami yang tak tahu menahu soal ini. Mereka pun menjadi korban lantaran dijadikan taruhan di ajang balap motor Valentino Rossi oleh kepala desa kami. Begini pula kisahnya. Ini pun terjadi setahun silam ketika Rossi harus menyerah dari pesaing beratnya Casey Stoner.

Konon, kepala desa kami melakukan taruhan gaya pasang miring dengan seorang pengusaha ternak babi desa kami, sebut saja Om Nabas. Dan Om Nabas inilah penentang utama Pak Kepala Dosa, eh sori Kepala Desa kami ini, karena si Nabas adalah penggemar berat Stoner.

Untuk jumlah babi antara keduanya fitty-fifty alias imbang. Nabas adalah pengusaha babi yang memiliki babi berkandang-kandang, sedangkan kepala desa kami pun memiliki babi nyaris satu kampung.

Malam itu, semua aktivitas desa terhenti. Semua kegiatan di desa terpusat di sirkuit balap untuk Valentino Rossi, Casey Stoner dkk, serta di rumah kepala desa untuk dua petaruh, Om Nabas, dan Kepala Desa serta semua warga desa, tua muda, laki perempuan, kecil besar.

Semua hadirin tegang, apalagi dua petaruh besar ini. Di sirkuit balap, Valentino Rossi dan Casey Stoner tampil gagah dengan motor balap masing-masing. Di rumah Kepala Desa di depan layar televise, Kepala Desa dan Om Nabas tahan napas sambil jantungnya balapan. Rossi sudah mengambil start, begitu pun Stoner dan pembalap lain sudah di lintasan masing-masing. Di samping mereka ada seorang umbrella girl, gadis paying, dengan rok mini, dan senyum manis menggoda.

Di samping Kepala Desa dan Om Nabas ada istri masing-masing dengan rok blus panjang, dengan dandanan menor, serta konde rambut ta'i sapi. Rossi Stoner tegang, kepala desa dan Om Nabas pun tegang, walau beda medan laganya. Dengan sorakkan dan gemuruh seluruh isi sirkuit, Stoner dan Rossi mulai meliuk-liuk, cari posisi terdepan, sambil zigzag seturut kelokan sirkuit.

Rumah kepala desa pun riuh reda dengan sorak tepuk tangan dan teriakan-teriakan warga kampung. Kepala Desa dan beberapa warga Pro Rossi, sedangkan Om Nabas dan sekelompok Pro Stoner. Badan kedua pembalap meliuk-liuk patah kiri dan kanan, dan sampai di trek lurus keduanya saling memburu, inilah adegan di layar kaca. Di ruang rekreasi rumah kepala desa, para pendukung kedua pembalap saling hujat sambil terus mendukung pembalap masing-masing.

"Rosi, Rossi, hidup Rossi Numero Uno.." Begitu teriak yang Pro Rossi. " Ayo Stoner, sikut dia, salip dia, potong dia, injak gas.,ini gaya khas yang mendukung Stoner.
Balapan sudah semakin panas karena sudah masuk pada putaran lima belas.

Kedua pembalap masih saling kejar. Gemuruh rumah kepala desa tak kalah dengan gemuruh sirkuit balapan. Tinggal beberapa putaran saja, semua orang sudah bisa tahu hasilnya. Om Nabas kelihatan tenang tapi tegang, Kepala Desa terlihat senyum tapi dikulum. Di dalam televisi, di sirkuit balap, Rossi dan Stoner masih menunaikan tugas masing-masing.

Mereka tak tahu, di sebuah desa yang terpencil yang jauh dari keramaian sirkuit balap dan glamour Moto GP, mereka sedang disanjung, dipuja, dan sangat diharapkan untuk menang. Situasi mulai kacau dan ramai di rumah kepala desa dan sirkuit balap, ketika pada dua putaran terakhir kedua pembalap sudah mau saling mendahului. Menit-menit terakhir bagai sakrat maut, ketika dua pembalap saling menyikut dengan satu dua trik untuk semakin terdepan. Kepala Desa dan Om Nabas sudah berdiri dengan sorakkan-sorakkan permohonan, kiranya idola masing-masing menyentuh garis finish.

Lintasan terakhir adalah lintasan penentu, ketika Casey Stoner dengan mudah melewati si Numero Uno. Seluruh semesta sirkuit seperti sunyi tak berdaya. Begitu pun di rumah kepala desa nun jauh di desa kami. Seluruh jagat desa kami hening sejenak sambil mengakui segala ketidakpercayaan ini. Rossi kalah dan Kepala desa kami pun kalah. Om Nabas bersorak gempita menyambut kemenangan idolanya Stoner. Ketika Stoner mengadakan Victory Lap untuk merayakan kemenangannya, Om Nabas pun berlari keliling rumah Pak Kades merayakan kemenangannya bertaruh dengan Pak Kepala Desa.

Malam itu Om Nabas pulang dengan sorak sorai sambil membawa 50 ekor babi milik kepala desa. Sesuai kontrak taruhan, pasang miring terjadi dengan 25 ekor babi taruhan Om Nabas, dan 50 ekor babi milik kepala desa kami. Malam itu Om Nabas total mengumpulkan 75 ekor babi. Kepala desa kami, seperti biasanya seorang yang kalah, hanya tertunduk lesu diam tak bicara. Bahkan dari raut wajahnya, mudah ditebak beliau lebih sedih dan terpukul ketimbang si Numero Uno, Valentino Rossi. Demikian kisah tentang kepala desa kami penggemar berat Valentino Rossi.

Ahhh.. Aku hampir lupa menginformasikan kepada anda sekalian, babi-babi di rumah kepala desa kami, sudah habis dijual dan dari hasil penjualan itu, Pak Kepala Desa kami mungkin minggu depan mau membeli tiket nonton langsung Moto GP. Kita berharap beliau dapat bertemu dengan idolanya si Numero Uno, VALENTINO ROSSI.

Untuk Semua Penggemar Moto GP dan Fans Valentino Rossi.
Komunitas Sastra Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui.

Pos Kupang Minggu 15 November 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda