Wadas Kasih

Cerpen Robert Lefteuw

"SERINGKALI sebuah tempat dimana cinta bertumbuh untuk pertama kalinya dikenang selalu oleh orang yang mengalaminya. Dalam perjalanan cinta itu, ada tawa dan canda, pahit getir, air mata. Anehnya manusia terus menjalaninya. Mungkin pula ia berupa kalung yang berwarna-warni.

Kalung cinta itulah yang menjadi khas dan misterius dan hanya bisa dilihat oleh mata cinta, milik sang kekasih. Entahlah keindahan misterius yang terhias pada titik spektrum retina dan kornea sang kekasih untuk menatap hal yang tak ditatap oleh mata-mata lainnya. Keindahan pulalah yang mengundang seorang jejaka atau seorang gadis berkomitmen untuk menjadi satu..."

"Wah... kata-katamu semakin puitis Pres," ungkap Maureen sahabatku. Sejenak pembicaraan kami terhenti. Sering kami saling menatap, tapi kuarahkan pandanganku ke laut untuk menetralkan gelora yang memberontak dalam dadaku. Tatapan itu kembali. Tak ada rasa malu atau salah tingkah di sana. Ada damai dan cinta yang tersimpul dalam getaran dan gejolak nurani. Entahlah, aku bisa mengontrol hasratku dan tampaknya Maureen pun demikian. Ia pandai mengawasi perasaan-perasaannya. Ia semakin dewasa, cantik dan penuh cinta.

Di atas wadas ini kuhabiskan masa kecilku. Bersama teman-teman, tak mengenal pria atau wanita, mandi bertelanjang dada di kala air pasang dan bermain rumah-rumahan di kala air surut. Bertolak-tolakan, kejar-kejaran, bermain petak umpet. Ingus yang mengalir ditarik masuk ke peraduannya. Sebagian digosok dengan tangan dan membentuk gumpalan kering; tertempel pada pipi bak peta Indonesia. Sering dipukul, dilarang, ditakuti dengan cerita hantu laut oleh orangtua, tapi kami tak bergeming. Dunia anak-anak, only get pleasure, ungkap Sigmun Freud.

Kukembalikan memoriku pada saat ini. Itu hanya masa lalu. Tanpa sadar, sudah dua jam pergi. Aku dan Maureen masih bernostalgia tentang masa kecil kami yang indah. Di atas wadas ini, tampak keindahan alam yang suasananya dirancang oleh tangan perkasa dan seni milik Yang Kuasa. Mentari semakin menghilang. Berkas-berkas keemasannya masih tertempel di ufuk barat. Angin senja mengundang beberapa nelayan, mengayuh sampannya, melebarkan jalannya, membanting tulang, mengais rezeki di kedalaman gelora laut.

Semburan ombak yang menampar tepi wadas itu mulai berkurang. Riak-riaknya masih tertawan pada celah batu yang mulai menua.
Sebentar lagi air akan surut. Sekelompok camar mengepakkan sayapnya pada hempasan angin senja, sesekali mengitari bibir teluk dan menghilang di ujung tanjung. Mungkin, mereka sengaja berterbangan, untuk menyaksikan drama cinta yang sebentar lagi terpaku dalam keabadiaan cinta itu sendiri.

"Woiii... bran-bran, mdo vo tnem na'a met ratan e, s'u rdok malitat ya..." (Wahai kaum Adam, marilah kita ke laut, air telah surut dan ulat laut telah buka gigi)
"Eh... vat-vat, mbir mencar sian, mstanuk mu jago, am fikir ne im vat-vat ma amdo vo it besa tnem" (Eh kaum Hawa, kerjamu hanya itu ko geger tapi karena belas kasihan, maka pasti kami akan pergi juga).

Mdo fo ba ne, vuan nloi yak ya. Mlas nam wahid ne mturuk mu laai braan (Marilah sesat lagi bula akan nampak jangan omong kosong, tunjukanlah kejantananmu).
Demikianlah potongan pantun adat yang biasa dibawakan pasangan pria dan wanita. Mereka saling mengundang untuk mesra.

Terdengar dari kejauhan bunyi gong dan rebana seruling dan yel-yelnya anak muda.
Maureen menatapku sambil tersenyum indah. Kubalas senyuman itu dengan special style yang telah terlatih di depan cermin. Kami tersenyum bangga menatap warisan leluhur yang masih terpelihara. Sementara obor-obor dan pelita menampakkan redup cahayanya menghias pantai. Indah sekali terdengar tertawa lepas dan ejekan tanpa melukai.

"Kuuuur ... eh su'e, waham ngorai tapi ya laai braan r'liik hauk o imme" (Kuuur... o ulat laut wajahmu kotor tubuhmu halus tapi para pria perkasa mencarimu).
"Eh.... vat-vat ngeer a, r'stanuk rir beben malit ne hir s'no if 'su mbatang mwaat wahid' (Eh, dasar mulut hawa, geger dengan kerja buruk gini. Padahal mereka yang mengundang kita, ulat laut jangan percaya).

Mereka saling mengejek di bawah senja obor. Konon binatang ini muncul pada bulan-bulan tertentu. Tapi begitu melihat munculnya sang purnama binatang ini menghilang.

Mungkin mereka takut pada pucat pijarnya sang ratu malam atau malu menatapnya. Yang jelas, mereka sedang dimangsa manusia, dari berbagai lapisan. Kakek nenek tertawa ompong mengenang masa jayanya dan meninggalkan kebijaksaan kepada anak cucunya. Suami istri saling menolong memperteguh cinta yang telah dimeteraikan. Remaja dan muda-mudi saling mengejek mencari objek ejekannya yang adalah juga bekal belahan jiwanya. Anak-anak hanya ikut ramai. Polos.
"Lantas aku dan kamu?" gumamku membatin. Rupanya Maureen membaca isi hatiku dan berujar.


"Pres, kamu melamun yach?"
"Ah tid ... dak. Presley namaku disingkat dari Petrus Luciet. Petrus mengandung unsur ilahiku, sementara Luciet yang manusianya. Sebaliknya Maureen tersingkat dari Maria Regni. Kami berpisah sejak kerusuhan Maluku. Bertemu kelas 3 SMP dan malam ini bertemu untuk terakhir kali kelas 3 SMA di Ambon." Maureen berujar.

"Di atas wadas ini kuhabiskan masa kecilku bersamamu, bersama teman-teman lainnya. Kuingin kembali ke masa itu tapi itu hanya tindakan konyol yang menguasai energi hidup. Masa indah tertawa ria, bertolak-tolakan tak kenal lelah. Dunia penuh kepolosan, tak ada manipulasi cinta. Tapi di atas wadas inilah kutemukan diriku. Di kala decak riak progesteron dan astrogen menuntutku untuk meninggalkan kepolosan itu. Tak bisa mandi bertelanjang dada dan sebagainya. Dan di atas wadas ini ... kupahami apa itu cinta. Cinta pertama, cinta monyet tapi abadi, erotis tapi agape. Dan cinta itulah kamu Pres. "

***
Sang purnama tersenyum lesu. Menampakkan dirinya sebagai penguasa malam. Lesu pijarannya mengusir ulat laut beserta pemangsanya. Pucat-pucatnya pun terpantul ke permukaan laut, membentuk warna-warna keemasan. Sementara nelayan masih terus membanting jala, mengepung kawanan ikan yang menjadi predator ulat laut. Riuh rendah suara mereka terekam pada pipi tebing dan gemanya memantul pada setiap pojok tak terkecuali wadas kokoh itu.

Kugenggam jemari Maureen. Ia mendekatiku dan lekat erat di pangkuanku. Dilepaskannya genggaman itu, jemarinya menyisir rambutku.
"Di atas wadas ini kutemukan diriku. Aku yang adalah aku untuk yang lain. Berbeda tapi satu! Yah, satu dalam cinta. Cinta itulah yang mengubah segalanya. Yang mungkin menjadi tak mungkin dan yang tak mungkin menjadi mungkin, ia hadir dalam diri manusia, sehingga terciptalah komitmen untuk bersatu entah dengan sesamanya, maupun Tuhannya.

Ia menggairahkan, penuh kekuatan, menantang, namun kegagalan perjalanannya bisa meledakkan pribadi manusia. Lihatlah... banyak gadis yang hamil di luar sana, jalan pintasnya aborsi. Banyak jejaka yang rusak seperti kepalang basah, menjejali setiap pojok kehidupan untuk menemukan jati diriya. Banyak rumah yang hancur (broken home) tak lupa pula para religius, biarawan-biarawati yang menanggalkan jubahnya. Pokoknya ada seribu satu cerita yang mengungkapkan kegagalan cinta. Mungkin mereka tak meletakkan fondasi cinta mereka pada wadas kasih."
"Lalu kamu?" tanya Maureen.

"Aku pun hampir tumbang. Sekalipun berada di lembaga suci yang mengingkari persetubuhan, aku tetap pria normal yang punya rasa tertarik seksual pada kaummu. Aku pun telah berulang-ulang jatuh cinta. Tapi satu yang unik. Ia cantik, pintar dan juga baik. Sangat tulus menemani. Menurutku, ia wanita yang sempurna. Wajahnya yang indah, emailnya yang tertata rapi, lekukan tubuhnya yang bak gitar spanyol. Dengan dia kurasa surga telah kumiliki. Aku begitu damai. Tapi satu hari ia datang dan memutuskan menjadi seorang suster."

"Oh ya? Aku juga!" wajahnya tempak cemburu.
"Dan gadis itulah yang duduk di pangkuanku saat ini. Kamu sayang." Maureen meletakkan kepalanya di dada bidangku sambil berbisik. "Pres, kok kami begitu cepat untuk mengambil keputusan menjadi imam? Sejujurnya dalam kalbumulah kuletakkan sejuta harapan tentang hidupku, hidupmu dan hidup anak-anak kita. Tapi karena keputusanmu akhirnya akupun memutuskan untuk menjadi biarawati."

"Yah, biarlah benang-benang cinta yang telah kita jalin untuk menjadi tenunan pengantin, dilebur dalam guratan-guratan kasih suci. Relakanlah tenunan itu menjadi jubah suci pembungkus kerapuhan Luciet dan Regni," kataku lirih tapi pasti.
"Maureen, di atas wadas ini kuletakkan dasar cintaku.

Tapi akhirnya kuputuskan cinta itu. Kubangun cinta abadi dalam wadas yang kokoh. Sayang... coba kamu lihat. Wadas ini walau diterjang badai, dihempas angin, diberondong hujan, dihantam panas terik, dan meski dimakan usia, dia terus tegar. Mungkin dalam kebisuannya, ia menyimpan kisah cinta anak manusia, dari kepolosan menuju cinta duniawi dan bermuara pada cinta sejati."

Kurangkul dia, kukecup bibirnya yang ranum merekah untuk terakhir kalinya. Ia meraung, tangisnya pecah, sesenggukan dalam pelukanku. Namun kusadari cinta tak berarti memiliki. Kami menatap rembulan, sinarnya terang benderang, hingga bayangan dua sejoli terukir di pasir bak dipahat pemahat Agung. Air kembali pasang. Deru angin darat merangsang gelombang menampar tepi wadas. Kupeluk Maureen dengan kasih, cinta seorang sahabat.

Di atas wadas ini, kuakhiri petualangan cinta di dunia ini, selamat jalan Maureen, biarlah cinta Kristus yang meneguhkan kita. Di atas wadas ini, Kristus akan mendirikan jemaatNya dan alam maut tak akan menguasaiNya.

Lembah Klausura Bogenga, Oktober 2009


Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda