POS KUPANG/
ALFRED DAMA

Paramitha Mentari
Kesuma


BAGI Paramitha Mentari Kesuma, berkunjung ke Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bukanlah pertama kali. Sebelumnya, Miss Indonesia Earth-Water 2008 ini juga pernah mengunjungi beberapa daerah di Flores untuk mengampanyekan penyelamatan lingkungan.

Menurutnya, Propinsi NTT memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Contohnya, laut di wilayah ini masih tergolong bersih. "Aku tahun lalu pernah ke Flores, aku sampai menyelam di sana," kata Mentari saat bertatap muka dengan warga Kampung Oepunu, Desa Oelnasi-Kabupaten Kupang, Sabtu (14/3/2009) lalu.

Mentari hadir di kampung tersebut bersama Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti dan Miss Indonesia Earth-Fire 2007, Ignatia Sabrina dalam rangka pencangan penanaman pohon cendana dan jati di Kabupaten Kupang yang ditandai dengan penanaman cendana di Kampung Oepunu.

Mentari sangat antusias menceritakan pengalamannya di Flores tersebut, sehingga ia lupa kalau dirinya sedang berdiri di bawah terik matahari di kampung yang berada di jalan menuju bendungan Tilong tersebut.

Dikisahkan lagi, yang membuatnya takjub adalah ikan dari perairan di Flores sangat besar. Jarang ia menemukan ikan sebesar itu di Jawa. Hal inilah yang membuatnya selalu ingat NTT, khususnya Flores. "Ikan di sana besar-besar ya, aku sendiri baru pernah lihat ikan segede itu. Kalu di Jawa ikan tidak segede itu," jelas Mentari dengan wajah serius. Ia pun berkeinginan suatu saat bisa kembali ke Flores.

Baginya, anggapan bahwa NTT tidak memiliki sumber daya alam tidak sepenuhnya benar, sebab kekayaan laut NTT sangat banyak, diantaranya ikan-ikan dalam jumlah besar. Yang perlu dilakukan adalah menjaga kekayaan laut tersebut agar tidak rusak. (alf)


Pos Kupang Minggu, 22 Maret 2009, halaman 16 Lanjut...

Ir. Umbu Pura Woha

Foto Pos Kupang/
Alfred Dama


Cari
Kepuasan
dalam Tulisan


MEMASUKI
masa pensiun bukan berarti akhir berkarya. Pensiun bukan berarti berhenti dari segala macam aktivitas. Ini pula yang menjadi pemikiran dari Ir. Umbu Pura Woha. Bagi pria kelahiran Wualanda, Mangili, Kabupaten Sumba Timur, 22 Oktober 1936 ini, sisa hidup yang masih dianugerahkan Tuhan, harus dimanfaatkan dengan berkarya untuk generasi mendatang. Dia memilih menulis sebagai karya dalam di masa tuanya. Faktor usia baginya bukan menjadi penghalang. Bahkan pengalaman semasa mengabdi baik sebagai pejabat eksekutif maupun duduk di bangku legislatif telah membuatnya banyak ide untuk mengisi masa-masa tua. Sebagai putra asal Pulau Sumba, Umbu Pura Woha memilih menulis tentang tanah asalnya. Sumba yang eksotik dan kaya akan budaya ternyata belum banyak ditulis. Kekurangan karya- karya tulis itulah yang mendorong Umbu Pura Woha menulis dua buku yakni Sejarah, Musyawarah dan Adat Istiadat Sumba Timur dan Sejarah Pemerintahan di Pulau Sumba. Bukan itu saja, sarjana pertanian pertama dari Pulau Sumba ini juga kini sedang menyusun cerita-cerita rakyat dan dongeng asal Pulau Sumba. Untuk mengetahi lebih banyak tentang sosok motivasi da tujuan menulis, berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Umbu Pura Woha belum lama ini.

Anda telah menulis dua buku. Setidaknya itu menjadi referensi bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. Apakah sudah lama direncanakan?

Semasa masih aktif sebagai pegawai negeri sipil, saya tidak berpikir untuk menulis buku. Tapi saat memasuki masa pensiun baru terpikirkan oleh saya. Sebenarnya niat saya menulis buku ini adalah saya melihat tulisan-tulisan mengenai Sumba sangat sedikit. Dari situ saya mulai berpikir, kenapa saya tidak menulis tentang Sumba? Saya mulai dan dapat mengumpulkan banyak dokumen. Banyak dokumen terutama yang dikumpulkan bapak almarhum Dr. Umbu Hina Kapitan, maka saya pikir ada baiknya mengisi waktu itu dengan menulis. Saya mulai dengan tulisan referensi buku yang sebenarnya yang sudah umum, misalnya mengenai Sumba.
Mungkin adat istiadatnya banyak yang sudah ditulis tapi tidak utuh semua, sehingga masih tetap memegang buku Bapak Umbu Hina Kapitan. Tapi buku itu dalam bahasa Sumba. Nah, langkah awal saya adalah menerjemahkan buku karangan Bapak Umbu Kapitan. Saya terjemahkan dulu ini buku ini ke dalam Bahasa Indonesia karena buku ini orang Sumba sendiri tidak bisa baca. Pertama karena bahasa yang digunakan bahasa Sumba kambera, Sumba Wajewa dan ada beberapa bahasa sub praja di Sumba. Jadi buku tebal itu walaupun dalam bahasa Sumba, orang Sumba tidak bisa baca karena dalam bentuk bahasa baitan, kalau Sumba bisa dikatana wunan, lulun, bahasa adat sehingga memerlukan pengertian. Untungnya, Umbu Hina kapitan bisa meninggalkan untuk generasi berikut yaitu kamus Sumba Kambera ke Bahasa Indonesia dan kamus-kamus dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang artinya lawiti yang menurut James Fox, itu bentuk pasangan atau bahasa yang berpasangan. Bahasa ini agak sulit dimengerti kalau tidak paham. Jadi pertama saya terjemahkan buku itu, lalu saya tawarkan ke Bupati, Ir. Mehang Kundang dan langsung diterima dan dijadikan satu proyek penerbitan buku.

Anda menulis tentang pemerintahan di Sumba. Dari mana Anda mendapat data-data itu?
Saya mendapatkan dari kalangan pemerintah karena mereka menyimpan arsip-arsip. Di kalangan pemerintah banyak tersimpan arsip-arsip, tapi secara terlepas-lepas. Kebiasaan menyusun suatu memori atau laporan tahunan yang mengkaitkan semua kegiatan itu dalam bentuk kegiatan terpadu sehingga menjadi dokumen itu masih kurang. Itu terjadi di kalangan pemerintah, sehingga menjadi kesulitan juga bagi orang yang membutuhkan dokumen itu. Saya juga mengalami hal yang sama. Kelemahan lain, ada kepala daerah yang memorinya di waktu selesai dia tulis dengan baik dan diperbanyak. Tapi ada juga memori yang dirangkap empat saja dan dipakai waktu serahterima saja. Serahkan satu ke gubernur, satu ke bupati dan sebagainya. Jumlahnya terbatas baik yang sudah cetak dan diperlukan menjadi dokumen dan diketahui itu bagus, sehingga mau susun satu sejarah yang dalam masa yang panjang itu tinggal baca memori-memori yang utuh menjadi satu kesatuan.

Mengapa Anda memilih menulis buku?
Nah, itu juga saya pikir ada baiknya ada waktu dan Tuhan masih memberikan kesehatan dan kesempatan maka saya berusaha menyusun. Tentu saja karena harus mencari penerbit.
Banyak juga banyak orang yang tidak suka menulis buku karena royaltinya hanya 20 persen. Sebelumnya hanya 10 persen. Tapi itu dikasih kalau bukunya sudah laku, kalau bukunya tidak laku ya tidak apa-apa. Seperti Prof. Alo Liliweri bilang, tidak ada yang kaya dengan menulis buku. Tetapi bukan kekayaan yang dikejar, tetapi kepuasan batin karena bisa meninggalkan catatan atau dokumen untuk generasi yang akan datang. Itu menurut saya yang pokok.

Apa yang paling paling membuat Anda bahagia dengan buku tulisan Anda?
Bisa menulis buku saja sudah membuat saya bahagia, apalagi kalau tulisan kita dikutip oleh penulis yang lain juga merupakan kebanggaan tersendiri, walaupun dari segi pendapatan mungkin tidak terlalu merangsang. Tapi kepuasan menulis itu yang dicari. Cuma sebenarnya kita perlu umpan balik atau tanggapan dari pembaca mengenai buku itu dan biasanya diadakan bedah buku dan sebagainya. Dari situ kita bisa dapatkan umpan balik. Tapi yang penting juga seperti dalam pengantar selalu dikatakan siap menerima kritik dan saran perbaikan. Biasanya tidak ada itu. Tapi itu baik agar cetakan berikut buku bisa lebih baik seperti perbaikan kesalahan teknis, menulis, kesalahan redaksi dan kesalahan data bisa diperbaiki untuk terbitan berikutnya.

Mengisi waktu dengan menulis juga merupakan pekerjaan yang sehat juga. Berapa lama Anda selesaikan buku ini?
Tergantung dari lengkapnya data. Kalau namanya sejarah perlu banyak dokumen, tapi banyak foto-foto itu adalah dokumen pribadi. Karena dulu waktu saya masih muda, saya selalu bawa tustel dan suka foto-foto. sehingga susudah 30 tahun kemudian foto itu memiliki nilai historis.
Tetapi kalau tidak ada tulisan juga sama juga tidak ada guna juga, ditulis sehingga diketahui oleh orang lain. Kalau masalah dokumentasi ini, kita mestinya belajar dari pemerintah penjahan Belanda dulu yang selalu mendokumentasikan setiap kegiatan atau peristiwa. Seperti ke pastor dan pendeta. Mereka itu menulis apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang mereka alami dan apa yang mereka perbuat selama melakukan perjalanan dan berada di tempat tertentu. Sehingga dalam dokumen-dokumen itu ada yang disebut laporan perjalanan. Kalau kita, hal-hal yang demikian dianggap sudah biasa, jadi seolah-olah semua sudah tahu. Tetapi setelah 50 tahun kemudian, belum tentu orang sudah tahu. Mengenai dokumentasi ini pernah disampaikan oleh Pak Ben Mboi saat ia jadi gubernur, yaitu setiap kepala dinas harus buat laporan perjalanan. Ya karena tidak ada yang baca, orang tidak menulis lagi. Padahal tidak dibaca juga tidak apa-apa yang penting menulis dan menjadi dokumen.

Butuh berapa waktu untuk menyelesaikan buku tentang Sumba?
Tidak sampai setahun. Saya mulai itu sejak Oktober 2007. Sebenarnya sudah bisa dicetak Juli 2008, tapi harus mencari dana lagi untuk mencetak buku ini.

Dalam buku ini, pesan apa yang ingin Anda sampaikan untuk masyarakat NTT?

Pertama, kaum terpelajar itu cintailah daerah sendiri dengan cara mendokumentasikan daerahnya. Sama dengan cinta tanah air. Sehingga orang kenal, orang tahu. Kalau bukan generasi sekarang ya generasi kemudian, sehingga berdasarkan itu banyak kalangan yang membeli buku ini. Buku ini baik untuk generasi muda yang mereka tidak tahu terjadi pada waktu-waktu yang lalu. Bung Karno juga pernah bilang jangan melupakan sejarah. Sehingga cetakan pertama in saya pasarkan di Kupang dulu. Karena di sini konsentrasi pelajar mahasiswa. Apakah mereka tertarik atau tidak, itu tidak jadi masalah. Dan, kalau ke toko- toko buku itu, buku ini tidak ada, jadi termasuk buku langka juga. Banyak pendapat yang bilang generasi muda harus memiliki buku ini untuk mengetahui perjalanan sejarah.

Apakah Anda hanya menjelaskan tentang Sumba dalam buku ini?

Dalam buku ini saya tidak fokus pada Sumba saja, karena ada dimensi nasional, ada sejarah Indonesia, ada dimensi sejarah regionalnya NTT, dan Indonesia bagian timur dan dimensi- dimensi lokal yakni Pulau Sumba. Dalam buku ini juga ada data mengenai gubernur-gubernur yang dilantik tanggal berapa, ada yang ditulis tanggal pelantikannya, ada yang hanya masa jabatannya. Kemudian ketua-ketua DPRD, hanya anggota DPRD Propinsi saya tidak tulis, hanya anggota DPR di Pulau Sumba ada semua. Dari daftar anggota DPRD Kabupaten itu, hanya satu masa jabatan di Sumba Timur yang saya tidak miliki data. Tapi ada yang mulai kasih tahu-kasih tahu siapa-siapa. Sumba barat itu ada tiga masa jabatan yang tidak ada yaitu 1971-1977, 1977-1982 dan lebih dulu dari itu yakni 1966-1971 juga tidak ada. Sebab sudah hampir semua sudah meninggal, ada juga yang masih hidup dan saya pernah wawancara tapi sudah tidak ingat lagi.

Anda memiliki latar belakang pendidikan pertanian, mengapa Anda tidak menulis sejarah perkembangan pertanian di NTT?

Terpikir juga, tapi saya masih kumpul data. Semasa aktif di kantor Dinas Pertanian, saya pernah diminta oleh Undana untuk menyusun kurikulum untuk Fakultas Pertanian tentang petanian lahan kering. Saya juga pernah ikut simposium internasional tentang pertanian yang digelar di Kupang oleh salah satu universitas di Salatiga.
Sebenarnya banyak hal yang saya bisa tulis, tapi saya mesti fokus. Apalagi kemajuan ilmu pertanian sangat cepat, jangan sampai ilmu saya sudah out of date. Tapi dasar-dasar ilmu itu tidak berubah. Saya punya rencana untuk tulis buku tentang sejara petanian tapi harus temukan dulu fokus apa yang mau ditulis. Mengenai pertanian itu memang, saya belum berani juga kecuali sebagai dokumen dan pengetahuan dasar karena ilmu berkembang terus dengan pesat setiap saat sekarang.

Apakah Anda masih merencanakan menulis buku lagi?
Saya mau menulis buku lagi, tetapi masih tenang budaya Sumba, saya lagi persiapkan tiga buah buku, barangkali khusus untuk Sumba, saya masih cari penerbitnya, sudah rampung masing- masing 80 persen. Ada buku yang pertama mengenai dongeng dan cerita rakyat Sumba. Kedua, dongeng asli Sumba, dan ketiga mengenai tatakrama orang Sumba.
Datanya ada dan banyak peninggalan dari Bapak Kapitan juga yang dikumpulkan bertahun-tahun. Khusus untuk dongeng asli Sumba, kalau cerita-cerita asli Sumba kalau disebut asli juga tidak karena satu dongeng bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya bahasanya dan tokohnya yang disesuiakn dengan tempat. Jadi setelah satya pelajari ya begitu. Kalau dongeng yang sama diceritakan di Jawa, maka nama dan pelakunya juga orang Jawa, tapi kalau diceritakan di Sumba maka nama dan pelakiu pasti orang Sumba.

Mengapa Anda ingin membukukan dongeng dari Sumba?

Di Sumba banyak dongeng, tapi banyak yang sudah dilupakan karena banyak yang sudah tidak diceritakan lagi. Jadi kalau tidak dibukukan maka kemungkinan bisa punah atau dilupakan oleh generasi mendatang. Sekarang saya sedang kumpul. Dari Sumba Timur saja ada beberapa dongeng. Lalu Sumba Barat, yakni Anakalang, Mamboro masing-masing dengan bahasa lokal. Sekarang masih ada beberapa dongeng yang saya kasih ke orang Sumba untuk terjemahkan karena bahasanya sama seperti bahasa Mamboro. Jadi dongeng asli bahasa Mamboro tapi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ada juga yang mengusulkan sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tapi saya masih berpikir.

Anda lama di pertanian. Kalau dulu progam lebih mengena dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya dulu ada program El Tari tetang menanam. Terus ada program Ben Mboi OMN dan ONH. Sekarang jagung lagi..
Sebenarnya, setiap orang selalu mau mengikuti perkembangan atau mode. Mode ini terus berubah dan orang ingin berubah sesuai perubahan mode. Demikian juga program dalam bidang pertanian ini. Saya lihat dalam proyek-proyek sekarang pada prinsipnya sama dengan program pada pemerintahan masa lalu. Hanya istilahnya baru, sulit, tapi sebenarnya buat apa kalau mempersulit yang muda? Nanti kalau datang ini wah orang ini punya proyek berhasillah, ini terjadi kebanggaan sektoral. Tapi sebenarnya terkait.

Apa yang tidak menyenangkan kalau menulis?
Mencari penerbit atau sponsor yang bersedia menerbitkan buku ini. Tapi menulis harus cari sponsor atau penerbit dan bersedia menerbitkan. Saya tanya juga dosen-dosen, kenapa tidak tulis buku. Mereka bilang begini, banyak mahasiswa yang di muka hidung saya ini mereka memfotokopi buku itu. Jadi pembajakan secara halus pun mengurangi minat para penulis. (alfred dama)

Data diri
Nama: Ir. Umbu Pura Woha
Tempat Tanggal lahir : Kampung Wualanda, Mangili 22 Oktober 1936
Pendidikan :
Sekolah Rakyat Masehi di Ngallu selama 4 tahun (1949).
Kelas 5 dan 6 di Melolo-Sumba Timur dan tamat tahun 1951
Melanjutkan di Sekolah Agama di Mauma'ru dan melanjutkan ke SMP Payeti Waingapu (hingga kelas III bagian B) dan tamat di SMP Kristen Waikabubak 1956
SMA Kristen Salatiga, tamat tahun 1959
Fakultas Pertanian-Institut Pertanian Bogor tamat tahun 1966
Karier:
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur sejak tahun 1966

Wakil Kepala Dinas Perkebunan NTT sejak tahun 1971
Kepala Dinas Perkebunan Propinsi NTT sejak 1974 (selama 20 tahun)

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultira Propinsi NTT 1994.
Pensiun 1996
Istri : Rambu Lika Ana Amahu (nikah pada tanggal 10 Januari 1969)
Anak-anak : Umbu Mangu Peter, ST, Umbu Maku Hinggiranja, SE, Umbu Tay Rawambaku, SE, Umbu Hapu Amahu dan Umbu Habita Meha, SE serta Rambu Mora Lambu Emu, S.T. (alf)

Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 3 Lanjut...

Kampanye Sinterklas

Parodi Situasi oleh Maria Matildis Banda

"JANGAN pilih dia! Pilih saya saja! Soalnya saya ini orang baik, berpendidikan tinggi, dermawan, suka menolong, dan pokoknya segala hal yang baik itu ada pada saya.

Apalagi partai saya! Saya punya partai itu luar biasa hebatnya! Hanya partai saya saja yang benar-benar punya telinga untuk mendengar, punya mata untuk melihat, punya kaki untuk berjalan, punya tangan untuk memberi dan punya sensitivitas tinggi untuk merasakan semua problem masyarakat."

Rara benar-benar menguasai panggung kampanye. Dia membius massa dengan gayanya yang khas, yaitu "ambil kesempatan dalam kesempitan, sekaligus unjuk gigi pada saat-saat menentukan!"

"Anda mau apa? Tinggal omong saja!" Teriak Rara selanjutnya. "Saya ini sinterklas. Namanya juga sinterklas, jadi sangat murah hati. Sembako, beres! Uang bemo, oke! Mau minum moke, jadi! Asal kamu pilih saya, pilih partai saya! Sebab partai saya ini memiliki semboyan dari, oleh, dan untuk rakyat!" Rara masih berapi-api di atas panggung. "Pilih siapaaaa?"
"Sinterklaaaaas," massa menjawab serempak dan kompak.


"Pilih saya! Sebab saya memang politisi sinterklas!" Rara membusungkan dada. "Sebab saya suka bersafari dan suka bagi-bagi sumbangan!"
"Hidup Sinterklaaaaass...." teriakan membahana membuat Rara melonjak bangga.

***
Kalau saja Rara baca opini Romo Leo Mali tentang Parpol dan Politisi Sinterklas beberapa hari lalu, mungkin dia akan berpikir sepuluh kali untuk menjuluki dirinya Sinterklas. Kata Romo Leo Mali, "Rakyat pada umumnya tinggal dalam kesadaran yang naif mengenai kemiskinan mereka sebagai nasib yang harus diterima.

Sementara parpol dan politisi ada pada ruang yang lain. Akibatnya intervensi politik partai dan politisi sinterklas malah dilihat sebagai sebuah penyelamatan. Sejatinya fenomena ini merupakan manipulasi atas kondisi ketidakadilan yang tercipta. Kemiskinan rakyat dimanfaatkan sebagai komoditas politik," Benza membaca keras-keras.

"Apa kata Romo Leo?" Tanya Jaki sambil melebarkan mata.
"Kemiskinan rakyat dimanfaatkan sebagai komoditas politik!" Kata Benza. "Kamu mau kemiskinanmu dimanfaatkan Rara?" Tanya Benza dan Jaki menggeleng.
"Menurut Romo Leo, dari sisi pendidikan politik perilaku sinterklas seperti Rara itu, menjadi tantangan yang sangat mendasar. Meski tampak elegan, namun sebenarnya perilaku ini tidak berbeda jauh dari politik etisnya VOC terhadap kaum inlander. Mungkin dengan semua analogi yang agak sinis perilaku ini bisa dilukiskan seperti pinsil dengan rupa dwi fungsi.

Ujung yang satu dipakai menulis, sementara ujung yang lain dipakai menghapus!"
"Pinsil? Tulis dan hapus? Sinterklas? Apa maksudnya?" Jaki kebingungan.

"Apa kamu mau ditulis terus dihapus? Apa kamu mau dimanfaatkan?" Tanya Benza.
"Jelas tidak mau! Jadi saya harus bagaimana?" Jaki tambah bingung.

"Kritis!" Jawab Benza singkat. "Baca ini! Pada momentum pemilu, baiklah kalau rakyat diajak untuk bersikap kritis dan membangun harapan yang terukur berhadapan Rara. Kepercayaan kepada parpol dan politisi, apalagi politisi sinterklas seperti Rara harus ditakar kembali, agar orang seperti Rara menjadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan perannya sebagai politisi.

"Tetapi nanti bagaimana kata Rara?"
"Supaya Rara jangan asyik bermimpi dan kaget bangun dan mengigau, sepertinya dia jatuh dari langit, dan mengigau bahwa dia satu-satunya parpol yang pantas dipilih! Dia satu-satunya politisi yang layak diberi tempat. Kasihan deh Rara.

"Tetapi Rara itu Sinterklas! Saya butuh sinterklas!" Jaki mengeluh panjang.

***
"Halo, Jaki!" Rara sudah berdiri diambang pintu.
"Halo juga," Jaki dan Benza menjawab bersamaan.
"Ini sembako, uang bemo, uang saku, uang rupa-rupa!" Rara langsung menyerahkan semua bawaannya dengan gaya melempar! "Tetapi ingat, besok kamu harus ikut kampanye! Terus tanggal sembilan, pilih parpolku, dan pilih aku! Ingat itu!" Rara duduk bersandar sambil berkipas-kipas.

"Bagaimana ini, Benza?" Jaki ragu-ragu sambil memasukan semua bawaan Rara ke dalam lemari. "Terima kasih eh, terima kasih, tetapi anu anu terima kasih yaaaa..."

"Apa khabar Benza?" Rara mengangkat dagunya.
"Hebat benar kamu sudah jadi politisi sinterklas!" Jawab Benza.
"Oooh jelas dong! Pilih aku, politisi sinterklas!" Jawab Rara.

"Ini hadiahku untukmu," Benza menyerahkan opini Romo Leo untuk Rara.
"Ooooh maaf ya Benza. Saya tidak punya waktu membacanya. Maklumlah, saya sibuk kampanye."
"Kalau begitu ini saja!" Benza menyerahkan pinsil dengan dua mata. Yang satu untuk menulis dan yang satu lagi untuk menghapus.

"Nah, ini dia yang saya butuhkan untuk menghitung semua pengeluaran saya sebagai sinterklas. Terima kasih ya Benza. (*)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 1 Lanjut...

Wanita Cantik di Tanah Gersang


















POS KUPANG/ALFRED DAMA

1. PARA CANTIK--Dari kiri, Ignatia Sabrina, Paramitha Mentari Kesuma dan Hedhy Kurnianti saat hadir dalam kampanye ppenyelamatan lingkungan di dusun Oepunu, Desa Oelnasi-Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang
2.Hedhy Kurnianti saat menanam cendana

PANAS mentari sungguh terik di Kampung Oepunu, Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah-Kabupaten Kupang, Sabtu (14/3/2009) siang. Pemandangan hijau musim hujan sedikit memberi nuansa segar. Beberapa titik gambaran tandus di kampung yang tidak jauh dari bendungan Tilong tersebut masih bisa dilihat.

Siang itu suasana berbeda dari biasanya. Ada empat wanita cantik hadir di tempat itu. Mereka adalah artis sinetron dan bintang film, Tamara Bleszynski, dan tiga Miss Earth, yakni Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti, Miss Indonesia Earth-Fire 2007,Ignatia Sabrina dan Miss Indonesia Earth-Water 2008, Paramitha Mentari Kesuma.

Mereka datang ke tempat itu bersama anggota DPR RI, Setya Novanto, dan diterima oleh Bupati Kupang, Drs.Ibrahim Agustinus Meda, serta para tokoh adat di desa itu

Para wanita cantik tersebut selain menemui warga, juga melakukan kampanye penyelamatan lingkungan. Empat wanita cantik itu juga melakukan penanaman anakan pohon cendana pada lahan kering seluas seperempat lapangan sepak bola yang sudah disiapkan. Kehadiran empat wanita cantik di lahan kering tersebut sedikit mengubah suasana yang gersang menjadi sejuk.

Aksi menanam dimulai dari Tamara. Dengan terus mengumbar senyum, jari-jari mulus Tamara mengambil sebatang anak cendana setinggi setengah meter yang masih berada dalam polibek. Perlahan ia meletakkan tanaman itu dalam lubang yang sudah disiapkan dan menutupinya dengan tanah yang dibantu salah seorang petugas. Tidak lupa, ia melempar senyum pada kameramen televisi dan jurnalis foto yang berebutan mengabadikan aksi menanam pohon tersebut.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti, Miss Indonesia Earth-Fire 2007,Ignatia Sabrina dan Miss Indonesia Earth-Water 2008, Paramitha Mentari Kesuma. Tiga gadis cantik ini juga mendapat kesempatan menanam pohon kebanggaan masyarakat NTT ini. Dan, seperti biasanya senyum manis dari tiga wanita cantik itu terus ditunjukan kepada warga yang menyaksikan penanama itu.

Aksi menanam pohon ini merupakan bagian kampanye menanam kembali pohon cendana yang digalakan oleh Pemerintah Kabupaten Kupang. Selain melakukan penanaman, tiga wanita canti ini juga mengkampanyekan tentang penyelamatan lingkungan kepada warga sekitar.

Pesan yang disampaikan tiga wanita cantik ini sederhana untuk menyelamatkan lingkungan. Meski sederhana, dibutuhkan keseriusan dan komitmen setiap warga untuk mencintai lingkungan. (alf)


Satu Pohon untuk Nafas Empat Orang

MISS Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti saat menyapa warga Oepunu, mengatakan, menanam pohon merupakan cara yang paling sederhana untuk menyelamatkan lingkungan dan bumi. Ia pun terkesan upaya warga kampung itu untuk mau menanam kembali pohon untuk melestarikan lingkungan.

Menurutnya, gerakan menanam jati dan cendana merupakan awal yang baik untuk menciptakan lingkungan yang hijau . "Menanam merupakan langkah yang positif yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi. Dan, menanam banyak memberikan manfaat," ujarnya.

Menurut dia, menanam pohon berarti juga sudah memberi kehidupan pada orang lain. Sebab, menurut berbagai penelitian, setiap pohon bila dewasa bisa memberikan kehidupan atau satu pohon bisa memberi nafas untuk empat orang dan menanam pohon sangat memberi dampak pada bumi.

Hedhy mengatakan, masyarakat Kabupaten Kupang khususnya di Desa Oelnasi bisa memulai gerakan menanam yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Kupang dengan menanam pohon di kebun atau di sekitar rumah. Bisa semua warga menanam pohon, maka jumlah pohon akan banyak. Bila pohon banyak, maka semakin baik pula lingkungan di desa tersebut.

Deforestasi
Hal yang sama juga disampaikan Miss Indonesia Earth-Water 2008, Paramitha Mentari Kesuma. Ia sangat prihatin dengan informasi yang diketahuinya tentang NTT saat ini sedang mengalami deforestasi yang cukup para. Di Pulau Sumba saja, luas tutupan hutan hanya enam persen dari luas daratan salah satu pulau besar di NTT ini mencapai 10.710 km persegi.

Saat berbincang-bincang dengan wartawan Pos Kupang di ruang redaksi, Paramitha mengatakan, berbagai upaya harus dilakukan untuk mengurangi atau mencegah proses deforestasi di NTT ini. Berbagai cara yang bisa dilakukan antara lain melakukan aksi menanam pohon oleh semua pihak.

Hutan sangat berguna untuk kehidupan, selain sebagai penghasil oksigen, hutan juga sangat membantu dalam ketersediaan air. Apalagi di NTT selalu kesulitas air dalam hampir disetiap musim. "Di sini air masih sulit, jadi menjaga hutan juga membantu dalam ketersediaan air," ujarnya.

Selain itu, aksi pembalakan liar dan pembukaan lahan dengan cara membakar hutan bukan merupakan cara yang baik dalam pengelolaan lahan. Cara-cara demikian merusak lingkungan dan akan berdampak pada ketersediaan air.

Penyampaian Paramitha benar, sebab hutan yang baik akan memberikan banyak manfaat seperti penyediaan oksigen, pencegahan banjir dan tentunya sebagai tempat penyimpanan air. Bila hutan menjadi gundul maka sungai-sungai pun akan mengering, apalagi NTT saat ini sedang dalam proses menjadi gurun. (alf)

Buang Sampah Pada Tempatnya.

MISS Indonesia Earth-Fire 2007, Ignatia Sabrina juga prihatin dengan pengelolaan sampah di Kota Kupang. Gadis cantik berdarah Amfoang-Kabupaten Kupang, ini mengatakan, ia bersama dua rekannya itu sudah mengunjungi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Alak-Kota Kupang.

Menurut Sabrina, proses pengolahan sampah di Kota Kupang belum baik. Ini dilihat dari penumpukan sampah organik dan anorganik yang masih campur baur. Padahal mestinya, sampah organik dan anorganik sudah dipisahkan sejak dari tempat sampah di rumah tangga.

Mahasiswa program magister pada London School-Jakarta ini juga melihat belum adanya pengolahan sampah anorganik, padahal sampah-sampah tersebut bisa digunakan lagi untuk kebutuhan lainnya. "Sampah anorganik di sini belum dimanfaatkan, padahal bisa di-recycle untuk sampah anorganik," jelasnya.

Menurut dia, hidup tanpa sampah nampaknya mustahil, namun pengelolaan sampah bisa diatur agar sampah-sampah tidak menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Perilaku membuat sampah pada tempatnya merupakan hal kecil yang mestinya sudah dibiasakan sejak masa kanak-kanak. Dikatakannya, membuang sampah pada tempatnya merupakan bentuk lain dari menyelamatkan lingkungan. (alf)

Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 14 Lanjut...

Dokter Valens Yth,
Salam damai dan bahagia di hari yang indah ini. Saya langsung saja memperkenalkan diri saya sebagai Brigita yang sering di sapa Ita. Walau saya adalah gadis yang bukan abege lagi tapi saya ingin menanyakan beberapa hal menyangkut kehidupan dan cinta saya. Saya sudah selesai kuliah dan saat ini saya sudah dapat pekerjaan yang baik. Saat ini selain bekerja pada salah satu instansi pemerintah, saya juga berbisnis.

Usaha saya sudah sangat bagus. Banyak diantara teman-teman kadang menyarankan agar saya cepat menikah, namun saya merasa belum cukup punya uang untuk itu dan tidak ingin rasanya untuk selalu membebankan orangtua. Kadang saya jawab saja, saya masih mau cari uang dulu. Umur saya sekarang sudah 27 tahun.

Begitupun kalau Agung, pacar saya mencoba meyakinkan saya agar kami segera menikah. Saya juga masih merasa perlu menundanya karena saya masih belum merasa mandiri untuk ini. Di balik ini semua, saya sebenarnya sedang khawatir akan sesuatu hal, yaitu soal kesehatan saya. Dari dulu badan saya tidak pernah gemuk.

Saya termasuk langsing dan cantik, malah cenderung kurus. Dalam acara-acara serius dan terlalu lama, kadang saya merasa mudah lemas dan bahkan pernah pingsan di tempat sembahyang. Dalam perjalanan hidup saya ini saya pernah periksa ke dokter dan pernah dibilang saya ada gangguan pada buah pinggang, atau ginjal.

Tapi itu dulu dan saat ini sudah sembuh. Jadi saya sebenarnya sangat ingin kalau kelak saat sudah menikah dan bila saya sakit jangan sampai terlalu memberatkan suami atau bahkan orang tua.

Kedua, saya ingin calon suami tidak perlu tahu banyak tentang penyakit saya. Kasihan dia terbebani pikirannya. Saya tahu bahwa Agung mencintai saya dan mungkin kelak juga berbuat apa saja untuk saya, tapi saya sepertinya tidak ingin untuk itu.

Ada sedikit pertanyaan dan mohon penjelasan dokter, Apakah alasan saya menunda nikah dan mencoba konsentrasi mencari uang ini, salah? Apakah saya terus terang saja tentang sakit saya ini kepada Agung, tapi jangan sampai gara-gara itu lantas dia mundur? Saya bisa gigit jari sendiri dong. Demikian surat saya ini dan atas kesediaan dokter untuk menjawabnya saya ucapkan terima kasih.
Salam Ita, Maumere – Flores.

Saudari Ita yang baik,
Selamat bertemu, dan salam damai buat Anda. Oleh pengalaman dalam pendidikan dan dalam hidup keseharian, nampaknya Anda sampai pada satu kesimpulan bahwa Anda tidak boleh terlalu banyak membebani orang di sekitar Anda; termasuk orangtua dan pacar atau suami sekalipun. Namun suatu pertanyaan retorikal, siapakah di dunia ini yang tidak membutuhkan orang lain (?).

No Man Is An Island, Anda tidak bisa hidup sendirian seperti sebuah pulau terpencil. Disimak dari surat Anda nampaknya Anda masih ingin menyimpan kesulitan kesehatan Anda untuk diri sendiri. Dengan berusaha mencari dan mengumpulkan uang lebih dulu sebanyak-banyaknya dengan suatu harapan bila kelak di suatu saat kesulitan ini bertambah, maka Anda tidak perlu terlalu banyak bergantung daripada orang lain.

Sepintas lalu jalan pikiran Semacam ini sepertinya bisa diterima. Akan tetapi, mungkin Anda pernah mendengar kata-kata bijak yang berbunyi: Kebahagiaan atau sukacita bila dibagikan kepada banyak orang dia akan menjadi besar, sedangkan kesusahan dan dukacita bila dibagikan kepada banyak orang dia akan menjadi kecil dan ringan. Bila Anda bisa merasakan sedikit kebenaran dalam kalimat bijak di atas, maka Anda memberi sedikit koreksi pada jalan pikiran Anda sendiri.

Selanjutnya, saya sering sekali menekankan hal di bawah ini : Love, Tolerance and Understanding adalah kata-kata indah di mana Kasih dan Cinta membuat orang bersikap toleran terhadap orang yang dicintai. Sesungguhnya cinta itu tidak mementingkan diri sendiri, tidak egois, bahkan mencari kesempatan untuk memberi lebih banyak daripada menerima.

Dan, ini hakekat cinta, bila Agung mencintai Anda, maka pemberiannya atau bahkan pengorbanannya adalah bagaian yang membuatnya bahagia. Anda tentunya ingin juga melihat Agung bahagia bukan(?). Bila demikian, Anda sudah perlu membuat koreksi atas konsep kemandirian Anda. Ada lagi sebuah kalimat bijak yang ditulis dalam buku : God’s Little Devotional Book For Men, 2003, sebagai berikut: Manusia kadang mengorbankan kesehatannya demi mendapatkan kekayaan, lalu dengan senanghati membayarkan segala penghasilannya untuk mendapatkan kembali kesehatannya.

Saudari Ita yang baik, menikah bagi dua anak muda yang saling mencintai adalah ”obat” yang menyehatkan jiwa dan raga. Bukan tidak mungkin dengan kualitas cinta yang begitu tinggi antara Anda dan Agung, kesehatan Anda yang sedikit terganggu kemarin-kemarin akan berangsur pulih, bahkan Anda akan semakin montok dan tidak kurus lagi.

Jadi, melihat umur Anda yang sudah 27 tahun tidak perlu lagi menunda keinginan untuk menikah. Saya tidak ingin mengatakan menunda itu salah, namun kata yang paling pas adalah ”Tidak perlu” menunda. Selanjutnya pertanyaan Anda yang kedua, saya ingin menjawabnya bahwa tidak ada alasan yang terlalu kuat untuk tetap menyembunyikan keadaan fisik Anda kepada pacar Anda, Agung. Bicarakan itu secara terbuka dengan Agung sehingga tidak ada lagi kegelisahan dalam diri Anda.

Kejujuran akan membuat Anda merasa merdeka. Apalagi, dalam surat Anda mengatakan bahwa pernah dulu ada sedikit gangguan pada ginjal, tapi kini sudah sembuh. Hal yang perlu Anda lakukan adalah secara rutin memeriksakan kesehatan ke dokter sehingga perkembangan fungsi ginjal Anda terpantau secara baik. Selain itu, hal menyangkut badan yang kurus dan mudah lemas umumnya berkorelasi positif dengan faktor konsumsi makanan (diet) dan berkorelasi negatif dengan beban pikiran (psikological stress).

Alangkah baiknya Anda konsultasikan pola makan Anda dengan dokter. Luangkan juga waktu Anda untuk ”refressing” dan berolahraga ringan secara teratur, sehingga secara fisik dan psikis lebih siap untuk masuk ke jenjang berumah tangga. Demikian jawaban saya, mudah-mudahan Anda mulai berpikir untuk menerima lamaran Agung dalam waktu dekat ini. Semoga.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM.


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 13 Lanjut...

Resep Modis Ala Dian Sastro

Foto Kapanlagi.com
Dian Sastrowardoyo
tampil memikat dengan
gaun minimalis
dan make up netral.


"MENURUT saya, cantik adalah ketika kita merasa diri kita cantik. Sebab, semua orang itu cantik. Amat penting untuk memiliki rasa optimisme supaya bisa tampil cantik," kata artis dan model, Dian Sastrowardoyo, pada acara talkshow Lux Foamphoria, di Mal Taman Anggrek akhir pekan lalu.


Apa hubungannya antara merasa cantik dan tampil menarik? Menurut Dian, ketika seorang wanita merasa nyaman dengan dirinya sendiri, ia akan tampil lebih menarik. Seorang wanita tak perlu berdandan berlebihan dengan make up tebal dan pakaian penuh warna atau corak, atau bahkan dengan merek-merek kenamaan. Yang penting, jelas Dian, adalah mix and match gaya.

Ketika seorang wanita ingin tampil glamor dan stylish, misalnya, pada saat kencan pertama, Dian Sastro (begitu ia akrab disapa) menyarankan untuk memadupadankan pakaian polos dengan aksesoris.

Ia menyarankan untuk berinvestasi dengan pakaian-pakaian tanpa banyak corak dan
aksesoris. Baju yang bercorak ramai cenderung mudah diingat, sehingga Anda mungkin hanya bisa mengenakannya beberapa kali supaya tak terlihat membosankan. Ujung-ujungnya, harus membeli lagi.

Motto yang dipegang Dian dalam berpakaian adalah less is more, minimal justru terlihat lebih cantik. Ia mencontohkan dengan padu padan yang dilakukan salah seorang pengunjung acara Lux Foamphoria, yakni dengan memadu kemeja biru muda bercorak garis vertikal dengan celana pendek dan rompi berwarna abu-abu. Pilih satu titik kunci, jika sudah ada atasan yang bercorak, pastikan bawahannya polos, begitu juga sebaliknya.

Dian juga mengatakan bahwa yang terpenting bukan seberapa mahal sebuah barang yang kita kenakan, namun justru pembawaan kitalah yang terpenting. Jika kita merasa nyaman dengan diri, apa pun yang kita kenakan juga akan terlihat cantik. Tentu saja, Dian kan sudah cantik dan punya banyak uang untuk melakukan perawatan, begitu mungkin Anda berkata dalam hati.

Dian menambahkan, bahwa perawatan yang ia lakukan tak banyak, namun yang membuatnya selalu terlihat segar dan menarik adalah dengan memiliki waktu untuk memanjakan diri, atau yang ia sebut me time setiap ia perlu. "Resep saya, setiap kali ada job, sebelum tampil, saya selalu menyempatkan diri untuk mandi. Sehingga dalam sehari bisa jadi saya mandi lebih dari dua kali. Wangi sabun yang menyegarkan bikin saya lebih semangat dan merasa cantik," papar Dian.

Tentunya harus dipastikan bahwa sabun yang digunakan jangan terlalu banyak dan bahan kandungannya tidak membuat kulit kering. Dian menambahkan, "Kalau saya, cara membersihkan badan dengan menggunakan sedikit saja sabun cair (satu sendok teh), taruh ke puff untuk mandi, lalu tambahkan air yang banyak, remas untuk membuat busanya banyak. Mandi dengan sabun cair justru lebih hemat dan lebih wangi." (Kompas.com)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 13 Lanjut...

FOTO ISTIMEWA
H. Muhammad Saleh
bersama keluarga


Tanamkan Nilai
Agama Pada
Anak Sejak
Kecil


SEBAGAI umat yang taat beribadah dan selalu bersyukur kepada rahmat dan berkat yang diberikan Yang Maha Kuasa, pasangan H.Muhammad Saleh dan Wiwi Muawiyah, mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta kasih.

Pasangan ini berusaha tidak gegabah dengan menerapkan perilaku yang pantas buat anak-anak mereka dan mereka sepakat untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anaknya sejak kecil. Keduanya yakin dengan dasar yang kuat, anak-anaknya akan bertumbuh menjadi anak yang patuh, cerdas dan sukses di kemudian hari.

Kepada Pos Kupang di kediama mereka, Rabu (18/3/2009), H.Muhammad Saleh, yang alumnus Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Yogyakarta tahun 1995 ini mengatakan, mendidik dan membesarkan anak merupakan tugas mulia karena orang tua adalah perpanjangan tangan Sang Pencipta di dunia ini. Untuk itu, segala sesuatu yang disampaikan kepada anak haruslah sesuai dengan ajaran-Nya.

Pasangan yang menikah tahun 1998 ini, telah dikarunia dua anak, yakni Sultan Agung Bimantoro, saat ini kelas IV SDN Bonipoi Kupang dan anak kedua, Nabila, saat ini berusia empat tahun. Sedangkan sang istri adalah ibu rumah tangga yang setia menemani anak-anaknya jika berada di rumah.

Saleh menuturkan, kesibukannya dengan berbagai macam organisasi tidak membuatnya lupa pada anaknya. Ia selalu menyempatkan diri bersama kedua anaknya. Namun demikian, ia mengakui bahwa sang istrilah yang lebih banyak wakatu dan mengambil peran dalam membimbing dan membesarkan kedua anaknya.

Kepala Bidang Organisasi Kerukunan Keluarga Bima-Dompu (KKBD) ini mengatakan, nilai-nilai agama yang ditanamkan antara lain mengajarkan anak untuk belajar membaca dan menahami Kitab Suci Al Qur'an dan mengajarkan tata cara beribadah dan sholat. "Inilah hal-hal dasar yang kami ajarkan agar anak bisa mengetahui secara benar ajaran agamanya sejak kecil," ujarnya.

Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Propinsi NTT dan Bendahara IPSI Kota Kupang ini mengatakan, usia anaknya yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang orangtua tidak ingin dicemarinya dengan memaksakan kehendak kepada anaknya. Makanya, segala bentuk pendidikan dan ajaran yang diberikan kepada anak selalu disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Baginya, memaksakan kehendak orang tua kepada anak, sama saja dengan melanggar hak-hak anak. Menuru dia, usia anak-anak adalah usia bermain sehingga ia selalu mengajarkan sesuatu secara alamiah.

Dikatakannya, walau nilai agama yang selalu ditanamkan kepada anaknya, namun pendidikan di sekolah tetap yang utama dan pertama. Sehingga, tidaklah heran jika setiap sore atau malam, ia selalu mengevaluasi dan menanyakan kepada anaknya yang sulung apa yang didapatkan di sekolah.

Bila anak-anak memiliki permasalahan di sekolah, menurutnya, orang tua wajib memberikan pemahaman dan perhatian kepada anak. Ia selalu memberikan pemahaman kepada anaknya bahwa apa yang dilakukan oleh guru-guru di sekolah tidak lain adalah ingin menjadikan anak-anak menjadi pintar dan sukses. "Kalau anak saya memiliki masalah di sekolah, saya berusaha memberikan pemahaman kepadanya. Bahwa apa yang dibuat oleh bapak atau ibu guru adalah yang terbaik. Dengan demikian anak tidak merasa takut atau risih ke sekolah," kata pria kelahiran Bima, NTB tahun 1969 ini.

Untuk mendukung kegiatan belajar anak di sekolah, keduanya, seringkali menyertakan anaknya mengikuti les-les privat. Tetapi menurutnya, karena usia anak yang masih usia bermain, seringkali dihentikan. Namun demikian, di rumah anaknya tetap dibimbing, terutama oleh ibunya.

"Ibunya yang paling banyak membimbing anak di rumah. Misalnya, membantu menjelaskan kepada anaknya jika ada yang belum dimengerti atau tidak tahu. Anak saya memang pernah ikut les privat, tetapi kadang ikut kadang berhenti. Makanya kami tidak mau paksakan. Kalau dia bilang mau kami antarkan ikut privat, kalau tidak yah distopkan. Kami tidak mau memaksakan anak," kata Kepala Bidang Antar Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Propinsi NTT ini.

Untuk menyiapkan anaknya menjadi mandiri ketika dewasa, pria yang malang melintang di berbagai organisasi masyarakat ini mengatakan, tidak memaksakan karena jarak antara anak pertama dan kedua memang cukup jauh. Makanya, anak pertamanya sampai saat ini belum bisa menghilangkan kebiasanya manjanya. Namun demikan, saat ini keduanya mengajarkan untuk melakukan hal-hal sederhana di rumah seperti membereskan kamar, membuat mie instan sendiri atau menggoreng telur dadar sendiri dan makan sendiri.

"Ini hal-hal sederhana di rumah yang kami ajarkan kepada anak sulung karena dia yang sudah agak besar. Untuk saat ini kami masih mengajarkan hal-hal sederhana dan kami tidak ingin memaksakan kehendak kepada anak. Biarkan dia berkembang secara alami dan mandiri," katanya.


Untuk itu, pria yang pernah menjadi Konsultan Perencana di NTB ini mengatakan, keduanya harus mengetahui watak dan perilaku masing-masing anak. Misalnya, kalau kedua anaknya mengeluhkan sesuatu bahkan protes. Keduanya berusaha memberikan arahan dan mengkomunikasikanya dengan bahasa yang mudah dimengrti anak. Suami istri ini selalu menghindari jangan sampai terjadi kekerasan terhadap anaknya.

"Biasanya anak sulung yang selalu protes, bahkan marah balik kalau kami memarahinya. Namun sebagai orang tua jangan sampai merasa tersinggung dengan sikap anak tersebut, sebaliknya kami menanyakan apa yan diinginkanya. Dengan demikian kami tahu betul apa yang menjadi keinginan anak," katanya.
Menurutnya, di sinilah akan sendirinya muncul komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. (nia)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 12 Lanjut...

Spiderman

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

IBU kewalahan menghadapi ulah Tio. Putra sulungnya itu tidak suka makan sayur. Diolah seenak apa pun sayuran itu tidak akan disentuh Tio. Setiap hari Tio hanya makan nasi dengan daging atau penggantinya, seperti ikan, telur atau tempe dan tahu.

Hal tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun sehingga membuat ibu khawatir akan pertumbuhan dan perkembangan anaknya itu.

Beberapa upaya dilakukan ibu dalam rangka membujuk Tio agar mau makan sayur. Salah satunya adalah dengan membawanya ke dokter anak. Selain memberi obat dokter juga menerangkan kepada Tio akan pentingnya beberapa vitamin yang terkandung di dalam sayur-sayuran bagi kesehatan tubuh.

Obat dari dokter itu tidak diminumnya. Tio tetap pada kebiasaan lamanya. Karena kehabisan akal, ibu menawarkan akan membelikan sepeda untuknya asalkan dia mau makan sayur. Namun Tio lebih memilih untuk tidur tidak makan sayur.

***

Suatu hari ketika berada di gudang Tio melihat seekor laba-laba sedang berlari-lari di sarangnya. Dia berlari ke sana ke mari dari dinding yang satu ke dinding lainnya. "Asyik juga kalau Tio bisa seperti laba-laba itu. Tio akan memanjat gedung yang satu dan berpindah ke gedung lainnya. Ya... Tio ingat, seperti yang dilakukan oleh spiderman di film itu," Tio berangan-angan.

Tio segera berlari menemui ibu yang sedang merawat bunga kesayangannya di halaman.
"Bu, tadi di gudang Tio melihat laba-laba. Dia berlarian di sarangnya, berpindah-pindah dari dinding yang satu ke dinding lainnya. Tio ingin seperti laba-laba itu. Merangkak dari gedung yang satu ke gedung lainnya tanpa perlu takut terjatuh, seperti spiderman di film itu, Bu," ujar Tio.

"Bisa saja, mengapa tidak? Bahkan hal ini sudah terjadi di dunia nyata. Tio masih ingat siaran berita di televisi beberapa tahun lalu? Ada seorang pemanjat dari Prancis yang memanjat Monas di Jakarta? Pemanjat itu telah memanjat hampir seluruh gedung tinggi dan menara di dunia tanpa alat bantu. Karena itu dia dijuluki spiderman. Tetapi untuk mencapai semuanya itu ada syaratnya," kata ibu.

"Apa syaratnya, Bu?" Tio penasaran.
"Tubuh yang sehat dan otot yang lentur dan tulang yang kuat. Bayangkan kalau orang itu sakit, ototnya kaku dan tulangnya keropos. Jangankan memanjat, untuk berdiri pun dia tidak akan mampu," jawab ibu.

"Bagaimana caranya untuk memenuhi syarat itu?" tanya Tio.
"Makanlah makanan dengan gizi seimbang. Artinya memenuhi empat sehat dan lima sempurna, yang meliputi nasi, sayur, daging atau penggantinya seperti ikan, telur, tempe dan tahu, buah-buahan juga susu. Jika gizi yang masuk tidak seimbang, misalnya kita tidak makan sayur, maka hal itu akan menimbulkan kekurangan vitamin di dalam tubuh.

Kekurangan vitamin menjadi cela masuknya bibit penyakit, yang pada akhirnya membuat orang sakit," tutur ibu.
"Kalau begitu mulai sekarang Tio mau maan sayur, Bu. Tio ingin agar badan Tio sehat, membuat otot yang lentur dan tulang yang kuat agar bisa menjadi spiderman. Tapi... Tio kan belum memiliki baju dan celana spiderman. Besok ibu belikan buat Tio ya Bu" pinta Tio.

"Ibu janji besok akan membelikan baju dan celana untuk spiderman ibu," kata ibu sambil memeluk Tio erat. Ibu lega dan bahagia, beban berat yang selama ini memenuhi pikirannya kini telah dipecahkan oleh Tio sendiri. (*)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 12 Lanjut...

Karier Berdasarkan Zodiak

BANYAK orang percaya bahwa rejeki, jodoh sangat berkaitan dengan tanggal kelahiran serta pernaungan bintang. Sehingga banyak orang juga selau berusaha menyamakan jodo dan peruntungan sesuai dengan bintang, tidak terkecuali dengan profesi.
Sedang mencari profesi baru, tapi bingung mau jadi apa? Berikut ini beberapa penjelasan mengenai karakter masing-masing bintang zodiak untuk membantu melihat kemungkinan profesi yang sesuai. Percaya atau tidak, semua itu kembali lagi kepada Anda. Namun, tak ada salahnya untuk `mengintip' dan melihat kemungkinannya, kan?

Aries (21 Maret-19 April)
Si Biri-Biri Jantan yang energik, baik dalam melakukan pekerjaan yang menantang, kompetitif, maupun wiraswasta. Bintang ini akan bekerja baik jika diberikan iming-iming komisi, seperti insentif penjualan. Pahlawan dari dalam hatinya, Aries juga cocok sebagai prajurit, polisi, dan pasukan penyelamat. Bidang periklanan dan kehumasan juga bisa dijadikan salah satu pilihan karena sifat senang berpromosinya yang cocok untuk bidang ini.

Taurus (20 April-20 Mei)
Bintang ini mendambakan karier yang bisa memberikan kestabilitasan. Taurus tak masalah jika harus kerja lembur asalkan mendapat bayaran yang setimpal, fasilitas yang memuaskan, dan banyak waktu libur. Taurus cukup sensual dan menyenangi pekerjaan yang berhubungan dengan makanan, bunga, atau barang-barang luks. Terkenal karena suaranya yang merdu, orang yang berada di bawah bintang ini juga baik sebagai penyanyi, pembicara, dan resepsionis.

Gemini (21 Mei -20 Juni)
Si Kembar yang cerdas memerlukan pekerjaan yang membutuhkan stimulasi intelektual. Meski orang-orang yang di bawah tanda ini tak suka bekerja di luar batas waktu, Gemini bisa memberikan produktivitas tinggi dalam waktu hari kerja ketimbang apa yang dihasilkan orang lain. Mereka baik bekerja di bawah tekanan, hingga profesi yang cocok, antara lain pekerja technical support, customer service, guru, dan penulis.

Cancer (21 Juni-22 Juli)
Penuh rasa kasih dan perseptif, Sang Kepiting sangat cocok di perkejaan yang memerlukan kemampuan mengasuh. Pekerja sosial, berkebun, dan menjaga anak adalah hal-hal natural yang cocok untuk zodiak ini. Cancer baik dalam menghasilkan uang, dan akan cocok jika ditempatkan sebagai penjual saham, eksekutif bank, dan manajer portofolio saham. Karena sifatnya yang tak terlalu suka mengumbar cerita, bisa diandalkan, dan taktis, mereka cocok bekerja di bagian sumber daya manusia.

Leo (21 Juni-22 Juli)
Leo sangat kreatif, dinamis, dan penuh inspirasi. Leo cocok sebagai penampil di atas panggung, dekorator interior, dan pemandu wisata. Karena sifat dasar singa, maka mereka memerlukan karier yang memberi mereka status dan prestis tinggi. Maka, pekerjaan seperti dokter, pengacara, dan eksekutif akan cocok. Mereka cocok ditempatkan di posisi tinggi. Mereka juga cocok bekerja dekat dengan anak-anak.

Virgo (23 Agustus-22 September)
Virgo yang penuh perhatian akan baik bekerja di bagian jasa. Mereka senang memenuhi kebutuhan para pelanggannya. Mereka akan baik bekerja di bidang seputar restoran, spa, dan hotel. Virgo memiliki daya ingat kuat sehingga akan cocok bekerja sebagai editor, peneliti, dan guru. Karena memiliki perbendaharaan kata yang banyak, Virgo cocok bekerja sebagai penulis dan kritikus. Akan baik dalam bekerja yang banyak memberikan tip dan bonus.

Libra (23 September-22 Oktober)
Si Libra yang menawan, ceriwis, dan berselera tinggi akan menyenangi pekerjaan yang berhubungan dengan publik. Mereka akan cocok bekerja di bagian penjualan. Secara alami artistik, mereka cenderung bekerja di bidang seni, seperti desain, musik, atau tarian. Libra juga anggun dalam bersikap, akan bagus bekerja sebagai duta, customer service representative dan host restoran.

Scorpio (23 Oktober-21 November)
Penuh fokus dan motivasi diri, Scorpio akan baik bekerja di profesi yang membutuhkan konsentrasi. Orang yang berada di bawah zodiak ini akan cocok bekerja sebagai ahli bedah, pengacara, dan sekretaris eksekutif. Scorpio tak suka berada dalam pengawasan dan perlu diberikan kebebasan setelah mereka membuktikan dirinya bahwa ia bisa dipercaya. Scorpio menyenangi misteri, yang membuat mereka cocok bekerja sebagai detektif, polisi, dan psikiater.

Sagitarius (22 November-21 Desember)
Sebagai pribadi yang penuh antusias dan optimistis, Sagitarius memerlukan pekerjaan yang penuh tantangan. Orang-orang di bawah bintang ini tak tahan berada dalam rutinitas, dan akan lebih senang untuk berkelana dalam bisnis daripada bekerja di belakang meja sepanjang hari. Sangat aktif, si pemanah akan nyaman bekerja di luar ruangan dan cocok sebagai ahli lanskap, pelatih binatang, dan pelatih fitnes. Sebagai pribadi yang filosofis, Sagitarius sangat cocok bekerja sebagai pengacara, profesor, dan pemuka agama.

Capricorn (22 Desember-19 Januari)
Penuh perhatian dan pendengar kata hati, Capricorn butuh pekerjaan yang memerlukan banyak tanggung jawab. Capricorn jarang bekerja hanya sebagai bawahan, mereka bisa diandalkan sehingga akan baik ditempatkan sebagai manajer toko atau administrator rumah sakit. Pekerjaan seputar perbankan, manufaktur, dan gedung adalah industri yang bagus untuk dikejar oleh orang-orang di bawah zodiak ini.

Aquarius (20 Januari-18 Februari)
Aquarius kurang menyenangi pekerjaan yang konvensional. Apa pun yang mereka kerjakan, mereka senang melakukannya dengan gaya yang berbeda. Misalnya di dunia pengobatan, mereka justru mengambil dari segi holistik atau di dunia perkebunan, mereka justru menanam tanaman organik, bahkan pertunjukan seni kontemporer. Inovatif dan intelektual, Aquarius menyenangi pekerjaan yang memberi mereka ruang untuk berimajinasi, mengeksplor, dan berinovasi. Mereka akan suka bekerja sebagai ilmuwan, insinyur, dan bekerja di bidang kemanusiaan.

Pisces (19 Februari-20 Maret)
Sebagai karakter yang penuh intuisi dan imajinasi, Pisces adalah artis alami. Mereka menyenangi pekerjaan yang kreatif, apakah itu tata rambut, desain grafis, atau jurnalisme foto. Ikan juga penuh kasih dan menyenangi bidang kesembuhan, seperti suster, pekerja sosial, dan terapis fisik. Pisces juga akan menjadi dokter hewan dan psikolog yang baik. Intinya, mereka yang berada di bawah zodiak ini akan bekerja sangat baik jika mereka bisa menetapkan waktu kerja mereka sendiri dan bekerja sendiri. (Kompas.com)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 11 Lanjut...

Di Pengujung Tahun

Cerpen Marcello Abur

AKU tak pernah menyangka jika semuanya toh akan berubah. Sejak pertama kalinya telapak tangan kami bersentuhan dalam perkenalan dengan dara muda oleh seorang sahabat di garasi mobil milik seorang pengusaha yang tergolong sukses itu, saat itu pula ternyata tanpa terasa aku mulai membuka lahan baru dan menyemai benih persahabatan dalam tapak-tapak perjuangan kisah kami.

Aku tidak tahu ternyata semuanya itu merupakan produk persahabatan yang sebenarnya telah pupus. Sudah lama aku tersiksa, sudah lama aku tertekan, dan sudah lama pula aku mencecit kegelisahan. Semuanya lantaran kami tak pernah menyibak tirai-tirai yang lama terkubur dalam nubari masing-masing. Memang saat itu aku sadar bahwa semuanya membutuhkan waktu dan keberanian, sebagaimana kepompong membutuhkan waktu untuk berubah menjadi seekor kupu-kupu.

Demikianpun aku membutuhkan waktu dan keberanian untuk berpikir serta mangubah persahabatan ini dengan sebuah kata yang namanya "CINTA". Yah., berani untuk berusaha dan mengatakan hal yang perlu dikatakan sebagai silih atas kegelisahan. Selayaknya aku harus berusaha belajar dari seekor kepompong yang tanpa henti berusaha untuk berubah, dalam setiap perputaran waktu. Dan semuanya berputar menurut aturannya sendiri. Ia tak mampu dikendalikan oleh siapapun.

Namun apakah arti sebuah cinta? Memang, bagi orang yang mabuk kepayangan, cinta dapat didefinisikanya sendiri, bagi setiap seniman pun mempunyai jawabanya sendiri, dan setiap filsuf pun mempunyai pandangannya sendiri tentang arti dari sebuah cinta. Tetapi bagiku, cinta adalah sebuah kebahagiaan, sebab di mana ada persahabatan di situ tercium aroma, yang berujung pada sebuah kata yang jelas terukir dalam setiap lubuk. Cinta namanya.

Namun, kebahagiaan sempurna bukan terletak dalam sebuah persahabatan, yang mungkin hanya membuat gelisah dan tak puas. Kebahagiaan itu ada jika aku bisa mencintainya dan bahkan harus memilikinya, tanpa harus mengusik persahabatan itu.

Masih segar dalam ingatanku kala kau tinggal bersama seatap dan makan sehidangan denganku, berapa tahun silam. Kala itu aku dan kau sama-sama menyandang status yang sama yakni pelajar. Setiap pagi engkau berbusana putih apik, dipadukan dengan rok panjang menjulur sampai betis, meninggalkan rumah dan pulang di saat terik menyengat tubuh, dengan beberapa helai kertas digulung. Lalu kau membangun tenaga dan kembali melanjutkan aktivitas, sampai mentari merayap lelah dan pergi meninggalkanmu.


Jarang engkau betah bersama sahabat di rumah, apalagi ngobrol bersama. Engkau sungguh memikirkan bahwa waktu memang benar-benar tak akan kembali. Sampai kapan pun dan dimanapun ia tetap pergi bersama angin dan mentari yang terus bergulir. Begitulah rutinitas harianmu. Aku pun tahu dimana kau berada jikalau engkau tak ada di rumah. Dan, aku pun tahu ke mana engkau pergi walaupun kau hilang tanpa pamit. Terus terang aku begitu kagum dan tertarik pada sikapmu. Mungkin itulah rahasia kejiwaanmu. Semuanya kau lakukan dengan sadar dan sengaja demi meraih kebahagiaanmu di masa depan karena aku yakin masa depan telah menjanjikan sejuta kebahagiaan untukmu. Dan engkau tak mau membiarkan orang tuamu kecewa dengan kegagalanmu. Mataku hanya melihat namun mulut enggan melontarkan komentar tentang usahamu.

Selama itu, aku hanya membungkus seribu niat dalam sebuah tabung yang tertutup rapat dan tak mau menyimpan dalam dunia. Karena bagiku, dunia terasa kecil dan tak sanggup menyimpan rahasia yang hampir misterius itu. Dunia begitu cepat membongkar dan menyibak segala sesuatu yang ada dan terlukis padanya. Apalagi manusia, dengan keserakahan dan janji palsunya menambah niatku tetaplah sebuah yang misterius.

Mungkin dengan dukun atau ilmu sihir. Mungkin juga dengan mikroskop atau alat bantu tekhnologi lainnya yang mampu membongkar jiwa yang masih terbungkus dengan topeng. "Tidak, tidak hanya akulah yang mengetahui isi hatiku tentang dia". Itulah salah satu kehebatanku dalam rona persahabatan kami. Aku sendiri tak tahu apakah ini termasuk tindakan yang baik atau tidak baik. Padahal, sebenarnya sahabat merupakan tempat tuk berkeluh. Tapi rasanya lidah dan bibir terasa kaku untuk berkeluh. Apalagi mengatakan hal itu.

Terasa salah jika aku berterus terang pada dia, jangan sampai niatku ini tak kesampaian. Aku sendiri tak berani menyibak tirai yang ada di balik persahabatan kami. Aku pun diam dan membiarkan gelagat memberi isyarat tentang isi yang hendak tercurah.

Dulu, mungkin seorang gadis yang mencintai aku ingin mendengar bisikan hati yang terlepas dari sepasang bibir sahabatnya, dan betapa damba hatinya mendapat kasih yang tercurah pada relung hatinya, yang kian hari kian berontak. Kala itu mungkin ia ingin mendapat perhatian menuntun perjalanan di tengah hutan rimba, mengumpul kayu bakar dan mengangkat beban ke pundaknya. Dan mungkin juga saat itu, ia membutuhkan alas kaki, dalam menjejali jalan terjal bebatuan, menahan kerikil-kerikil tajam yang membuat kakinya berayun gontai, ia pula membutuhkan penutup kepala tuk menjaga kesegaran pada ubun-ubun yang kian tersengat mentari.

Walau demikian ia bukan lemah, atau tak bisa dan tak biasa, tapi sebenarnya ada sesuatu yang tidak boleh tidak peroleh di balik jerihnya. Ia membutuhkan perhatian dari orang yang ia harapkan untuk memperhatikan dia. Tapi sayang, aku tak mampu menujum fenomena yang ada di balik kecengengannya.
"Ka, please... bantuin aku, melengkapi catatanku yang tertinggal!" Ia pun kembali meminta perhatian, walaupun sebenarnya ia bisa melakukannya.

Aku pun iklas mengangkat pena dan menggurat di atas barang tabularasa itu tanpa sasuatu pun pikiran yang terlintas. Namun sekali lagi aku tak mampu menebak gejala yang ada, aku tak mampu melihat apa yang ada di balik semua yang ada ini.

Namun, semuanya menjadi kenangan tatkala perjuangan bersama kami berakhir. Aku tak mempunyai pilihan lain selain meninggalkan dia. Walaupun hati mesti tersayat dan tersiksa. Bagiku semuanya berakhir. Sejak perpisahan itu, tak lagi berharap akan memandang wajah yang persis aku lihat sebelumnya. Apalagi jarak kampung yang jauh, dan tempat kuliah yang jauh. Aku melanjutkan kuliah di kota karang sementara dia di tanah kelahiran ayahnya, Jawa. Mengontaknya tak pernah apalagi berpapas.

Sejak itu pula kegelisahanku terus mengamuk. Apalagi setelah aku mendapat informasi dari seorang teman dekatnya. Lantas aku mengutuki kerdilnya keberanianku. Aku mengutuk jiwa yang mempunyai mental krupuk. Akulah yang membuat diriku merana. Aku tambah gelisah dan tertekan, jangan sampai kehadiranku seperti seorang siswa yang datang setelah bel masuk lama dibunyikan. Mungkin dengan enteng saja ia melupakan kisah-kisah yang sebenarnya tak enteng dilupakan.

"Entah apa yang melatari semuanya ini, tak usah ditangisi yang terpenting bagaimana aku menyusun skenario sehingga membuat semuanya mulus, terkesan rapi dan berusaha memilikinya." gumamku.

Untunglah, nokia sobatku Irens, yang memperkenalkan kami di awal MOS memberi kabar. Dia memberi saksi tentang niat Laidy, yang masih terbungkus dalam bejana hati yang ternyata kian hari kian rapuh. Semula aku tak yakin akan kata-kata manis bak air yang mengalir dari bibirnya. Sesekali aku mengusap mata, sebab mungkin aku sedang bermimpi. Tapi ternyata dia memberi kesaksian yang sungguh-sungguh benar.

Menyangkal dia berarti menyangkal kebenaran yang masih ada. Dia juga penyelamat diriku yang tengah gelisah. Maka sejak saat itu aku membabtisnya dengan menyebut "panglima penyelamat kegelisahan."

Sayangnya, pemilik pipi lesung dan berparas ayu ini tak lagi mengenal siapa yang masih gelisah. Ia tetap berjubel tanpa merespon isi SMS-ku. Malah ia berpikir ini adalah message dari teman sekampusnya. Aku pun tahu, tapi mungkin aku adalah Joy yang kelima setelah keempat teman di kampusnya. Namun akhirnya, ia tahu bahwa ia ternyata melupakan nama yang sebenarnya tidak layak untuk dilupakan. Ia ternyata melupakan nama dan sosok sahabat masa lalunya. Lantas, ia dengan gampang mengubur sosok itu bersama masa lalunya.

Syukurlah, 30 hari kemudian, berkat sony ericsonnya, kami pun saling menyapa di penghujung tahun yang kedua setelah kami berpisah tahun 2006 yang silam. Dari jarak yang jauh serentak kami kembali ke masa lalu. Dan membongkar seluruh cerita yang telah melilit jiwa kami. Masa yang penuh kenangan, masa yang membuat jiwa bergetar, dan nadi memompa kencang. Dia pun tak kuasa membendung segala beban yang membuat jiwanya memberontak. Membongkar dan membanjiri seluruh pertemuan kami.

Dengan suara serak-serak basah tanpa ragu ia membeberkan semua kegelisahan yang lama merasuk hingga hatinya tersiksa dan luka.
Kini hatinya bersih, bertaut bersama jiwa. Bersulam dan mengukir kisah yang menggayut pada seuntaian kata yang disebut CINTA.

Namun, sekali lagi apakah arti cinta itu? Aku pun paham apa yang dikatakan oleh ANIS MANSUR sang pencari cinta:
"Cinta adalah kata-kata yang tak terucapkan! Bila kau mencintai, jangan katakan. Bila kau menangis jangan ada seorang pun yang melihatmu, dan bila kamu bersedih hendaklah wajahmu bersenyum. Orang yang mencintai adalah orang yang membuat hidupnya sebuah tafsiran dari kelima huruf "C I N T A" yang tidak sempat kau ucapkan." (*)

Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-Puisi Camilo S

Duka

Aku melihat duka pada getar bibir
Anak-anak fakir
Aku mendengar duka menyapaku pedih
Dari tepi mata bening anak-anak sedih
Aku menatap duka membekas layu

Pada jejak langkah orang-orang sakit bermata sayu
Aku pun mengintip duka mengalir lincah
Bersama tetesan air mata kaum tak bersalah
Walau begitu ..
Tak kunyana


Elit-elit di negeriku masih tak bijak pula
Entah sampai abad yang mana,
Bangsaku menabur duka
Menuai air mata??


Malam
(Untuk Sorella Chika Di Dekat Grota Azzura)

Pada malam
Seperti malam pada sebuah kapal
Aku suka menulis namanya
Pada halaman hatiku
Cuma dengan satu kata "satu"
Pada malam ini seperti malam-malam berlalu
Masih kubuka halaman-halaman hatiku
Dan kubaca namanya
Lalu pada malam sebuah musim dingin
Nama itu membeku menjadi sebuah sosok
Yang mencair ketika mentari datang
Pada ujung malam itu juga


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Eugenius Kau Suni

Kehadiran Cinta (1)

Aku tak menemukannya bila kucari
Ia datang dalam keadaan tak ada
Menyimpan misteri
Gambarkan kebesarannya tanpa mengganggu


Cinta tak mengubar nafsu
Tenang mendayung meski resah dan gelisah
Takala besok tetap datang
Mengapa cinta menangisi cinta?
(Kupang, 17-03-09, buat sahabatku Sipri Atok)


Kehadiran Cinta (2)

Rupa cinta merajut kehidupan
Usaha dan perjuangan tiada ujung
Merengkuh bumi cucurkan air mata
Sekadar beraksi di atas panggung sandiwara

Cinta yang bebas
Terbang menembus ruang dan waktu
Menemukan sahabat-sahabat terdekat
Menemukan gubahan semesta indah adanya

Daya Ilahi
Mengapa Engkau meremukan tulangMu...?!!
Kupang, Maret 2009


Pos Kupang Minggu, 22 Maret 2009, halaman 6 Lanjut...

POS KUPANG/
ALFRED DAMA
Kiss Band saat tampil
di A Mild Wanted
2009 di Flobamora Mall,
Sabtu (7/3/2009) malam.

PULUHAN band Kota Kupang mengambil bagian dalam seleksi A Mild Wanted 2009 Regional Bali Nusa Tenggara, Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) di Area Parkir Barat-Flobamora Mall-Kupang, Sabtu (7/3/2009) sore. Ajang seleksi band tingkat nasional ini dimaksimalkan oleh beberapa band untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam bermusik.

Kiss Band mengawali parade band anak-anak Kupang ini dengan membawakan lagu Tak Lekang Oleh Waktu milik band Kerispatih. Penampilan yang memikat mengajak ratusan anak muda Kota Kupang yang sudah sejak siang menunggu penampilan talenta-talenta bermusik asal Kupang ini.

Grup ini kembali menujukkan performa mereka dengan lagu kedua, Everything I Do, I Do It For You. Lagu milik Brian Adam dan menjadi soundtrack film Robinhood ini memberi nuansa berbeda. Selanjutnya, beberapa band yang tampil adalah Kitong Band, Big Band dan beberapa band lainnya.

Deny Malelak dari 99 Production yang didampingi Chandra dari A Mild Live Production sebagai penyelenggara kegiatan ini menjelaskan, pada kesempatan ini band-band peserta seleksi A Mild Wanted 2009 hanya menunjukkan performans mereka. Pada kesempatan ini band-band bisa menunjukkan skill, daya tahan di atas panggung, mental panggung yang menghibur serta talenta bermusik.

"Jadi ini hanya wahana mereka untuk menguji skill bermusik, menguji mental di hadapan penonton yang begitu banyak serta bakat. Mereka boleh melakukan apa saja di atas panggung selama itu bersifat menghibur. Hanya saja ini tidak ada penilaiannya. Penilaian hanya dilakukan pada CD rekaman yang dimasukkan kepada penyelenggara," jelas Deny. Menurutnya, band-band yang lolos ke tingkat regional akan diumumkan pada tanggal 27 Maret nanti.

Panggung A Mild Wanted di Kupang ini merupakan langkah awal anak-anak band Kota Kupang dalam mengasah kemampuan dan mental. Selanjutnya, panggung yang lebih besar sudah menanti yakni seleksi tingkat regional, bahkan bila mereka benar-benar memiliki talenta dan siap menjadi the rising star, maka pentas nasional juga sudah menunggu mereka.

"Jadi ini kesempatan mereka mengukur kemampuan. Kalau dalam seleksi tingkat regional, mereka dinyatakan lolos, maka mereka sudah siap tampil di tingkat regional bahkan nasional," jelasnya. (alf)



Pos Kupang Minggu 8 Maret 2009, halaman 15 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Tamara bersama penari cilik di Kampung Oepunu, Desa Oelnasi- Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Sabtu (14/3/2009).

WAJAH Tamara Bleszynski agak terheran-heran ketika didaulat untuk menari bersama lima gadis cilik di Kampung Oepunu, Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Namun wajah cantik itu langsung cerah ceria ketika ia lima anak itu mulai menari dan mengajaknya menari bersama. Karena Duta Tinju tersebut belum bisa menari tarian Timor, ia langsung dibimbing oleh lima anak tersebut.

Penampilan bintang Lux itu pun menjadi perhatian warga yang hadir serta tamu undangan lainnya. Wartawan foto dan kameramen televisi pun berebutan mengambil gambar aksi Tamara.
Dengan sebuah lagu berbahasa Dawan melalui sound system, lima remaja putri tersebut terus mengajak dan mengajari Tamara untuk ikut bergoyang. Pada awalnya bintang sinetron, Wah Cantiknya, Ikhlas, Putri Cantik, Iman, Hikmah 1,II dan Hikmah III ini terlihat agak kikuk, namun hanya dalam beberapa saat, wanita yang terus mengumbar senyum itu mulai mahir menari. Bahkan, ia mengajak beberapa tamu undangan untuk ikut menari bersama. Tamara yang bernama lengkap Tamara Natalia Christina Mayawati Bleszynski hadir di Oelnasi bersama Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti, Miss Indonesia Earth-Fire 2007- Ignatia Sabrina dan Miss Indonesia Earth-Water 2008 Paramitha Mentari Kesuma untuk melakukan kampanye lingkungan dan penanaman pohon Cendana. Kehadiran wanita-wanita cantik itu menjadi daya tarik yang luar biasa bagi warga setempat. Mereka berebutan mendekati Tamara serta tiga Miss Earth. Bahhkan Tamara sempat berbincang-bincang dengan warga di tempat itu. "Wah ini seru banget, aku senang bisa ada di sini," kata Tamara. Menurutnya, baru pertama kali ini ia datang di Kupang dan langsung mendapat suguhan yang menyenangkan. Hal ini tentu menjadi kenangan tersendiri bagi wanita kelahiran 25 Desember 1974 ini. Menurutnya, kehadirannya di Oepunu ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupnya, sebab baru kali ini ia menari tarian tradisional bersama penari-penari cilik dan ini menjadi kebanggan buatnya. (alf)

Pos Minggu 15 Maret 2009, halaman 16 Lanjut...


POS KUPANG/
ALFRED DAMA
Ignatia Sabrina


BISA datang ke Kupang merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Ignatia Sabrina. Ungkapannya ini bukan sekadar basa-basi semata. Sebab, Miss Earth-Fire 2007 ini gadis berdarah Kupang, yang baru kali ini bisa berkunjung ke kampung halamannya.

Orangtuanya berasal dari Amfoang Selatan-Kabupaten Kupang.
Ignatia hadir di Kupang bersama dua rekannya Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti dan Miss Indonesia Earth-Water 2008 Paramitha Mentari Kesuma, dan Duta Tinju Tamara Bleszynski, untuk menyemarakkan berbagai acara termasuk kampanye penyelamatan lingkungan dengan menanam pohon di Kampung Oepunu, Desa Oelnasi-Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Sabtu (14/3/2009).
Ditemui di sela-sela acara penanaman pohon cendana di kampung Oepunu, mahasiswa pasca sarjana London International School-Jakarta ini menyatakan sangat bahagia bisa datang ke kampung halaman ayahnya. Meski baru pertama, ia langsung merasakan ada hubungan yang kuat antara ia dengan Kupang. "Bahagia sekali bisa melihat Kupang yang begitu indah. Saya juga suka dengan daerah yang banyak perairannya," katanya. Lebih bahagia lagi, menurut wanita berkulit putih bersih ini, ia bisa datang ke kampung halaman orangtuanya. Sebab baru kali ini ia sempat hadir di Kupang. "Saya keturunan Amfoang, saya bahagia bisa pulang ke kampung halaman," jelasnya. Dia berharap suatu saat bisa kembali ke Kupang, baik untuk berkunjung ke kampung halaman orangtuanya di Amfoang maupun melihat pohon cendana yang ditanamnya di kampung Oepunu. "Memang baru pertama kali, dan saya akan datang lagi untuk melihat Kupang dan tanaman yang ditanam ini, pastinya mau lihat perkembangannya dan ingin melihat daerah Amfoang," jelasnya. (alf)


Pos Kupang Minggu 15 Maret 2009, halaman 16 Lanjut...

AKBP Bambang Sugiarto


Foto ist
AKBP Bambang
Sugiarto dan keluarga















Keras Dalam Kata, Lembut Dalam Cara


NAMA Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Bambang Sugiarto, dalam beberapa waktu terakhir tiba-tiba mencuat ke permukaan khususnya untuk wilayah kerja Polres Ende. Berbagai kasus kriminal berhasil diungkapkan oleh jajaran polisi di bawah pimpinan Kapolres Ende ini.

Jika dilihat sepintas, terkesan Bambang Sugiarto adalah orang yang lembut sebagaimana khas pria Jawa pada umumnya. Namun di balik kelembutannya, Bambang merupakan sosok yang tergas, terutama ketika menjalani tugas sebagai polisi. Tidaklah heran bila sosok Bambang dapat diidentikan sebagai sosok yang keras dalam kata, namun lembut dalam cara. Baginya menjadi polisi untuk melayani masyarakat.

Dengan alasan itu dia menginginkan polisi yang benar-benar bersih karena hanya pada sosok polisi yang bersih dia akan bisa melayani masyarakat. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok Kapolres Ende, AKBP Bambang Sugiarto, dan bagaimana kiat-kiatnya memimpin Polres Ende, berikut wawancara wartawan Pos Kupang, Romualdus Pius, beberapa waktu lalu di ruang kerjanya.

Mengapa Anda mau jadi polisi, padahal seorang polisi dari sisi pendapatan minim namun harus bekerja keras dalam melayani masyarakat?.
Memang, sudah dari dulu saya berkeinginan menjadi tentara atau polisi karena terinspirasi dari orang tua yang seorang pejuang veteran. Kebanggaan sebagai pejuang dan abdi negara serta cerita heroisme membuat saya tertarik dan berkeinginan menjadi tentara atau polisi. Oleh karena itu, pada tahun 1985 saya mendaftar AKABRI, setelah diterima sebagai Taruna AKABRI saya masuk matra kepolisian. Pada saat itu saya sangat bangga menjadi Taruna AKPOL. Setelah lulus tentunya menjadi polisi sehingga tercapailah keinginan sebagai prajurit Polri sebagai abdi negara. Tentang pendapatan urusan belakangan yang penting adalah kebanggaan dan memperoleh pekerjaan.

Bisa diceriterakan sejarah pendidikan sehingga bapak bisa menjadi polisi seperti sekarag ini. Setelah lulus SMA saya mendaftar AKABRI, tahun 1985 menjadi Tarunan AKPOL lulus tahun 1988 kemudian penempatan tugas pertama di Polda Sulawesi Utara. Tahun 1997 mengikuti sekolah PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Di Jakarta lulus tahun 1999 ditempatkan di Polda NTT. Kemudian tahun 2000 mendapat kesempatan sekolah Pasca Serjana S-2 KIK (Kajian Ilmu Kepolisian ) di Universitas Indonesia, Jakarta lulus tahun 2002 ditempatkan di Ditlantas Mabes Polri. Pada tahun 2004 dimutasikan ke Polda Jawa Tengah, selanjutnya tahun 2007 sekolah SESPIMPOL ( Sekolah Staf dan Pimpinan Polri ) di Lembang dan lulus ditempatkan di Polda NTT, kemudian pada bulan Juni 2008 menjadi Kapolres Ende sampai sekarang ini.

Bagaimana pandangan Anda tentang figur polisi ideal? Figur polisi ideal adalah polisi yang harus profesional, proporsional yang dapat mengingat bahwa dirinya adalah insan hamba Tuhan, mempunyai rasa nasionalisme Indonesia sepanjang hidupnya dan memiliki rasa cinta persatuan, satu nusa satu bangsa dan serta satu bahasa serta harus bersikap bahwa polisi bukan alat kekuasaan dan alat politik, tetapi polisi adalah sebagai sosok pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Polisi harus sebagai sosok yang mampu bekerja untuk menghilangkan segala bentuk gangguan keamanan, dapat menjaga keselamatan jiwa harta benda masyarakat dan menjunjung hak azasi manusia, dapat menjamin kepastian berdasarkan hukum serta mampu memelihara rasa tenteram dan damai bagi masyarakat.

Apa pernah bermimpi menjadi polisi atau setidaknya bercita - cita menjadi polisi?. Ia, memang dulu saya menginginkan atau bercita - cita menjadi seorang tentara atau polisi sebagai abdi negara.

Ketika dipercaya menjadi Kapolres Ende apa yang Anda bayangkan tentang Kabupaten Ende dan apa pertama kali Anda lakukan? Ketika dipercaya menjadi Kapolres Ende, saya langsung melihat peta dan membayangkan tentang Kabupaten Ende. Setelah itu saya menebak bahwa daerah geografisnya pasti bergunung - gunung, daerah pantai yang panas dan mempunyai karakteristik daerah yang unik, seperti halnya daerah di Sulawesi Utara, tempat saya pernah bertugas. Adapun yang pertama kali saya lakukan setelah saya menjabat sebagai Kapolres Ende adalah segera memahami karakteristik daerah dan kondisi sosial budaya masyarakat serta kondisi kesatuan Polres. Tentu saja segera melakukan perencanaan kerja utamanya pembinaan personel dan penggunaan personel dalam pelaksanaan operasional kepolisian dengan sistem manajerial yang baik.

Setelah menjadi Kapolres Ende apa yang Anda lakukan dalam masa jabatan tersebut? Saya berupaya untuk dapat menekan angka kriminalitas dan meningkatkan penyelesaian perkara dengan target harus lebih dari 75 persen Adapun yang saya lakukan antara lain meningkatkan tugas patroli, menghidupkan kring reserse, peningkatan pembinaan penyuluhan masyarakat dengan mengedepankan kemitraan dan berpolisian masyarakat. Kemudian melakukan pelayanan publik dan penanganan perkara / penyidikan yang profesional, proporsional dengan mempedomani kebijakan pemerintah pusat, pimpinan Polri baik Polda NTT maupun Mabes Polri.

Bagaimana Anda memandang kepercayaan dari atasan untuk menjabat sebagai Kapolres Ende? Yang jelas saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena diberi kepercayaan oleh pimpinan untuk menjadi Kapolres Ende. Jabatan ini adalah rahmat dari Tuhan yang harus disyukuri, sehingga saya bertekad untuk dapat melaksanakannya dengan sebaik - baiknya. Saya sangat menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan saya tidak dapat memperoleh kepercayaan ini dan dapat melaksanakannya dengan baik. Karena itu, kepercayaan ini merupakan amanah yang harus tetap saya laksanakan dengan rasa penuh tanggung jawab, bekerja seoptimal mungkin sesuai kemampuan saya, dan Insya Allah saya akan tetap komitmen untuk selalu berbuat yang terbaik.

Bagaimana kiat Anda dalam memimpin Polres Ende dengan berbagai latar belakang anggota yang berbeda suku, agama, pendidikan dan karakters serta kepangkatan? Saya mengharapkan prinsip-prinsip manajerial bahwa suatu pekerjaan harus diselesaikan dengan cara kerja sama untuk memperoleh hasil yang sinergis.Untuk mengatasi latar belakang yang berbeda, saya selalu memberikan pemahaman kepada mereka (anggota) bahwa kita semua adalah anggota polri yang mempunyai kejuangan dan kebanggaan, bekerja hanya untuk institusi polri, dimana polri hanya mempunyai pedoman hidup Tribrata dan pedoman kerja Catur Prasetya. Oleh karena itu, meskipun terdapat banyak latar belakang yang berbeda di Polres Ende, tidaklah menjadi persoalan yang berarti. Keragaman latar belakang justru menjadi khasana yang dapat saling mengisi terhadap kekurangan yang ada sehingga kita tetap solid. Kita semua telah memahami adanya Kode. Etik Profesi, Etika Profesi Kepolisian dan Profesi Kepolisian, disana telah dijadikan sebagai landasan Etika/ Filosofi moral perilaku, sikap, ucapan dan hal-hal yang diwajibkan, dilarang, patut tidak patut bagi anggota polri, serta semua sebagai wujud jati diri polri sebagai wujud komitmen moral anggota polri.

Bisa dipetakan tingkat kerawanan yang terjadi di Kabupaten Ende berdasarkan urutan dan bagaiman menaggulangi kerawanan tersebut. Tingkat kerawanan kriminalitas di Kabupaten Ende dapat dipetakan antara lain dengan urutan Kecamatan Ende pada umumnya, Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Detusoko dan Kecamatan Nangapanda. Berikutnya, kecamatan lain yang pada umumnya memiliki kerawanan yang hampir sama. Untuk menaggulangi kerawanan tersebut kita lebih menekan pada kegiatan pre-emtif dan preventif, yaitu pencegahan dengan memberdayakan sumber daya potensi masyarakat yang ada (pam swakarsa,pam lingkungan ),Polmas (perpolisian masyarakat), membentuk FKPM (Forum Kemitraam Polisi Masyarakat ) dan meningkatkan patroli serta kring reserse.

Selama menjabat Kapolres Ende apa saja tantangannya?. Tantangannya adalah kondisi karakteristik wilayah, sosial dan budaya masyarakat. Dengan kondisi keterbatasan sarana dan prasarana karakteristik tersebut menjadi tantangan serius bagi Polres Ende untuk mampu memberikan pengayoman, perlindungan dan pelayanan serta sebagai penegak hukum.

Bagaimana pandangan Anda tentang partisipasi masyarakat mendukung tugas-tugas kepolisian? Partisipasi masyarakat dalam mendukung tugas-tugas kepolisian khususnya di Polres Ende cukup baik.Disamping itu, masyarakat menuntut dan mengharap terhadap Polri akan pelayanan, pengayoman, perlindungan dan penegakkan hukum yang baik, tetapi masyarakat juga mau memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan menginginkan Polres Ende ini untuk semakin baik. Masyarakat mau membantu memberikan informasi penting kepada Polres Ende dalam mengungkapkan kasus-kasus baik itu masalah perjudian, narkoba, illegal logging dan kasus-kasus kejahatan lainnya. Masyarakat mempunyai kemauan yang baik untuk tetap menjaga kondisi kamtibmas ketika menghadapi permasalahan sosial maupun politik.Sebagai contoh pada pelaksanaan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati yang sudah dilaksanakan dengan aman. Hal itu berkat kerja sama yang baik antara Polres Ende dan masyarakat.

Berapa jumlah personel Polres Enda? Dan, bagaimana Anda menjalakan rencana tugas Anda dengan kondisi ini? Jumlah personel Polres Ende 476 orang yang terploting untuk masing-masing 10 Polsek dan Pos Pol di kacamatan rata-rata 15 orang. Sesuai standart PBB ratio pelayanan polisi dengan jumlah penduduk idealnya 1:400, sehingga untuk kabupaten Ende yang jumlah penduduknya kira-kira 250.133 jiwa dibanding jumlah personel Polres Ende 476 orang, maka sangat jauh sekali untuk memenuhi standart ideal. Oleh karena itu agar Kabupaten Ende tetap kondusif yang dilakukan adalah kiat-kiat berupa pemberdayaan potensi masyarakat yang ada yaitu dilakukan penerapan model perpolisian masyarakat (Polmas), membentuk FKPM (Forum Kemitraan Polri Masyarakat) untuk bersama-sama memecahkan masalah, kerjasama dengan Kesbanglinmas untuk membentuk kelompok masyarakat pemberdayaan kewaspadaan dini masyarakat di daerah dan meningkatkan patroli serta kring reserse.

Saat menjabat sebagai Kapolres Ende, Anda melakukan sejumlah gebrakan yang cukup fenomenal untuk ukuran Kabupaten Ende seperti penangkapan bandar ganja dan yang paling menghebohkan penangkapan pemain judi yang melibatkan oknum perwira polisi. Saya sebagai kapolres hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu melaksanakan perintah pimpinan, sebagaimana telah digariskan dalam kebijakan pemerintah maupun pimpinan Polri. Saya harus komitmen untuk melaksanakan kebijakan tersebut program kerja akselerasi transformasi Polri menuju Polri yang mandiri, profesional dan dipercaya masyarakat harus dilaksanakan. Saya harus berbuat dan bekerja untuk mewujudkan kamtibmas yang kondusif dan berprinsip bahwa kalau Polri menyuruh masyarakat untuk tertib, maka Polrinyapun harus tertib lebih dahulu, Polri harus memberikan contoh dan tauladan yang baik kepada masyarakat.

Ada sinyalemen bahwa di tubuh Polres Ende saat ini terdapat kelompok-kelompok diantara perwira dan anggota. Apa benar hal tersebut? Polri saat ini adalah polisi sipil dalam arti polisi sekarang adalah polisi yang harus santun dan beradap. Polri harus tetap menjunjung tinggi hirarki, dan ada kepangkatan sehingga sehingga tidak ada persaingan antara yang satu dan lainnya, semua pekerjaaan harus mencapai suatu tujuan yang sinergis untuk institusi Polri, sehingga sinyalemen tersebut tidak benar.

Mengapa Anda harus membentuk tim khusus seperti tim pemberantasan judi padahal dalam tubuh polisi sudah ada serse intel? Apa Anda kurang percaya dengan orang tersebut atau Anda punya rencana lain? Bukannya saya tidak percaya pada satuan fungsi Serse dan Intelkam. Tetapi dengan tidak mengensampingkan kedua satuan fungsi tersebut, saya menganggap bahwa kalau dibentuk tim work dengan menugaskan personel yang telah terpilih untuk melakukan pekerjaan penyelidikan, saya yakin kerjanya akan lebih optimal. Untuk tim work akan bekerja secara profesional, proporsional dan mempunyai tanggung jawab penuh serta bekerja lebih intensif dari pekerjaan rutin biasanya dengan diberikan target atau hasil yang harus dicapai. Perlu diketahui bahwa tim work dibentuk secepatnya sifatnya sementara saja dan anggotanya berganti - ganti, dan dibentuk manaka diperlukan penugasan khusus yang memerlukan penanganan intensif.
Pada tahun 2008 lalu di Ende telah dilaksanakan Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Ende dan hal tersebut berlangsung secara kondusif hal tersebut tidak terlepas dari keamanan polisi lalu bagaimana kesiapan polisi dalam menghadapi pemilu legislatif dan pilpres 2009.
Untuk kesiapan pengamanan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009, persiapannya tidak jauh berbeda dengan Pilkada yang baru lalu. Satgas Operasi Polres Ende nantinya akan dibantu oleh TNI, instansi terkait serta mitra Kamtibnas lainnya. Pelaksanaan pengamanan yang akan dilakukan adalah rangkaian tahap inti Pemilu tahun 2009 selama 7 hari dari hari "H" sampai "H + 233" yang saat ini sudah berjalan. Dalam hal ini kekuatan Polri 476 personel di tambah Kompi Brimob Ende 62 personel. Untuk kesiapannya kami telah melakukan latihan operasi Mantap Brata guna memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan anggota secara profesional dalam penanganan, pencegahan dan penanggulangan gangguan kamtibmas sebelum, menjelang dan sesudah Pemilu 2009.

Apa pesan Anda baik kepada anggota polisi dalam menghadapi Pemilu Legislatif 2009 dan Pilpres, serta kepada masyarakat Kabupaten Ende dalam menghadapi event politik terbesar di Tanah Air? Pesan saya kepada anggota polisi dalam menghadapi Pemilu 2009 agar dengan semangat melakukan tindakan antisipatif, khususnya pengamanan pada menjelang, pada saat maupun pasca Pemilu. Dalam melaksanakan tugas pam Pemilu posisi Polri harus netral tidak memihak kepada salah satu kelompok yang bertentangan atau bertikai. Polisi harus berani menindak secara tegas dengan tindakan keras namun tertukar serta sesuai dengan prosedur dan tahapan - tahapan atau urutan tindakan yang ada. Hindari sikap dan tindakan arogansi di lapangan yang dapat mengakibatkan anti pasti masyarakat dan bahkan dapat menjadi pemicu kemarahan massa yang menjurus kearah kerusuhan massal kemudian pelihara dan tingkatkan ke kompakan dan kerjasama dengan seluruh anggota pengamanan di lapangan sehingga kita merupakan tim yang sulit dan tangguh. Sedangkan kepada masyarakat Ende kami harapkan untuk dapat meningkatkan kemitraan dengan Polri dalam rangka menangani permasalahan sosial masyarakat yang terjadi. Agar masyarakat mau memberikan informasi kepada Polri oleh karenanya masyarakat harus memiliki kewaspadaan dini terhadap kondisi kepekaan, kesiagaan dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi dan indikasi timbulnya gangguan kamtibnas. (romualdus pius)


Isi Waktu Keluarga Dengan Olahraga

DI tengah kesibukanya sebagai Kapolres Ende, AKBP Bambang Sugiarto masih memiliki waktu untuk bercengkrama bersama keluarga yakni, istri Farha Mubarak dan kedua anaknya Astia Febia Wati Sugiarto dan Reananda Sugiarto. Untuk mengisi waktu bersama keluarga Bambang Sugiarto mengisinya dengan berolaraga bermain tenis lantai maupun badminton. Karena menurutnya dengan berolahraga selain dapat menjaga kebugaran tubuh juga adalah saat yang tepat untuk bercengkarama bersama keluarga. "Saya kerap mengajak istri saya untuk bermain tennis lantai ataupun badminton,"ujarnya.

Meskipun di tengah kesibuknya sebagai Kapolres Ende namun dia senantiasa meluangkan waktu untuk keluarga karena menurutnya keluarga adalah faktor utama di dalam karier dan tugas sebagai polisi. Selain itu dalam bertugas sebagai Kapolres Ende tidak ada alasan untuk menyampingkan keluarga. "Selalu ada waktu untuk keluarga karena bertugas di Ende tidak seperti di Pulau Jawa yang tingkat intensitasnya tinggi karena bagi saya bertugas di Ende akan waktu selalu untuk keluarga,"katanya.

Mengenai sang istri, Farha Mubarak, Kapolres Bambang mengatakan bahwa wanita asal Manado tersebut adalah wanita yang mandiri. Hal ini dibuktikan ketika berpindah-pindah tugas sang istrilah yang mengatur semua barang-barang dan juga kedua anak mereka. "Ketika saya dipindahkan ke tempat tugas yang baru. Istri saya yang mengatur barang-barang rumah tangga termasuk keperluan kedua anak kami,"kata Bambang. (rom)
Riwayat Hidup
1. Nama : Drs. Bambang Sugiarto, M.Si.
2. Pangkat : AKBP
3. Tempat/tgl lahir : Blora 7 Maret 1964

Ii. Pendidikan
SD Tahun 1977
SMP 1981
SMA 1984
Pendidikan Polri
AKPOL Tahun 1988
PTIK 1999
Sespim Pol 2007
Program pascasarjana (s-2) KIK (Kajian Ilmu Kepolisian) 2002

Penugasan
1989- 1995 Polda Sulut
1997 Pama PTIK (dalam rangka dik ptik)
1999 Kasat PJR Polda NTT
2000 Waka Polres Timor Tengah Utara (TTU)
2001 Waka Polres Kupang
2001 Kasubbag Dastik Bagren Setlem PTIK(dalam rangka dik 2003- 2005 Polda Jawa Tengah
2007 Pasis Sespim Polri
2007 Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda NTT
2008 Kapolres Ende hingga sekarang

Nama istri : Farha Mubarak
Tempat/tgl lahir : Manado 6 juni 1973
Nama anak :
1. Astia Febia Wati Sugiarto
Tempat/tgl lahir : Manado 23 Pebruari 1993
2. Reananda Sugiarto
Tempat/tgl lahir : Jakarta 13 April 2002

Pos Kupang Minggu 15 Maret 2009, halaman 3 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda