Agustusan

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

AGUSTUSAN adalah tradisi melakukan perayaan hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Ini salah satu moment terbaik untuk mencairkan semua sekat komunikasi antarwarga yang berbeda latar belakang sara. Saatnya melihat ke satu fokus, agustusan, merdeka dari segala bentuk tekanan dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia. Inilah salah satu situasi di mana demokrasi benar-benar menemukan tempat, ruang, dan waktu yang sebenarnya.

***
Sebagaimana biasanya, tradisi agustusan di kampung kita yang paling di tunggu-tunggu warga adalah panjat pinang. Bukan soal panjatnya, tetapi soal hadiahnya yang menggiurkan. Bayangkan! Tahun ini hadiah utama yang digantung di pucuk pinang adalah uang lima juta rupiah kontan, langsung petik di pohon dan masuk kantong. Hadiah kedua, uang tiga juta rupiah, dan hadiah ketiga kontan dua juta rupiah. Selebihnya bergelantungan banyak hadiah hiburan termasuk sepeda dayung ukuran besar, kecil, dan sedang. Siapa tidak mau? Batang pinang sudah dibuat licin selicin minyak pelumas, entah jenis minyak apa, tidak masalah. Yang penting bagaimana strateginya agar lima juta rupiah dalam kantong.
***
"Kita mesti tolong menolong bahu membahu biar bisa sampai ke pucuk pinang dengan mudah, dan dapat hadiah lima juta. Hadiah lima juta kita bagi rata," begitulah Rara mulai rencana panjat pinang besok setelah upacara bendera. Dia akan panjat lebih dulu sambil menggosok-gosokkan kakinya agar batang pinang perlahan-lahan bebas dari minyak pelicin. Aturannya, kalau Rara terjatuh sebelum sampai ke puncak, Jaki segera menyusul. Kalau Jaki jatuh, Benza menyusul, dan jika Benza pun terjatuh melorot ke bawah, Nona Mia akan pasang kuda-kuda dan segera panjat, demikian seterusnya.

Mereka harus bergerak cepat agar tidak didahului orang lain. Mereka juga buat kesepakatan agar di muka umum, tampak tidak kenal satu sama lain. Hal yang paling penting adalah bergerak cepat. Rara yakin bahwa paling lama dalam putaran ketiga batang pinang bebas pelicin dan salah satu dari mereka akan memenangkan hadiah utama. Selanjutnya, hadiah lain pasti bisa diraih dengan enteng.

"Ingat! Pegang Janji! Kita harus demokratis membagi-bagi hasil perjuangan kita bersama nanti!" Benza memberi peringatan jelas.

"Demokrasi? Maksudnya gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara?" Tanya Rara. "Kalau itu sih saya sudah hafal luar kepala!"
"Ya, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat!" Sambung Jaki.
"Kongkretnya demokrasi untuk urusan kita adalah, kekuasaan tertinggi ada pada kesepakatan bersama dan semangat menjalankan kesepakatan," kata Nona Mia.

***
"Siapa pun pemenang pertama yang dapat lima juta, tetap harus bagi rata begitu?" Rara memastikan. "Itulah kesepakatan yang paling demokratis, toooosss!" Rara, Jaki, Benza, Nona Mia pun menyatukan tangan. "Kita harus belajar pada negara soal demokrasi, kita pun harus mewujudnyatakan makna demokrasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus sepakat untuk membagi hasil panjat pinang secara demokratis! Harus, tidak ada seorang pun yang boleh melanggar kesepakatan ini." Demikian Rara berapi-api.

Ternyata strategi yang diatur Rara cukup jitu. Rara dapat lima juta. Benza, Jaki, dan Nona Mia masing-masing pegang hadiah hiburan tiga buah sepeda dayung. Sepeda segera diuangkan menjadi dua juta rupiah sehingga uang yang ada tujuh juta rupiah. Kalau dibagi empat, hasilnya masing-masing satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Agustusan kali ini benar-benar pesta meriah.

Rara langsung bersorak riang gembira karena keluar sebagai pemenang utama. "Lima juta rupiaaaaah," begitulah Rara loncat ke sana ke mari dan menjadi pusat perhatian dan dikerumuni begitu banyak orang di tengah lapangan upacara. Bendera merah putih berkibar-kibar diterpa angin meluapkan kegembiraan Rara yang sejadi-jadinya.
***
"Halo teman, bagaimana pembagiannya?" Jaki langsung ke masalah utama. "Bagi rata. Setiap orang mendapat satu juta plus tujuh ratus lima puluh ribu rupiah!" Benza dan Nona Mia pun sudah berdiri di hadapan Rara.

"Uang siapa punya?" Tanya Rara. "Apakah kamu tidak tahu bahwa saya ini pemenang utama?" Rara pasang tampang marah tanpa kompromi.
"Kita sudah sepakat!" Nona Mia menyambung.

"Sepakat soal apa? Siapa yang jadi saksi? Saya menang lima juta dan kamu semua kalah! Ribuan orang jadi saksi mata bagaimana saya berjuang keras mendapat lima juta. Panitia penyelenggara pun sudah mencatat nama saya sebagai pemenang utama. Oooh, maaf saja ya, saya tidak pernah buat kesepakatan dengan kamu kamu! Saya pemenang, dan kamu kalah!"

"Ini bukan soal kalah menang tetapi soal kesepakatan dan soal demokrasi yang mesti dijunjung tinggi!" Benza menyambung.

"Oh ini bukan soal proses tetapi soal hasil, teman! Jelas-jelas saya pemenang utama, saksi mata lengkap," sambung Rara. "Coba tunjuk kesepakatan tertulis! Mana! Mana buktinya?" Rara bertingkah. "I dont understand!" Rara mengangkat bahu. "I 'm sorry," Rara mulai gara-gara. "Bagaimana temanku Jaki? Kapan kita pernah buat janji buat kesepakatan secara demokratis? Ada bukti tertulis? Apa itu demokrasi? Aku tak tahu..." Rara mengedipkan mata dan Jaki paham apa artinya.

***
"Tidak ada janji, tidak ada kesepakatan, apalagi soal demokrasi dan demokratis. I dont know..." Jaki dan Rara saling merangkul dan menjauh saat itu juga. Tinggal Nona Mia dan Benza hanya menganga kecewa. Tanpa ada yang memberi komando, keduanya melempar pandangan ke atas, ke bendera merah putih yang berkibar dibuai angin. Selamat siang Indonesia. (*)

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 1 Lanjut...

Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H.


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H.

Berikan Motivasi kepada Keluarga dan Institusi

PADA pertengahan Juli lalu, Dachamer Munthe melengkapi gelar pendidikan dengan gelar Doktor di Universitas Padjajaran- Bandung. Gelar dalam bidang hukum ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi pria yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Propinsi NTT ini.

Memberi yang terbaik bagi institusi Kejaksaan Republik Indonesia dan masyarakat merupakan cita-cita Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H. Salah satu langkahnya adalah mengambil program doktor (S3). Mengambil jenjang pendidikan tertinggi ini tentu tidak sekadar mendapat jabatan, melainkan untuk menambah kualitas diri sekaligus memberikan kontribusi pada lembaga tempatnya mengabdi.

Kepada Pos Kupang yang menemuinya di Kantor Kejaksaan Tinggi NTT beberapa waktu lalu, Kepala Kejaksaan Tinggi Propinsi Nusa Tenggara (NTT) ini mengatakan, niatnya menempu jenjang pendidikan program doktor dalam ilmu hukum adalah untuk memberikan motivasi kepada anak-anaknya.

Ia ingin menunjukkan pada anak-anaknya bahwa meski sudah tua, dia masih memiliki semangat belajar. Dengan ini dia berharap anak-anaknya tidak berhenti belajar.
Sementara untuk rekan kerja atau juniornya, Dachamer Munthe ingin menunjukkan bahwa jabatan dan pangkat bukan akhir dari proses belajar.

Berikut petikan perbicangan Pos Kupang dengan Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H.

Apa motivasi Anda menyelesaikan kuliah sampai S3?
Yang pertama, saya ingin menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa dalam usia lima puluh sekian tahun, saya masih mau belajar. Saya ingin memotivasi anak saya yang sekarang sedang kuliah. "Bapa sudah begini saja masih ingin sekolah, kalian ini masih muda, bagaimana? Gito loh. Jadi tidak hanya dengan omongan, tetapi menunjukkannya dengan perbuatan.

Dengan demikian, kalau saya menyuruh mereka atau pun menegur mereka, tentu saya ada alasan. Pada zaman sekarang, anak-anak tidak hanya dengan omongan saja, tapi kita harus tunjukkan sikap dan perbuatan kita sehingga bisa dicontohi.
Pada zaman dulu, orangtua bilang begini kita takut, kalau sekarang tidak. Apalagi anak saya di Jakarta. Oleh karena itu, saya tunjukkan sikap, saya tunjukkan dengan konkret, ini loh papa, gini-gini masih sekolah. Nah kalian bagaimana?.

Kedua, saya juga ingin memberikan yang terbaik bagi institusi saya yaitu Kejaksaan. Di Kejaksaan itu, masih dihitung dengan jari yang bergelar doktor.

Apakah sudah banyak aparat lembaga Kejaksaan yang sudah mengenyam pendidikan hingga S3?
Sampai saat ini doktor di Kejaksaaan Agung baru ada empat, termasuk dengan saya. Saya ingin berbuat yang terbaik untuk institusi saya, meraih gelar doktor. Kan saya memberikan kontribusi untuk institusi saya. Nanti saya bisa mensyeringkan pengalaman, bisa menjadi tenaga pengajar di Pusdiklat.

Kalau ada hal-hal yang penting sebagai pembicara dari Kejagung, saya bisa tampil di situ, di forum-forum nasional dengan kapasitas saya sebagai doktor sejajar dengan akademisi. Jadi, kalau orang akademisi, wajar dia ambil S2, S3. Kalau saya kan praktisi. Ketiga, memberikan motivasi untuk junior saya. Kalau bisa mereka juga menambah pengetahuan. Pengetahuan bisa komplit apabila dibarengi dengan kapasitas akademik. Jadi ilmu akan sempuran apabila pengalaman praktik ditunjang dengan akademisi. Dengan demikian, kita akan lebih bijak untuk melihat sesuatu.

Apakah pengetahuan ini relevandengan bidang yang Anda jalani?
Soal penerapan hukum tentunya akademisi akan kalah dengan praktisi. Nah, saya sudah luar kepala bagaimana membuat dakwaan, bagaimana memeriksa orang. Orang akademisi tidak, karena dia berteori. Kalau saya kan mulai dari laporan di koran, saya bisa memformulasikan menjadi satu berkas. Kalau akademisi kan tidak bisa, bagaimana dia mulai. Laporan di koran, ada kebocoran dana APBD di Propinsi NTT yang diprediksi sekian miliar.

Saya dengan data itu sudah bisa bergerak. Saya himpun data- data. Saya mintai keterangan. Saya konfirmasi ke sini. Saya melakukan penyelidikan, penyidikan. Jadi berkas. Kemudian saya bikin dakwaan, dilimpahkan ke perkara. Jadi itu bedanya sama akademisi. Tetapi, alangkah idealnya kalau praktisi juga ditunjang dengan akademisi. Ilmu kan berkembang terus, sehingga ilmu-ilmu yang kita dapatkan di perguruan tinggi akan memperkaya kita dalam penerapan tugas kita.

Sibuk, tugas sebagai pejabat negara pindah ke sana kemari. Bagaimana upaya Anda hingga program doktor ini bisa rampung?
Kita memang harus berkorban. Inilah pengorbanan. Kadang- kadang keluarga protes. Saya kan kuliah Jumat, Sabtu dan Minggu. Jumat pukul 17.00 Wita, Sabtu full day. Untuk mengejar semesteran, Minggu kadang-kadang pagi kuliah, tergantung dosen. Di rumah juga dikomplain anak-anak. Jadi kita harus korban sedikit. Itu masih kuliah. Begitu selesai kuliah, habis teori, saya mulai riset (penelitian). Ini juga butuh waktu. Kalau tadi saya mengambil waktu anak dan keluarga sedikit, tapi hari kerja saya tidak curi waktu, saya selesaikan setelah jam kerja. Misalnya di sini, jam lima atau jam enam, mereka sudah pulang, saya kadang sampai jam 10 malam masih ada.

Saya pesan makanan di kantor. Kalau lagi mood untuk tulis, kadang sampai jam 12. Kadang diganggu anak-anak sudah jam 12 pak (malam). Lagi asyik nulis, karena lagi datang dari otak ekspresikan. Kalau lagi nggak datang susah. Pas lagi asyik tulis, sampai tengah malam tidak terasa.

Balik lagi bagaimana manajemen waktu. Memang keluarga agak terusik saat masih kuliah. Tetapi, kadang-kadang Minggu sore saya ganti. Pulang gereja saya ganti kebersamaan dengan keluarga. Jadi kita ganti dengan malam Senin. Seharusnya malam Minggu acara untuk keluarga, tetapi saya ganti. Keluarga mengerti kok.

Kegiatan kantor, akhir pekan disambung dengan kuliah. Kapan istirahatnya?
Nah itulah. Saya sering flu itu. Saya tambahkan dosis suplemen. Kalau nggak, kita nggak kuat. Bisalah, kita jaga kesehatanlah.

Berarti tidak olahraga lagi?
Kadang-kadang olahraga pagi saja sebentar, pemanasan dan rileks badan setengah-setengah jam. Otomatis Jumat, Sabtu, Minggu nggak ada olahraga. Bagaimana mau olahraga? Nggak ada olahraga. Paling tidak Senin, Selasa, Rabu, Kamis, kita setengah jam bangun tidur lemas-lemasin, keringat sedikit sudah. Padahal basic saya pemain tenis dan sekarang beralih ke golf. Di sini kalau saya tidak pulang ya, ke El Tari. Jalan di situ, 9 hole kali 9 hole sudah 81 hole, sudah enam kilometer. Sembilan hole sekitar dua kilometer lebih. Kalau pergi pulang, sekitar lima kilometer lebih. Panas lagi. Kaki sudah pegal, tetapi lemak sudah dibakar.

Anda sibuk kuliah, sibuk kerja juga. Bagaimana kalau ada acara keluarga?
Istri saya yang sering mewakili. Jadi kalau ada acara keluarga, pesta ponakan, istri saya yang tampil selalu. Inilah peran istri. Jadi istri saya yang meyakinkinkan omnya bahwa saya lagi sekolah. Mohon maaf ya. Jadi kalau kawinan di keluarga ya, istri saya yang tampil. Nah, itulah gunanya, bagi tugas kan? Istri saya juga memahami dan mendukung penuh kepada saya. Nah itulah hebatnya istri saya. Dia dukung supaya di keluarga kita tidak diomongin, tetapi di kantor kita juga maju.

Sebagai pejabat Kejaksaan, bagaimana proses perkuliahan. Apakah ada kemudahan dari dosen karena Anda seorang jaksa?
Nggak lah. Di situ sama semua, mas. Dibantai juga kita. Perlakuan dosen sama semua. Sama semualah, tidak ada yang khusus. Polisi, bankir, hakim agung juga banyak yang kuliah. Di situ rata-rata sudah bekerja semua. Sama semualah. Mana dia (dosen-Red) mau tahu. Karena saya jaksa, jadi dia beri kemudahan, tidaklah. Tugas bikin paper ya, tetap bikin paperlah. Setelah bikin paper, ujian jugalah secara tertulis. Kalau dapat C, kita dikasih kesempatan untuk ulang lagi. Disuruh dosen coba bikin paper satu lagi, biar bisa nambah nilai you. Kita bikin paper lagi. Papar yang dulu kita anggap gagal, kita bikin yang baru. Dengan ini dia nilai otoritas untuk tambah. Dosen tutup mata saja, dia punya otoritas tersendiri di situ. Ya, kesempatan juga lah buat dosen. Kalau ada penulisan yang buruk di surat kabar tentang kejaksaan atau kepolisian, kesempatan dia hantam kita. Jadi tidak ada perlakuan khusus.

Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan masyarakat terhadap upaya-upaya penegakan hukum? Misalnya kasus- kasus korupsi. Apakah masyarakat belum terbuka dan sebagainya.
Ya, kadang-kadang upaya penegakan hukum, dalam hal ini penindakan kasus-kasus korupsi, kan lebih ngetrend untuk publik. Masyarakat sebenarnya mengharapkan sangat banyak terhadap institusi kita sebagai garda terdepan memberantas korupsi. Namun di sisi lain, kita punya kendala-kendala. Misalnya di NTT, personel kita sangat kurang. Kajari-Kajari mengeluh sama saya, pak tolong ditambah dong jaksanya. Jaksa kami hanya ada tiga, empat. Dia sudah sibuk dengan perkara dari polisi (pidum) yang mana administrasinya juga harus dikerjakan.

Kalau dia tidak kerjakan dengan baik, administrasinya nanti kalau ada sesuatu diskriminasi, dia bisa dikenai PP 30. Itu sudah ribut mereka. Nah ditambah dengan penanganan perkara korupsi yang mulai dari penyelidikan dan penyidikan. SDM-nya kita kurang, kualitas SDM-nya juga begitu. Apalagi kita daerah pinggiran. Timor ini kan daerah pinggiran. Baik kalau di Jawa sana, mereka banyak stoknya. Karena orang itu berlomba-lomba ke Jawa, orang sini sendiri ke Jawa. Ya, maksudnya bagus karena ingin ada penyegaran, ada suasana yang berubah. Dengan berubah ada gairah baru dan semangat baru.

Apa kesan Anda tentang tugas sebagai jaksa?
Saya pindah-pindah terus. Pertama, saya ditempatkan di bidang operasi di Kajaksaan Agung, kemudian dipindahkan di Suasio, Maluku Utara. Sebagai jaksa pertama kali pada tahun 1988. Saya sidang pertama kali. Bagaimana saya keringat, apalagi kasus pembunuhan. Nah, itu saya tidak bisa lupakan. Pengacaranya banyak, saya jaksa baru dan sendiri. Apalagi di situ hanya ada dua jaksa. Saya pernah dikasih tangani perkara di mana saya harus berhadapan dengan tiga pengacara dari Ternate. Ternate itu agak maju dari tempat tugas saya Suasio.

Saya jaksa masih baru.
Tangani kasus pembunuhan, yang jelas saya jadi kurang PD (percaya diri). Setelah itu saya pindah ke Kuningan, Jawa Barat, sebagai Kasipidsus. Daerahnya segar, dekat gunung, hampir sama dengan Ruteng. Di situ saya sebagai Kasipidsus, saya banyak belajar dari Kajarinya.

Kajarinya orang operasional yang menuntun saya dalam teknis- teknis penyidikan. Walau saya dapat teknis penyidikan dalam tataran teori di Pusudiklat, teori dan praktik kan berbeda. Saya tidak bisa lupa Kajari saya, karena dia memberikan ilmu yang sama kepada saya dan saya belajar sungguh-sungguh dari dia.

Dia bimbing saya sehingga saya lebih PD lagi dalam kasus- kasus. Di situ saya mulai berani mengungkapkan kasus-kasus di KUD, KUT di Kuningan. Kajari saya memang orang operasional, sehingga dia senang sama saya. Sampai kerja dia bawa rokok, kopi. Orang Jawa sih, kerja pakai mesin ketik, tidak ada komputer. Kita semangat, disuruh apa aja saya kerja. Setelah itu saya masuk pendidikan perdata di Pusdiklat Kajagung tiga bulan. Pulangnya, saya dapat SK jadi Kasidatum di Tasikmalaya.

Rupaya kami angkatan pertama ini diprioritaskan untuk mengisi Kasidatum. Dulu belum ada, karena bidang baru, dikasih orang- orang yang sudah dididik. Di sini satu tahun setengah. Kemudian masuk Kasi Intel di Jakarta Selatan, saya dipercayakan menangani kasus-kasus. Reformasi terjadi saat itu. Sayalah yang menangani kasus Tommy Soeharto dan Bedu Amang. Mungkin kalian masih ingat kasus tukar guling (ruislag).

Anda memeriksa anak mantan Presiden RI, Tommy Soeharto. Apa yang Anda lalukan?
Orang tidak pernah membayangkanTomy diperiksa. Bagaimana memeriksa menteri, kita sudah mulai. Kasih kesempatan kepada saya dan sekitar lima jaksa. Dua di antara jaksa ini sudah pensiun. Saya lapis kedua dari mereka. Jadi ada tukar guling (ruislag), melibatkan Prof. Bedu Amang sebagai Kepala Bulog, saat itu developernya Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto bersama Rikardo Galael. Dan saat itu, kita sudah menyidik, juga menyidangkan. Saya kebagian tugas menangani Rikardo Galael, Fahmi, Tommy Soaherto. Penyidijkan kita sama- sama, ini kasus KKN pertama pasca Soeharto jatuh. Ini pertama kali kita memanggil dan memeriksa Tommy. Dulu mana berani memeriksa Tommy.

Apa yang Anda rasakan?
Boro-boro memeriksa Tommy, pengawalnya saja mana ada yang berani macam-macam. Tapi karena kita murni, kita temui para tersangka ini. Kita sampaikan, kita hanya menjalankan tugas dan dijawab, ya, silakan mas. Kita sama-sama respek.

Kalau masih ingat, kasus yang kita tangani inilah yang sampai ada hakim yang ditembak mati. Ya, pada saat itu kita juga agak- takut. Bagaimana tidak, diteror juga kita. Tetapi mungkin dulu saya masih muda, berani saja. Sekarang sudah tua, sudah agak takut-takut. Dulu mana berani urus Tommy. Kita dibilangin wartawan hati-hati loh, tetapi saya tidak takut. Pada saat sidang, ada pengerahan massa dari Jakarta Selatan. Aku dalam hati bilang, mati kita. Tapi kita terus saja.

Karena perkara itu layak dijual oleh pers, karena menyangkut anak Soeharto, ada pejabat, ada konglomerat. Kita dikejar-kejar pers, akhirnya pimpinan bilang kalian harus cepat. Dan saat diekspos di depan Jaksa Agungnya, saat itu Andi Galib, kita ditanya, siapa jaksanya. Diberitahukan bahwa kita yang tangani. Lalu, Pak Andi Galib bilang ya, sudahlah, jaksanya jangan diganti-ganti. Akhirnya kita bertiga rundingan.

Saya, Fahmi, satu lagi senior saya Suharjono. Yang menangani Bedung Amang adalah Suharjono, yang nanganin Tommy adalah Fahmi dan saya menangani Rikardo Galael. Mereka rebutan karena dua orang ini lebih populer. Saya disuruh tangani Rikardo, bagi saya tidak apa-apa. Akhirnya berhasil. Itulah pengalaman yang paling menarik dalam kehidupan saya. Karena begitu saya menyidik, menangani, mengeksekusi saya juga.

Apa yang membuat Anda senang menjadi jaksa. Padahl harus berhadapan dengan pejabat dan sebagainya?
Ada satu kebanggan kalau menangani kasus-kasus yang sulit, kasus yang menyangkut orang besar. Saya terpacu untuk fight dan pasti pengacaranya handal-handal. Secara tidak langsung, dengan kehadiran mereka, saya terpacu untuk belajar lebih banyak, jangan sampai kalah sama dia.

Malu dong kalau sampai kalah, di depan umum lagi. Otomatis saya harus membekali diri labih bagus lagi. Makanya saya beruntung juga kuliah banyak dan bahan-bahan teori saya banyak untuk hantam mereka. Jadi ada rasa bangga, dan membuat kita semangat. Setelah itu baru kita takut, seperti tangani kasus Tommy. Kalau saya ditembak pas lagi pulang, gimana? Tapi kok,dulu saya tidak mikir begitu semangatnya. Saya alasan ya, profesional sajalah. Kalau mati ya, mati.

Cuma kalau kasusnya perdata, tekanananya tidak terlalu banyak, kan dia hanya mengejar aset di situ. Tetapi kalau kasus pidananya, korupsi dipecat ya, bahaya. Apalagi kalau selesai sidang, langsung ditodong oleh pers dalam negeri maupun luar negeri. Jadi ada kepuasan tersendiri. Tapi kalau saya omong pasti ditertawain, soalnya pers live. Salah ngomong, pasti dibilang goblok dan pimpinan tahu, ya diganti. Tapi untunglah Tuhan menolong, jawaban saya itu mengalir gitu kepada pers. Namanya pertanyaan wartawan ni kan banyak yang ngawur-ngawur juga, banyak jebakan, ciptakan konflik, macam-macam. Ada yang pengacara kasih jawaban, dia yang tanya. Mati sudah. Kalau saya nggak pintar memelintir, habislah, saya terjebak.(apolonia dhiu/alfred dama/yosep sudarso)


Termotivasi dari Scuter Sang Ayah

KENANGAN masa kecil terhadap perilaku aparat kejaksaan terjadap sang ayah membuat Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H sangat ingin menjadi jaksa. Motivasinya adalah ingin mengetahui apa saja tugas kejaksaan.

Menurut Munthe, dia anak seorang sipir penjara di Medan. Ayahnya memiliki sebuah sepeda motor scuter (vespa). Suatu ketika, ia melihat ayahnya pulang ke rumah tanpa sepeda motor kesayangannya itu. Ia pun bertanya perihal sepeda motor tersebut. Ayahnya menjelaskan bahwa sepeda motor itu disita oleh aparat Kejaksaan.

Menurutnya, saat itu aparat kejaksaan memiliki kewenangan yang tinggi, sebab saat itu belum ada KUHAP. Panduan pelaksanaan hukum menggunakan HIR. "Saya ingat betul dulu polisi di bawah kontrol jaksa langsung. Jadi perkara-perkara pidana umum ditangani langsung oleh jaksa. Pada zaman HIR sebelum KUHAP, pembunuhan, penyidikan pidana umum, langsung ditangani jaksa," jelasnya.

"Jadi, orangtua saya, ibu pedagang, sedangkan bapa saya pegawai di Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Suka Mulia Medan. Jadi ketika bapa pulang dari kantor, Vespa-nya tidak ada lagi. Saya tanya, di mana pak scuternya. Bapa bilang scuter disita karena utang-piutang. Pada saat itu utang-piutang dibikin perdata, dibilang penggelapan," jelasnya.

Penjelasan sang ayah membuatnya berpikir bahwa jaksa saat itu sangat semena-mena Menurutnya, peristiwa itulah yang membuatnya begitu menggebu ingin menjadi seorang jaksa. Ia ingin mengetahui apa saja pekerjaan dan kewenangan jaksa. "Ibu saya yang punya utang-piutang, kok Vespa bapa saya yang diambil. Saya memberontak. Tapi, akhirnya saya termotivasi menjadi jaksa," jelasnya.

Selain itu, ada tetangganya yang juga seorang jaksa. Kehidupan tetangga masa kecilnya itu terlihat lebih baik dari keluarga mereka. Ini pula yang menambah dorongannya ingin menjadi jaksa. "Tetangga jauh saya jaksa juga. Saya lihat kok hidupnya bagus, dibandingkan bapa saya yang Kalapas. Saya musti jadi jaksa ni suatu saat. Saya tidak mengerti jaksa itu apa," jelasnya. (nia)

Nama : Dr. Dachamer Munthe, S.H, M. H.
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 23 Agustus 1956
Istri : Winda Purba
Nama : Gregorius Jurisio
Adinda Natasia
Saverio

Jabatan : Kepala Kejaksaan Tinggi Propinsi NTT
Menikah : umur 30 tahun
SD-SMA : Medan
S1 : Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta (1980)
S2 : Universitas Padjadjaran (Unpad) (2000)
S3 : Universitas Padjajaran-Bandung

Disertasi : Masalah Sistem Pembuktian Perkara Tindak Pidana Korupsi Dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia.

Pos Kupang Minggu, 16 Agustus 2009, halaman 3 Lanjut...


POS KUPANG/THOMAS DURAN
NOELBAKI -- Persawahan di Noelbaki yang mendapat pasokan air dari Bendungan Tilong.


SOLEMAN Ndu Ufi, ketua kelompok tani di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap tersenyum meski terik matahari timur terasa begitu menyengat kulit. Pesona senyum para petani di Desa Noelbaki, seakan tak sirna meski sudah memasuki puncak musim kemarau yang membawa dampak kekeringan terhadap areal pertanian rakyat.

"Kami tidak khawatir meski di puncak musim kemarau sekalipun, karena distribusi air dari Bendungan Tilong ke irigasi tetap saja lancar," kata Soleman Ndu Ufi kepada Antara di Desa Noelbaki, sekitar 20 km timur Kupang, Minggu (2/8/2009).

Areal persawahan lainnya di wilayah Kecamatan Kupang Timur, misalnya, sebagian besar sudah ditinggalkan oleh para petani, karena sumber air yang digunakan untuk mengairi persawahan mereka, mulai mengering akibat kemarau. Lahan persawahan yang ada, dimanfaatkan petani untuk menanam tanaman palawija, karena sejumlah sumber mata air yang digunakan, seperti sumur bor dan air kali, debitnya sudah tak cukup lagi untuk mengairi areal persawahan secara keseluruhan.

Soleman Ndu Ufi mengakui sebelum Bendungan Tilong dibangun, para petani di Desa Noelbaki selalu kekurangan air untuk mengairi ratusan hektare areal persawahan yang ada jika sudah memasuki musim kemarau. Namun, sejak bendungan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Gubernur NTT Mayjen TNI (Pur) Herman Musakabe (1993-1998), pasokan air ke areal persawahan mereka lancar. "Sebelum ada bendungan, kami selalu mengalami kekurangan air. Akibatnya, banyak petak sawah dibiarkan begitu saja oleh petani," ujarnya.

Sebelum ada Bendungan Tilong, para petani mengandalkan tampungan air hujan serta sejumlah sumber mata air di sekitarnya, seperti mata air Sagu dan mata air Dendeng. Sistem suplai air yang dilakukan untuk mengairi hamparan sawah di Desa Noelbaki itu diatur secara bergilir untuk setiap kelompok, yakni dua hari dalam sepekan yang dilakukan oleh petugas yang telah ditentukan. "Sistem distribusi air ini sangat membantu kami mengairi ratusan hektare persawahan," kata Ndu Ufi.

Bendungan Tilong yang menjadi sumber air kehidupan para petani di Desa Noelbaki itu, debitnya pun sudah mulai menyusut seiring makin panjangnya kemarau. Pada Minggu (19/7/2009), debit air di bendungan tersebut sudah berada di bawah angka nol berdasarkan hitungan elevasi permukaan air, sehingga sisa genangan itu menjadi arena memancing bagi para pengunjung yang berkunjung ke Bendungan Tilong.

Bendungan Tilong
Luas genangan Bendungan Tilong mencapai sekitar 154,97 hektare dengan volume waduk mencapai 19,07 juta meter kubik, sedang volume efektif waduk 17,31 juta meter kubik dengan elevasi permukaan air normal melebihi 100 meter dan elevasi permukaan air banjir sekitar 102,37 meter. "Setiap musim kemarau tiba, debit air di bendungan ini, pasti akan berkurang, tetapi tidak mempengaruhi fungsi bendungan," kata Jonathan Liufeta, petugas pintu alir irigasi Bendungan Tilong kepada Antara.

Ia mengemukakan, turunnya debit air di bendungan tersebut biasanya mulai dari Mei atau Juni dan berlangsung terus hingga tibanya musim penghujan pada Desember atau Januari. Sumber air di bendungan tersebut, digunakan untuk kepentingan irigasi pertanian untuk mengairi ratusan hektare sawah di empat desa yang ada di sekitarnya serta sebagai sumber air baku untuk kebutuhan air minum bagi masyarakat di Kota Kupang dan sekitarnya. "Meskipun debitnya airnya terus menyusut, namun tidak terlalu berpengaruh terhadap sistem distribusi air untuk kebutuhan irigasi bagi para petani sawah setempat," katanya.

Jangkauan daerah aliran sungai (DAS) dari bendungan tersebut mencapai sekitar 36,47 kilometer dengan panjang tanggul 162,05 meter dan tinggi tanggul 44,50 meter, namun masih terus berfungsi untuk mengaliri sawah-sawah milik petani di Desa Oelnasi, Oelpua, Noelbaki dan Desa Oetafi. "Persawahan di empat desa tersebut tetap kita layani, apalagi di puncak musim kemarau, sekitar bulan Oktober sampai pertengan bulan Desember nanti. Distribusi untuk sektor pertanian tetap diprioritaskan," kata Jonathan.

Sementara untuk sumber air baku, juga tidak mengalami hambatan, kendati dilakukan secara berkala ke tempat penampungan di mata air Desa Baumata. Penyaluran berkala tersebut menggunakan metode singgahan, di mana air dari Bendungan Tilong terlebih dahulu disuplai ke tempat penampungan di mata air Desa Baumata untuk disterilkan, sebelum didistribusikan kepada para konsumen di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.

"Untuk sumber air baku kita pakai sistem seperti itu. Tidak langsung ke rumah tangga pelanggan," kata Jonathan dan menambahkan, distribusi air baku untuk konsumen itu hanya 0,15 meter kubik per detik.

Rintihan Petani
Senyum petani Desa Noelbaki, tidak bisa dilakukan para petani di Desa Olenasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, yang berada di tepian Bendungan Tilong itu.
Meskipun lokasi pemukiman mereka tak jauh dari Bendungan Tilong, para petani di desa itu merintih kesulitan mendapatkan fasilitas air bersih dari bendungan tersebut."Air dari Bendungan Tilong hanya untuk mengairi areal persawahan di desa ini, sedang penyediaan air baku bagi kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari, tidak pernah didistribusikan kepada masyarakat di desa ini sejak 1996," kata Fransisco Liuvera, seorang penduduk setempat kepada Antara.

Ia mengatakan, perjuangan warga Desa Oelnasi untuk mendapatkan fasilitas air besih dari Bendungan Tilong sudah dilakukan sejak bendungan itu dibangun pada 1996, namun sampai saat ini belum juga dipenuhi oleh pemerintah Kabupaten Kupang. "Pemerintah Kabupaten Kupang tampak sangat masa bodoh dengan kondisi yang kami hadapi. Perjuangan kami untuk mendapatkan fasilitas air bersih dari Bendungan Tilong, sama sekali tidak dihiraukan," katanya.
Ketika bendungan itu dibangun, hampir semua kepala keluarga di desa itu, juga membangun bak penampung, dengan harapan bisa mendapatkan distribusi air baku dari Bendungan Tilong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kami berharap sumber air baku dari Bendungan Tilong dapat didistribusikan ke bak penampungan yang dibangun secara swadaya oleh masing-masing kepala keluarga. Tetapi, harapan itu sirna dan bak-bak yang ada jadi rusak termakan usia," katanya.

Untuk kebutuhan air irigasi, menurut Liuvera, hanya dialiri untuk dua dusun dari lima dusun yang ada di Desa Oelnasi, meski 80 persen warga Olenasi memiliki mata pencaharian sebagai petani. Masyarakat setempat hanya menggantung harapan pada sumur gali sebagai sumber air kehidupan, meski debitnya selalu tidak stabil jika tibanya musim kemarau.

Ny. Ana, salah seorang warga lainnya mengatakan, masyarakat Desa Oelnasi hanya menggunakan air irigasi untuk mencuci dan mandi, sedang untuk masak menggunakan sumur gali. "Biasanya warga di sepanjang irigasi ini, menggunakan sumber air irigasi untuk cuci dan mandi, sedangkan untuk minum dan memasak, menggunakan air sumur," katanya.
Bendungan Tilong yang diharapkan mampu mengatasi kesulitan air bersih serta membantu sistem irigasi bagi masyarakat desa di sekitarnya, masih tetap saja menyisahkan senyum dan rintihan bagi para petani di wilayah sekitarnya. (antara/lorensius molan)

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 14 Lanjut...


paraorkut.com
Katie Holmes

WANITA dan lemak seperti perang yang tak pernah ada habisnya. Begitu pula para artis-artis di Hollywood yang pekerjaannya selalu di bawah pengawasan masyarakat.

Tak heran mereka melakukan segala hal untuk bisa mempertahankan ukuran tubuh, bahkan kalau bisa, mengurangi bobot ideal sebisa mungkin agar terlihat langsing.

Sebut saja Katie Holmes, Katherine Heigl, bahkan Lily Allen. Bintang-bintang muda dan cantik ini punya resep tersendiri untuk menurunkan bobot mereka.

Rikki Lake
Wanita yang pernah berjaya sebagai salah satu pembawa acara talkshow penuh kontroversi, Rikki Lake Show, ini sempat mengalami kenaikan bobot yang sangat tinggi. Sebagai perbandingan, ia sempat harus menggunakan ukuran pakaian 24. Kini ia bisa menggunakan pakaian dengan ukuran 6.

Tipsnya, ia menggunakan katering yang mengkhususkan makanan diet. Ini juga merupakan trik diet yang juga dibuktikan oleh Nick Carter, salah seorang anggota penyanyi Backstreet Boys. Yang menyenangkan, katering-katering diet semacam ini bekerja sama dengan ahli gizi, sehingga mereka bisa mengetahui makanan apa yang boleh dan tidak untuk kita. Termasuk apa makanan diet yang terbaik untuk tipe tubuh kita. Di Jakarta, Anda bisa mencoba katering diet seperti slim gourmet.

Katherine Heigl
Pernah merasa tidak pe-de setelah melihat diri di foto? Bukan hanya Anda saja yang mengalami hal seperti ini. Aktris sekelas Katherine Heigl pun pernah mengalami hal seperti itu. Ia merasa dirinya terlalu gemuk. Ia pun bertekad menurunkan bobot tubuhnya dengan menghubungi pelatih pribadi untuk membantunya termotivasi. Ia pun dibuatkan sebuah program pelatihan lari dan fokus kepada diet khusus ikan dan sayuran.

Katie Holmes
Ny. Cruise ini tak pernah terlihat kelebihan berat tubuh. Namun, setelah melahirkan putrinya, Suri, Katie merasa kurang puas dengan bentuk tubuhnya. Ia pun menguatkan diri untuk berolahraga. Olahraga yang ia pilih, joging! Lama kelamaan, ia pun merasakan nikmatnya untuk berolahraga dengan berlari. Katie bahkan ikut marathon di New York, tahun 2007 lalu.
Carrie Underwood
Penyanyi jebolan American Idol ini menyusutkan ukuran tubuhnya dengan cara mengurangi asupan lemak. Ia memilih vegetarian sejak lama. Ia menurunkan lagi ukuran tubuhnya yang sudah ideal tersebut dengan berlatih kardio, dan tak lupa menuliskan makanan-makanan yang ia asup setiap harinya.

Lily Allen
Turun empat ukuran bukanlah hal yang mudah. Tapi penyanyi asal Inggris ini berhasil melakukannya. Rahasianya? Ia meminta bantuan hipnotis untuk membuatnya merasa hanya ingin mengkonsumsi makanan sehat saja, dan termotivasi untuk pergi ke pusat kebugaran secara rutin.(aol/kompas.com)

Pos Kupang Minggu, 16 Agustus 2009, halaman 13 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Drs. H. Kasman Maman-Hj. Maimunah H Ibrah


Membangun Keluarga Sakinah

Didik Anak Hidup Sederhana

BERPROFESI guru Madrasah dengan gaji yang pas- pasan tidak membuat pasangan Drs. H. Kasman Maman dan Hj. Maimunah H Ibrah lupa akan pendidikan anak-anak demi masa depan mereka. Pendapatan yang minim, juga bukan hambatan bagi pasangan ini dalam membangun keluarga yang sakinah.

Pasangan ini senantiasa mendidik anak-anaknya untuk hidup sederhana dan mengajarkan nilai-nila agama pada anak-anak mereka sejak dini.

Kesedarhaan yang dibentuk sejak dini memetik hasil yang luar biasa karena kelima anaknya bisa menyelesaikan penididikan hingga meraih gelar sarjana. Bahkan saat ini anak-anak mereka sudah bekerja semuanya. Ini pula yang membawa pasangan ini terpilih menjadi pasangan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Propinsi NTT tahun 2009 dan akan mewakili Propinsi Nusa Tenggara Timur di pentas nasional mengikuti lomba Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan tingkat nasional tahun 2009 di Jakarta.


Pasangan yang menikah di Alor, 6 Juli 1969 dan saat ini usia perkawinan memasuki 40 tahun ini memiliki lima anak.

Anak pertama, Ibrahim Muhammad Saleh, lahir di Alor, 18 Juli 1970, menamatkan kuliahnya di Universitas Widyagama Malang Jurusan Manajemen Perusahaan, saat ini bekerja di Pertamina Depot Kalabahi.

Anak kedua, Ismail Muhammad Saleh, lahir di Alor, 20 November 1972, tamat di Universitas Gajayana Malang Jurusan Statistika Terapan, saat ini bekerja di Departemen Agama Kota Kupang.

Anak ketiga, Siti Wahyuni Muhammad Saleh, lahir di Alor, 2 Juni 1975, menyeleaikan sarjana muda Perikanan di Universitas Brawijaya Malang dan menyelesaikan sarjana Biologi di Univesritas Muhammadiyah Malang, saat ini bekeja sebagai guru Biologi di SMP Negeri Pura Alor.

Keempat, Abdul Abad Muhammad Saleh, lahir di Alor, 3 Juli 1977, tamat Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang, saat ini sudah bekerja di Dinas Perkebunan Kabupaten Alor. Putri bungsunya, Siti Hidayati Muhammad Saleh, lahir di Alor, 1 Agustus 1980, menyelesaikan kuliahnya di Universitas Widiyagama Malang, Jurusan Teknik Sipil, saat ini bekerja sebagai pegawai honor di Dinas Kimpraswil, Kabupaten Alor.


Kepada Pos Kupang di kantor Wilayah (Kanwil) Depertemen Agama (Depag) Propinsi NTT, Selasa (11/8/2009), Kasman yang pernah menjadi Kepala MAN Kalabahi ini, mengatakan, sejak menikah 40 tahun silam, mereka sudah bersepakat untuk menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana.

Karena itu dengan penghasilan yang pas-pasan, pasangan ini mendidik anaknya untuk hidup sederhana. Makan minum dan hidup hanya dari gaji sebagai guru, karena Kasman sebagai satu-satunya tulang punggung dalam keluarga tidak memiliki penghasilan lainnya selain menerima gaji bulanan sebagai seorang guru.

Dan menyekolahkan anak di perguruan tinggi di Jawa, bagi keluarga ini, bukan hal mudah dari sisi biaya. Namun keluarga ini punya kiat. "Saya pinjam uang di Bank Bukopin dan simpan di BRI. Uang di BRI ini bisa diambil kapan saja untuk keperluan anak-anak. Saya cicil pinjaman di Bukopin. Nanti, setelah lunas di Bukopin, saya pinjam lagi di Bank BRI dan simpan di Bukopin. Ini saya lakukan terus. Jadi uang untuk anak- anak saya bisa dipenuhi," jelasnya.

Bagi keluarga ini, sangat sulit ketika tiga anaknya harus duduk di perguruan tinggi. Namun, berkat ketabahan dan kerja keras serta disiplin yang dilakukan pasangan ini, ketiga anaknya bisa sukses kuliah di Malang dan bisa pulang dan mendapatkan pekerjaan dan kembali membantu orangtua.

Pria kelahiran Alor Kecil, tahun 1947 ini, mengatakan, karena ketiga anaknya sudah kuliah, maka anak keempat terpaksa menunda dua tahun untuk masuk ke perguruan tinggi. Namun, setelah ketiga anak mereka tamat perguruan tinggi di Jawa, anak keempat meminta kuliah di Kupang saja. Inilah yang membuat pasangan ini sedikit lega.

Alumnus Undana tahun 1985 ini mengatakan, tidak ada yang luar biasa yang dilakukan pada anak-anaknya. Keluarga ini hanya menginginkan agar anak-anak mereka bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, bangsa, negara dan Tuhan. Mantan guru di Pendidikan Guru Agama (PGA) Namosain ini selalu menekankan kepada anaknya agar menggunakan uang seperlunya jika benar-benar dibutuhkan untuk keperluan kuliah. (nia)


Khawatir tapi Percaya

H. Kasman Maman mengawali kariernya tahun 1967 saat diangkat menjadi PNS ini. Sebagai orang tua, katanya, ia dan istrinya tentu kerap mengkhawatirkan keadaan anak-anak mereka yang kuliah di Pulau Jawa. Namun, pasangan ini yakin pendidikan dan bimbingan yang dilakukan keduanya di rumah bisa menjadi dasar bagi anak-anaknya untuk hidup sederhana dan menjaga kepercayaan keduanya.



Saat masih duduk di bangku SD sampai SMA, katanya, rumahnya kebetulan dekat sekolah dan asrama sekolah sehingga suasana sekolah sangat mempengaruhi anak- anaknya. "Anak-anak saya terbawa dengan situasi sekolah dan asrama sehingga mereka bisa belajar tepat waktu dan bisa belajar dengan baik, tanpa harus diingatkan terus," kata Kasman yang menjadi anggota Khatib pada Masjid Agung Al Fatah Kalabahi 1998 sampai sekarang.

Sebagai orang tua, apalagi sebagai guru, ia selalu mengecek anak-anaknya saat belajar. Jika ada pekejaan rumah yang sulit atau ada pelajaran yang sulit, biasanya ia membantu anak-anaknya.

Menurutnya, sebagai keluarga muslim, pasangan ini selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk melakukan sholat lima waktu. Di sela-sela kesibukan sebagai guru, ia tetap mengajarkan kepada anak- anaknya untuk tidak lupa menunaikan sholat lima waktu maupun membaca Al'Quran. Hal ini dilakukanya sejak anak-anak masih usia dini, sehingga ketika anaknya memilih untuk melakukan perkuliahan di Malang, keduanya yakin anaknya bisa sukses dan pulang mebawa ijasah.

Untuk mengefektifkan komunikasi dengan anak di tempat yang jauh, dia memanfaatkan telepon sekolah. "Dulu belum ada handphone seperti sekarang, makanya susah setengah mati. Kalau tidak pakai surat yang dikirim melalui kantor pos, biasanya saya meminta izin kepada kepala sekolah menggunakan telepon sekolah untuk menelepon anak-anak di Jawa. Syukur, kepala sekolahnya mengerti kesulitan saya," katanya.

Dalam setiap komunikasi dengan anak-anak, biasanya ia mengingatkan anak-anak agar bisa belajar dengan baik dan tidak lupa sholat lima waktu. Selain itu, ia juga mengecek kondisi anak-anak maupun keuangan mereka.

Dikatakannya, pendidikan dalam keluarga memang sangat keras bahkan ia bisa menggunakan fisik jika anak-anaknya nakal, tetapi semua itu dilakukan dalam bingkai pendidikan. Alhasil, kelima anaknya sudah menggapai apa yang mereka cita-citakan saat ini.

Hal itu dilakukan ketika anaknya masih berusia SD sampai SMP. Saat sudah menduduki bangku SMA apalagi kuliah, keduanya hanya bisa mengarahkan dengan kata-kata tanpa melakukan kekerasan fisik. (nia)

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 12 Lanjut...


Gambar rumah


SAYA ingin merehab rumah BTN. Ukuran tanahnya 9m x 12m persegi. Rumah Tipe 27. Adapun ruang-ruang pada rumah lama terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu dan km/wc. Saya ingin menambahkan beberapa ruang lagi, yakni satu kamar tidur keluarga dilengkapi km/wc dalam kamar tidur tamu, km/wc dalam kamar tidur pembantu, dapur dan ruang keluarga tambah ruang makan.


Saya ingin ruang tengah terlihat luas. Dengan penambahan ruang yang cukup banyak seperti ini, otomatis bentuk rumah ini menjadi dua lantai. Saya minta agar rumah tersebut didesain indah dan nyaman untuk dihuni.

Demikian disampaikan, atas budi baik bapak dan Pos Kupang yang telah menyediakan rubrik Rumah Idaman, saya haturkan limpah terima kasih.
Vinlesius-Perum BTN-Kupang

Bapak Vinlesius Yth.
Tampilan eksterior rumah menunjukkan karakter pemilik. Nah, desain rumah harus berawal dari kebutuhan ruang yang baik, serta tampilan yang menarik. Jadi untuk itu, cukup beralasan kalau bapak ingin merehap rumah tersebut.

Dan, setelah saya melihat penataan ruang pada rumah lama dan membandingkan dengan kebutuhan ruang yang akan ditambah, maka ada beberapa ruang yang saya rombak, dimana km/wc yang semula berada di dekat ruang tamu, saya pindahkan ke bagian belakang berdekatan dengan kamar tidur pembantu.

Kemudian, letak kamar tidur keluarga saya tempatkan di sisi kanan bagian belakang dilengkapi km/wc. Letak kamar tidur tamu, saya buat di lantai dua dilengkapi dengan balkon dan km/wc dalam.

Nuansa alam sangat terasa ketika penghuni rumah berada di ruang keluarga. Taman kecil didesain di dalam ruang tersebut sebagai alternatif agar rumah mendapatkan penghawaan yang alami. Kemudian ukuran ruang pun dibuat semaksimal mungkin, tidak ada ruang yang terbuang, pemanfaatan ruang kosong di bawah tangga menjadi meja dapur, menjadikan dapur terkesan lebih simpel. Konsep pembagian ruang seperti ini cocok karena ukuran tanahnya terbatas.

Dengan pembagian ruang seperti ini maka tampilan rumah, saya desain minimalis dengan memadukan komposisi bentuk serta pembagian warna pada dinding tembok menjadikan rumah ini terkesan lembut dan dinamis.

Demikian penjelasan singkat dari saya, agar lebih jelas lihat pada gambar terlampir.
Oke....selamat hari Minggu.
---------------------------------------------------------------------------------------------
ANDRES Desain Jasa Arsitektur Desain Bangunan, Renovasi & Pengembangan, Pengurusan IMB, Pengawasan, Pelaksanaan, Maket. Jln. El Tari II-Perumahan POLDA NTT, Blok D No. 9 Kupang-NTT Telp. 0380-821719 HP.08124662445
--------------------------------------------------------------------------------------------
Lanjut...


ilustrasi/michigan.gov
Pasien memeriksa dan mengkonsultasi kesehatan pada dokter


PEPATAH mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Karena itu, peliharalah kesehatan Anda sebelum digerogoti penyakit. Berikut adalah panduan singkat untuk memperhatikan bagian-bagian tubuh tertentu yang bisa menunjukkan adanya gejala awal penyakit pada tubuh.


Kuku
Jika Anda melihat garis menghitam pada bagian tumbuhnya kuku yang bukan merupakan kotoran, cobalah periksakan ke dokter. Salah satu tanda kanker pada kulit bisa diprediksi dengan adanya hal tersebut. Warna garis-garis kekuningan, kecoklatan, atau menghitam pada kulit adalah tanda-tanda kerusakan sel. "Kemungkinan terjadi akibat melanoma, kanker paling mematikan," ujar Ariel Ostad, M.D., dermatologis dari New York.
Jika ada tanda warna putih pada kuku, ada dua kemungkinan. Pertama, jika hanya berupa titik tak terlalu besar, bisa jadi akibat terantuk sesuatu. Namun, jika ada garis putih, tebal dan horizontal pada kuku, bisa jadi karena ada suatu kondisi kurang sehat pada ginjal. Bisa jadi ini merupakan tanda ginjal tidak dapat menyaring protein dari air seni. Jika Anda mendapati hal ini, sebaiknya konsultasikan ke dokter.

Ketiak
"Jika ada tanda-tanda kasar dan gelap pada kulit ketiak, bisa jadi merupakan tanda-tanda awal diabetes," ujar Michael Smith, M.D, di situs WebMD. Bisa jadi hal itu merupakan kelebihan insulin pada aliran darah yang menyebabkan sel kulit secara abnormal berlipatganda. Hal ini membuat timbunan jaringan dan melanin. Umumnya timbunan ini terjadi di ketiak, leher, atau selangkangan. Tes darah singkat bisa membantu menentukan penyakit yang diderita.

Kelopak mata, lutut dan siku
Jika Anda melihat benjolan kecil yang terlihat berwarna putih atau bersinar, bisa jadi merupakan timbunan kolesterol. Sayangnya, ketika mereka muncul, kolesterol yang ada di tubuh Anda bisa jadi sudah sangat tinggi sekali, dan bisa jadi merupakan faktor risiko penyakit jantung. Jangan lupa untuk cek kolesterol dalam tubuh ke dokter, dan tanyakan perubahan gaya hidup atau resep obat-obatan apa yang bisa menurunkan level kolesterol tadi.

Kulit kepala
Rambut yang menipis bisa jadi merupakan gejala awal kelainan pada kelenjar tiroid. Jika kelenjar tiroid rusak, bisa mengganggu hormon seksual wanita dan pria. "Anda akan merasakan rambut lebih kasar dan menebal," ujar Sandra Fryhofer, M.D, ahli kecerdasan di Atlanta. Dokter bisa mengukur jumlah hormon tiroid yang ada dalam darah dan ada obat-obatan yang bisa menetralkannya.

Jika kulit kepala Anda melepas kulit seperti ular berganti kulit, dalam jumlah banyak, bisa jadi masalah utamanya adalah stres. Stres yang sangat tinggi memaksa tubuh memproduksi jumlah hormon kortisol yang sangat banyak. Ketika ini terjadi, maka akan merusak sistem imun tubuh dan metabolisme (penambahan berat badan). Kortisol juga bisa membuat kulit kepala amat kering.

Perut
"Jika Anda melihat ada rambut yang tebal dan hitam tumbuh di sekitar perut dalam bentuk wajik, bisa jadi merupakan tanda polycystic ovarian syndrome (PCOS)," terang Pamela Berens, M.D., ahli kandungan di University of Texas Medical School. Disebabkan oleh produksi androgen yang berlebihan, kondisi ini bisa mengakibatkan menstruasi yang tak teratur dan banyak, kenaikan berat badan, jerawat, rambut lebat dan kasar di perut, wajah, dada, dan punggung. Bagi wanita yang mengalami kondisi ini, dalam waktu lama akan mengakibatkan masalah serius, seperti ketidaksuburan, dan penyakit jantung.

Lidah
Jika Anda melihat ada lapisan putih, kuning atau jingga pada lidah, bisa jadi itu merupakan isi perut Anda yang naik dari lambung ke dalam mulut. Normalnya, katup di bagian bawah kerongkongan menjaga agar makanan yang masuk, tidak naik keluar. Namun, pada kondisi tertentu, katup tersebut terbuka pada saat Anda tertidur, sehingga membuat asam lambung naik lagi ke mulut. Umumnya, hal semacam ini bisa diatasi dengan obat antasida yang bisa dibeli di apotek, atau dengan menghindari makanan asam dan pedas. Jika ini tak berhasil, konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan obat untuk menurunkan asam lambung.

Sekitar mata
Lingkaran hitam di sekitar mata bisa jadi merupakan tanda-tanda awal alergi. Ketika hal penyebab alergi menyerang tubuh Anda, tubuh akan merespon dengan mengeluarkan histamin. Zat kimia ini membuat saluran darah membengkak dengan isi darah dan cairan lain. Hasilnya, tanda-tanda hitam muncul di daerah kulit yang paling tipis.
Namun, jika ada benjolan berwarna kekuningan di bola mata, bisa jadi merupakan sebuah gejala kondisi bernama pinguecula. Traci Goldstein, dari Metropolitan Vision Correction Associates di New York mengatakan bahwa ini bisa jadi merupakan pertumbuhan kolagen yang tak biasa, diakibatkan oleh sinar matahari, angin, atau debu. Usahakan untuk menjaga mata dalam keadaan lembab dengan meneteskan obat tetes mata setiap kali sempat. Jangan lupa untuk mengenakan kacamata hitam setiap kali berada di bawah matahari. (womens health/kompas.com)


Pos Kupang Minggu 16 Agutus 2009, halaman 11 Lanjut...

Tentang Tatapan Ibu

Cerpen Wendly Jebatu

KALAU kamu pernah mendengar kisah seorang ibu yang tega memberi anaknya kala jengking ketika anak itu meminta ikan, jangan tanyakan kepadaku apakah ceritra itu benar? Aku tak akan menjawabnya karena aku sendiri tak mengalaminya.

Kalau kamu sempat mendengar kisah seorang ibu yang menenggelamkan anaknya ke dalam baskom air karena kesal, jangan tanyakan kepadaku mungkinkah seorang ibu tega berbuat seperti itu? Jangan tanyakan kepadaku karena aku tak pernah mengalaminya. Aku yang merasakan bagaimana manisnya kasih ibu menganggap itu tak masuk akal.

Kalau kamu pernah mendengar kisah seorang ibu tua yang mendidik banyak anak dan tak pernah angkat seutas lidi untuk memukul anak-anaknya, kamu boleh tanyakan kepadaku.

Kalau kamu sempat mendengar kisah seorang ibu yang mempunyai senjata tatapan mata yang menikam untuk menyadarkan anaknya, temuilah ibuku.

Kamu akan menemukan pada matanya sebuah tatapan yang tajam dan menikam lubuk hatimu yang dalam dan kamu pun akan tunduk padanya. Dia ibuku yang mempunyai mata yang bisa merobek hati dan menembus jantung.

Dari rahimnya lahir sembilan orang anak dan semuanya sudah beranjak dewasa. Ketika orang bertanya kepadanya tentang bagaimana dia mendidik kami anak-anaknya, dia hanya menjawab, "Aku mendidik mereka dengan tatapanku!" Banyak orang yang pernah bertanya seperti itu dan keheranan mendengar jawaaban itu. Ada yang tak percaya.

Memang benar! Tatapan ibuku begitu lembut, menyejukan tapi juga menikam setiap hati yang salah. Kalau dia menatapku, aku merasakan kesejukan itu. dan saat berbuat salah tatapan itu seperti tikaman belati yang merobek hati dan diriku pun seolah-olah begitu kecil dan terjepit dalam genggamannya.

Ketika aku membuat kesalahan fatal dia tidak pernah marah, dia tak mengeluarkan kata-kata kutukan atau makian. Ia masuk kamar dan menatap mataku dengan lembut dan senyuman yang tulus. Tak pernah ada kata marah untuknya. Kakakku yang sulung berkisah bahwa semenjak dia bocah, ibu tak pernah mencacinya.

Yang ada hanyalah tatapan mata yang begitu lembut tapi menikam. Kakak-kakakku yang lain juga berkisa demikian. Mereka menceriterakan hal yang sama tentang ibu yang punya senjata pada tatapan mata. Dan aku, anak bungsunya pun mengalami hal yang sama. Hanya tatapannya yang terus mengawasi aku dan kadang menghakimi. Penghakiman ala ibuku adalah penghakiman dengan tatapan mata yang lembut.

Aku sering merasakan bahwa aku tak pantas ditatap begitu lembut. Di kala susah, tatapan lembut itu begitu sejuk dan aku ingin terus menatapnya karena aku mersakan kedamaian. Tetapi saat berbuat salah, tatapan mata itu begitu tajam dan seakan mengadiliku.

Pernah terjadi padu suatu hari Minggu dia mengetahui kalau aku tidak pergi gereja. Waktu itu memang aku dengan tahu dan mau tidak mau pergi. Aku keluar dari rumah bersama-sama dengannya.

Tapi di depan gereja aku berbelok arah ke tempat lain dan ibu tak memperhatikanku. Ketika misa selesai dia mencariku dan menungguku di pintu gereja tetapi tidak ditemukannya. Dia baru sadar bahwa aku telah mengibulinya. Ia pun pulang ke rumah sendirian! Sesampainya di rumah dia mencariku tapi tak didapatnya pula. Maka dia menunggu sampai sore karena ia yakin bahwa aku pasti kembali.

Ketika aku tiba di rumah pada senja itu, dia sudah duduk sendiri di depan rumah. Langit mendung saat itu.. Aku tak bisa lari lagi. Mau tak mau aku harus menghadapnya. Parasnya tak menunjukkan kemarahan atau pun kekecewaan. Ia tak menyambutku dengan kemarahan dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia menyambutku dengan senyum tulus dan tatapan mata lembut. Tatapan itu begitu lembut sampai aku merasakan hatiku tertusuk belati dan jantungku ditikam golok.

Aku malu di depan mata itu. Aku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mata itu menghakimiku dan senyuman tulusnya memintaku untuk mengaku salah. Aku tetap membisu. Aku merasa tak sanggup menatap mata itu; terlalu lembut untuk hati seorang anak yang suka membangkang. Aku tak pantas menerima tatapan itu dan tak pantas mendapat senyumannya tulus.

Sungguh aku tak pantas! Yang pantas buatku adalah kata-kata cercaan bahkan tamparan sekalipun. Tapi mama tak melakukannya.

Setelah itu dia masuk ke dalam rumah mendahuluiku tanpa sepata kata pun keluar dari mulutnya; dan aku hanya bisa mengekor dengan kepala tertunduk. Aku telah menyakiti dan menipunya hari ini.Tapi kok dia tak marah juga?

Apakah tatapan lembut dan senyuman tulus itu adalah sebuah ekspresi kekecewaan atau kemarahan? Tak tahu. Hanya ibu yang tahu. Tapi yang ku lihat, mata itu masih memancarkan ketulusan dan kelembutan hati.
Ibu tak pernah marah! Aku tak tahu mengapa sifatnya begitu.

Aku sering bertanya, apakah ini namanya cinta? Aku saat itu masih kecil sehingga aku tak tahu jawabannya. Yang jelas bahwa aku menikmati kebersamaan kami. Dia tak pernah marah tapi juga tak memanjaiku walaupun semua saudaraku sudah tinggal jauh. Aku ingat betapa seringnya aku menyakitinya. Tapi aku tak pernah merasakan cambukan.

Sebagai anak yang nakal, aku kadang merasa tak pantas menerima perlakuan yang terlalu lembut itu. Aku bahkan mendambakan sesekali bila dibolehkan biarkan aku merasakan cambukannya, biar aku tahu seberapa sakitnya cambukan itu. Tapi tak pernah dilakukannya.
Senjata utama ibu hanyalah tatapan matanya.

Aku ingat pada sebuah subuh, ia membangunkanku. Aku melihatnya dengan kepala terikat sal. ,Nana, mama sakit! Temani mama ke bidan punya rumah. Mama mau berobat!" ,

Aku tak mau!" Jawabku. Aku malah menutup tubuhku rapa-rapat dengan selimut.
Ia tak memaksa dan memilih pergi sendirian. Jalannya sempoyongan karena pening.

Tak lama berselang seorang anak memanggil-manggilku dari depan rumah. "kaka! Mama tua ada jatuh dan sekarang masih berbaring di rumah tetangga!. Aku hafal baik suara itu. Itu suara Yudi sepupuku yang masih kecil itu. Aku panik! Aku pun bangun dan langsung lari menemui bidan untuk memintanya datang menolong ibu.

Sepulang dari rumah bidan aku mendapati ibu sudah duduk tapi badanya masih lemah. Ketika dia melihatku, dia hanya tersenyum dan matanya langsung menatap mataku. Aku tertunduk malu. Aku tak berani menatap mata itu. Lalu dia mengulurkan tangannya dan memelukku ketika dia tahu bahwa aku sudah memanggil bidan.

Tapi aku masih takut pada tatapannya. Aku merasa tak pantas saja. Semua ini karena kesalahanku. Dalam pelukannya waktu itu aku hanya berbisik meminta maaf padanya dan dia tersenyum lembut dan menciumku.

Ketika aku merasakan kehangatan ciuman itu, aku berani menatap matanya dan aku merasakan hatiku kembali damai.
***
Sekarang aku sudah dewasa dan aku tinggal jauh dari ibu. Dan sekarang dia tinggal sendiri di rumah. Walaupun jauh aku masih merasakan kehadirannya. Tatapannya masih terus mengawasi gerak gerikku. Sering kali terjadi dalam menjalankan tugas atau dalam pergaulan dengan teman-temanku, aku bebuat salah.

Saat itu, tatapan mata mamaku seolah-olah nyata dan menghakimiku. Aku menjadi sangat bersalah.
Ketika subuh aku selalu ingat padanya, pada suara lembutnya. Ia biasa membangunkanku.
"Nana bangun, matahari sudah bersinar! Ingat hari ini kamu sekolah kan?"

Seperti biasa kadang aku mengikutinya tapi tak jarang aku melanggarnya dan malah tidur terus. Tatapan itu selalu mengintaiku dan aku merasa nyaman dibuatnya. Ketika aku dalam gundah, aku membayangkan saja senyuman dan tatapan mata mama sehingga aku bisa tenang kembali.

Beberapa hari yang lalu, dia meneleponku dan menceriterakan panennya yang gagal.
Aku sempat bergurau padanya, aku mau pulang bantu ibu. Dia menjawabku, "aku bahagia sekali kalau ada bersama anak-anakku! Tapi aku akan lebih bahagia lagi kalau anak-anakku meraih apa yang dicita-citakan!" Aku pun diam. Begitu indah dan begitu tulus.

Kelembutan suaranya terus terngiang di telingaku. Tentang kegagalan panenannya dia tak mengeluh. Dia mempersalahkan dirinya. Dia bilang padaku bahwa kegagalan itu karena dia sendiri tak mengontrolnya secara rutin. "Kalau begitu mama tidak bisa kerja sendiri!" Kataku saat itu.

Dia hanya menjawab bahwa sendiri atau banyak orang tidak menjadi soal. Sama saja kalau banyak orang tapi semua ikut kemauan sendiri dan tak mau mendengarkan kata-kata mama. Demikian jawabnya sambil tertawa renyah lewat telepon.
"Bijak sekali! Tapi kena juga ne!" Balasku.
Dia hanya tertawa dan berpesan supaya aku jangan memikirkan dia yang hidup sendiri di rumah.

"Mama memang sendiri di rumah dan kamu tahu aku sangat sepi. Tapi aku tak menyesal dengan kesendirianku! Yang terpenting aku sudah berhasil menanamkan kepada kamu apa yang menjadi kebajikan yang aku hidupi. Kamu boleh menambahnya dengan kebajikan yang kamu temukan dari orang lain dan dari apa saja yang kamu dapat. Mama bahagia walau hidup sendiri. Mama akan sangat kecewa dan sakit hati kalau kamu datang menemui mama dan mau tinggal dengan mama dengan bekal ceritra tentang kegagalan kamu yang disebabkan oleh kelalaian kamu melanggar kebajikan yang aku beri dan kamu terima dari orang lain. Ingat nak, kamu bukan anak kecil lagi!"

Lalu dia pamit dan menutup teleponnya. Aku duduk merenung. Mata itu terus menatapku. Belum pernah ibu memesan dengan kata-kata bijak seperti ini. Dari dulu dia mengajari dan menasihati kami dengan tatapan mata dan tindakan nyata. Apakah mama berubah? Tidak! Ini karena kami tak lagi tinggal bersama.

Tapi apakah ibu tak tahu bahwa dia selalu hadir dalam keseharianku? Apakah ibu tidak tahu bahwa tatapannya masih mengawasiku sampai saat ini? "Mama! Engkau memang jauh tapi masih dekat di hati."
Aku membayangkan betapa sulitnya hidup yang dijalaninya. Sekarang dia sendiri dengan keberhasilan yang tak tentu dan kegagalan yang selalu mengintai dan siap menghadang.

Tapi aku tahu, ibu orangnya tegar. Ceritera kegagalan panen hanyalah ceritera kecil dari ziarah hidupnya. Ada banyak hal yang lebih berat dari itu. Penderitaan pertamanya saat dia harus menghadapi kematian suaminya, ayahku dan membesarkan anak sembilan orang sendirian. Dan penderitaan lebih besar lagi saat dia menghadapi sembilan orang anak yang mempunyai karakter yang berbeda.

Ada yang nakal, ada yang sopan. Ada yang suka omong banyak dan mengomel dan ada yang tenang-tenang saja. Ada yang pembangkang dan ada pula yang penurut. Semuanya dipimpinnya bukan dengan tangan besi tetapi dengan tatapan dan senyuman. Tatapan dan senyuman itulah senjatanya dan ternyata berhasil.

Mamaku selalu berperinsip bahwa kekerasan hanya bisa ditaklukkan dengan kelembutan. Itulah sebabnya dia tak pernah mendidik kami dengan tamparan, cercaan dan makian. Dia mendidik kami dengan tatapan dan senyuman. Ah........tatapan itu! Penuh kasih dan mendewasakanku! *
Nicepleat-Ledalero, April 2009

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 6 Lanjut...

WS Rendra

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


APAKAH memang demikian sudah jalannya, Mbah Surip, 16 korban Merpati di Papua, WS Rendra, Yoakim Langoday dan Noordin M. Top yang menjadi fokus minggu ini? Tentu tidak ada hubungan satu dengan lainnya.

Namun bisa juga dihubung-hubungkan, untuk menarik benang merah tentang porsi pemberitaan, interes media, fokus dan locus persoalan yang melatarbelakanginya.


"Kalau saya jadi Noordin M. Top! Hebat sekali saya. Bertahun-tahun sanggup mengecoh polisi. Bertahun-tahun hidup dalam target menyerang dan menghancurkan. Tidak peduli. Anak buah saya tersebar di seluruh pelosok bumi untuk secara berantai melanjutkan perjuanganku. Wah, apakah cukup pantas saya jadi Noordin?" Tanya Jaki pada Rara yang disambut dengan serius.

"Lebih enak jadi Mbah Surip!" Sambung Rara.
"Lebih enak Noordin! Penuh sensasi yang menggetarkan dan menggemparkan dunia! Kalau Mbah Surip biasa-biasa saja. Saya lebih suka jadi Noordin! Diburu, jadi target, dan menyita perhatian! Mengeco pihak keamanan? Buat geger dunia! Hebat bukan?"

***
"Dari rumah yang sempit itu, di malam yang dingin tanganku yang rapuh menggapai, surgaMu. Aku akan tidur di mataMu yang mengandung bianglala dan lem bah kasur beledu. Ketika angin menyapu rambutMu yang ikal dan panjang, aku akan berlutut di pintu telingaMu, dan mengucapkan doaku" dengan sangat khusuk puisi Rendra dikumandangkan Nona Mia dengan penuh perasaan. Namun sayangnya tidak digubris oleh Rara dan Jaki.

"Aku dapat SMS dari seorang temanku di Papua. Dia merasa sedih karena dua hari penuh Mbah Surip dan Tak Gendong jadi fokus di TV, sementara pada saat yang sama 16 penumpang merpati tewas di Papua tanpa pemberitaan yang berarti," kata Benza.

"Sepertinya soal kecil saja, tetapi temanku merasa sepi dan tidak penting untuk publikasi dan mendapat simpati. Yang pasti menurut keyakinanku Mbah Surip dan korban Merpati sama-sama akan tertidur di mata Tuhan bahkan sama-sama dilindungi rambutNya yang ikal dan panjang. Aman dan tentram".

"Bagaimana ya kalau aku jadi Mbah Surip? Tak gendong kamu kemana-mana ya Nona Mia," Jaki membuyarkan konsentrasi Nona Mia dan Benza. "Tak gendong kamu. Enak toh? I love you full Nona Mia ha ha ha," Jaki menirukan kata dan gaya Mbah Surip bernyanyi.
***
"Tuhan telah terserang lapar, batuk dan selesma, menangis di tepi jalan. Wahai! Ia adalah teman kita yang akrab! Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi, para perampok, pembunuh, penjudi, pelacur, penganggur, dan peminta-minta..." Nona Mia mengutip puisi karya Rendra lagi.

"Aku dapat telpon dari Lewoleba. Temanku prihatin dengan hilangnya nyawa Langoday Yoakim oleh orang-orang dekatnya. Bahkan hilangnya nyawa Yoakim direncanakan oleh aktor intelektual di belakang musibah. Benar-benar Tuhan terserang lapar, batuk, dan selesmas dan menangis di tepi jalan menyaksikan ulah anak-anakNya yang buta oleh korupsi, kolusi, nepotisme dan manipulasi. Begitulah".

"Hidup ini adalah puisi yang sangat terikat pada kata dan makna!" Apresiasi Nona Mia. "Kata dan makna adalah suara yang tidak dapat disembunyikan. Gaungnya merayap jauh kemana-mana mencari sumbernya. Baik atau pun buruk akan bertemu dengan tujuannya! Karena itulah suara Langoday selamanya akan tetap menjadi suara yang selalu mengejar!"

"Kalau aku jadi Yoakim Langoday? Aduh! Aku tak mau," Rara tersentak dengan pikirannya sendiri. "Lebih baik jadi Mas Bambang Mbak Erni Mas Bedi Mas siapa lagi ya para tersangka! Meskipun baru tersangka dengan praduga tidak bersalah, aku tetap tidak mau. Aku mau jadi pak Polisi saja, yang sedang menangangi kasus mereka! Tak gendong kemana-mana..."
***

"Masing-masing saling menipu - Dengan gelas-gelas yang tinggi - kita membunuh waktu dalam dosa. Bila begitu: manusia sama saja dengan cerutu - bistik, ataupun wiski-soda - Berhadapan dengan waktu - jadi tak berdaya..." puisi Rendra lagi.

"Apakah benar Noordin M.Top terbunuh dalam penyerbuan dan penyergapan polisi semalam dan sesiang suntuk? Waktu untuk Noordin telah dihentikan dan akhirnya tak berdaya. Yang pasti begitu banyak air mata dan jeritan derita yang telah ditinggalkan teroris.

Begitu lama berkibar berkeliaran bebas dan begitu lama juga pihak keamanan pusing setengah mati mengatur strategi untuk melumpuhkan laki-laki yang dicari-cari dunia itu!"

"Sepertinya aku lebih cocok jadi WS Rendra ya?" Rara bertanya pada ketiga temannya. Aku bisa baca puisi Rendra sehebat Nona Mia baca puisi...Ajal! Ajal! Betapa pulas tidurnya di relung pengab dalam! Siapa akan diserunya? Ajal-ajal..."

***
"Sebaiknya memang untuk saat ini kita semua perlu menjadi Rendra! Mengambil waktu jeda untuk menulis, mengekspresikan pikiran dan perasaan terdalam dalam membaca tanda-tanda jaman yang dihidupkan Noordin M. Top, Mbah Surip, Yoakim Langoday dan semua hal menyangkut mereka..." Ajak Nona Mia.

"Apa yang sudah terjadi dan mengapa mesti begini?" Sambung Benza.
"Sebab Rendra adalah Lelaki yang Luka...dalam Tobat.... Puisi Rendra lagi!"

"Aku tobat Tuhanku, Telah kuinjak mulut-Mu dan juga jantung-MU". *

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 1 Lanjut...

Sr. Franselin, CIJ


Foto POS KUPANG/Maria Matildis Banda
Sr. Franselin, CIJ

(Biarawati Ordo CIJ)
Biarawati Juga Bisa Sekolah Tinggi

TERNYATA suster juga bisa sekolah sampai sarjana (S1), bahkan bila perlu sekolah sampai S2 dan S3 demi pembangunan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan kerjanya. Jadi, para remaja putri yakinlah, menjadi biarawati tidak terkungkung di dalam biara. Di samping doa-doa dan aturan biara, biarawati juga bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih berarti bagi masyarakat yang dilayani. Biarawati juga bisa lulus dengan predikat cumlaude dan menjadi yang terbaik dalam ketaatannya sebagai biarawati.

Itulah juga yang dialami Sr. Franselin, CIJ, yang baru saja selesaikan pendidikan S1 Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) Sanata Dharma Yogyakarta. Mengangkat tema perempuan dalam skripsi berjudul; Keprihatinan Rasuli dari Pendiri Kongregasi CIJ Terhadap Harkat dan Martabat Kaum Perempuan di Ende Flores. Mengapa perempuan? Apa padangan Suster Franselin, tentang hidup membiara dan apa harapannya tentang panggilan bagi para remaja putri? Berikut ini wawancara Pos Kupang dengan Suster Franselin, CIJ yang ditemui di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Bagaimana ceritanya sampai suster lulus dengan predikat cumlaude.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Biasa saja seperti teman-teman lain, bahkan ada yang jauh lebih tinggi prestasi akademiknya dibanding saya. Bedanya, saya memang kuliah lebih cepat. Tepat empat tahun sejak tahun 2005 saya selesaikan kuliah S1 Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik yang disingkat IPPAK. Tidak tinggi sekali, sederhana, Indeks prestasi komulatif kuliah 8 semester 3,28 dengan nilai A untuk skripsi. Mungkin karena tepat waktu, dengan predikat komulatif di atas 7 dan skripsi 8 yang membuat saya dapat predikat cumlaude.

Bisa jelaskan tentang skripsi? Keprihatinan Rasuli dari Pendiri Kongregasi CIJ Terhadap Harkat dan Martabat Kaum Perempuan di Ende Flores.
Keprihatinan rasuli sama dengan keprihatinan kerasulan, fokus saya pada karya pelayanan yang dikhususkan kepada kaum perempuan untuk mengangkat martabat dan harkat kaum perempuan. Ini ada kaitannya dengan sejarah awal berdirinya Kongregasi CIJ yang prihatin terhadap nasib kaum perempuan sekitar tahun 1930-an. Saya berupaya menjelaskan secara ilmiah situasi dulu dan sekarang soal martabat perempuan di Ende Flores.

Belum banyak orang tahu bahwa biarawati dapat membuat kajian ilmiah suatu masalah di seputar karya pelayanannya. Pada umumnya orang tahu suster-suster itu kerjanya doa dan kerja sederhana soal pelayanan saja. Orang jadi malas masuk biara karena rutinitas itu. Bagaimana komentar Suster?
Sejak dulu, salah satu karya pelayanan kami adalah pendidikan. Mungkin dulu sederhana saja cukup tamat SLA dan sejenisnya. Tetapi, biara juga ikut perkembangan jaman. Pendidikan tinggi penting untuk pelayanan pendidikan masyarakat. Doa-doa itu keharusan bagi semua orang beriman. Biarawati mesti taat pada doa dan aturan biara. Tetapi biarawati juga bisa bebas mencari ilmu. Jadi, para remaja putri, mari masuk biara, Anda akan mengalami kebebasan penuh untuk mengembangkan diri melalui biara.

Apa yang suster pelajari dan tulis dalam skripsi?
Antara lain saya cermati tulisan Pater Lame Uran, bahwa pada zaman itu adat-istiadat dan perbudakan masih sangat kuat. Kekerasan feodalisme yang ditandai dengan pembunuhan, pemerkosaan, khususnya kaum perempuan, nampak jelas dalam praktek kawin paksa. Sikap ini merupakan pelanggaran hak asasi yang merendahkan martabat manusia. Orang-orang muda menjadi fokus kekerasan terhadap aturan adat. Berdasarkan norma adat setempat, seorang gadis seharusnya dipinang oleh pihak laki-laki, tetapi aturan tersebut tidak berlaku karena hadirnya kaum penjajah: mereka hanya dijadikan sebagai alat pemuas hawa nafsu dan komoditi perdagangan yang dapat menghasilkan uang. Perempuan juga dijadikan harta serta alat untuk meningkatkan status sosial kaum feodalis.

Untuk kepentingan siapa sebenarnya sampai perempuan mendapat perlakuan menyedihkan seperti yang suster tulis dalam skripsi?Apa akibatnya bagi perempuan?
Perempuan sungguh diperlakukan sebagai barang yang bisa diperdagangkan untuk kepentingan feodal dan golongan atas. Kondisi yang memprihatinkan ini telah menimbulkan berbagai penyakit fisik dan psikis. Jenis penyakit ini tidak mudah ditangani karena kesulitan tenaga medis, obat-obatan, konselor dan komunikasi antar daerah yang sulit dijangkau. Situasi ini sungguh membuat masyarakat hidup dalam kemelaratan. Berdasarkan kondisi sosial seperti yang disebutkan di atas, Mgr. Henricus Leven, SVD, merasa terpanggil untuk mendirikan Kongregasi CIJ, dengan tujuan agar para anggotanya mampu mewartakan "Kabar Gembira" tentang Yesus Kristus melalui pengajaran kepada orang yang belum mengenal agama, mencari domba yang hilang dan mengangkat martabat kaum papa miskin serta para perempuan penderita.

Suster membuat kajian ilmiah tentang visi misi lahirnya kongregasi CIJ, suster menulis tentang karya pelayanan kongregasi CIJ yang bertolak dari keprihatinan?
Ya! Bertolak dari keprihatinan dasar tersebut tarekat CIJ berdiri. Pertama, agar para anggotanya meneladani Tuhan Yesus dan bunda-Nya yang suci, menjalankan kehidupan orang miskin, tetap hidup perawan dan mentaati aturan hidup Kongregasi serta berusaha untuk mencapai kesempurnaan dan berkenan kepada Allah. Kedua, mereka harus membantu karya penyebaran agama (iman) yang benar. Misi ini diwujudkan dalam karya pendidikan anak-anak perempuan di sekolah, asrama, serikat Gerejani St. Maria, sekolah rumah tangga dan pendidikan anak-anak kecil (TKK). Untuk menghidupkan dan melaksanakan tujuan berdirinya Kongregasi yang tersurat dalam Konstitusi Awal, Mgr. Henricus Leven, SVD, secara khusus dipilih Tuhan untuk memulai karya besar dengan mengubah pola pandangan masyarakat Kepulauan Sunda Kecil yakni perempuan hanya sebagai calon ibu atau isteri dan mempunyai arti khusus hanya karena emas kawin.

Kesadaran apakah yang mau ditumbuhkan pendiri dan kongregasi kepada kaum perempuan yang terpinggirkan itu?
Di sini Bapa pendiri mau menandaskan dan sekaligus menyadarkan masyarakat setempat, khususnya bagi kaum perempuan bahwa ada nilai hidup yang lebih luhur, yaitu hidup perawan sebagai seorang religius untuk kepentingan Tuhan dan Kerajaan-Nya yang belum dapat dibayangkan. Selain wawancara saya juga baca dari tulisan Pater Piet Petu, dan banyak tulisan lain menyangkut kesadaran akan hakekat hidup sebagai manusia dan sebagai perempuan. Inilah yang bagian kecil dari skripsi yang saya tulis dengan bebas!

Bagaimana kaitannya dengan kebebasan yang Suster maksudkan?
Ya! Dunia pendidikan adalah dunia yang bebas bagi para perempuan. Melalui kuliah, belajar, membaca banyak buku-buku, melakukan wawancara dengan berbagai pihak, saya mendapat kebebasan penuh untuk menulis skripsi. Saya merasa kongregasi telah membuka jalan luas untuk saya menjadi lebih bebas dan lebih baik dalam mengabdikan hidup saya sebagai biarawati. Saya mendapat kebebasan penuh membaca sejumlah buku yang memperkuat skripsi. Saya mendapat kesempatan untuk membaca dan belajar dan membuat penelitian. Saya berpikir dan menulis yang saya temukan dalam buku-buku pendukung skripsi. Itulah kebebasan yang saya maksudkan. Jelas bahwa dunia ilmu dan dunia ilmiah juga menjadi bagian dari hidup seorang biarawati. Latar belakang lahirnya sebuah kongregasi sangat berkaitan erat dengan kebebasan dan kemanusiaan.

Apa yang Suster rekomendasikan dalam membandingkan keprihatinan rasuli terhadap perempuan pada awal berdirinya kongregasi dengan kenyataan sekarang ini?
Kongregasi CIJ melakukan karya kerasulan pendidikan dan kesehatan. Dalam Konstitusi Awal ditulis agar para suster CIJ memperhatikan dan menanggapi nasib kaum perempuan dan anak. Sampai sekarang ini terus diperjuangkan bahkan mengalami peningkatan. Pendidikan makin lama makin maju. Karya kongregasi pun semakin banyak. Pengembangan karya kerasulan di bidang sosial, menangani secara langsung para penyandang masalah dan secara khusus mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan sebagai pribadi yang patut diakui keberadaannya. Sekarang ini terdapat 25 buah karya kerasulan Bina Remaja Putri yang ditangani CIJ. Kemajuan pesat, karya ini sungguh memberdayakan kaum perempuan melalui berbagai kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kualitas hidup dari aspek rohani maupun jasmani. Kerasulan ini juga didukung oleh berbagai pihak baik oleh para suster CIJ sendiri, pihak swasta maupun pemerintah dengan memberikan bantuan moril dan materiil.

Apakah perkembangan jaman dulu dan sekarang mempengaruhi karya kerasulan Kongregasi CIJ
Dalam skripsi saya juga mencermati hal ini. Memang mesti diakui bahwa perkembangan zaman di bidang IPTEK, diharapkan tetap memperkuat semangat anggota CIJ dalam berpastoral. Dalam bidang pastoral keluarga misalnya, semangat para suster untuk pergi ke kampung-kampung mengunjungi orang sakit dan menghibur orang yang menderita sebaiknya tetap tumbuh. Permasalahan dasar yang ditemukan dalam tarekat perlu diangkat dan selanjutnya dicari solusi untuk mengatasinya, sehingga walaupun para suster hidup dalam suatu dunia yang serba modern, semangat dasar yang sudah diwariskan oleh Bapa pendiri tetap terus bersemi dalam diri setiap anggota. Perkembangan zaman dan kemajuan dalam bidang IPTEK, bukannya memudarkan semangat dalam tugas-tugas perutusan, tetapi justru sebagai alat bantu penuh makna yang dapat memotivasi para suster untuk lebih mengembangkan kerasulan tarekat secara efektif dan berdaya guna.

Untuk meningkatkan semangat kerasulan bagi para suster CIJ khususnya, rekomendasi apa yang suster berikan melalui skripsi yang suster tulis?
Penyajian karya tulis ini merekomendasikan beberapa hal untuk meningkatkan semangat kerasulan bagi para suster CIJ, dalam mengangkat derajat kaum perempuan. Pertama, Perlunya membuat gerakkan sosial melalui gerakkan yang dikoordinir oleh LSM atau Yayasan sosial lainnya yang menangani masalah tentang kaum perempuan, juga gerakkan spiritual lewat kegiatan-kegiatan rohani seperti: retret, rekoleksi, camping rohani yang melibatkan kaum muda-mudi dan suami-isteri. Kedua, Setiap suster CIJ perlu melihat masalah aktual atau mendesak yang terjadi pada kaum perempuan yang membutuhkan penanganan untuk mengatasi dan dibela haknya. Ketiga, Suster-suster CIJ berjuang dan berpikir secara serius mengangkat derajat perempuan bila ada terjadi sesuatu yang menimpa mereka. Keempat, dalam memperjuangkan hak kaum perempuan yang paling mendasar adalah penegakkan hak dan martabat serta pembelaan hak-hak perempuan. Kelima, Setiap komunitas perutusan perlu membangun jaringan dan kerja sama dengan semua pihak baik pemerintah, lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang sosial untuk menangani kaum perempuan, lembaga religius lainnya agar perhatian dan pelayanan demi keutuhan martabat kaum perempuan semakin efektif.

Apakah Suster akan kuliah lebih tinggi lagi?
Soal kuliah lagi, tentu saja saya sangat gembira jika mendapat kesempatan itu. Ya, tentu kalau direstui pimpinan biara. (maria matildis banda).



Menjaga Kesucian dan Martabat Diri

SR. FRANSELIN, CIJ, memiliki nama asli Prudentia Rosa Maru. Putri kelima dari tujuh bersaudara pasangan Bapa Fransiskus Naga dan Ibu Anastasia Gale (almarhum). Memilih nama Franselin karena aturan waktu itu nama diganti, sebagai simbol memulai hidup baru dalam kehidupan sebagai biarawati.
"Nama kita pilih sendiri, dan dilihat lagi oleh pimpinan biara sesuai atau tidak. Saya pilih Franselin karena permintaan dari bapa saya sendiri. Rangkaian dari nama keluarga, terutama bapa saya Fransiskus. Juga secara khusus nama itu adalah nama Santu Fransiskus. Santu Fransiskus dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga berada. Tetapi, ketika dia melihat situasi dunia sekeliling dan menemukan begitu banyak orang-orang kecil yang hidup sengsara, dia berusaha menolong mereka. Semangat mencintai orang kecil dan terpinggirkan itulah yang ingin saya tumbuhkan dalam panggilan hidup saya sebagai biarawati".
Sr. Franselin, dilahirkan di Jopu, 29 Desember 1975. Menyelesaikan pendidikan SD di Jopu, SLTP dan SLTA di Dili Timor Timur (kini Republik Demokratik Timor Leste/RDTL). Sr. Franselin masuk biara tahun 1995, menerima kaul pertama 19 Juni 1998 dan kaul kekal sebagai biarawari tanggal 18 Juni 2004.
Ketika ditanya, "Mengapa masuk biara?" Sr. Franselin menjawab, "Keinginan untuk jadi suster karena pada awalnya tertarik dengan Suster Kepala Sekolah, Sr. Yosefin, CIJ, karena gaya mengajarnya yang menarik, pendekatan terhadap anak-anak, selalu dekat dengan murid, selalu bertanya, selalu mengatasi masalah. Selalu bertanya kamu ada apa. Suster Yosefin juga suka mengajak anak-anak datang ke biara Jopu. Saya ingin seperti dia. Ingin jadi guru seperti dia menjadi suster guru. Setelah masuk biara saya merasa inilah pilihan saya dalam hal pelayanan para suster terhadap orang-orang kecil di kampung," tutur Sr. Franselin.
Sebagai biarawati, perutusan pertama dijalaninya di Komunitas CIJ Watubala - Maumere.
Pelayanan di bidang urusan rumah tangga dan mengajar anak sekolah Minggu Paroki Watubala (dua tahun) 1998 - 2000. Perutusan kedua terjadi di rumah retret Sawiran - Pasuruan, Jawa Timur (Jatim). Di sana Suster Franselin bekerja sebagai anggota tim pembina untuk retret anak-anak sekolah di Jatim selama 3,5 tahun, yakni tahun 2000 - 2003.
Perutusan ketiga terjadi di Ende dalam rangka persiapan kaul kekal, selama enam bulan. Setelah kaul kekal pada 18 Juni 2004 perutusan keempat dijalani di Lembor, Manggarai Barat sebagai ibu asrama putri SMA Lembor tahun 2004. Pada tahun 2005 Sr. Franselin diutus mengikuti kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang diselesaikan tepat empat tahun.
Suster sangat yakin tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. "Supaya perempuan dapat melolong diri sendiri agar tidak terjajah oleh pihak lain; juga bisa menolong orang lain. Perempuan memiliki potensi untuk menjadi lebih mampu. Pendidikan akan membuat perempuan dan setiap orang sadar talenta dirinya," ujarnya.
Suster juga menyampaikan keprihatinnya terhadap pergaulan sebagian anak-anak yang kuliah di Yogya. "Sebagian anak-anak zaman sekarang hidup turut suka. Kalau ditegur, mereka akan menilai suster kurang gaul. Mereka memahami gaul secara salah. Ada beberapa anak-anak kita yang menjalani pergaulan bebas di kos-kosan dan hamil di luar nikah. Sayang sekali karena mereka kurang menghargai kesucian pribadi. Harapan konkret saya tidak muluk-muluk. Cukup, hargailah dirimu sendiri, menjaga kesucian dan martabat diri. Ingat orang tua yang berjuang keras membiayai kuliah," kata Sr. Franselin.
Ketika ditanya kemungkinan memilih jalan hidup lain di luar biara, Suster menjawab tegas; "Saya tidak menyesal masuk biara?
Sama sekali tidak. Ini pilihan saya untuk seumur hidup. Mohon Doa." (dis)

Pos Kupang Minggu 9 Agutus 2009, halaman 3 Lanjut...


FOTO POS KUPANG/ALFRED DAMA
BENDUNGAN TILONG--Air yang tertampung di Bendungan Tilong harus digunakan secara maksimal untuk mengatasi kemarau panjang tahun ini.



WILAYAH Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2009 ini kembali memasuki masa kemarau panjang. Musim kemrau yang panjang tidak merupakan dampak dari fenomena El Nino yang secara periodik melanda wilayah NTT.

Bila pada masa lalu, kemarau panjang secara periodik terjadi antara 10 tahun hingga 20 tahun sekali, maka dalam beberapa tahun ini, fenomena kemarau panjang di wilayah NTT terjadi lebih sering dan dikhawatirkan ke depan, kemarau panjang ini akan menjadi lebih sering.

Pengamat Ekonomi dan Pertanian dari Universitas Nusa cendana (Undana) Kupang, Dr.Ir.Fred Benu, M.Si, kepada Pos Kupang di Kampus Undana Kupang, Kamis (6/8/2009), menjelaskan masalah kekeringan di NTT baru kali ini saja.
NTT yang merupakan bagian dari belahan bumi juga terkena dampak global warming atau pemanasan global. Ini berdampak pada kekeringan di NTT yang semakin sering terjadi atau musim panas akan semakin panjang sedangkan musim hujan semakin pendek.

Bila biasanya, musim kemarau panjang terjadi antara lima tahun hingga 10 tahun sekali, namun periode musik kemarau panjang semakin kecil artinya kemarau panjang akan sering terjadi.

Untuk mengantisipasi masalah kekeringan ini, pemerintah harus memaksimalkan peran Badan Penanggulangan Bencana. Dan, dampak kekeringan ini juga merupakan bencana. Hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah dalam jangka pendek ini adalah memeriksa cadangan pangan milik pemerintah yang akan diberikan ke masyarakat, selain itu pemerintah juga perlu memeriksa lumbung-lumbung milik masyarakat.

"Harus ada political wil dan komitmen pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan ini. Apakah kita sudah akibat dari bencana ini, apakah kita sudah periksa ketersediana pangan di lumbung-lumbung masyarakat?. Bagaimana dengan stok pangan kita," ujar Kepala Lembaga Penelitian Undana ini.
Menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana sebaiknya segerah mengambil langka- langka untuk mengantisipasi bencana kekeringan ini dengan mendata semua daerah yang berpotensi terkena dampak kekeringan ini, mendata daerah mana yang harus menjadi prioritas dan bantuan apa yang segera diberikan.

Strategi
Kekeringan di wilayah NTT kemungkinan akan menjadi hal rutin yang terjadi setiap tahun akibat dampak global warming ini. Sehingga langka antisipasi perlu dilakukan oleh pemerintah dan segenap masyarakat NTT. Dr. Fred Benu, menyampaikan dua strategi yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Propinsi NTT.

Strategi pertama adalah program jangka pendek. Dalam program ini, kata Fred, petani harus mengetahui tentang kekeringan dan memberi petunjuk pilihan varietas bibit yang cocok ditanam pada saat curah hujan sangat minim. "Misalnya, petani diberi bibit jagung yang cocok untuk kondisi curah hujan yang minim. Bibit jagung yang bisa tahan dengan kekeringan," ujarnya.

Selain itu, pemerintah bisa memberikan konpensasi dari kondisi yang dialami oleh petani akibat minimnya curah hujan ini. Ia mencontohkan di Australia juga mengalamai hal yang sama yaitu kekeringan. Menurutnya, pemerintah Australia memberikan perlindungan kepaad petani gandum yang menanam pada musik kemarau denga menganjurkan penggunaan varietas untuk musim panas. "Jadi tidak ada hujan, mereka bisa tanam. Kebutuhan air untuk tanaman ini hanya didapat dari embun pagi saja. Tapi pemerintahnya memberikan perlindungan," katanya.

Perlindungan yang diberikan adalah para petani mengasuransikan lahan yang sudah ditanam dan penjaminnya adalah pemerintah. Dengan demikian, bila terjadi gagal tanam atau gagal panen, maka pemerintah akan membayar klaim kerugian petani ini.
Sementara program lainnya dilakukan oleh pemerintah adalah mengajak petani menanam tanaman holtikultura. Tanaman holkultura seperti sayur-sayuran ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan embung atau sumber air yang masih ada.

Sementara program jangka panjang yang bisa dilakukan oleh mengajak masyarakat memulai menanam tanaman umur panjang. Menurut Fred, tanaman umur panjang yang dikembangkan di NTT akan sangat membantu petani menghadapi musim kemarau. Ia mencontohkan petani di Kabupaten Flores Timur yang menanam jambu mete tentu kurang terpengaruh dampak kekeringan. "Di Flores Timur, petani tidak mengeluh dengan kekeringan karena di sana merekam sudah menanam jambu mete," jelasnya.


Pemerintah juga mengembangkan ekonomi kerakyatan yang bersifar produktif yang tidak tergantung pada iklim. Dengan ini maka petani tidak tergantung pada cuaca yang tidak menentu.

Perlu Sosialisasi El Nino
Fenomena El Nino di NTT perlu juga disosialisasikan oleh pemerintah kepada masyarakat NTT. Masyarakat harus tahu akibat El Nino ada apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi kenyataan ini. Menurut Fred, masyarakat harus mengetahui akibat kekeringan dan langka-langka apa saja yang harus diambil untuk menghadapi kenyataan ini.

Pemerintah pun harus memberikan sinyal saat-saat mana saja yang bisa mulai menanam atau saat mana yang harus ada penundaan penanaman. Informasi tentang varietas yang tepat juga harus diberikan oleh pemerintah sehingga petani tidak terjebak dalam ketidaktahuan para petani tersebut. (alf)


Pemerintah Siapkan
Dana untuk El Nino

PEMERINTAH menyiapkan dana cadangan senilai Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun untuk mengantisipasi dampak fenomena iklim El Nino terhadap pertanian Indonesia pada tahun 2010.

Pelaksana Tugas (Plt) Menko Perekonomian, Sri Mulyani, usai rapat di Kantor Kepresidenan di Jakarta, Selasa lalu mengatakan, dana cadangan itu dimasukkan dalam postur RAPBN 2010 untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan. "Postur APBN ditambahkan dana cadangan saja, untuk Raskin dan lain-lain. Subsidi tetap untuk pupuk, benih, sesuai dengan yang selama ini diupayakan untuk ketahanan pangan," jelasnya.

Fenomena iklim El Nino diperkirakan memuncak pada tahun 2010 dan diprediksi akan menyebabkan sekitar 80 ribu hingga 150 ribu hektar tanaman padi kekeringan dan sekitar 10 ribu hingga 35 ribu hektare lahan yang kekeringan itu akan puso atau gagal panen.

Akibatnya, potensi produksi padi yang hilang sekitar 750 ribu ton gabah kering dan 300 ribu petani akan kehilangan mata pencaharian pada 2010. Pada 1997, fenomena El Nino yang membawa gelombang udara kering dan panas membawa dampak kerusakan sebanyak 9,7 juta hektar hutan di Indonesia.

Dampak El Nino yang menyebabkan penurunan produksi beras bersamaan dengan masa awal krisis moneter pada masa itu, mendorong peningkatan harga besar sebesar 30 persen. Saat itu, pemerintah sampai harus mengimpor beras lebih dari lima juta ton untuk menjaga ketahanan pangan, terutama untuk masyarakat kelas bawah.

Sementara itu, Menko Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie, mengatakan dana cadangan untuk El Nino sebesar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun hanya digunakan pemerintah apabila dampak iklim itu menyebabkan kesulitan.

Menurut Aburizal, penelitian terakhir tentang dampak El Nino pada 2010 terhadap pertanian Indonesia akibatnya masih sangat lunak. "Kalau dilihat dari BMKG itu mengatakan sangat lunak akibatnya. Nanti pada Agustus ini akan ada penelitian lagi tentang prediksi akibat El Nino di Indonesia. Mudah-mudahan prediksinya akan tetap baik sehingga dengan demikian akibatnya akan sangat lunak bagi Indonesia," katanya.

Selain mempersiapkan dana cadangan untuk mengantisipasi dampak El Nino, Menko Kesra mengatakan, pemerintah juga tetap menyediakan subsidi beras untuk keluarga miskin sebanyak 15 kilogram per bulan serta subsidi pupuk dan benih dengan skema yang lebih mengena kepada petani pada 2010.(ant)

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 14 Lanjut...

Dokter Valens Yth,

Salam jumpa, dan salam kenal. Saya Yuda, pemuda bujangan berumur 26 tahun, sudah selesai kuliah dan enam bulan ini saya bekerja pada salah satu instansi pemerintah.

Karena banyak bidang tugas yang dikerjakan oleh kantor kami ini, maka jumlah pegawai di kantor kami ini sekitar 72 orang. Saya berasal dari keluarga yang biasa saja, level orang NTT kebanyakan.

Dalam niat saya ketika mendapat kesempatan diterima di tempat tugas ini saya merasa akan dapat banyak kawan dan bisa bekerja demi masa depan saya dan saudara-saudara saya serta dapat membalas jasa orangtua.

Namun ketika masuk dalam situasi kerja di kantor ini, walau sudah enam bulan saya rasa seperti kesendirian.

Karena orang-orang di tempat kerja ini menunjukkan sifat yang tidak sesuai dengan yang saya bayangkan sebelumnya. Banyak diantaranya orang-orang serius (termasuk kepala kantor kami) sehingga hampir tak pernah ngobrol dengan yang lain.

Ada lagi yang suka marah-marah dan menggerutu yang kadang menyebalkan. Juga saya lihat juga ada staf yang nampaknya tidak senang dengan kesuksesan orang lain dan sangat iri hati kalau teman lain dapat kepercayaan jadi pimpro.

Sementara itu Windy, seorang gadis yang jadi staf di kantor ini, sulit saya nilai apakah dia termasuk cuek atau pemalu saya jadi agak ragu. Ada keinginan untuk mendekati Windy entah untuk berteman ataupun lebih lanjut jadi pacar malah sulit karena dia tidak banyak omong, juga sering menghindar.

Lain lagi dengan salah satu staf yang namanya Agus. Dia itu staf biasa tapi lagaknya suka perintah seperti bos-bos. Begitulah dokter, saya sudah kerja enam bulan dan saya belum bisa lihat siapa diantara orang-orang yang lebih senior ini bisa dicontohi.

Atau barangkali saya yang tidak tahu bergaul? Dari situasi yang saya gambarkan ini, barangkali dokter berikan saran pada saya bagaimana saya harus berbuat.

Apakah saya lebih baik pindah tempat kerja ke kantor lain?

Atas dimuatnya surat saya ini di Pos Kupang saya ucapkan banyak terima kasih.
Salam, Yuda, AF - Kupang


Saudara Yuda yang Baik,
Salam jumpa juga buat Anda. Suatu ungkapan bermakna cukup dalam berbunyi sebagai berikut: Betapapun jauhnya Anda pergi, kurang berguna jika tidak dalam arah yang benar.

Sejak Anda mulai bekerja sebenarnya Anda mulai start untuk berjalan maju dengan tujuan yang jelas yakni memperbaiki masa depan serta membalas jasa orangtua Anda. Selain itu ada harapan dari Anda untuk memperoleh banyak kawan.

Kenyataan yang Anda hadapi saat ini justru adanya kesulitan besar yang memberi pengaruh pada tujuan pribadi Anda. Anda sudah berjalan enam bulan namun arah yang Anda ingin tuju, masih kabur bahkan membingungkan karena terhalang oleh sifat-sifat orang yang serba sulit (orang serius, iri hati, penggosip dan pemalu serta berlagak bos-bos).

Anda mau mundur atau menarik diri dari tempat kerja itu ke tempat lain, itu bukan solusi yang baik. Para pakar ilmu jiwa menganjurkan bila Anda berada pada suatu lingkungan pergaulan yang amat sulit, jangan biarkan hubungan yang sulit itu membakar habis kesempatan Anda untuk menjadi lebih baik daripada diri Anda yang sekarang.

Jangan biarkan hubungan yang serba sulit itu mengurangi proses untuk memperoleh tujuan utama yang telah Anda cita-citakan. Sepanjang Anda mau berusaha pasti ada jalan lain yang bisa digunakan. Cara mengintrospeksi diri (apakah bukan saya yang sulit bergaul) memang tidak gampang mengakuinya.

Namun pengakuan semacam itu merupakan satu langkah bagus yang disebut sebagai kerendahan hati. Kerendahan hati akan memuluskan jalan bagi lahirnya sifat-sifat yang baik lainnya. Untuk mengatasi kesulitan bergaul tersebut Anda tidak boleh tergoda untuk menyerah (give up) dan "lari bersembunyi".

Harus ada kebulatan tekad untuk berjuang mengatasinya dan menjadikannya lebih baik. Selanjutnya unsur penting untuk membuat hubungan dengan teman kerja yang sulit ini menjadi lebih baik, adalah unsur penerimaan.

Sering kali nampak bahwa jauh lebih mudah bagi kita unttuk mendiagnosis, menyebutkan dan mengklasifikasikan orang-orang yang bersifat aneh itu dari pada mengabaikan, melupakan kelemahan mereka (sifat-sifat jelek) dan menerima mereka apa adanya.

Dengan menerima mereka apa adanya akan mengurangi kekecewaan Anda terhadap hubungan yang sulit itu dan memberi kessempatan kepada Anda untuk mempersenjatai diri dalam menghadapi "luka-luka" yang terjadi berulangkali. Misalnya, terhadap orang yang hari-hari senantiasa nampak serius, bila Anda ada kontak pembicaraan yang melibatkannya, Anda tak perlu mengumbar banyak senyum, sehingga ketika tak ada sesungging senyum dari bibirnya sebagai balasan, Anda tidak perlu merasa frustrasi dan tertekan.

Selain kerendahan hati Anda untuk mengakui tabiat teman-teman yang sulit dalam bergaul, Anda perlu bertekad dan berniat penuh untuk memperbaiki hubungan tersebut serta menerima apa adanya mereka, maka yang tak boleh hilang adalah pengharapan.

Karena harapan adalah kekuatan yang sangat berpengaruh dalam memulihkan dan memelihara setiap hubungan pergaulan yang sulit. Ingat! Ketika segalanya menjadi gelap, pengharapan memancarkan terang. Dalam surat , Anda katakan, tak seorangpun diantara rekan kerja yang lebih senior itu bisa dijadikan contoh.

Saya ingin katakan bahwa dalam hubungan yang serba sulit dan membingungkan, tak perlu Anda mencari model, contoh ataupun patron. Be your self, itulah kata paling pas untuk Anda. Jadilah dirimu sendiri, tak perlu meniru orang lain.

Sepanjang Anda menyadari bahwa ada banyak kelemahan yang ada pada rekan-rekan kerja Anda, dimana Anda tak mampu mengubah dan tak dapat menyesuaikannya maka jadilah diri sendiri yang punya identitas spesifik dimana setiap orang harus mengakui bahwa itulah Yuda. Semoga jawaban saya ini lebih membuat Anda sebagai seorang pribadi yang utuh.
Salam... dr Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 13 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda