ISTIMEWA
Merry Suria Jelamu bersama suami dan ketiga anaknya

Anak Sebagai Teman

MEMBERIKAN kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan mengambil keputusan merupakan salah satu konsep mendidikan yang diterapkan pasangan Saferius Banggung dan Merry Jelamu.

Pasangan yang sama-sama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini tidak pernah mengintervensi anak-anaknya dalam menentukan pilihan. Keduanya memberikan kebebasan kepada anak-anak mereka dengan catatan harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan.

Pasangan ini memiliki tiga anak. Anak pertama, I'in Banggung, lahir di Kupang, 4 Februari 1985, bekerja di Bank Bukopin Kupang. Anak kedua, Paulus Januar Banggung, lahir di Kupang, 25 Januari 1991, kini semester III Program Studi Teknik Pertambangan- Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Anak ketiga, Maria Vianey Banggung, lahir di Kupang, 6 Agustus 1998, kelas I SMP Katolik Giovanni Kupang.

Kepada Pos Kupang di sekolahnya, SD Bertingkat Oeba 5 Kupang, Jumat (15/1/2010), wanita setengah baya yang menjabat Kepala Sekolah SD Bertingkat Oeba 5 Kupang itu mengatakan, salah satu kebiasaan di rumah yang selalu dilakukan keluarganya menjalin kerja sama satu sama lain, baik orangtua maupun anak. Juga menjaga komunikasi yang baik sehingga hubungan yang terjadi adalah hubungan pertemanan.

"Kami tidak pernah menjaga jarak dengan anak-anak. Anak-anak seperti teman saja di rumah. Mereka tidak pernah merasa risih menyampaikan persoalan atau hal-hal yang paling sulit yang mereka hadapi kepada kami. Kami juga mencoba untuk terbuka tentang apa saja kepada anak-anak sehingga tidak ada jarak," kata Merry, yang pernah menjabat Wakil Kepsek SD Inpres Bertingkat Perumnas III.

Wanita kelahiran Manggarai yang suka menyanyi ini, menuturkan, kemajuan teknologi saat ini yang begitu pesat tidak menutup kemungkinan bagi keduanya untuk selalu was- was. Apalagi, ketiga anaknya sudah beranjak remaja dan dewasa. Namun, semua itu ditanggapi dengan fundasi yang kuat dalam rumah tangga yakni keterbukaan.

Menurut Merry, keduanya selalu menceritakan kepada anak-anaknya tentang kisah perjalanan hidup mereka hingga mencapai apa yang dimiliki saat ini. Hal ini dilakukan agar anak-anak memahami bahwa kesuksesan dan keberhasilan tidak bisa digapai dengan main-main saja, tetapi dengan kerja keras dan penuh pengorbanan.

"Anak-anak selalu terbuka jika ada teman-teman yang mendekati mereka. Mereka menceritakan apa adanya. Sebagai orangtua kami tidak pernah melarang mereka untuk berteman dengan siapapun. Tetapi, kami memberi masukan dan rambu-rambu yang perlu mereka lakukan dalam pertemanan," katanya. (nia)


Beri Kepercayaan


TAMATAN SPG Katolik St. Aloysius Ruteng dan lulusan program D2 PGSD Undana ini mengisahkan, pada suatu saat pernah melarang anak keduanya jangan berteman dengan anak-anak yang suka mabuk dan anak-anak jalanan.

Ia khawatir kalau anaknya keluar dan membuka internet. Ia takut bila anaknya melakukan hal-hal yang negatif jika selalu bergaul dengan internet dan anak-anak yang tidak jelas. Namun apa yang dijawab anaknya? Putra keduanya membantah semua kekhawatiran tersebut dan berusaha menguatkan hatinya. Putranya malah membalik semua pikiran negatif yang ada di benaknya.

"Saya terharu dengan pendapatnya. Dia katakan, mama, kalau mama melarang saya untuk berteman dengan orang-orang seperti itu, apa sebenarnya yang harus saya lakukan. Apakah saya harus pergi kuliah dan pulang duduk manis di rumah. Padahal, kalau saya bisa bergaul dengan mereka, mungkin sesuatu yang positif yang saya miliki saya bisa bagikan dengan mereka. Merupakan rahmat kalau mereka kemudian mulai berubah, walaupun perlahan-lahan. Minimal kehadiran saya bisa merasuki mereka, daripada tidak sama sekali," tutur Merry menirukan anaknya.

Pemikiran anaknya inilah yang membuatnya sampai saat ini tidak pernah melarang anak- anaknya untuk melakukan sesuatu. Ia percaya bahwa ketiga anaknya tidak akan berbuat macam-macam di luar. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan mereka di bangku sekolah.
Dalam hal belajar, ia memberikan kepercayaan penuh dan tidak pernah intervensi apalagi membuat jadwal terhadap waktu belajar anak. Anak-anaknya sangat tahu kapan haru belajar dan maju mundurnya hasil belajar di sekolah. Sehingga, dengan sendirinya mereka mengatur waktu main, belajar maupun membantu keduanya di rumah.

Merry menuturkan, anak pertama dan kedua memiliki kesadaran yang sangat tinggi dalam setiap pekerjaanya. Sedangkan yang ketiga memang masih membutuhkan perhatian yang serius, karena masih belum mampu membedakan waktu bermain dan belajar. Ketiga anaknya juga memiliki potensi luar biasa di bidang musik, terutama piano sehingga sering bermain di gereja.

Semula, ketiga anaknya memang tidak berniat untuk belajar musik, tetapi karena dirinya biasa menyanyi bahkan menjadi dirigen, akhirnya ia berinisiatif untuk memberikan kursus musik bagi ketiga anaknya. Ia bersyukur saat ini tidak ada hambatan jika da kegiatan paduan suara di gereja atau di mana saja.

Keinginan memberikan kursus musik bagi ketiga anaknya juga berawal dari pemikiran bahwa suatu saat anak-anaknya tidak bisa mengandalkan PNS saja sebagai mata pencaharian. Keterampilan inilah yang diberikan kepadanya sebagai bekal untuk masa depan anak-anaknya. (nia)

Pos Kupang Minggu 24 Januati 2010, halaman 12 Lanjut...

Jagung Bose

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa


SORE itu ibu tampak sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Seperti yang sudah dijanjikan, nanti malam Paman akan mampir dan makan malam di rumah.

Selama ini Paman tinggal di Jakarta, namun karena tugas dari kantornya maka dia berkesempatan datang ke NTT. Di sela-sela urusan kantornya itulah Paman menyempatkan diri untuk mampir di rumah sekedar bertemu dan melepas rasa kangen dengan ibu dan seisi rumah.

Melihat ibu bekerja sendirian, Ginsha pun menuju dapur untuk membantunya..
"Masak apa Bu untuk malam nanti?" Ginsha ingin tahu.
"Ibu memasak jagung bose," jawab ibu.

"Jagung bose? Apa tidak salah Bu, kita menyambut tamu dengan jagung bose?" Ginsha heran mendengar jawaban ibu.
"Apa salahnya Ginsha? Bukankah itu makanan khas kita masyarakat NTT? Lagi pula Paman sendiri yang menginginkan ibu memasakkan jagung bose untuknya. Menurut Paman, dia kangen dengan rasa khas jagung bose," tutur ibu.

Ginsha mengangguk-angguk mendengar jawaban ibu. Namun jauh di dalam hati dia penasaran, apakah benar Paman yang kini telah menjadi orang Jakarta itu masih mau menikmati jagung bose masakan ibu?

***
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ternyata Paman tidak datang sendirian. Dia datang bersama dua temannya.
"Maaf, kak. Ketika saya pamit dan katakan hendak makan makanan khas NTT, kedua teman ini ingin mencobanya dan memaksa ikut. Terpaksa saya bawa mereka ke sini," jelas Paman.

Kedua teman Paman itu lalu memperkenalkan diri mereka.
"Saya Sugeng asal Yogya. Mungkin bapak dan ibu sudah mengenal masakan khas dari daerah kami, namanya gudeg," kata Pak Sugeng. Ibu mengangguk sambil tersenyum

"Saya Anwar, Pak, Bu. Asal saya dari Palembang, Sumatera Selatan. Makanan khas dari daerah saya mungkin belum dikenal luas di NTT ini. Tetapi makanan ini sangat digemari orang di Jakarta. Namanya pempek, atau lebih dikenal dengan pempek Palembang," ujar Pak Anwar.

"Nah, kini giliran kita menikmati makanan khas NTT, jagung bose. Silahkan, Pak," Bapak mempersilahkan Paman dan kedua temannya itu menikmati jagung bose.

Dari balik tirai kamar makan, Ginsha memperhatikan Paman dan kedua temannya itu itu menyantap jagung bose dengan lahap. Ginsha tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Oh ya kak, Ginsha mana?" tanya Paman.

"Itu ada di belakang. Dia malu karena banyak tamu," jawab ibu. Paman lalu ke belakang menemui Ginsha.

***

"Maafkan ibu, ya Paman. Ibu hanya menyuguhkan jagung bose untuk Paman dan teman-teman," kata Ginsha.

"Tidak apa-apa Gin, Paman dan teman-teman sangat menyukainya. Buktinya jagung bose yang dihidangkan ibu habis. Selama ini di Jakarta Paman hanya menikmati makanan dari daerah lain. Sudah dicari keliling tapi tidak ada restoran di Jakarta yang menyajikan jagung bose," jawab Paman sambil tertawa.

"Syukurlah kalau Paman tidak marah," tukas Ginsha senang.
"Ginsha lihat kan tadi, Pak Sugeng dan Pak Anwar begitu bangga akan makanan khas daerahnya? Sebagai anak NTT, Ginsha juga seharusnya bangga dengan jagung bose sebagai makanan khas dari daerah ini. Ginsha juga harus bisa memasak jagung bose seperti ibu. Suatu hari kelak jika ada rezeki, Ginsha dapat membuka restoran di Jakarta dengan sajian utama jagung bose.

Jika restoran itu sudah dibuka, maka Paman akan menjadi pelanggan pertamanya. Dengan dibukanya restoran itu, maka jagung bose akan dikenal luas dan digemari masyarakat Jakarta, seperti halnya gudeg dan pempek dari daerah Pak Sugeng dan Pak Anwar itu," harap Paman.

"Mulai saat ini, Ginsha tidak malu lagi untuk menyajikan jagung bose di hadapan tamu, Paman," Ginsha bertekad. Paman tersenyum bangga. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 12 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
FESTIVAL SASANDO--Para musisi sasando beruji kemampuan dalam memainkan alat musik sasando



DERETAN peserta lomba musik sasando duduk dengan rapi, mulai dari anak-anak hingga dewasa, menunggu saat dimulainnya perlombaan di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, pertengahan Desember 2009 lalu. Tempat yang biasanya digunakan untuk rapat, seminar atau pertemuan lainnya menjadi tempat Lomba Sasando yang digelar Kementerian Kebudayaan Seni dan Pariwisata RI.

Lomba terbesar dalam skala nasional ini untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Tingginya prestise lomba ini pun memacu para seniman sasando untuk menampilkan yang terbaik. Bahkan festival ini seakan menarik kembali para seniman sasando di berbagai penjuri bumi Flobamora untuk berkumpul dan berkreasi untuk menampilkan yang terbaik bagi NTT.

Perlombaan musik sasando ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu sebelumnya dan digelar di setiap daerah seperti di TTU, Kupang, TTS dan Rote. Namun yang dilakukan saat itu adalah perlombaan musik sasando untuk memperebutkan pila Presiden SBY.

Gagasan untuk menggelar perlombaan ini, berawal dari kunjungan Presiden SBY ke Kupang pada 14 Juni 2009 lalu. Pada saat itu SBY memberi arahan agar masyarakat NTT perlu melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kesenian tradisional. Niat dan gagasan ini akhirnya diwujudkan dengan beberapa tahapan mulai dari seminar dan perlombaan hingga festival sasando.

Muncul pertanyaan pula, apakah jika tidak ada gagasan itu, kegiatan akbar itu bisa digelar? Festival Musik Sasando Piala Presiden RI yang bertema 'Ku Yakin Sampai di Sana' berlangsung sukses, pada Kamis hingga Minggu (17-20/12/2009).

Sebanyak 300 pemusik sasando yangterlibat dalam kegiatan yang baru pertama di gelar di Kupang ini. Pesertanya adalah dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS dan TTU, sedangkan dari Rote Ndao tidak sempat hadir karena cuaca buruk.
Puncak kegiatan ini adalah Konser Musik Sasando yang menampilkan perpaduan para musisi sasando dengan Dwiki Darmawan Orkestra di Aula El Tari Kupang, Minggu (20/12/2009).

Festival yang digagas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bersama Korem 161 Wirasakti Kupang ini menjadi obat kerinduan para pecinta sasando di NTT. Festival ini seperti memanggil dan mengumpulkan kembali para pencinta sasando dari berbagai tempat di NTT untuk bersama memberi citra yang lebih kuat pada musik sasando.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E, mengatakan, Presiden SBY dan dirinya akan terus mendorong agar semua musik tradisional tetap eksis. Upaya itu dilakukan guna menghindari aset-aset budaya dan seni itu dari kepunahan.

Penguasaan kemampuan bermain alat musik ini hanya ada di kalangan tertentu saja tergambar jelas dalam Festival Musik Sasando Piala Presiden kali ini. Tergambar jelas bahwa para juaranya dari keluarga tertentu saja. Mungkin hanya keluarga atau orang tertentu saja yang secara khusus menaruh minat pada musik jenis musik tradisional ini, tapi perlu disadari bila tidak ada pengembangan yang luas pada sasando, maka tidak mustahil suatu saat sasando akan tinggal cerita.

Sebenarnya sasando sudah menjadi ikon NTT sehingga jika orang membicarakan soal sasando maka masyarakat Indonesia langsung tahu, alat musik tersebut berasal dari NTT.

Upaya Pemprop NTT, menjadikan sasando sebagai salah satu bahan ajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah merupakan bentuk terobosan dan patut diberi apresiasi, sebab untuk menjadikan sasando bahan mulok, perlu ada aturan dari pemerintah daerah.

Kondisi yang sama pula harus diterapkan pada pengelola sekolah atau kursus musik, yang pelu menambah mata ajaran sasando. Karena, kemungkinan ada peminat musik ini, tetapi tempat belajar musik ini yang tidak ada.

Karena itu, para pemusik sasando diharapkan memberi ruang kepada siapa saja untuk berniat belajar musik ini. Menjaga agar tetap eksklusif dalam bermusik hanya akan menjadikan sasando kurang berkembang, baik dalam dinamika musik maupun peminatnya. Sasando sendiri sudah kita ketahui, adalah sejenis alat musik petik dengan ruang resonator dari haik (anyaman dari daun lontar) yang sudah terkenal di kalangan masyarakat NTT.

Memang alat musik ini boleh dikatakan unik, karena merupakan salah satu instrument musik petik dengan keunikan ada pada bentuk, cara memainkannya dan juga bahan pembuatannya. Alat musik ini cukup terkenal belakangan ini di tengah-tengah masyarakat, namun pertanyaannya, apakah semua masyarakat NTT mengenal sasando, ataukah semua masyarakat bisa memainkannya. Ataukah jangan sampai suatu saat alat musik ini punah dan masyarakat NTT harus 'berguru' lagi ke daerah lain untuk memainkan sasando yang sebenarnya?.

Sejarah atau asal-usul sasando ini, kita semua hanya peroleh dari ceritra-ceritra secara turun-temurun yang sudah diwariskan secara lisan maupun tulisan, namun yang pasti alat musik ini terdiri dari dua jenis, yaitu sasando gong dan sasando biola.

Perkembangan alat musik ini berjalan terus seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula modifikasi bentuk serta kualitas bunyi dengan pergantian dawai. fifik diganti dengan tulangan daun lontar, kulit bambu berganti senar kawat, senar tunggal diganti dawai rangkap, akustik berkembang pula ke elektronik, sasando gong berkembang ke sasando biola.

Menjadi kebanggan tentu bagi orang Rote dan juga NTT umumnya akan bentuk dan keindahan, bunyi dari sasando yang telah mengalami modifikasi, namun dipihak lain pemain sasando semakin hari semakin berkurang. Tentu menjadi sebuah pertanyaan yang muncul, mengapa pelestarian sasando menjadi menurun atau mengalami hambatan? bahkan sekarang ini pemain sasando biola pun tinggal sedkit saja. Bahkan secara umum jumlah pemain sasando tidak lebih dari 20 orang.

Menyadari akan hal itu, masyarakat NTT umumnya perlu memasyarakatkan dan melestarikan alat musik ini sehingga kekayaan seni budaya dapat dikembangkan serta dipertahankan. keterlibatan semua elemen masyarakat sangat diperlukan dalam melestarikan dan mengembangkan alat musik ini.(yel)

Pos Kupang Minggu 24Januari 2010, halaman 11 Lanjut...

Utopia

Cerpen Mario F Lawi

JIKA diizinkan Tuhan untuk memilih satu dari antara dua permintaan ini, apa yang akan kau minta, Sahabatku? Meminta padaNya untuk mengembalikan apa yang telah dirampas daripadamu dan membiarkanmu berjalan sendiri? Atau memintaNya untuk tetap menjagamu seperti yang selama ini telah dilakukanNya terhadapmu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanyalah beberapa pengandaian, Sahabatku. Engkau bahkan tak perlu memedulikannya. Apa pun permintaanmu, segalanya tergantung padamu.

Tapi, sebelum engkau memutuskan, dengarkanlah dulu kisahku ini.
Angan-angan itu seperti matahari; tak dapat kita jangkau ketika kita merasakan panasnya, tapi dialah yang membuat kita tetap mampu membedakan gelap dari terang. Ketika dia terbit dari sisi timur, kita tahu bahwa terang akan segera bersinar. Saat dia hendak terlelap di sisi barat, kita pun tahu, senja akan melahirkan malam. Itulah angan-anganmu, yang membuatmu tetap mampu berjuang di tengah kegelapan yang menaungimu, sebab engkau pun tahu, sinar terangnya hanyalah masalah waktu.

Angan-angan adalah sinar harapan. Dialah matahari masa depan yang harus engkau kejar selama duniamu yang sekarang masih terlelap dalam gelap. Dialah setitik cahaya yang membuat engkau selalu memiliki semangat menapaki hidup. Bahkan ketika angan-angan itu hanya bagaikan secercah kerlip, engkau dapat tetap melangkah. Selangkah demi selangkah. Setapak demi setapak. Lagi dan lagi. Atau, masihkah hidup ini menarik dan menggairahkan ketika apa yang kelak terjadi di masa depan telah kita ketahui dari sekarang?

Kisah ini berkaitan dengan angan-angan seekor laron yang ingin memberikan seluruh hidupnya bagi kekasih hati yang begitu dicintainya seperti ia mencintai cahaya. Namakanlah dia Bhisma, sebab dia pun ditakdirkan untuk menentukan kematiannya sendiri, seperti Bhisma Dewabharata yang menunggu matahari berada di belahan utara khatulistiwa sebelum memutuskan untuk melepaskan jiwa dari raganya yang telah terpasung ditancapi anakpanah-anakpanah Srikhandi dalam mahaperang Bharatayudha.
Takdir memang telah ditentukan, tapi bukankah tak satu makhluk pun dapat mengetahui seperti apa wujud takdirnya sebelum ia sendiri mengalaminya, Sahabatku?

Baiklah kuceritakan kisahnya padamu. Sebelum menetas, Bhisma telah ditakdirkan untuk menjadi seekor rayap pekerja, bahkan jauh sebelum protozoa-protozoa dalam saluran pencernaannya belajar mencerna kayu-kayu yang dimakannya. Bersama rayap-rayap yang lain, dia begitu setia melayani sang ratu yang memang hanya ditugaskan untuk makan dan bertelur sepanjang hidupnya.

Begitu setia mereka berada dalam dekap lindap gelap. Membanting tulang untuk menjaga hidup sang ratu dan telur-telur yang kelak menetas, entah yang ditakdirkan untuk menggantikan sang ratu atau hanya ditakdirkan sekadar menjadi tentara atau pekerja seperti dirinya dan teman-temannya yang lain.

Setiap perjalanan pekerja seperti mereka ditentukan untuk mengeroposkan sedikit demi sedikit kayu yang mereka hinggapi demi menciptakan rumah-rumah labirin dengan campuran kotoran dengan zat yang mereka keluarkan. Mereka harus giat bekerja sebelum hujan datang menyongsong kering bumi. Sebelum sayap-sayap mereka membawa mereka terbang mencari cahaya. Dalam giat bekerja itulah, ketika Bhisma dan teman-temannya sedang giat mengumpulkan bakal-bakal jamur sebagai cadangan makanan, ia melihat seekor laron pekerja yang membuatnya tak mampu beranjak dari tempatnya berpijak. Pujaan hatinya yang bernama Rina. Bhisma pun merasakan jatuh cinta; sebuah cinta yang lengkap dengan segenap daya sengat dan cahaya yang menyala-nyala.

Maka tak ada alasan bagi Bhisma untuk bersedih ketika musim hujan hampir menjelang. Seiring dengan tumbuhnya dua pasang sayap di pundaknya, ia tahu inilah saat bagi dirinya, Rina dan teman-temannya yang lain untuk terbang mencari cahaya yang menuntun mereka membentuk kerajaan baru. Dengan sayap-sayapnya, Bhisma seakan berkata pada pujaan hatinya, "Terbanglah kekasihku, dan lepaskanlah sayap-sayapmu saat aku terjatuh, sebab kaulah yang akan menuntun perjalanan kita menuju kerajaan baru."

Tepat semalam sebelum hujan pertama membelai bumi, kawanan laron itu terbang mencari cahaya, seperti migrasi kawanan burung dari barat mencari kehangatan di arah timur. Dari kejauhan, setitik cahaya terlihat di sebuah gubuk tua. Maka terbanglah kawanan itu mendekat. Mengitari cahaya lilin itu seperti menikmati pesta pora cahaya temaram yang keemasan.

Bhisma pun bernyanyi dan bersenandung, sambil membayangkan wujud kerajaan barunya nanti. Dalam kegirangan itulah, Bhisma kehilangan jejak-jejak sang permaisuri hati. Tak jauh dari meja yang menyimpan cahaya lilin, ia lihat Rina telah melepaskan sayap-sayapnya. Dengan kepolosan itu, pujaan hatinya seolah berkata padanya, "Marilah".

Bhisma pun tahu bahwa dirinya harus melepaskan kedua pasang sayapnya sebelum mereka menciptakan koloni baru. Namun, dalam temaram cahaya lilin, dia kembali kehilangan jejak pujaan hatinya. Betapa ia merindukan ujung abdomen sang kekasih untuk menuntunnya mencari tempat yang aman bagi anak-anak mereka nanti. Bhisma pun terbang mencari bagaikan menari di antara cahaya-cahaya lilin yang keemasan. Ketika samar-samar ia lihat Rina sedang melintas pelan menuju cahaya sebatang lilin, seekor cicak jatuh dari dinding dan berdiam diri tepat di dekat lilin, menunggu makan malamnya berjalan mendekat.

Bhisma pun terbang rendah, melintas beberapa ekor laron yang terlihat berjalan mendekati lilin. Nalurinya mengatakan, inilah saat yang tepat baginya untuk mati, meski ia tak tahu dengan cara apa kelak ia mati. Ia sempat berpikir untuk menubrukkan dirinya pada sumbu lilin agar cahaya di sekitarnya semakin benderang dan mereka dapat melihat malaikat kematian itu menunggu mereka di dekat lilin. Namun, tepat ketika ia berteriak meminta teman-temannya untuk menjauhi lilin, cicak itu melompat dan mendekapnya dengan rahangnya yang lapar. Laron-laron pun kemudian melihat sang maut yang sejak tadi mengintai. Karena itu, mereka pun berpencar menjauhi lilin, berusaha menghindari bahaya yang mengintai di antara reremang cahaya lilin dan kegelapan.

Sebelum tubuh Bhisma remuk dalam saluran cerna sang cicak, ia lihat sang pujaan hatinya berlari, diiringi seekor laron jantan lain yang menggigit ujung abdomen sang kekasih hatinya sambil mencari tempat bagi kerajaan rayap yang baru. Saat itulah ia dipaksa mengerti arti cinta yang tak harus memiliki. Tapi Bhisma bahagia telah menjadi sebentuk arti bagi Rina. Sebentuk arti yang menyelamatkan. Sebentuk arti kehidupan. Kebahagiaan yang bahkan melampaui kebahagiaan Bhisma Dewabharata setelah bebas dari supata Dewi Amba.

Demikianlah sepenggal kisah yang ingin kubagikan kepadamu. Pilihan sepenuhnya ada padamu, meski tak ada seseorang yang tahu seperti apa wujud takdirnya sebelum ia mengalaminya sendiri, Sahabatku.*


Kupang, Akhir 2009-Awal 2010
Untuk Protus Hyansintus Asalang (Kehilangan bukanlah akhir segalanya).


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 06 Lanjut...

Puisi-Puisi Yos T.

Tentang Dikau

Entah mengapa tak kutemui dikau di bilik-bilik ingatan,
Sudah kucoba gapai bayangmu dalam diam dan remang temaran,
Kubalik lembar-lembar memory berharap sua sang empunya pelataran
Di ujung sana kuterkapar di bibir harapan

Jauh...
Sepi nian hati ini,
Mencari huruf-huruf kenangan di diary waktu
Di mana dikau kekasih,
Di mana mesti kutulis cerita ini?

Adakah sejarah penebar romansa,
Membawa berlari perihnya kekinian?

Tidak,
Ini bukan parade dusta di ujung sepi
Peredah tangis di keranda sedih
Berharap ini sekedar perih

Untuk sebentar saja
Untuk dekapanmu yang tak lagi lepas


Pagi Ini
Mentari sepagi ini seakan mengejek igauan berlarut
Semilir dedaunan membisikan hari
Menggerakkan naluri,
menyapa pagi

Samar kudengar teduhnya doa si pengamen pinggiran
Nada-nada itu girang
Seakan tak pernah ada lapar!

Ku balik-balik kitab berharap turut bersenandung
Kuingat wejangan tentang menemukan jawaban
Di antara kenisbian-kenisbian
Katakanlah sesuatu, hai kitab?
Adakah dirimu punya nada-nada itu?

Kutemui kembali diammu di pagi cerah ini
Mestinya lembar-lembar itu bertuliskan jawaban
Haruskah kutanya sang pengamen di mana dia temukan nada-nada itu?

Sunyi itu semua tentang dirimu
Sekali lagi tentang kamu
Sunyi itu mungkin nada
Mungkin juga sebuah jawaban


---------
Puisi Matalim Blikuleng

Bilakah Berakhir?
(untuk BUNDA tercinta)

Lelah aku berjalan
Menyusuri lorong - lorong kehidupan
Keringat dan air mata
Jadi pelipur laraku

Dalam kesepian hati
Giat jiwaku mencari
Setitik cinta yang terlupakan
Namun....
Hingga keesokan hari pun
Ku tak dapat menemukannya

Apa salahku
Hingga aku terbuang dan tersisihkan
Dari sebentuk cinta yang telah membentuk aku
Seandainya ku tahu
Bahwa cinta itu menyakitkan
Ku kan membunuh cinta itu
Sebelum fajar merekah

Karma menitis dalan darahku
Tak dapat ku sangkal
Ku harus menjalaninya
Roda cinta yang menyakitkan
Menggilasku
Meremukkanku

Dalam kepasrahan
Ku hanya berserah
Kapankah semuanya kan berakhir?


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 06 Lanjut...

Puisi-Puisi Yos T.

Tentang Dikau

Entah mengapa tak kutemui dikau di bilik-bilik ingatan,
Sudah kucoba gapai bayangmu dalam diam dan remang temaran,
Kubalik lembar-lembar memory berharap sua sang empunya pelataran
Di ujung sana kuterkapar di bibir harapan

Jauh...
Sepi nian hati ini,
Mencari huruf-huruf kenangan di diary waktu
Di mana dikau kekasih,
Di mana mesti kutulis cerita ini?

Adakah sejarah penebar romansa,
Membawa berlari perihnya kekinian?

Tidak,
Ini bukan parade dusta di ujung sepi
Peredah tangis di keranda sedih
Berharap ini sekedar perih

Untuk sebentar saja
Untuk dekapanmu yang tak lagi lepas


Pagi Ini
Mentari sepagi ini seakan mengejek igauan berlarut
Semilir dedaunan membisikan hari
Menggerakkan naluri,
menyapa pagi

Samar kudengar teduhnya doa si pengamen pinggiran
Nada-nada itu girang
Seakan tak pernah ada lapar!

Ku balik-balik kitab berharap turut bersenandung
Kuingat wejangan tentang menemukan jawaban
Di antara kenisbian-kenisbian
Katakanlah sesuatu, hai kitab?
Adakah dirimu punya nada-nada itu?

Kutemui kembali diammu di pagi cerah ini
Mestinya lembar-lembar itu bertuliskan jawaban
Haruskah kutanya sang pengamen di mana dia temukan nada-nada itu?

Sunyi itu semua tentang dirimu
Sekali lagi tentang kamu
Sunyi itu mungkin nada
Mungkin juga sebuah jawaban


---------
Puisi Matalim Blikuleng

Bilakah Berakhir?
(untuk BUNDA tercinta)

Lelah aku berjalan
Menyusuri lorong - lorong kehidupan
Keringat dan air mata
Jadi pelipur laraku

Dalam kesepian hati
Giat jiwaku mencari
Setitik cinta yang terlupakan
Namun....
Hingga keesokan hari pun
Ku tak dapat menemukannya

Apa salahku
Hingga aku terbuang dan tersisihkan
Dari sebentuk cinta yang telah membentuk aku
Seandainya ku tahu
Bahwa cinta itu menyakitkan
Ku kan membunuh cinta itu
Sebelum fajar merekah

Karma menitis dalan darahku
Tak dapat ku sangkal
Ku harus menjalaninya
Roda cinta yang menyakitkan
Menggilasku
Meremukkanku

Dalam kepasrahan
Ku hanya berserah
Kapankah semuanya kan berakhir?


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 06 Lanjut...

Kasihan Indonesia

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


KASIHAN Indonesia! Pintar sekali mengalihkan perhatian dari satu fokus ke fokus yang lain. Sayangnya, pengalihan itu sungguh mengganggu, bahkan merusak pikiran perasaan beberapa orang.

Selagi perhatian difokuskan pada Robert Tantular, mantan bos Century, menurut JK merampok banknya sendiri- yang diinterogasi Pansus Century, hari itu juga Satgas Mafia peradilan bongkar Pondok Bambu, dan mendapati kamar mewahnya beberapa koruptor dan bandar narkoba. Televisi pun gencar kejar semua soal.

***
"Bagaimana pengalamanmu jadi anggota pansus?"
"Pengalaman jadi anggota pansus?" Rara balik bertanya. "Kamu nonton televisi bukan? Pikiran, perasaan, tujuan tersurat, tujuan tersirat dari setiap orang, setiap kelompok, setiap kepentingan, terbaca jelas bukan? Ha ha ha, waktu aku jadi anggota pansus tentu saja yang kuperjuangkan adalah kepentingan kelompokku dan kepentinganku! Wajar sekali bukan? He he he, dibuat wajar sajalah. Pokoknya segala cara kasar maupun halus, beretika maupun tidak beretika saya upayakan dengan tujuanku tadi.

Mau dikatakan beretika atau tidak beretika, memangnya gua pikirin? Oh ya, memangnya kamu bisa menilai sendiri bukan? Pansus itu sama dengan siapa lebih kuat siapa lemah. Siapa lebih banyak siapa lebih sedikit, siapa punya kuasa dan siapa tidak, siapa yang mau diuntungkan dan siapa tidak. Begitu jelas sekali bukan? Jadi berjuanglah sedemikian rupa biar tujuanmu yang gool terlepas salah atau benar!" Rara berapi-api.

"Bukankah pansus dibentuk untuk membongkar segala bentuk mafia, membongkar segala bentuk perampokan, membongkar segala bentuk manipulasi? Bukanlah pansus dibentuk untuk menemukan kebenaran?" Tanya Jaki.

"Kebenaran? Ha ha ha...," Rara terbahak-bahak. "Hari gini kamu ngomong kebenaran? Tidak ada itu! Yang ada hanyalah kepentingan. Lihat saja bagaimana pandainya oknum-oknum anggota pansus bersilat lidah, materi pertanyaan, cara bertanya, dan tujuan dari setiap pertanyaan?" Rara terus tertawa.
"Jadi upaya untuk menemukan keadilan di atas kebenaran tidak ada lagi?"

"Jawab sendirilah! Ngapain sih repot-repot bertanya. Saya yang anggota pansus saja tidak peduli kok, kamu yang repot!"
"Apa enaknya jadi anggota pansus?" Tanya Jaki lagi.
"Memangnya enak jadi anggota pansus? Jawab sendirilah!" Jawab Rara sambil mengerutkan wajahnya.

***

"Menurutmu, lebih enak mana jadi anggota pansus dan jadi narapidana?" Nona Mia sekadar bertanya sebab dari tadi perasaannya sudah tidak enak mendengar penjelasan Rara.
"Bagiku sama enaknya!" Jawab Rara enteng. "Dua-duanya duit kok, jadi sama enaknya. Aku kan punya kuasa, punya relasi dengan kekuasaan, dan punya uang. Kalau punya uang segala-galanya bisa kubeli. Pansus bisa kubeli, penjara pun bisa kusulap jadi hotel mewah. Pokoknya sepanjang ada duit, duit kubeli, semuanya jadi enteng-enteng saja! Siapa mau lawan aku?" Rara sangat bersemangat.

"Itulah kebenaran menurut Rara," Benza menyambung. "Mau kamu arahkan ke mana pun teman kita yang satu ini, Rara tetaplah Rara. Bagi Rara duit nomor satu, pansus nomor satu, penjara pun nomor satu! Jadi, jangan heranlah, Nona Mia! Keadilan bagi Rara berdiri di atas kepentingan diri dan kelompok kepentingannya, dan kepentingan kelompoknya," suara Benza terdengar sedingin es batu.
"Bukankah keadilan tegak di atas kebenaran?" Tanya Nona Mia.
"Itu tidak berlaku untuk Rara. Bagi Rara kebenaran adalah segala hal yang penting dan menyelamatkan dirinya, kelompoknya, dan kepentingannya. Itu saja!"
"Terima kasih Benza. Engkau sungguh-sungguh mengerti isi hatiku dan isi kepalaku!" Rara bangga bukan maen.
"Kasihan Indonesia melihat orang sepertimu hidup dalam penjara pansus!"
"Enak sekali. Bukankah sudah kubilang, di penjara dan di pansus sama enaknya?" Rara tetap dengan pendiriannya. Baginya caranya putar balik pertanyaan dan kepentingannya bertanya dan mendapatkan jawaban, jadi tontonan jutaan pemirsa televisi justru membanggakan.
"Rara, pansus, dan penjara sama mewahnya! Sekaligus sama merananya! Juga sama bentuknya uang dan kekuasaan... Hebat bukan maen si Rara," Kata Benza.
"Nah, dengar sendiri! Benza saja memuji aku!" Rara bangga sekali.

***

"Kasihan Indonesia! Melihat kamu tidak malu-malu membanggakan diri!" Nona Mia pasang jurus kesal nian dengan gaya Rara.
"Tidak malu-malu membanggakan diri? Maksudmu apa? Oh, jangan khawatir temanku Nona Mia yang cantik dan baik hati, stok maluku masih segudang, jadi santai saja lagi!" Rara tetap tegar.
"Bagi-bagi dong rasa malunya..." Pinta Jaki.
"Enak saja! Kalau habis bagaimana? Aku mau cari rasa malu di mana?" Tangkis Rara. "Di penjara habis, di pansus juga habis! Apakah kamu jual malu? Berapa harganya? Aku mau beli!"
"Kok repot-repot sih. Buat saja pansus untuk membeli rasa malu," kata Benza yang disetujui Nona Mia dan Jaki.
"Ide hebat! Sungguh hebat! Tunggu saja tanggal maennya ya..." Rara tertawa. *


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 1 Lanjut...

Agas Andreas, SH. M.Hum



Foto Edi Royanto Bau
Foto Wabup Agas Andreas di ruang kerjanya

Dokumentasi keluarga
Foto Wabup Agas Andreas bersama keluarga


Fokus Pada Kepentingan Masyarakat

SERING orang mengidentikkan politik sebagai tipu menipu atau segala usaha dengan segala cara untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Bagi sosok yang satu ini, politik, khususnya politik kekuasaan berarti keputusan untuk memilih satu dari sekian alternatif untuk melayani kepentingan banyak orang. Pilihannya masuk dalam kancah politik praktis adalah semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Berangkat dari aktivis LSM, koperasi hingga Ketua Komisi Ombudsman Perwakilan NTT, akhirnya membawanya ke arena politik.

Gagal di Pilkada Walikota Kupang 2007, tak menyurutkan niatnya untuk terus berkiprah di dunia politik yang akhirnya sukses menjadi Wakil Bupati Manggarai Timur. Banyak hal yang tentunya sudah dilakukannya selama 10 bulan mendampingi Bupati Manggarai Timur (Matim), Drs. Yoseph Tote, M.Si. Beberapa waktu lalu Pos Kupang berkesempatan mewawancarai Agas Andreas, S.H, M.Hum, di kediamannya di Borong. Berikut petikan wawancarannya dengan Pos Kupang.

Anda pernah pimpin Ombudsman?
Ya. Saya pernah (pimpin Ombusman) selama dua tahun. Di Ombudsman saya sebagai Kepala Kantor Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah NTT & NTB tahun 2005-2007.

Apa yang dilakukan di Ombusman selama itu?
Ombudsman adalah lembaga pengawasan pelayanan publik. Yakni lembaga independen yang mengawasi pelayanan publik. Di ombudsman, kami selalu bekerja maksimal demi perbaikan kualitas pelayanan yang maksimal kepada masyarakat yang membutuhkan. Bagaimana kita berupaya agar masyarakat memperoleh apa yang seharusnya menjadi haknya.

Berarti dari Ombudsman Anda mendapat inspirasi untuk ikut berpolitik?
Tidak juga. Saya ini orang akademisi, sebelumnya saya sebagai Dosen Fakultas Hukum (FH) Undana (Universitas Nusa Cendana) Kupang. Dosen FH Unwira Kupang dan Dosen Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Undana tahun 2005 sampai sekarang. Selain itu, saya aktif di berbagai LSM. Terlebih aktif di koperasi kredit (Kopdit) sejak tahun 1989. Saya menjadi pengurus koperasi daerah hingga pusat sehingga boleh dibilang banyak terlibat dengan masyarakat. Koperasi yang saya geluti juga bukan di Flores, tapi di Timor.

Lalu bagaimana Anda bisa masuk dalam ranah politik?
Jadi begini, yang pertama harus kita samakan persepsi tentang apa itu politik. Sering orang, khususnya Orang Manggarai, mengidentikkan politik dengan urusan tipu menipu. Tetapi, sebenarnya bagi saya, politik bukan semata-mata menjadi anggota DPRD atau bupati. Politik adalah pilihan dari sekian banyak alternatif. Koperasi juga politik. Artinya, saya memilih alternatif sebagai aktivis koperasi untuk memperbaiki ekonomi masyarakat. Ombudsman juga politik. Sama dengan petani, mereka juga berpolitik. Artinya, politik memilih untuk menanam. Mengapa mereka menaman kopi, padi atau vanili dan bukan jagung atau tanaman lainnya? Itu merupakan tindakan memilih dari sekian alternatif untuk kepentingan banyak orang, termasuk dirinya dan keluarga. Tapi dalam konteks politik kekuasaan, politik adalah usaha untuk meraih kekuasaan. Kita tinggal melaksanakan dan mempertanggungjawabkannya.

Soal pertarungan dalam Pilkot?
Waktu calon wakil walikota tahun 2007, saya tidak punya hitungan untuk masuk sebagai calon dan karena saya tidak pernah berniat untuk itu. Namun ternyata pilihan Al Foenay jatuh ke saya, dan saya masih ingat waktu itu tanggal 6 Januari 2006 saya dilamar.

Nyatanya tidak berhasil?
Setiap usaha pasti ada risiko. Risiko baik maupun tidak baik. Ada risiko gagal dan risiko berhasil dan bagi saya gagal di Kota Kupang adalah promosi. Dengan kegagalan itu, track record politik saya jadi meningkat. Kegagalan di kota (Kota Kupang), itu merupakan jembatan promosi.

Berarti Anda sebenarnya punya target untuk memimpin di Matim?
Tidak juga. Saya tidak pernah punya pikiran untuk kembali mengabdi di Matim. Namun setelah dipinang oleh Pak Bupati (Drs. YosephTote, M.Si), saya baru merasa bahwa saya layak untuk bertarung.

Kini Anda berhasil dan sudah 10 bulan mendampingi Drs. Yoseph Tote. Bagaimana rasanya?
Bangga dan puas.

Maksudnya?
Sudah 10 bulan ini saya mendampingi Pak Bupati. Tentu banyak hal yang telah kami lakukan. Saya bangga dan puas karena ada perubahan di Manggarai Timur ini. Meski perubahannya belum seberapa.


Anda dan Bupati sepertinya baik-baik saja?
Saya dan Pak Bupati adalah teman lama. Kami bisa memahami dari bahasa tubuh saja. Kami berpasangan karena kecocokan dan bukan kebetulan. Menurut saya, pasangan itu jangan dipaksakan. Bupati dan wakil adalah dwi tunggal (Dua menjadi satu). Artinya, meski jalan berbeda, tapi satu tujuan daripada satu jalan tapi tujuan berbeda.

Ada pembagian tugas antara Anda dan bupati?
Secara normatif, wakil bupati dalam Undang-Undang 32 adalah menjalankan fungsi pengawasan dan kesejahteraan sosial. Namun selama ini kami tidak melakukan pembagian tugas dan kewenangan. Prinsip kami, dalam diri bupati ada wakil bupati dan sebaliknya, dalam diri wakil ada bupati. Intinya jangan saling curiga. Dan, komitmen itu yang dibangun sejak awal. Komitmen untuk saling percaya. Yang kita khawatirkan bila ada pembagian tugas dan kewenangan, maka tidak menutup kemungkinan terjadi arogansi kekuasaan.

Bagaimana kalau terjadi tumpang tindih?
Tidak akan terjadi. Buktinya sampai sekarang semuanya masih baik-baik saja. Yang penting tidak ada dominasi kepentingan pribadi. Kami sering lakukan diskusi sebelum membuat keputusan yang besar. Yang paling penting adalah bagaimana kepentingan masyarakat yang diutamakan.

Pernah ada evaluasi antara bupati dan wakil bupati?
Tidak pernah ada. Kami hanya melakukan pertemuan yang sifatnya koordinasi dan diskusi untuk pengambilan keputusan bersama. Kepentingan masyarakat merupakan fokus kita.

Tidak pernah merasa disepelekan atau diabaikan?
Tidak. Seperti yang susah saya sampaikan, kami sudah saling memahami dan selalu fokus pada kepentingan masyarakat. Tidak pernah ada niat untuk saling mendominasi. Segala sesuatu selalu didiskusikan. Contohnya, pada awal pemerintahan, saya yang menjalankan pemerintahan. Karena setelah pelantikan, pak bupati harus ke Jakarta untuk mengurus segala keperluan terkait kabupaten baru ini. Saya harus menerima semua beban pekerjaan yang minim pengalaman birokrasi. Tapi semuanya dapat diatasi karena selalu berkoordinasi dengan bupati. Kami sering sama-sama turun kemasyarakat namun orang sering salah menafsirkan jadinya bias. Mereka sering tidak bisa membedakan antara fakta dan penafsiran. Saya sendiri tidak punya bakat untuk menyakiti orang lain ataupun menyepelekan orang lain. Saya yakin tidak orang yang ingin memecahbelah kita.

Bagaimana capaian program Anda dan bupati sementara ini?
Secara fisik, bisa dilihat sekarang. Sedikit ada perubahan. Kami sudah putuskan untuk mulai membangun dari batas. Kami harus memulihkan kepercayaan masyarakat. Mestinya, setelah kita menjadi bupati dan wakil harus memahami masyarakat. Kita bicara tentang pemerataan pembangunan namun yang terjadi sekarang justru masih jauh dari harapan kita.

Sinkronisasi program daerah dengan propinsi?
Ada. Khusus untuk koperasi, kebetulan saya sendiri berasal dari koperasi jadi saya berniat agar koperasi benar-benar bertumbuh dan berkembang sebagai lokomotif perekonomian masyarakat. Berbicara demokrasi ekonomi, wujudnya adalah koperasi. Koperasi sebagai sebuah perusahaan, dimodali oleh masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat masyarakat sendiri. Setiap kali ada kesempatan, saya selalu imbau agar setiap masyarakat termasuk PNS harus menjadi anggota koperasi karena sangat membantu. Sedangkan untuk program propinsi lainnya, akan tetap kita upayakan.

Sebagai wakil bupati, tugas Anda pasti banyak. Bagaimana Anda membagi waktu Anda dengan keluarga ?
Ya. Kalau mau dibilang memang tugas banyak. Mereka di rumah terkadang mengatakan, Bapak ini sepertinya tidak punya waktu lagi untuk keluarga. Namun karena sudah memahami kesibukan saya, mereka artinya mau mengerti juga. Artinya, biar bagaimanapun, dukungan keluarga itu sangat penting jadi saya tetap menyediakan waktu saya bagi keluarga, membangun komunikasi yang berkualitas antara anggota keluarga. (edi royanto bau)



Data Diri
1. Nama Agas Andreas, S.H.M.Hum
2. TTL : Lamba Leda, Manggarai, 1 September 1959 .
3. Jabatan : Wakil Bupati Manggarai Timur 2009-2014

Pendidikan
a. SD Katolik 6 Tahun Berijasah tahun 1973, di Lewe -Manggarai
b. STP Katolik Berijasah tahun 1976, di Ruteng
c. SMA Muhamdyh berijasah tahun 1980 di Ende
d. Sarjana Hukum Undana Kupang tahun 1987
e. Magister Humaniora berijasah tahun 1995 di Program Pascasarjana Universitas Airlanggga Surabaya


Isteri
Dra. Theresia Wisang
Anak
1.Pranata Kristiani Agas (26)
2.Rolandus Vanni Agas (23)


Pengalaman organisasi
a. Senat Mahasiswa FH Undana tahun 1981-1983
b.Anggota dan Pengurus Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Fransiskus cabang Kupang tahun 1981-1985
c. Anggota dan pengurus Koperasi kredit tahun 1989 hingga sekarang

Pengalaman pekerjaan
a. Dosen Fakultas Hukum Undana 1988 sampai sekarang.
b. Dosen Fakulatas Hukum Universitas Widya Mandira Kupang tahun 1996 sampai sekarang
c. Dosen Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Undana Tahun 2005 sampai sekarang
d. Kepala Bidang Penyuluhan LPM Undana Tahun 2000-2002
e. Kepala Kantor Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah NTT & NTB 2005-2007


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 03 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
MONYET ALAK -- Monyet-monyet yang berkeliaran di kawasan wisata Gua Monyet Alak merupakan pemandangan keseharian bagi pengguna jalan menuju Pelabuhan Tenau-Kupang.


SEKELOMPOK monyet (macaca mulatta) berlarian dengan bebas ketika melihat sebuah truk barang berhenti di tepi jalan, Selasa (12/11/2010). Beberapa ekor monyet langsung saja naik ke atas bak truk, sementara beberapa lainnya hanya memperhatikan pengemudi truk dan dua kondektur yang duduk di kabin pengemudi.

Monyet-monyet itu semakin mendekat ketika pengemudi melempar kacang ke arah monyet-monyet itu. Beberapa monyet yang lebih besar bahkan saling berebutan hingga saling gigit untuk mendapat beberapa kacang, sedangkan monyet yang lebih kecil hanya melihat dari jauh untuk menunggu kesempatan mengambil sisa kacang dari hasil rebutan. Tidak berapa lama, sebagian monyet itu meninggalkan truk tersebut ketika truk itu meninggalkan tempat itu.

Demikian pemandangan yang hampir setiap hari di Kawasan Wisata Gua Monyet-Alak di Kelapa Satu, Kelurahan Alak-Kecamatan Alak, Kota Kupang.
Pemandangan yang sama juga ketika sebuah sepeda motor yang pakir persis di pintu masuk ke kawasan itu. Belasan monyet menyambut kejadiran pengendara motor tersebut meski sang pengandara tampaknya berhenti hanya untuk istirahat sejenak.

Beberapa warga di sekitar kawasan itu mengatakan, pada umumnya monyet langsung menyambut orang yang datang ke tempat itu. Monyet-monyet itu mengira orang yang datang adalah pengunjung yang membawa makanan buat mereka.

Perilaku monyet-monyet di kawasan wisata milik Pemerintah Kota Kupang ini menjadi daya tarik tersendiri. Perilaku monyet yang saling berkejaran, bergelantungan dan melompat dari dahan ke dahan, saling bercengkrama dan berguling, berkelahi memperebutkan sesuatu, adalah pemandangan yang unik dan lucu.

Tidak heran bila perilaku monyet-monyet ini membuat pengendara sepeda motor atau mobil pribadi yang kebetulan melintas, berjalan perlahan atau berhenti sejenak untuk melihat perilaku hewan primata ini. Beberapa induk monyet itu setia menggendong bayi mereka.

Taman wisata gua monyet ini merupakan satu dari taman wisata dengan keunikan hewan monyet yang cukup jinak. Salah satu tempat lainnya adalah taman wisata Gua Monyet di Jalan Kartini-Kelutahan Kelapa Lima yang dikelola Pemerintah Propinsi NTT.

Menurut pejaga kawasan ini, Filmon Kay, jumlah monyet yang ada dalam kawasan ini sebanyak 327 ekor yang terbagi dalam empat kelompok. Kelompok terbanyak berjumlah sekitar 180 ekor, sementara kelompok terkecil hanya sekitar 40 ekor saja.

Setiap harinya, monyet-monyet ini diberi makan 8 kg
jagung. "Setiap hari kita harus memberi makan delapan kilogram jagung, cukup atau tidak cukup tergantung monyet-monyet ini juga," jelas Kay.
Kawasan ini mulai di kelola secara baik sejak tahun 1998 dan sejak saat itu mulai dilakukan penataan-penataan seperti mendirikan beberapa lopo dan naungan bagi pengunjung.

Kepala Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata (Budsenpar) Kota Kupang, Dra. Nova A.Bessy didampingi Sekertaris Dinas Budsenpar Kota Kupang, Lukas Luhi menjelaskan bahwa sejauh ini Pemkot Kupang melalui Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata Kota Kupang belum menetapkan tarif bagi pengunjung. Ini karena kawasan ini merupakan bagian dari Hutan Lindung Kali (RTK) 174, belum menjadi kawasan konservasi.

Hingga ini, Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Kupang terus melakukan koordinasi dengan intansi terkait pengelolaan hutan agar bisa mengelola secara baik kawasan ini.

Terlepas dari permasalahan itu, kawasan wisata gua monyet ini menyediakan alternatif hiburan lain. Dengan kehadiran monyet-monyet ini, sedikit banyak bisa membuat para pengunjung melepas kepenatan.

Sayangnya, kawasan ini belum dimaksimalkan. Padahal banyak kawasan wisata di Indonesia menjual satwa liar ini sebagai obyek yang sangat menjanjikan dalam dunia pariwisata.(alf)


Kembangkan Wisata Alam

KAWASAN wisata gua monyet merupakan kekayaan alam yang dimiliki Kota Kupang. Untuk itu, Dinas Kebudayaan-Pariwisata dan Seni akan menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata alam.

Kepala Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata (Budsenpar) Kota Kupang, Dra. Nova A Bessy yang ditemui di kantornya di Jalan Perintis Kemerdekaan- Walikota Baru Kupang, Jumat (15/1/2009), menjelaskan, kawasan wisata Gua Monyet merupakan salah satu andalan obyek wisata Kota Kupang.
Pengelolaan objek wisata ini belum optimal karena kawasan tersebut merupakan kawasan milik instansi lain yaitu Balai Pemantapan Kawasan Hutan. Dan, tinggal menunggu perkkembangan lebih lanjut. "Kawasan ini berada dalam wilayah Kota Kupang, tapi bukan milik lembaga ini, kita sementara cari aturan-aturan dan terus membangun komunikasi dengan kehutanan supaya kawasan ini bisa kita kelola," jelasnya.

Menurutnya, kawasan tersebut merupakan satu kesatuan dari RTK 174, namun pihaknya akan meminta pengelolaan kawasan ini seluas lima hektar atau sesuai dengan penyebaran monyet-monyet tersebut. Bila, pihaknya sudah mendapat persetujuan dari berbagai pihak terkait, maka kawasan ini akan dikelola secara maksimal.

Nova menjelaskan, sejauh ini pihaknya hanya bisa mendata dan mengawasi monyet-monyet yang ada, namun tidak memiliki kompeten untuk melarang perburuan monyet atau aksi penebangan kayu dalam kawasan itu.

Namun bila sudah aturan yang jelas bahwa kawasan itu sepenuhnya dikelola oleh Budsenpar Kota Kupang, maka pengawasan dan larangan terhadap pengambilan kayu dan perburuan monyet akan diperketat, bahkan akan dikenakan sanksi.

Menurutnya, pada tahun 2010 ini, pihaknya sudah merencanakan menata semua objek wisata di Kota Kupang termasuk kawasan wisata gua monyet itu. Hal ini menjadi program kerja lembaga yang dipimpinnya. Dan, kawasan tersebut juga akan dikelola lebih baik lagi.

"Kami akan menambah lopo-lopo, membangun fasilitas- fasilitas penunjang dan berbagai kebutuhan untuk pengunjung," jelasnya. (alf)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 14 Lanjut...


media.redcatsusa.com
Menggunakan busana empire-waist dress agar tetap terlihat cantik dan menarik.


TAK ada manusia yang sempurna. Itu sudah pasti. Namun, yang pasti ada cara untuk membantu mengatasinya, termasuk dalam hal fisik. Sebagian besar wanita memiliki keluhan pada bagian bawah tubuhnya. Ada yang mengeluhkan terlalu lebar, terlalu tebal, juga terlalu tipis.

Tak perlu minder. Cukup siasati itu dengan trik-trik berikut ini:

Tungkai Besar
Untuk menyiasatinya, pilih celana model bootcut atau rok yang belahannya di bagian sisi. Upayakan untuk memilih rok yang berukuran cukup nyaman untuk bergerak, asalkan jangan yang pas badan. Rok atau celana yang ketat di bagian sisi kaki akan membuat kaki terlihat lebih besar. Jangan pula memilih celana atau rok yang terlalu panjang karena membuat Anda akan terlihat "tenggelam". Rok yang pendek, tak perlu mini, cukup selutut akan membuat seseorang terlihat lebih tinggi dan ramping.

Pinggul Tebal
Kemeja ala pria dimasukkan ke dalam celana bahan atau rok, ditambah sepatu hak tinggi seksi akan memberikan kamuflase di bagian tengah tubuh dan memberi kesan chic.

"Cankles"
Ini sebuah sebutan untuk mereka yang memiliki masalah pada bagian pergelangan kaki yang terlalu tebal sehingga terkesan betis lurus hingga ke tumit. Jangan selalu menyembunyikannya di balik celana panjang. Anda masih bisa mengenakan dress dan rok. Ciptakan kesan cankles yang lebih ramping dengan mengenakan rok selutut dan sepatu dengan tinggi sedang, dengan hak medium. Hindari sepatu hak tinggi yang bertali karena akan menarik perhatian ke arah tersebut. Hindari pula sepatu hak datar, atau lebih dikenal dengan sepatu balet, apalagi yang yang memiliki tali di bagian pergelangan kaki.

Bokong Besar
Blazer panjang akan menyiasati bagian belakang Anda yang ukurannya lebih besar dari ukuran biasa. Untuk dalamannya, kenakan dress yang pas dengan tubuh atau jins straight leg (pipa). Hindari celana dalam g-string, kenakan celana dalam hipster dengan bahan lycra untuk memberi sokongan pada bagian bawah bokong dan mencegahnya terlihat tidak kencang.

Panggul Lebar
Pilih rok berpotongan A dengan satu warna untuk membuat panggul terlihat lebih ramping. Sebaiknya hindari bahan yang mengilap, bahan satin, atau celana maupun rok berwarna cerah karena bisa menarik perhatian ke arah lipatan dan menciptakan siluet yang lebih lebar.

Bagian Bawah yang Pendek
Untuk menyiasati kondisi ini, dress dengan empire-waist akan membantu Anda terlihat lebih tinggi. Untuk terlihat lebih modern, pilih dress yang panjangnya selutut.

Bokong Rata
Berinvestasilah pada celana dalam yang membantu menyokong bokong dan memberi bentuk pada bagian belakang. Celana hipster juga bisa membantu membuat bagian belakang Anda terlihat lebih bundar dan memberi bentuk.

Bokong Bebar
Pilih celana model pipa untuk menyiasati kondisi ini, lebih cocok lagi jika dipasangkan dengan atasan yang pas dengan tubuh dan jaket. (kompas.com)



Mendobrak Aturan dalam Bergaya

KITA biasanya mendapatkan saran tentang tren fashion yang sedang in, rambu-rambu dalam berpakaian dan bergaya yang harus diikuti, namun tidak ada salahnya juga mengubah hal-hal yang sudah pakem dalam bergaya. Sesekali menjadi pusat perhatian tidak ada salahnya kan?
Ada empat aturan dalam bergaya yang bisa Anda perbarui, contohnya:
1. Jangan pernah menggunakan warna hitam atau biru tua. Para desainer ternama seperti Marcs Jacobs, Donna Karan, dan Gucci, tampaknya berusaha mempertimbangkan kembali aturan ini, dengan menampilkan model-model dalam warna-warna cerah. Lagipula, warna hitam dan biru cocok dikenakan saat musim hujan. Anne Hathaway, Cameron Diaz, Hillary Swank, dan Ashley Olsen sudah mengawali tren ini.

2. Jangan mencampurkan motif tertentu. Hal ini penting, karena Anda akan terlihat aneh bila asal menabrakkan motif-motif tertentu. Jika Anda ingin tampil beda, pastikan warna dominan kedua motif yang Anda kenakan sama. Anda bisa memadukan corak kotak dengan garis, polka dot, atau bunga-bunga. Beberapa selebriti yang berhasil memadukannya dengan cantik antara lain Kirsten Stewart, Rachel Bilson, dan Whitney Port.

3. Sesuaikan warna tas dan sepatu Anda. Paduan ini akan cocok jika Anda mengenakan pakaian bercorak. Namun jika pakaian Anda seluruhnya berwarna hitam, jangan takut untuk bereksprimen dengan aksesori yang Anda pakai. Pakaian Anda yang lama juga bisa "dihidupkan" kembali dengan mengganti tas dan sepatunya. Anda bisa memakai sepatu warna hot pink dengan clutch motif leopard warna keemasan, atau sepatu pumps motif ular phyton dengan messenger bag kulit warna hitam. Pastikan saja sepatu dan tasnya senada. Namun jangan gunakan sepatu boot ala koboi dengan tas tangan berbulu hitam yang lucu.

4. Hanya menggunakan warna berkilauan pada acara resmi. Namun tidak ada larangan bagi Anda untuk menggunakan kesan berkilauan pada siang hari. Misalnya blazer beraksen manik-manik dengan jeans dan t-shirt akan memberi kesan flirty dan kasual, sehingga Anda bisa kenakan untuk acara kumpul dengan kolega di malam hari. Bila lebih berani, pakai celana panjang berkilap dengan sweater yang nyaman. Contoh saja gaya Khloe Kardashian, Cheryl Cole, Sienna Miller, dan Hayden Panettiere.(kompas.com)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 13 Lanjut...

Dokter Valens Yth,

Salam Damai. Saya Agus, pemuda 18 tahun, pelajar kelas III pada salah satu SMU di Kota M, Flores. Saya berasal dari keluarga baik-baik. Kedua orang tua saya bekerja. Ayah sebagai guru sekolah dasar, Ibu sebagai karyawan pada salah satu yayasan.

Dengan pekerjaan seperti itu, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga yang semuanya tujuh orang. Kami selalu diajarkan tata cara hidup yang baik, sopan santun dan segala macammnya. Pokoknya anak guru jadi musti sopan.

Cuma ketika saya di SMU ini saya merasa banyak hal yang saya lihat tidak cocok. Banyak diantara teman harus berlatih bela diri agar tidak diganggu orang lain. Kamipun secara berkelompok ingin berkelahi dengan anak kelompok atau sekolah lain.

Dan yang lebih heboh, cewek-cewek manis justru lebih senang dekat /pacaran dengan cowok yang memang kelihatan macho, merokok dan kalau bisa jadi peminum, suka ugal-ugalan dan lain lain yang sifatnya bertolak belakang dengan yang diajarkan orangtua.

Inilah the real life, man”, kata seorang teman pada saya. Dan, pak dokter, ini semua ternyata perlu biaya ekstra. Dan kalau bicara soal duit, saya pasti kalah karena di rumah kami diajarkan untuk memenuhi kebutuhan dengan apa yang ada, tidak boleh menuntut lebih. Di bagian inilah yang saya benar-benar kalah.

Di sekolah ini saya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Memang di kelas dan dalam ilmu, saya bisa dibilang mampu, tapi kenyataannya, hidup yang nyata, seperti yang disampaikan teman saya di atas ternyata lain.

Kita perlu uang, kita perlu melawan etika dan justru tak perlu terlalu baik jadi orang agar tidak terlihat lemah. Selama di sekolah kami tidak pernah diajarkan bagaimana cara kita mencari uang dengan mudah.

Apakah dengan ilmu pengetahuan yang tinggii uang dengan sendirinya datang? Saya sepertinya tidak percaya. Selanjutnya dokter, cita-cita saya, memang tidak muluk-muluk.

Yang saya inginkan hidup kelak lebih baik dari orangtua, tentu punya uang banyak dan bisa punya pengaruh besar di masyarakat. Pertanyaan saya adalah :

Apakah apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya ini salah? . Dokter, mungkin surat saya ini agak aneh dari orang lain tapi benar saya butuhkan balasan dokter.

Mungkin tahun depan saya kuliah mungkin juga tidak tergantung kemampuan keuangan ortu. Akhirnya salam dari saya di kota M.
Salam Agus, Flores.


Saudara Agus yang baik,
Salam Damai juga buat Anda. Saya menilai surat Anda sangat menarik karena, Anda menyampaikan apa yang ada dalam pikiran Anda secara jujur dan tulus.

Apa yang dirasakan, itu yang ditulis. Banyak kali orang lebih memilih menyembunyikan sesuatu yang bergulat dalam pikirannya, terutama menyangkut keinginan yang agak berbeda dari orang lain. Cara yang saya sebut terakhir ini akan membuat orang jadi munafik karena banyak basa-basinya. Lain di bibir lain di hati, lain di pikiran lain yang ditulis.

Saudara Agus yang baik, secara jujur Anda menilai keadaan realita di sekitar Anda bahwa hampir semua hal dalam kehidupan ini dihubungkan dengan uang; tetapi mengapa pada level pendidikan umum yang kita hadapi bertahun tahun tidak pernah mengajarkan kepada siswa bagaimana uang bisa diperoleh dengan benar dan menguntungkan dan dengan cara yang gampang.

Pendidikan kita hanya mengajarkan agar kelak setelah selesai sekolah mudah-mudahan kita dapat mencari pekerjaan yang baik agar bisa hidup baik, punya sopan santun dan berbudaya dan berilmu pengetahuan yang tinggi.

Dan, sepertinya tersirat bahwa di dalam semua itu akan ada uang yang bisa diperoleh dengan mudah. Pendidikan kita tidak mengajarkan agar orang bisa melek finansial”.

Bahkan Robert T. Kiyosaki, penulis buku yang terkenal Rich Dad, Poor Dad, pernah menulis buku pertamanya yang agak ekstrim dengan judul If You Want To Be Rich and Happy, Don’t Go To School. Aneh memang, tapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang yang bukan berpendidikan tinggi tapi hidup kaya (raya).

Dalam surat nampaknya Anda begitu pesimis memandang masa depan Anda sendiri hanya karena satu soal yakni uang. Pada kesempatan ini perlu saya tekankan bahwa pada dasarnya manusia memiliki unsur jiwa dan raga sehingga dalam pemenuhan kebutuhanpun perlu ada keseimbangan (balance) antara kedua unsur ini.

Anda patut beruntung karena datang dari keluarga yang membekali Anda dengan banyak hal menyangkut etika hidup (budipekerti). Ini juga modal yang amat konstruktif untuk hidup. Anda bisa berpengaruh besar karena memiliki sifat dasar yang baik.

Soal pendidikan yang sedang Anda hadapi saat ini lebih merupakan bekal agar Anda dapat memahami berbagai fenomena yang terjadi dalam hidup ini. Kalau soal menggapai cita-cita Anda untuk bisa menjadi orang yang berduit dan berpengaruh, ada banyak cara dan banyak orang sukses mempunyai jalan pikiran yang berbeda-beda.

Dalam buku Rich Dad, Poor Dad (Juni 2002), ditulis bahwa orang kaya tidak bekerja untuk uang tapi oleh cara mereka mengelola uangnya sehingga pada gilirannya justru uanglah yang akan bekerja untuk mereka. Nah, hal ini tidak diajarkan ayah yang miskin (Poor Dad) kepada anaknya.

Oleh karena itu dari dalam hati Anda perlu ditimbulkan semangat baru untuk meyakinkan diri sendiri bahwa sekolah yang sedang Anda jalani akan memberi arti besar bagi Anda untuk membentuk mental dan spirit Anda agar kelak dim kemudian hari Anda bisa lebih pintar mengelola situasi di sekitar Anda agar bisa ”survive” dalam perjuangan menjadi orang yang ”kaya arti”. Anda menjadi sosok yang berarti bagi keluarga, bagi daerah dan negara. Ada ungkapan yang mengatakan demikian:

Orang pintar adalah orang yang biasa mengerjakan hal-hal yang tidak biasa dikerjakan oleh orang biasa . Selanjutnya dalam buku Big Things Happen, 1998, Don Gabor mengutip Hellen Gurley Brown, pengarang dan Editor kepala Majalah Cosmopolitan yang mengatakan bahwa :

Satu-satunya hal yang memisahkan orang yang sukses dari orang yang tidak sukses adalah kesediaan untuk bekerja keras sekali.” Nah saudara Agus, dengan demikian sebagai seorang muda yang penuh energi dan vitalitas tidak perlu merasa salah ataupun merasa berbeda manakala Anda memiliki idealisme yang tinggi.

Justru itulah yang dikehendaki sebagai tujuan hidup yang sudah jelas tergambar untuk dicapai. Alangkah tidak berartinya hidup bila tidak memiliki arah atau tujuan untuk dicapai. Banyak hal-hal besar terjadi kalau Anda dapat melakukan hal-hal kecil dengan benar. Sukses itu hadir dari hasil perkalian antara Impian dan Kerja Keras .

Baiklah saudara Agus, demikian jawaban saya terhadap pertanyaan dan persoalan yang sedang berkecamuk dalam pikiran Anda. Selamat belajar. Kabarkan bila Anda telah sukes di kemudian hari. Semoga.
Salam, dr. Valens Sili Tupen,MKM.


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 13 Lanjut...

TAK sedikit program di tempat penitipan anak atau prasekolah yang menawarkan program pengajaran pengenalan alfabet dan angka dengan beragam konsep.

Tapi, sebenarnya pada usia berapa anak bisa menerima pelajaran seperti itu? Menurut Robin Goldstein, Ph.D, dalam bukunya yang bertajuk Buku Pintar Orang Tua, penekanan pada aktivitas pembelajaran tersebut adalah bagian dari tekanan masyarakat luas supaya anak-anak dapat belajar lebih banyak, lebih dini.

Ditambah lagi, penerbit-penerbit membuat buku-buku pelajaran dan piranti lunak untuk membantu anak belajar, bahkan di usia bayi. Padahal, para orangtua masih merasa bahwa anaknya yang berusia 2, 3, atau 4 tahun belum siap belajar bentuk, warna, huruf, dan angka.

Menurut Robin, seorang anak berusia 3 tahun mungkin mengetahui bahwa menyebutkan 1, 2, 3, 4 disebut berhitung, tapi mungkin tak memahami angka 6 mewakili 6 benda. Bukan tak mungkin untuk anak belajar mengingat dan mengulangi kembali serangkaian daftar singkat angka dari satu sampai sepuluh dan huruf-huruf. Tetapi, pemahaman akan konsep demikian biasanya tidak dapat dimulai hingga anak berusia 4-6 tahun.


Dijelaskan lebih lanjut oleh Robin, bahwa seorang anak tak dapat diajar memahami konsep angka dan huruf sebelum ia benar-benar siap.

Secara perlahan, setelah mencari tahu dengan benda, bertanya kepada orangtuanya dan orang lain, mengamati lingkungan sekitarnya, dan menjelajah, anak akan belajar arti dari angka dan hurut itu.

Bila keingintahuan alamiahnya didukung dan diberikan benda-benda yang membantunya mencari tahu, ia akan mempelajari konsep angka dan huruf dengan mudah.

Tetapi, terlalu banyak penekanan pada pendidikan dini akan melemahkan dan menghilangkan dorongan alamiah anak untuk belajar.

Orangtua seharusnya menunggu hingga anak menunjukkan minat spontan terhadap huruf, kata, dan konsep angka, kemudian menindaklanjuti dengan apa yang dilakukan anak.

Warna, bentuk, angka, dan huruf adalah bagian dari keseharian yang dilihat anak, ia bisa mempelajarinya secara alamiah, apalagi jika dibantu oleh orang di sekitarnya. Sebenarnya, tak perlu benar-benar memasukkannya ke sekolah khusus.

Orangtua bisa membantunya belajar dengan kata-kata dan aktivitas sehari-hari, misal, "Sini, kamu hari ini pakai celana biru ini, ya?" atau, "Untuk langitnya, kamu mau beri warna apa? Krayon jingga atau biru ini?" atau, "Ini, Mama beri 3 keping biskuit."

Anak terus belajar dari pemaparan konsep itu dalam kesehariannya. Anak mendengar orang dewasa menghitung, membaca, dan mengamati kata-kata dan angka di mana-mana.

Anak belajar mengenal aksara kala orangtuanya membacakan cerita kepadanya setiap hari, atau dengan mengulang cerita kesukaannya.

Secara bertahap, Anda akan mendengar anak bertanya, "Berapa banyak krayon ini?" atau "Ini warna apa?" Saat keingintahuannya makin besar dan didorong dengan bantuan alat tulis oleh orangtuanya, ia akan mencoba menulis, meski belum sempurna.

Jangan lantas mengoreksinya jika ada kesalahan. Lebih baik mendukungnya untuk tetap berhitung dan menulis.

Anaka akan belajar dengan pemahamannya sendiri tanpa tekanan dari siapa pun karena dia tertarik dan termotivasi oleh dirinya sendiri. Kemudian, saat ia berada di taman kanak-kanak dan tingkat pertama, Anda akan melihat anak membuat langkah yang pesat dalam memahami bahasa dan matematika.(kompas.com)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 12 Lanjut...


Dokumen Keluarga
Don Da Costa bersama anak-anak dan istri

Pendidikan dan Keterampilan untuk Masa Depan Anak

MENYIAPKAN masa depan anak-anak sejak dini merupakan salah satu konsep mendidik anak oleh pasangan Don Da Costa dan Erlin Mas Da Costa. Tantangan masa depan yang semakin rumit membuat pasangan ini selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka agar siap bersaing di masa mendatang.

Ada tiga hal yang menjadi konsep utama yang diterapkan pasangan ini untuk anak-anak mereka yaitu memberikan pendidikan yang layak, keterampilan dan membentuk karakter dan mental anak.

Pasangan ini memiliki dua anak, yakni Eldo Marlino Fransisko Da Costa, lahir di Kupang, 30 Agustus 1996, saat ini duduk di kelas II C, SMP Katolik Sta. Theresia Kupang. Anak kedua, Elga Marlin Bernadetha Mas Da Costa, lahir di Kupang, 24 April 1999 (Kelas V B SDK Sta. Maria Assumpta).

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (15/1/2009), dosen Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang ini, mengatakan, konsep pendidikan yang diberikan kepada kedua anaknya adalah pendidikan formal melalui lembaga pendidikan dan pendidikan nonformal yakni tanggung jawab keduanya sebagai orang tua dalam pendidikan di rumah.

Baginya, pendidikan yang paling utama dan berharga adalah dari dalam rumah. Dimulai dari hal-hal sepele seperti memilih acara televisi yang pas untuk anak-anak.

Jika ada adegan-adegan kekerasan atau seronok, keduanya tidak segan-segan meminta anaknya pindah ke saluran lain. Tetapi, keduanya menjelaskan kepada kedua anaknya mengapa tidak tidak boleh menonton adegan tersebut.

Cara lainnya cara yang dilakukan dalam mendidik anaknya adalah keterbukaan dalam berkomunikasi.

Apapun selalu didiskusikan bersama dengan anak-anaknya seperti pergaulan bebas, narkoba dan sebagainya.

Kemajuan teknologi informasi saat ini memang tidak ada lagi yang disembunyikan sehingga peran orangtua untuk mengarahkan dan menjelaskan sangat penting agar anak tidak bingung dan terjerumus ke dalam hal-hal negatif.

Meski dalam berbagai kesibukan, ia tetap berupaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Baginya, efektivitas komunikasi tidak ditentukan seberapa banyak dan lamanya, tetapi kualitas komunikasi itu sendiri.

"Saya ini sibuk dan saya tidak pernah makan siang bersama anak-anak di rumah. Pertemuan kami hanya pagi hari dan malam hari. Makanya dalam pertemuan ini dimanfaatkan sebaik mungkin bagi anak, misalnya dengan bercerita dan berdiskusi, menanyakan kegiatan belajar mereka di sekolah, pekerjaan rumah dan sebagainya. Selain itu, saya tidak pernah menitipkan anak saya atau membiarkan nak-anak ke sekolah sendirian. Saya upayakan mengantar sendiri, sehingga kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengobrol dengan anak," katanya.

Melihat Bakat Anak
Dalam mempersiapkan keterampilan yang menunjang masa depan anak, keduanya perpatokan pada bakat dan minat anak. Anak sulungnya Eldo memiliki bakat luar biasa di bidang komputer.

Saat ini, Eldo sudah bisa mengutak-atik komputer sendiri. Dengan kemampuan seperti ini membuatnya memikirkan secara serius membekali anak dengan keterampilan di bidang komputer.

"Biasanya dia meminta beli komputer sendiri. Namun, karena saya memiliki laptop saya berikan kepercayaan kepadanya untuk mengutak-atik laptop tanpa harus merusak file-file saya.

Biasanya kepercayaan yang diberikan kepadanya dijaga dengan baik, sehingga pekerjaan saya tidak terganggu dan dia pun merasa tersalurkan hobinya," katanya.

Sedangkan putri keduanya sangat fasih dalam bidang komunikasi, sehingga ke depan ia akan berusaha membekali anaknya dengan keterampilan berbahasa.

Sedangkan konsep karakter atau kepribadian, baginya menyangkut prinsip sehingga keduanya membiasakan anak-anaknya untuk memulai dan mengakhiri sesuatu dengan doa.

Dengan menanamkan hal-hal religius kepada anak diharapkan apa yang dilakukan adalah hal yang terbaik. Sehingga, kebiasaan yang dilakukan adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain untuk kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Dengan konsep ini, anak-anaknya diajarkan untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak dan mana yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak.

Bagi pasangan ini, hidup merupakan panggilan sehingga anak adalah nomor satu. Oleh karena itu, bagaimana orang tua membawa anak pada arah yang lebih baik. Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat orang tua harus semakin dekat dengan anak-anaknya. (nia)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 12 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
TARI CACI -- Sepasang penari caci saling memukulkan cambuk ke lawan masing-masing pada pagelaran seni yang diselanggarakan RRI Kupang, belum lama ini.



AYUNAN keras pecut dari seorang pria langsung menimbulkan bunyi seperti petir, menghentak ratusan penonton Panggung Hiburan yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Kupang.

Empat pria muda yang memegang pecut serta menggunakan busana khas Manggarai yang sudah dilengkapi tameng, dan pelindung lainnya badan, saling unjuk kebolehan.

Dua di antara empat orang itu saling berhadap-hadapan, seorang diantaranya mengambil posisi siap menyerang sementara yang lainnya mengambil posisi bertahan. Dan, sebelum menyerang, pecut tersebut di kibas-kibas sehingga menyebabkan bunyi-bunyi yang keras dan tajam, tak ubahnya petir.

Tidak lama kemudian, seorang di antaranya mengibaskan pecut ke tubuh seorang yang mengambil posisi bertahan dan penoton pun berteriak histeris. Para penari cari terus saja beraksi mengikuti irama musik dan lagu.

Empat pria ini merupakan bagian dari grup Tari Caci dari Sanggar Wela Rana Pauk-Kupang yang tampil membawakan atraksi caci.

Tarian ini dibawakan oleh empat orang dan didukung delapan orang penyanyi tradisional untuk mengiring penampilan grup ini. Empat orang itu adalah Anyok Fanis Sina, Roby Yanuarius, Renold Yoland dan Dolfus Jama.

Mereka yang membawakan atraksi caci ini merupakan gambaran pria Manggarai yang memiliki nyali untuk bertarung. Mereka saling serang dan bertahan, bahkan saling melukai. Namun tidak ada dendam di antara mereka. Yang ada hanya suka cita.

Caci merupakan tarian atraksi dari bumi Congkasae- Manggarai. Hampir semua daerah di wilayah ini mengenal tarian ini. Kebanggaan masyarakat Manggarai ini sering dibawakan pada acara-acara khusus.

Peralatan dalam tarian ini antara lain cambuk (larik), perisai (giliq), pelindung dada, pelindung kaki dan lutut (bik) dan pelindung kepala (pangga).

Semua bahan ini terbuat dari kulit kerbau. Masing- masing pihak mendapat kesempatan memukul dan pihak lainnya menangkis. Dan masing-masing mendapat giliran untuk memukul dan menangkis.


Giring-giring yang digantungkan di belakang pinggangnya agar pada saat menari dapat mengeluarkan irama atau nada yang merdu didengar dalam mengikuti irama gong yang dibunyikan oleh kelompoknya. Tarian ini diiringi musik tradisional Manggarai dan serta syair-syair berbahasa Manggarai.

Servas S Budiman, anggota Sanggar Wela Rana Pauk ini mengatakan, tari caci saat ini sudah kurang populer di kalangan anak muda di Manggarai, apalagi mereka yang sudah tinggal di kota. Ada juga yang masih meminati tarian ini namun tidak memahami makna yang terkandung dalam tarian ini.

Menurutnya, caci sebenarnya merupakan gambaran suka ria dan cinta kasih antara petarung. Sebab, tarian ini berasal dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya. "Jadi tidak ada dendam dalam pertarungan ini.

Caci sendiri dari legendanya menggambarkan begitu besar cinta kasih sang kakak pada adik. Sehingga tradisi kasih sayang itu disalurkan dalam bentuk ini, sehingga para petarung tidak boleh dendam meski harus mengalami luka akibat terkena pecut lawannya," jelas anak muda asal Manggarai ini.


Cerita Kakak dan Adik

Budiman mengisahkan, pada jaman dahulu hiduplah seorang kakak bersama adiknya di sebuah kawasan di Manggarai. Keduanya merupakan anak yatim piatu, namun mereka memiliki satu ekor kerbau (ka'ba).

Suatu ketika, kakak dan adik ini berjalan-jalan di hutan sambil mengembalakan kerbau. Dan saat jalan-jalan itu, sang adik tanpa sengaja terperosok ke dalam sebuah lubang. Sang adik pun langsung berteriak minta tolong pada sang kakak, dan saat yang bersamaan sang kakak pun langsung berusaha menolong sang adik.

Cara yang dilakukan adalah mencari tali untuk membantu mengeluarkan sang adik dari dalam lubang. Upaya itu tidak berhasil karena sang adik selalu gagal dikeluarkan dari dalam lubang karena tali tidak bisa dijangkau oleh sang adik. Saat berusaha menolong sang adik, sang kakak mengatakan asa nana? (sudah?) dan sang adik menjawab toe di (belum).

Karena kecintaan yang begitu besar pada sang adik, sang kakak kemudian rela menyembeli kerbau satu- satunya milik mereka. Ekor kerbau kemudian dijadikan tali untuk mengeluarkan sang adik. Upaya ini berhasil mengeluarkan sang adik dari lubang.

Karena rasa bahagia itu, kedua kakak beradik ini kemudian momotong kerbau. Daging kerbau dimakan, sementara kulit kerbau ini dijadikan perisai.

Sebagai rasa suka cita, kedua kakak beradik ini saling adu ketangkasan memukul dengan tali dari kulit kerbau.

Kulit kerbau tersebut digunakan untuk alas dada (bik/semacam body protector) dan perisai (giliq), tali (larik) yang kemudian digunakan sebagai cambuk serta pelindung kepala (pangga)

Setelah kakak dan adik membuat dan memasang berbagai properti tersebut ke tubuh mereka, keduanya bertarung dengan senang. Selanjutnya tradisi ini diberi nama caci.

Makna cerita ini mempertegas bahwa caci bukanlah tarian atraksi saling unjuk kekuatan atau kecekatan, melainkan tarian yang menggambarkan keakraban dan persaudaraan. Tarian ini menggambar suka cita masyarakat Manggarai.

Menurut Servas Budiman, pemuda Manggarai yang tinggal di Kupang, dalam pertarungan oleh penari caci ini terkadang salah satu bahkan kedua penari mengalami luka serius atau berdarah. Namun, masing- masing tidak dendam. Sebab, tarian caci merupakan wujud cuka cita dan persaudaraan.

Sayangnya, banyak anak muda Mangarai yang tidak paham makna di balik tarian ini. Bahkan, makin sedikit anak muda yang mau memainkan tarian ini.
Menurut Budiman, anak-anak muda kini lebih menyukai hal-hal yang modern sehingga tari caci semakin kurang diminati.

"Kita sebagai anak muda Manggarai di Kupang berusaha agar tarian ini tetap lestari sehingga belajar dan terus membawakan tarian di Kupang. Ini juga sebagai bentuk rasa cinta kita pada bumi Manggarai," jelasnya. (alf)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 11 Lanjut...

Ling-Ling

Cerpen Christo Ngasi

AKU sendiri. Berteduh di bawah pohon evergreen. Sunyi tanpa ada yang menemaniku. Terlintas di pikiranku seseorang yang dapat mengisi waktu senggang ini. Pak Tono seorang penjaga sekolah tempat untuk diajak bercerita.

Aku tahu Pak Tono adalah seorang penjaga di sekolah kami namun ia adalah orang yang paling kami hormati. Aku menemuinya yang sedang mengurusi hewan peliharaannya.

Pak Tono menyambut aku dengan satu ungkapan yang sudah lasim digunakannya bagi kami. "Rokok ada Koh" itulah ungkapan yang selalu dilontarkan kepada seluruh siswa di sekolah. Dari kebiasaannya ini membuat kami tidak pernah lupa dengannya.

Dengan ruangan yang berukuran tiga kali empat itu, aku duduk bersama Pak Tono sambil bercerita tentang sekolahku ini. Aku baru tahu bahwa Pak Tono sudah bekerja seusia sekolah ini. Begitu banyak pengalaman yang ia ceritakan.

Ia mengatakan bahwa dulunya tetanggaku yang sekarang sudah cukup terkenal dan berpengaruh di kalangan masyarakat sebagai seorang anggota DPRD, juga tamatan dari sekolah ini. Namun, tambahnya lagi bahwa yang saat ini menjabat sebagai seorang kepala bagian di salah satu kantor juga tamatan dari sekolah ini, hanya tidak pernah ada sumbangan yang mereka berikan.

"Sungguh sayang menghasilkan orang yang tidak tahu membalas budi". Tandasnya kepadaku yang lagi termangu mendegar ungkapannya. Aku tersenyum dan Pak Tono menyambung ungkapannya lagi. "Kalau kamu nanti jadi orang besar seperti ayahmu, jangan seperti mereka itu. Ingatlah juga kami yang kecil ini". Tandasnya. Aku tersenyum dan mengangguk.

Sekolah sungguh sunyi semua siswa sudah pulang kampung untuk mengisi hari liburan. Tujuanku hanya satu yakni ingin bertemu sahabatku Peter namun aku terlambat karena Peter telah berlibur ke kampung.

Waktu bergulir aku tetap sendiri. Berlibur tanpa ada yang menghibur. Aku sadar bahwa aku adalah anak rumah yang tidak terlalu suka bergaul dengan teman yang lainnya. Itu sebabnya aku tidak memiliki banyak teman, selain Peter.

Aku mulai merasa jenuh berada di rumah, sendiri tanpa kedua orang tuaku yang menemani. Aku adalah anak seorang pengusaha yang serba berkecukupan, namun aku miskin dalam pergaulan.

Ayah dan ibuku kurang memperhatikanku. Mereka hanya mengurusi usaha dan bisnis mereka yang nantinya juga untuk masa depanku. Tapi aku tidak mengharapkan itu. Aku hanya ingin mereka dapat berbagi bersamaku.
Aku sadar bahwa aku membutuhkan orang lain sebagai teman untuk mengisi kesendirianku.

Aku memaksakan diriku untuk bisa bergaul dengan orang lain. Aku berlangkah keluar rumah. Pagar besi yang selalu membatasi gerakanku terbuka lebar-lebar.

Tampak seorang pemuda memegang bola menuju lapangan yang berada di samping rumahku. Aku mengikutinya dan sapaku, ""Hai kawan boleh gabung bermain bersama?".

"Eh, kamu anak siput!!! Koh baru keluar dari rumah siputmu?"

"Maaf aku bukan anak siput. Namaku Cang." Aku menyodorkan tangan ke arah pemuda itu.

"Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu, kawan. Namaku Antus."

Kami berjabatan tangan. Antus menendang bola ke tengah lapangan. Aku tak menyangka bahwa semua pemuda seusiaku berkumpul di lapangan itu untuk bermain bolakaki. Aku merasa senang karena dapat berbagi bersama mereka. Hingga sore tiba aku bergegas ke rumah.

Aku kembali memikirkan ucapan Antus kepadaku "Anak siput". Heran dan penuh tanda tanya akan semua ungkapannya itu. Aku keluar rumah dan melihat siput yang menempel pada pohon kayu. Memandang tanpa ada satu jawaban. Kembali dan diam sambil memikirkan perkataan Antus tadi "Anak Siput".

Tiba-tiba aku mendengar suara ayah dan ibuku. Mereka sudah pulang dari toko. Aku keluar kamar tapi tak kutemui mereka entah kemana aku tak tahu. Aku bertanya kepada seorang pekerja di rumahku.
"Mba Tina, ayah dan ibu tadi kemana" tanyaku.

"Bapa dan mama ke pesta nikah di hotel," jawab Tina.
"Lagi-lagi hotel." Aku berlalu dan melanjutkan pengalamanku bersama mimpi malam itu.

Dingin pagi itu membangunkanku. Aku menarik gorden jendela kamarku dan melihat bahwa siput itu tetap berada di tempatnya.

Aku mengerti akan ungkapan Antus bahwa aku tidak boleh seperti siput yang terus terkurung dalam rumah.

Aku menuju ruangan televisi tapi aku merasa bosan terus berhadapan dengan layar besar ini. Aku memutuskan untuk pergi menemui Antus.

Aku berlangkah tapi tak ada yang menghiraukan aku. Aku terus berlangkah malah ada yang mencibir "Jangan terlalu di rumah saja Koko, keluar sedikit supaya tahu suasana di luar rumah.

Masa terkurung terus!!!". Ungkapan keluar dari mulut seorang ibu. Aku hanya tersenyum dan terus menuju rumah Antus.

"Hai Kawan. Kamu dari mana" Tanya Antus kepadaku.
"Aku sengaja datang kemari untuk bertemu dengan kamu" jawabku menarik tanganya.

"Ah, yang benar saja. Di rumahmu semua sudah lengkap, apa lagi yang kurang. Kamu bisa buat apa saja yang kamu mau dibanding dengan aku, Cang" Antus tertawa memandangku.

"Tapi aku miskin dalam hal teman. Semua aku miliki, tapi kebahagian tak ada. Aku selalu dibatasi, orang tuaku sibuk dengan urusan bisnis. Kakakku juga sibuk dengan bisnis. Mereka semua tidak memperhatikan aku.

Apa yang kuharapkan dari mereka kian hari kian sirna. Aku bersyukur ada Mba Tina yang selalu memperhatikanku."

"Tapi itu semua yang dilakukan orang tuamu demi dan untuk kamu juga Cang." Antus kembali berucap.

"Memang itu semua untukku Antus. Kalau saja kamu berada dalam posisiku mungkin kamu akan mengatakan hal serupa".

Aku dan Antus saling bertukar kisah. Banyak pengalaman yang aku dapat untuk mengubah sikapku. Tak sadar bahwa seorang telah mendengar pembicaraanku dengan Antus. Ling-Ling, seorang gadis keturunan Tionghoa datang menghampiri Antus dan aku.

Aku gugup dan tak bersuara. Memandanginya hingga iapun menyapaku untuk meneguk minuman hasil buatannya.

"Ka, silahkan diminum". Tegurnya membuatku malu.
"Trims nona," balasku. Antus memperkenalkan bahwa Ling-Ling adalah saudari sepupunya. Jujur saat itu aku langsung jatuh hati. Tapi aku malu untuk bercerita dengannya. Antus kembali berkisah tapi aku terus menanyakan tentang Ling-Ling. Aku sangat penasaran. Aku sadar bahwa aku tidak punya nyali untuk berkata bahwa aku jatuh hati kepada Ling-Ling.

Pertemuannya singkat tapi aku tambah penasaran. Aku coba berbagi perasaanku kepada Mba Tina karena aku tahu Mba Tina adalah tempat aku berkeluh kesah. Jika dibandingkan dengan orang tuaku, Mba Tina adalah orang terdekat dalam hidupku. Maklum sejak aku bayi Mba Tinalah yang mengurusi aku hingga saat ini.

Aku bergegas dari tidurku, membersihkan badanku dan langsung menuju gereja untuk mengikuti perayaan misa minggu palem. Aku mencoba untuk menawarkan tumpangan kepada sebagian tetanggaku tapi hanya ungkapan terima kasih yang dilontarkan.

Aku bertanya dalam hati "Oh Tuhan apa salahku sehingga mereka tidak mau menerima tawaranku?". Aku berlalu dan menuju gereja.
Arak-arakan umat membawa daun palma begitu meriah diiringi dengan nyanyian "Hosana Putra Daud". Aku merasa begitu lain dalam hidupku. Tampak dari banyaknya umat Antus bersama Ling-Ling dan Meme adiknya serta kedua orang tuanya mengikuti arakan itu.

Aku mencoba untuk mendekati tapi tak bisa hingga memasuki pintu gereja. Misa begitu meriah. Selesai pemberkatan terakhir dari pastor, aku berlangkah keluar.

Meme gadis kecil lari mendekatiku dan memberi selamat. Aku tersenyum dan mencubit pipinya yang imut. Antuspun menyusul dan aku bergegas menemui orang tuanya untuk memberi selamat. Tak kusangka Ayah Antus bertanya kepadaku.

"Cang orang tuamu tidak ikut misa hari ini?"
"Aku hanya terdiam dan mengangkat wajahku lalu berucap. Ayah dan ibuku mengikuti misa di Paroki St. Mikhael."

Antus kemudian mengalihkan pembicaraan. Ling-Ling datang bersama Mema si kecil mungil dan menyodorkan tangan manisnya." Mat hari Minggu Ka" Aku balas dengan tersenyum. Waktu memisahkan dan aku pun berlalu bersama mobil kijang yang kukemudikan.

Siangpun tiba karena alur waktu yang mengiringi. Orang tuaku menghabiskan hari minggu ini untuk istirahat tapi besoknya pasti sambung kembali bisnis. Aku bosan dengan hidup seperti ini. Jalan yang kutempuh yaitu berani untuk keluar dari rumah dan bergaul dengan siapa saja, meski orang tua melarangku.

Terlebih ayahku yang sangat tidak menyukai aku bergaul dengan orang lain ini semua karena ayahku takut aku terpengaruh dari teman-teman. Namun lebih dari itu ayah takut kalau aku menghabiskan hartanya untuk bersenang-senang. Kini Antus menjadi teman dekatku, selain Peter.

Aku menemuinya juga sekalian untuk mengungkapkan perasaanku kepada adik sepupunya. Namun hanyalah kesia-siaan, Ling-Ling telah pulang ke Surabaya. Aku bertanya kenapa? Antus hanya mengatakan bahwa sepupunya hanya datang libur.

Hatiku sakit mendengar hal itu. Baru pertama aku merasakan jatuh cinta dan ingin terkabul perasaan ini namun pupus seketika. Aku pun beranikan diri untuk mengatakan bahwa aku jatuh hati pada sepupunya.

Antus mengerti akan perasaanku ini. Antus mengatakan bahwa Ling-Ling juga sering menanyakan tetang aku dan Antus mengatakan semua yang ia tahu tentang aku.

Aku tak dapat tinggal dalam posisi yang serba rumit akhirnya aku membuang pergi segala perasaan sakitku bersama bunyi ombak yang memecahkan karang.

Satu harapanu ke depan yaitu orang tuaku dapat memperhatikanku karena aku tak dapat melangkah tanpa restu dari mereka. Aku baru sadar bahwa semua yang mereka lakukan supaya aku dapat mengurusi diriku sendiri dan juga supaya aku mandiri.

Tapi itulah aku yang lain dari pikiran mereka. Semoga waktu dapat menjawab semuanya. Aku berjanji pada diriku untuk dapat mandiri sekali pun Mba Tina sudah pulang ke daerahnya Banyuwangi. Namun satu harapan yang tidak akan pernah pudar dariku bahwa kelak aku akan menemui Ling-Ling di Kota Surabaya.

* Kelompok Sastra St. Mikhael


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 06 Lanjut...

Puisi-Puisi Pion Ratulolly

Testimoni Puitik
(Sebuah Catatan Buat Bara Pattyradja)

Karena secara niat mulia
Maka berlayar hijralah kau
Dari tanah Prambanan
Menuju tanah karang

Satu tekad yang senantiasa kau bara dan kau patrikan
Bahwa puisi musti kokoh di atas karang
Puisi harus tegar di samping lontar
Puisi patut meraja di hamparan pasir

Maka karang berbunga puisi
Lontar berhelai syair
Pasir bertabur sajak
Demikianlah deklarasi batinmu yang satu

Revolusi sastra telah kau mulai
Proklamatik puitik telah kau kumandangkan

Kendatipun untuk semua itu
Kau kerap menghalau badai
Menentang gelombang
Bahkan sesekali terkaram
Di bibir pantai
Sunyi, sepi, sendiri
Dan akhirnya kau asing
Segala itu tak sejengkalpun menyurutkan langkahmu

Maka itu sambutlah testimoni kami
"Jiwa-jiwa kami rela mati demi puisi"
(Rumah Poetica 2008)



Embun
(Sekedar Kado Buat Fren)


Sahabat....
Setitik embun kembali menitik
Di pepucuk rimbun
Titipkan kegembiraan
Atas sebuah kemenangan

Reguklah, nikmati
Dan hapus segala dahagamu
Hingga hilang segala keru, segala penat

Tapi kumohon dengan amat
Kau tak lena
Sebab di pinggir kota
Si 'alif' masih memulung duka
Di sudut desa
Si Kiden masih menyulut nestapa

Sahabat.....
Lewat puisi kuketuk mata batinmu
Ku tahu kau merakyat
Maka rakyatah kami

Mari bahagiamu bahagiakan kami
Biar tak ada lagi sedu sedan
Hilang peluh jadi teduh

Sahabat.....
Sekalah air mata kami
Yang sepancawarsa telah menimbun
Hingga jadi mata air kasih sayang

Guyurlah kami dengan setitik embunmu
Agar tak ada lagi kemarau gersang
Di tanah karang

Sahabat...
Kutunggu kau di gapura mimpi dan harapan
Tentang arti berpuluh-puluh jiwa
Yang bersimpuh melata menanti bahagia
(Rumah Poetica, 2008)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 06 Lanjut...

San Diego Hills Lekebai

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

PUISI Karawang Bekasi milik Chairil Anwar disadur begitu saja, dan dibacakan dengan suara lantang. "Karawang Lekebai!" Waduh, memang orang kita selalu saja ada cara untuk menarik perhatian.

Yang pasti diyakininya adalah Chairil Anwar tidak akan marah puisinya Karawang Bekasi digubah menjadi Karawang Lekebai. Bukankah Bapak Frans Seda kini terbaring di Karawang? Bersama pahlawan perang yang diabadikan melalui pena pelopor Angkatan 45, jasadnya kini bersatu, dari tanah kembali kepada tanah.

"Karawang Lekebai.... Kami yang kini terbaring di antara Karawang Lekebai! Tidak bisa berteriak merdeka dan angkat senjata lagi... Kami Cuma mayat yang berserakan, tetapi adalah kepunyaanmu. Kenang-kenanglah kami, teruskan, teruskan jiwa kami... Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Syahrir, menjaga Frans Seda..."
***
"Bagus puisimu! Tetapi rasanya jauh amat ya," Jaki menyambung. "Karawang Lekebai. Langgar pulau dan langgar laut, jalur air, udara, dan darat panjang amat untuk sampai di Kerawang maupun untuk sampai ke Lekebai..."

"Antara Karawang Lekebai..." Rara masih melanjutkan puisinya. "Jika dada terasa hampa... Dan jam dinding kembali berdetak. Darat, air, dan udara adalah jiwa kami. Kami yang terbaring di antara nusantara... Kami adalah kepunyaanmu. Kenang-kenanglah kami... Teruskan, teruskan jiwa kami. Menjaga Frans Seda, menjaga El Tari, menjaga Bung Kanis Pari..."

Tepuk tangan meriah, begitu Rara selesai membacakan puisinya. "Apa yang dapat dikenang dari Frans Seda?"

"Banyak! Pejabat negara. Mantan menteri perkebunan, menteri pertanian, menteri keuangan, menteri perhubungan. Beliau juga menjabat sebagai penasehat ekonomi untuk tiga presiden, Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati. Dia adalah sosok nasionalis lintas agama, beliau adalah salah satu pengamat ekonomi yang diperhitungkan di tanah air! Dia pantas jadi pahlawan!"
***
"Saya akan menulis novel tentang Frans Seda. Judulnya Dari Lekebai ke San Diego Hills Karawang. Keren kan judulnya?

Variasi bunyi San Diego Hills dan Lekebai, kedengarannya gimanaaa gitu," kata Nona Mia. "Serasi dengan judul novelku yang lain, Dari Tebuireng Jombang ke Jakarta... Novelku pasti laris sekali nanti. Tetapi bukan soal variasi bunyi, pilihan nama, sosok-sosok tokoh ini yang akan kutulis."

"Apa yang akan kamu tulis?" tanya Benza.
"Sosok Frans Seda yang selalu memikirkan ekonomi kerakyatan!" Jawab Nona Mia. "Sosok yang terkenal bersih dari yang namanya kasus-kasus korupsi yang sekarang selalu menjadi wajah tanah air dan tanah NTT!"

"Beliau juga sosok yang selalu menghargai dan menghormati orang lain, siapa pun dia! Apapun latar belakangnya!"
"Sebagai sosok yang bersih apakah Frans Seda juga menghormati para koruptur? Apalagi koruptor yang meraup uang rakyat dengan sesuka kuasanya?"

"Hormat pada orang lain, itu pasti! Tetapi tentu saja beliau tidak mengajarkan kita untuk menaruh hormat pada keangkuhan, kesombongan, manipulasi, apalagi korupsi!"

"Apakah itu semua akan kamu tulis dalam novelmu?" tanya Benza.

"Ya!" tegas Nona Mia. "Hormat dan belas kasih itu tidak pernah memilih orang. Akan tetapi hormat dan belas kasih tidak dihadirkan untuk menghancurkan kebenaran. Apalagi berdiri tegak di atas kepentingan segelintir orang yang terang-terangan menggerogoti penderitaan rakyat.

Apalagi untuk membebaskan koruptor yang benar-benar terbukti mengkorup uang rakyat. Jadi setiap orang, tua muda, mesti bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan dan buah dari perbuatannya...baik ataupun buruk!"

"Itu akan kamu tulis dalam novelmu?"
"Ya! Novel pertama, judulnya Dari Lekebai ke San Diego Hills Karawang dan novel kedua Dari Tebuireng Jombang ke Jakarta..."
***
Lain lagi dengan Jaki. Dia membacakan puisi dengan judul Catatan Tahun 2010 yang disadur utuh dari puisinya Chairil Anwar juga. "Ada tanganku. Sekali akan jemu terkulai... Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut dan suara yang kucintai kan berhenti membelai.

Kita koruptor di buru. Yang pasti tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau diranjang...Kita koruptor diburu tidak tahu membaca Frans Seda di Karawang dan Gus Dur di Tebuireng..." Jaki berapi-api.

"Stop Jaki!" Rara marah. "Chairil Anwar marah besar kalau tahu saduranmu tidak memperlihatkan estetika puisi yang sebenarnya!"
"Namanya juga saduran, bebaslah! Lisencia poetika!" tangkis Jaki.

***
Selanjutnya, Benza menyampaikan kenangannya dalam bentuk pantun kepada Frans Seda dan Gus Dur Judulnya San Diego Hills Lekebai. "Jalan-jalan ke Tebuireng, pasti mampir di Jombang. Jalan-jalan ke San Diego pasti mampir di Lekebai. Kalau Gus Dur ke San Diego, jangan lupa Lekebai. Kalau Frans Seda ke Tebuireng, jangan lupa Jombang..."

"Wah, pantunmu kurang nyambung. Kasihan Gus Dur kalau diminta mampir ke Lekebai. Jauuuh sekali kan? Tebuireng di Jombang, gampang mampirnya. San Diego di Karawang bukan Lekebai, bagaimana cara mampirnya?" Protes Nona Mia. "Kalau punya duit sih oke saja. Tinggal terbang ke sana...kalau tidak bagaimana dong?"

"Oooh maaf," Benza memukul testanya. "Kukira San Diego Hills Karawang itu adanya di Lekebai...Maaf, sekali lagi maaf ya..." (*)


Pos Kupang Minggu 10 Januari 2010, halaman 1 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda