Abraham Kelly dan Erni Napoe


FOTO ISTIMEWA
Abraham Kelly beserta keluarga


Didik Anak Hidup Hemat

HIDUP hemat, sederhana dan memperhatikan pendidikan, serta takut akan Tuhan, merupakan konsep dasar yang ditanamkan oleh pasangan Abraham Kelly dan Erni Napoe, kepada anak-anak mereka sejak dini.

Pasangan yang menikah tanggal 7 Juli 1984, tidak ingin anak-anak mereka kelak menjadi anak manja dan tidak mandiri. Di sela-sela kesibukan tugas sebagai pegawai negeri yang sering ke luar daerah, namun keduanya tidak pernah membiarkan anak-anaknya sendirian. Komunikasi menjadi sangat penting bagi keluarga ini, apalagi anak-anaknya masih membutuhkan perhatian keduanya.

Pasangan ini memiliki tiga anak, pertama Riky Kelly, lahir di Kupang, 28 Oktober 2001, saat ini kelas III SD Kristen Tunas Bangsa Kupang. Anak kedua, Bela Kelly, lahir di Kupang, 23 September 2006 dan Musa Kelly, lahir di Kupang, 28 Februari 2007.

Kehadiran ketiga anaknya ini merupakan suatu anugerah luar biasa karena keduanya mendapatkan melalui pergumulan yang panjang selama 18 tahun perkawinan. "Kami melaluinya dengan pergumulan yang panjang selama 18 tahun dan baru tahun 2001 kami diberikan anugerah ini," kata Erni.

Wanita cantik yang saat ini mengurus anak di Biro Pemberdayaan Perempuan Setda NTT ini mengatakan, sayang anak di tengah kesibukan merupakan sesuatu yang sulit. Di satu sisi kehadiran anak adalah sebuah anugerah dalam rumah tangga, tetapi di lain pihak pekerjaan di kantor juga tidak bisa diabaikan.

Namun, sebagai ibu dan orang tua yang memiliki tanggung jawab besar harus mampu mengatur waktu dengan baik agar anak tidak diabaikan dan pekerjaan di kantor tetap dijalankan dengan baik.

"Kami sama-sama PNS dengan tugas yang banyak, pergi pagi pulang jam empat sore. Makanya kadang pagi berangkat sama- sama dengan anak, tetapi pulang anak sudah tertidur," katanya.
Untuk itu, kata wanita yang pernah menjabat Kepala Sub Dinas PLB di Dinas PPO NTT ini, mengatakan, komunikasi menjadi sangat penting dalam kehidupan mereka. Sehingga, bukan berapa banyak mereka bertemu setiap hari di rumah tetapi kualitas pertemuan tersebut yang sangat menentukan.

Manfaatkan Waktu
Keluarga ini biasanya memanfaatkan waktu pertemuan mereka pada pagi hari dan malam hari ketika makan bersama. Pada pagi hari biasanya diawali dengan ibadat pagi, makan pagi sebelum berangkat masing-masing ke kantor dan sekolah. Sedangkan pada malam hari mereka bertemu lagi untuk ibadat malam dan makan malam bersama.

"Saat pertemuan ini kesempatan bagi kami untuk menanyakan keadaaan masing-masing. Menanyakan anak soal pelajaran di sekolah, pekerjaan rumah dan sebagainya. Karena siang hari persis tidak bisa makan bersama di rumah. Kalaupun ada keluar daerah, biasanya saya menelpon anak-anak dan menanyakan keadaan mereka, sedang buat apa dan mengingatkan mereka untuk makan dan istirahat. Ketika masih kecil biasanya setiap ada tugas ke luar daerah, anak-anaknya selalu dibawa serta.

Walau biayanya besar dan agak merepotkan, tetapi bagaimana lagi anak tetap yang utama," kata Erni, yang mengawali kariernya sebagai guru SPG di Waingapu, Sumba Timur tahun 1982 dan hijrah ke Kupang sebagai guru di SMA Negeri 5 Kupang tahun 1985 ini.

Beri Sesuai Kebutuhan
Walau pasangan ini cukup mapan secara finansial, namun bukan berarti anak-anaknya dimanjakan dengan materi. Baginya ketiga anaknya dibiasakan untuk diberikan apa yang diperlukan anak dan bukan apa yang diinginkan anak. Jadi, yang benar-benar menjadi kebutuhan anaklah yang harus diberikan. Jangan heran kalau pada perayaan penting seperti Natal dan Tahun Baru tidak ada yang spesial bagi anak-anaknya.

Dan, ketiga anaknya sudah sangat terbiasa dengan kondisi ini dan mereka tidak pernah menuntut. "Saat perayaan-perayaan seperti ini kami tidak pernah membuatnya spesial, tetapi mengajarkan kepada anak bahwa setiap hari adalah sesuatu yang spesial. Membeli sesuatu untuk anak, bukan menunggu saat ada perayaan, tapi ketika anak membutuhkan pasti akan diberikan. Kami ingin anak- anak ini mengerti akan hidup hemat sejak dini," katanya.

Menurut dia, tiga hal penting yang ditanamkan kepada anak- anaknya, yakni membiasakan anak takut akan Tuhan dengan menjalankan ibadah setiap hari, hidup hemat dan pendidikan. Bagi keduanya, apapun yang terjadi pendidikan merupakan yang terpenting bagi anak-anaknya karena merupakan bekal dimasa depan.

Keduanya berprinsip tidak ada nasar khusus untuk anak di masa depan tetapi minimal menjadi yang terbaik dan berguna bagi diri sendiri, sesama dan Tuhan. Kesibukan yang padat mambuat keduanya berbagi peran di rumah sehingga tidak ada kesan mengurus rumah dan anak adalah identik dengan ibu. (nia)


Pos Kupang Minggu 3 Januari 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda