Agas Andreas, SH. M.Hum



Foto Edi Royanto Bau
Foto Wabup Agas Andreas di ruang kerjanya

Dokumentasi keluarga
Foto Wabup Agas Andreas bersama keluarga


Fokus Pada Kepentingan Masyarakat

SERING orang mengidentikkan politik sebagai tipu menipu atau segala usaha dengan segala cara untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Bagi sosok yang satu ini, politik, khususnya politik kekuasaan berarti keputusan untuk memilih satu dari sekian alternatif untuk melayani kepentingan banyak orang. Pilihannya masuk dalam kancah politik praktis adalah semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Berangkat dari aktivis LSM, koperasi hingga Ketua Komisi Ombudsman Perwakilan NTT, akhirnya membawanya ke arena politik.

Gagal di Pilkada Walikota Kupang 2007, tak menyurutkan niatnya untuk terus berkiprah di dunia politik yang akhirnya sukses menjadi Wakil Bupati Manggarai Timur. Banyak hal yang tentunya sudah dilakukannya selama 10 bulan mendampingi Bupati Manggarai Timur (Matim), Drs. Yoseph Tote, M.Si. Beberapa waktu lalu Pos Kupang berkesempatan mewawancarai Agas Andreas, S.H, M.Hum, di kediamannya di Borong. Berikut petikan wawancarannya dengan Pos Kupang.

Anda pernah pimpin Ombudsman?
Ya. Saya pernah (pimpin Ombusman) selama dua tahun. Di Ombudsman saya sebagai Kepala Kantor Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah NTT & NTB tahun 2005-2007.

Apa yang dilakukan di Ombusman selama itu?
Ombudsman adalah lembaga pengawasan pelayanan publik. Yakni lembaga independen yang mengawasi pelayanan publik. Di ombudsman, kami selalu bekerja maksimal demi perbaikan kualitas pelayanan yang maksimal kepada masyarakat yang membutuhkan. Bagaimana kita berupaya agar masyarakat memperoleh apa yang seharusnya menjadi haknya.

Berarti dari Ombudsman Anda mendapat inspirasi untuk ikut berpolitik?
Tidak juga. Saya ini orang akademisi, sebelumnya saya sebagai Dosen Fakultas Hukum (FH) Undana (Universitas Nusa Cendana) Kupang. Dosen FH Unwira Kupang dan Dosen Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Undana tahun 2005 sampai sekarang. Selain itu, saya aktif di berbagai LSM. Terlebih aktif di koperasi kredit (Kopdit) sejak tahun 1989. Saya menjadi pengurus koperasi daerah hingga pusat sehingga boleh dibilang banyak terlibat dengan masyarakat. Koperasi yang saya geluti juga bukan di Flores, tapi di Timor.

Lalu bagaimana Anda bisa masuk dalam ranah politik?
Jadi begini, yang pertama harus kita samakan persepsi tentang apa itu politik. Sering orang, khususnya Orang Manggarai, mengidentikkan politik dengan urusan tipu menipu. Tetapi, sebenarnya bagi saya, politik bukan semata-mata menjadi anggota DPRD atau bupati. Politik adalah pilihan dari sekian banyak alternatif. Koperasi juga politik. Artinya, saya memilih alternatif sebagai aktivis koperasi untuk memperbaiki ekonomi masyarakat. Ombudsman juga politik. Sama dengan petani, mereka juga berpolitik. Artinya, politik memilih untuk menanam. Mengapa mereka menaman kopi, padi atau vanili dan bukan jagung atau tanaman lainnya? Itu merupakan tindakan memilih dari sekian alternatif untuk kepentingan banyak orang, termasuk dirinya dan keluarga. Tapi dalam konteks politik kekuasaan, politik adalah usaha untuk meraih kekuasaan. Kita tinggal melaksanakan dan mempertanggungjawabkannya.

Soal pertarungan dalam Pilkot?
Waktu calon wakil walikota tahun 2007, saya tidak punya hitungan untuk masuk sebagai calon dan karena saya tidak pernah berniat untuk itu. Namun ternyata pilihan Al Foenay jatuh ke saya, dan saya masih ingat waktu itu tanggal 6 Januari 2006 saya dilamar.

Nyatanya tidak berhasil?
Setiap usaha pasti ada risiko. Risiko baik maupun tidak baik. Ada risiko gagal dan risiko berhasil dan bagi saya gagal di Kota Kupang adalah promosi. Dengan kegagalan itu, track record politik saya jadi meningkat. Kegagalan di kota (Kota Kupang), itu merupakan jembatan promosi.

Berarti Anda sebenarnya punya target untuk memimpin di Matim?
Tidak juga. Saya tidak pernah punya pikiran untuk kembali mengabdi di Matim. Namun setelah dipinang oleh Pak Bupati (Drs. YosephTote, M.Si), saya baru merasa bahwa saya layak untuk bertarung.

Kini Anda berhasil dan sudah 10 bulan mendampingi Drs. Yoseph Tote. Bagaimana rasanya?
Bangga dan puas.

Maksudnya?
Sudah 10 bulan ini saya mendampingi Pak Bupati. Tentu banyak hal yang telah kami lakukan. Saya bangga dan puas karena ada perubahan di Manggarai Timur ini. Meski perubahannya belum seberapa.


Anda dan Bupati sepertinya baik-baik saja?
Saya dan Pak Bupati adalah teman lama. Kami bisa memahami dari bahasa tubuh saja. Kami berpasangan karena kecocokan dan bukan kebetulan. Menurut saya, pasangan itu jangan dipaksakan. Bupati dan wakil adalah dwi tunggal (Dua menjadi satu). Artinya, meski jalan berbeda, tapi satu tujuan daripada satu jalan tapi tujuan berbeda.

Ada pembagian tugas antara Anda dan bupati?
Secara normatif, wakil bupati dalam Undang-Undang 32 adalah menjalankan fungsi pengawasan dan kesejahteraan sosial. Namun selama ini kami tidak melakukan pembagian tugas dan kewenangan. Prinsip kami, dalam diri bupati ada wakil bupati dan sebaliknya, dalam diri wakil ada bupati. Intinya jangan saling curiga. Dan, komitmen itu yang dibangun sejak awal. Komitmen untuk saling percaya. Yang kita khawatirkan bila ada pembagian tugas dan kewenangan, maka tidak menutup kemungkinan terjadi arogansi kekuasaan.

Bagaimana kalau terjadi tumpang tindih?
Tidak akan terjadi. Buktinya sampai sekarang semuanya masih baik-baik saja. Yang penting tidak ada dominasi kepentingan pribadi. Kami sering lakukan diskusi sebelum membuat keputusan yang besar. Yang paling penting adalah bagaimana kepentingan masyarakat yang diutamakan.

Pernah ada evaluasi antara bupati dan wakil bupati?
Tidak pernah ada. Kami hanya melakukan pertemuan yang sifatnya koordinasi dan diskusi untuk pengambilan keputusan bersama. Kepentingan masyarakat merupakan fokus kita.

Tidak pernah merasa disepelekan atau diabaikan?
Tidak. Seperti yang susah saya sampaikan, kami sudah saling memahami dan selalu fokus pada kepentingan masyarakat. Tidak pernah ada niat untuk saling mendominasi. Segala sesuatu selalu didiskusikan. Contohnya, pada awal pemerintahan, saya yang menjalankan pemerintahan. Karena setelah pelantikan, pak bupati harus ke Jakarta untuk mengurus segala keperluan terkait kabupaten baru ini. Saya harus menerima semua beban pekerjaan yang minim pengalaman birokrasi. Tapi semuanya dapat diatasi karena selalu berkoordinasi dengan bupati. Kami sering sama-sama turun kemasyarakat namun orang sering salah menafsirkan jadinya bias. Mereka sering tidak bisa membedakan antara fakta dan penafsiran. Saya sendiri tidak punya bakat untuk menyakiti orang lain ataupun menyepelekan orang lain. Saya yakin tidak orang yang ingin memecahbelah kita.

Bagaimana capaian program Anda dan bupati sementara ini?
Secara fisik, bisa dilihat sekarang. Sedikit ada perubahan. Kami sudah putuskan untuk mulai membangun dari batas. Kami harus memulihkan kepercayaan masyarakat. Mestinya, setelah kita menjadi bupati dan wakil harus memahami masyarakat. Kita bicara tentang pemerataan pembangunan namun yang terjadi sekarang justru masih jauh dari harapan kita.

Sinkronisasi program daerah dengan propinsi?
Ada. Khusus untuk koperasi, kebetulan saya sendiri berasal dari koperasi jadi saya berniat agar koperasi benar-benar bertumbuh dan berkembang sebagai lokomotif perekonomian masyarakat. Berbicara demokrasi ekonomi, wujudnya adalah koperasi. Koperasi sebagai sebuah perusahaan, dimodali oleh masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat masyarakat sendiri. Setiap kali ada kesempatan, saya selalu imbau agar setiap masyarakat termasuk PNS harus menjadi anggota koperasi karena sangat membantu. Sedangkan untuk program propinsi lainnya, akan tetap kita upayakan.

Sebagai wakil bupati, tugas Anda pasti banyak. Bagaimana Anda membagi waktu Anda dengan keluarga ?
Ya. Kalau mau dibilang memang tugas banyak. Mereka di rumah terkadang mengatakan, Bapak ini sepertinya tidak punya waktu lagi untuk keluarga. Namun karena sudah memahami kesibukan saya, mereka artinya mau mengerti juga. Artinya, biar bagaimanapun, dukungan keluarga itu sangat penting jadi saya tetap menyediakan waktu saya bagi keluarga, membangun komunikasi yang berkualitas antara anggota keluarga. (edi royanto bau)



Data Diri
1. Nama Agas Andreas, S.H.M.Hum
2. TTL : Lamba Leda, Manggarai, 1 September 1959 .
3. Jabatan : Wakil Bupati Manggarai Timur 2009-2014

Pendidikan
a. SD Katolik 6 Tahun Berijasah tahun 1973, di Lewe -Manggarai
b. STP Katolik Berijasah tahun 1976, di Ruteng
c. SMA Muhamdyh berijasah tahun 1980 di Ende
d. Sarjana Hukum Undana Kupang tahun 1987
e. Magister Humaniora berijasah tahun 1995 di Program Pascasarjana Universitas Airlanggga Surabaya


Isteri
Dra. Theresia Wisang
Anak
1.Pranata Kristiani Agas (26)
2.Rolandus Vanni Agas (23)


Pengalaman organisasi
a. Senat Mahasiswa FH Undana tahun 1981-1983
b.Anggota dan Pengurus Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Fransiskus cabang Kupang tahun 1981-1985
c. Anggota dan pengurus Koperasi kredit tahun 1989 hingga sekarang

Pengalaman pekerjaan
a. Dosen Fakultas Hukum Undana 1988 sampai sekarang.
b. Dosen Fakulatas Hukum Universitas Widya Mandira Kupang tahun 1996 sampai sekarang
c. Dosen Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Undana Tahun 2005 sampai sekarang
d. Kepala Bidang Penyuluhan LPM Undana Tahun 2000-2002
e. Kepala Kantor Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah NTT & NTB 2005-2007


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 03

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda