AMBISI

Cerpen Januario Gonzaga

MENURUT mereka hidup itu perubahan. Kalau aku, hidup itu sebuah ketetapan. Meski ada perubahannya, toh akan tetap juga. Tapi ada mereka-mereka yang bilang itu horrible (mengerikan). Terutama untuk idealis. Takkan ingat kalau jauh mengejar ada buntut. Apalagi terus-menerus. Akan lupa kembali seperti kedua teman kelasku. Tak kunjung tiba pasti itu.

Ujung-ujung terseret, menurut kebanyakan orang. Ironinya lebih dari menekuk baygon karena putus apa-lah. Lebih, menggelegar karena apalagi aku yang dikejar. Manusia gila itu aku. Bukan tampan dan tajir lekat padaku (he...maunya puji diri). Hanya satu. Tempurung akal mereka tidak dibuat memadai manampung siapa aku. Jadilah di suatu sekolah kami musuh bebuyutan. Akhir semester dikira-kira aku ber-target gede.

Tidak koq, biasa saja. Nah justeru tingkahku itu yang jadi inisiasi rival abadi buat Rini dan Reva. Kalau bukan tujuan sombong, aku hanya bilang sama orang tuaku soal bintang kelas tahun-tahun lampau. Arogansiku tak pernah kutuang di gelas memori entah satu pun temanku. Tapi mereka berdua seperti menganggapku manusia dari masa depan. Sulit ditangkap, dipecahkan, ditebak. Pastilah benarnya. Lebih-lebih karena aku suka-suka, apa mauku. Riang dan gembira menyongsong tantangan. Kecil soal belajar di sekolah.

Entah rumit berpelajaran, dosennya men-tremendum (menegang)-kan. Hati senang ikut akan lebih menarik dari menonton sirkus matador, percaya teman-teman. Hitung-hitung itu prinsipku. Bagi mereka seperti tambahan serangan ganda di perang Mafia Wars ala facebook. Kenapa kamu tidak ikut les privat sama kita?” Aku tidak punya uang untuk membayar guru-guru itu”. Mungkin benar juga, adakalanya orang-orang pintar sulit beralih topik dari hal prestasi, nilai, prediksi, hingga tebak soal.

Tidak sama dengan kelompok lain di kelasku. UTS (ujian tengah smester) remeh dari liga champion. Hebat yang lain beri komentar film-film up date. Aku suka itu. Semua kelompok tentu aku masuk. Ulahku pernah dikomentari begini, Kamu ini seperti bunglon saja. Kapan-kapan mau jadi pemain bola kaki, voli, pemusik, diskusi” Biasalah, itu duniaku. Tambah asyik lagi kalau bersatu dengan kelompok seer atau peramal zodiak. Setiap matahari setengah bercahaya kami sudah berhamburan ke luar kelas. Di atas sana langit bergelantung seperti diretaki orang. Ada hole (lubang) yang biasa menarik para ilmuan. Kami juga mau melihat selebar mana lapisan ozon bumi terkelupas. Ikut berdiri guru-guru dan kepala sekolah.

Tapi bagi anak se-kuno kami tidak ada tambahan arti selain terkagum-kagum pada ekor burung Kaswari yang terbang ke sana ke mari. Aku nimbrung bersama teman-temanku yang suka melukis. Mereka melukis bagaimana burung-burung itu mengibas sayap beratnya. Beberapa lagi mulai beramal sio monyet, sio macan,dll. Di ujung teleskop buatan Jepang bertukar-tukar mata Rini dan Reva melotot kecil-besar. Mereka mati- matian membuka dan mencatat rumus-rumus disertai petak-petak dahi peerlambang para jeniuswati. Sampai juga di muara terangguk-angguk anak-anak kelas. Sungguh luar biasa mereka.

Rini, palingan itu rumus heliosenteris” Aku mau terpingkal tertawa. Tapi sontak sebuah berita menampar lebih dulu di bidang telingaku. Panas pada daging hati seperti melompat turun. Pikiranku mengatung seolah bersemedi. Aku kehabisan suara menyambung apa yang bisa kujawab. Lalu Reva dan Rini tertawa puas bergelombang-gelombang.
* * *

"Buat apa kita harus membeli terus ma?. Semua itukan hanya untuk guru-guru saja. Masa si Beni anak pak Tanto guru sejarah itu tidak mengeluarkan uang sesen pun.” "Tapi nak, daripada kamu diperingati dan ibu dipanggil terus, malu” "Coba kalau ayah masih ada. Pasti sudah didemo sekolah maksiat itu”. Aku membatin setelah berdebat dengan mama. Memang wanita sukanya berdamai saja. "Nak, kalau kamu tidak mematuhi nasihat mereka, ibu ini yang rasa sakit.” Aku bergegas pergi sebelum akan kulihat sakit ibuku kambuh lagi. Air matanya yang tertampung setelah ayah meninggal sekira-kiranya akan tumpah berbanjiran di bekas-bekas lukanya. Itu buruk seperti juga fatal buat kesehatannya. Aku berlalu. Ke sana, ke tempat yang mengertiku. Gerak dedaunan memanggilku buat menghirup oksigen dari kandungnya. Di samping mereka lukisan musim kemarau sudah tersketsa. Daun-daun kuning tak kalah bercerai-cerai dari pucuknya dipapah. Pandangan dari jauh seperti memaksaku menumpuk ranting sisa di batang kerongkonganku. Kerongkongan yang kupakai untuk menelan berlaksa kecemasan tiada duanya.

"Carlos…”Beberapa kali aku mendengar teriakan ibu. Kubiarkan saja suara itu mengalir di antara noktah udara yang membelah pohon-pohon angsono. Seberapa detik lalu. di kaki langit mentari sudah bersarang. Aku berlangkah kecil menuju rumah. Sudahlah nak…ibumu ini bersalah. Ibu seharusnya terus bekerja” "Tapi ma, itukan sebagai pembantu. Majikannya jahat. Suka perintah sana-sini, padahal mama masih sakit”. Untuk beberapa semester aku masih bisa bertemu kawanku. Itu karena mama berusaha untuk betah bekerja pada orang tua Rini, teman sekolahku. Sang jenius berbakat. Tapi kemudian, persaingan di sekolah berimbas juga pada mama. Rini, dan orang tuanya menganggap mama seperti sampah. Sampai suatu hari aku harus tergopoh-gopoh membawa mama ke rumah sakit mengobati luka di dagunya. Mama memang sering beralasan baik-baik saja. "Nak, katanya kamu dapat beasiswa?” "Terlalu tinggi uangnya ma?”

"Lha, itu mesti disyukuri” Ah, mereka pikir dengan uang sebesar itu bisa menghilangkan tipu muslihat mereka selama ini? Mereka sengaja menaikkan angkanya biar kami senang. Padahal sudah berapa bunga di bank sana. Sepersekian persen mereka petik, tertimbun entah di mana”. Aku melihat mama seperti menyesali keputusan omonganku. Walau dalam lubuk hatinya kurasa ada kerinduan untuk menyanjungku, tapi situasi paceklik ini tak mengizinkannya.

"Nak, ibumu ini hanya berdoa” Kata-kata itu semakin dalam. Katanya, beliau tidak pernah bermimpi menjadi seorang ibu yang gagal. Anak-anaknya harus bersekolah tinggi. Harus sukses. Tapi apa yang terjadi. Toni, Santi, Rudi, Bapak, hilang disambar misteri kemelaratan. Tersisa aku. Seseorang yang tak pantas memandang hidup lebih lama. Tapi karya Tuhan toh lain pula. Aku tak kuasa menahan cerita mama yang terus meninggi. Air mata tiada berhenti. Mengalir deras memperlebar luka di sini, di hati. "Mama cukup” Belum habis kataku, mama sudah terpelanting. Serasa ia menelan kata-katanya sendiri. Tersendat membeku hanya di mulut, tanpa bunyi.
* * *
Awal begini serasa mati. Sunyi meredam. Auraku dulu tak tereka lagi. "Iya, sih Carlos sudah pindah sekolah. Kata guru-guru, dia ke sekolah bergengsi. Nilainya bagus” Sulit kalau terlanjur digandrungi. Setiap apa selalu didetail-detailkan. Sampai juga di benak dua saudara kembar ambisius. "Kita jangan tertinggal oleh si jenius itu.” Santer benar sekolah baruku. "Itu sekolah internasional, teman. Kita mesti menjalankan skenario.” Mulailah adegan wanta-wanti penumpasan. Setiap bersulang mantra takluput namaku dialakadbra hingga disumpahi.

"Tunggu Carlos. Kepintaranmu akan kami hancurkan.”. Mereka bersikeras mengejarku hingga ke kolong-kolong manapun. Sebenarnya banyak orang lebih memilih mati bila dalam keadaan ini. Tapi memang, kehilangan sering membuat segalanya kosong, bahkan kematian pun terasa tak ada. Di situlah aku riang menjalani apa yang oleh dunia katakan, hidup. Hanya niscaya yang kalaupun ada tak sempat memopongku. Kumal pakaian di tubuh ini. Aroma nafasku menyengat deras seperti angin sesudah bencana El-Nino.

Tak terurus lagi rambutku. Herannya, buruk-buruk rupaku itu tak menyurutkan ambisi Rini dan Reva. Kata mereka, aku sudah menemukan rumus-rumus hebat hingga berburuk rupa. Setelah mendapatkanku, kami bergulat lagi dalam atmosfir sengit. Bersaing mati dan hidup. Tak hirau hilang yang menimpa mereka. Tak hirau bila waktu tak lagi kembali. Juga cemas orang tua mereka berlalu terserah. Nak, ini bukan sekolah. Kalian harus kembali” Berpuluh-puluh kali mereka diajak pulang. Namun kalimat itu justeru semakin membakar semangat juang mereka.


Lagi-lagi, aku dipikirkan sebagai manusia super-intelektual. Hingga aku tak mengira jika hari-hari seterusnya mereka tak lagi menyadari apa yang mereka lakukan. Sementara ibuku, lukanya muntah-muntah di mulut dan pikiranku. Bernanak, menyedot semua tenaga tuanya. Sampai-sampai aku dibuatnya sulit membedakan mana mati mana hidup. Sedang aku terus meladeni ambisi kedua orang itu dengan keadaanku yang tak manusiawi lagi. Mungkin aku semirip infrahuman. Serupa bekicot atau udang-udang dungu di sungai.

Tapi ini gara-gara mereka, orang tua mereka. Kami tercebur dalam dunia pesakitan. Dunia yang dikira tempat berebut kesempurnaan. Dunia yang mereka sangka sekolah orang pintar. Padahal, di sini hanya sebuah rumah bagi kematian tertunda yang nyaman untuk bisa melupakan kepergian mama ke keabadian.


Komunitas Sastra Seminari Tinggi St. Mikhael.


Pos Kupang Minggu 3 Januari 2010, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda