Guru Dadu dan Generasi Sumba

Cerpen Christo Ngasi

DI UJUNG barat Pulau Sabana aku terkatup bak seorang anak yang baru terlahir dari rahim sang bunda. Diam tampa tangis seakan ada tanya untukku. Seorang bapa lewat di hadapanku dengan busana adat sumba. Sejenak ia terhenti dari langkahnya dan memandangiku. Dia tak tahu ingin menanyakan apa kepadaku. Dibuangnya ludah sirih pinang yang memerah dari mulutnya dan seketika mengena pada kakiku. Aku tetap terdiam. Bapa itu kemudian menyodorkan kaleku pamamanya kepadaku sambil berucap.

"Anak...apa yang kamu pikirkan di sore tak berawan ini?" tanya bapak tua tadi.
"Ama, kalau saja ada mendung pasti hujan akan segera turun membasahiku di tengah keringnya padang ini. Aku sedang memikirkan pelangi, akankah ia masih memberi warna dalam hidup ataukah justru mengeringkan hidup ini," jawabku sambil memandang langit sore itu.

"Anak, kamu senang berpantun tentang tanahmu ini. Bapa hanya bisa berpantun saat ada upacara adat kematian atau kawin tidak lebih dari itu. Dulu, saat muda, bapa ingin menjadi seorang guru, namun karena adat yang terus menuntut membuat bapa harus lepaskan SR dan membantu orang tua mengurusi kebun kelapa dan hewan," bapa itu sedikit berkisah.

"Ama, aku hanya sedikit bisa berpantun karena aku ingin tanahku ini bisa menghasilkan seorang guru seperti Guru Dadu." Dengan tenang bapa tadi mengangkat Kalekunya dan berlalu dariku. Aku hanya punya satu cita-cita yakni menjadi seorang guru seperti Guru Dadu. Guru Dadu adalah orang pertama di kampungku yang menjadi guru namun aku sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung hanya dapat memandang wajahnya pada selembar foto hitam putih yang terpajang dirumah adat suku kami.

Ama Paila pernah bercerita bahwa Guru Dadu adalah orang pintar yang dibiayai oleh seorang pastor untuk bersekolah di Batavia dan menjadi guru. Ia juga berkisah bahwa Guru Dadu pandai berpantun, namun sekarang ia tinggal di Batavia menjadi seorang pensiunan guru.

Langit sore itu memerah di ujung barat Pulau Sumba. Hingga kini hujanpun tak kunjung datang. Aku bergegas menunggang kuda dan mengiring kerbau menuju kandang. Ini adalah kebiasaanku tiap pulang sekolah untuk menggembalakan kerbau dan sore harinya memasukkan ke kandang. Bagi anak-anak di kampung tidak ada kegembiraan selain menggembalakan hewan. Sore ini pertanda bahwa malam akan menghadirkan terang bulan. Hampir semua anak kampung mulai menyiapkan gasing untuk bermain pada purnama malam nanti. Terang bulan adalah kesukaan anak-anak di kampungku.

Inilah kesempatan bagi kami untuk bersuka ria, berkejaran mengelilingi api unggun. Tapi bagiku tidak sebatas itu! Terang bulan adalah harapan bagiku. Terang bulan adalah jiwa yang senantiasa mengarahkanku pada kesempurnaan. Madah seorang anak kampung yang ingin seperti Guru Dadu. Satu kesempatan kampungku dikunjungi oleh beberapa orang tamu. Masih teringat baik olehku salah satu dari mereka adalah seorang wartawan. Ia tinggal di rumahku tiga hari lamanya. Makan bersama dan juga sempat bersamaku menggembalakan kerbau.

Wartawan itu pernah berkata kepadaku. "Adik kamu harus bisa seperti Guru Dadu yang di Jakarta. Beliau orang pintar, aku adalah bekas murid SD dari bapa Guru Dadu." Aku saat itu seakan ingin terbang bersama kuda tungganganku. Saat itu suasana kampung sungguh berbeda dari hari biasanya. Kedatangan tamu sungguh merupakan kehormatan tersendiri bagi kampungku.
***
Bergantinya terang bulan bersama lajunya waktu di ujung barat tanah ini, membuat aku bertumbuh sebagai sosok generasi baru dari kampungku. Pertengahan Juni tahun 1974 aku bersama ketiga temanku mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku SLTP Katolik yang dikelola oleh pastor asal Jerman, kami biasa menyebut mereka Orang Barat. Itu adalah masa kami penuh dengan tantangan dan perjuangan.

Kejujuran dan kerja keras itu adalah bagian dari hidup kami yang tak terlepaskan. Saat itu aku baru sadar ketika salah seorang guru geografi yang berasal dari Pulau Flores mengatakan bahwa tanahku tidak memiliki budaya moke. Jadi, ketika melihat generasi seusiaku yang menghabiskan masa muda dengan mabuk-mabukan aku langsung teringan kata guruku dulu.

Banyak ilmu yang aku peroleh. Selesai menamatkan SLTP aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang guru dan ayahku sangat menyetujui, saat itu sungguh guru adalah orang yang terpandang dan sangatlah berpengaruh di kalangan masyarakat. Aku diperhadapkan pada persoalan keluarga yang membuat semangatku sedikit terhenti untuk menjadi seorang guru. Ayahku sungguh mendukung untuk aku menjadi seorang guru namun paman dan keluarga yang lainnya tidak menyetujui.

Banyak harapan yang keluarga tanamkan padaku untuk kelak dapat menjadi seorang pegawai pertanian dan dapat memperhatikan sawah serta kebun kelapa yang menjadi mata pencaharian sehari-hari. Aku dilema namun tetap pada pendirianku. Ayah selalu menguatkan aku. Aku tahu bahwa pamanlah yang berkuasa atasku, namun orangtuaku adalah segalanya. Aku mencoba untuk memberikan pengertian kepada keluargaku supaya dapat mendukung aku dan pamanlah yang menjadi kunci semuanya.

"Bili, untuk apa kamu jadi guru. Apa yang diharapkan darimu kelak," ungkap paman sambil mengurusi sapinya yang baru beranak.

" Ini adalah pilihanku paman. Aku ingin mengajar sama seperti guru Dadu yang di foto itu," jawabku dengan kepolosan.

"Guru Dadu? Paman seketika terhenti dan memandangiku lalu menyambung ucapannya. Bili meski fotonya terpampang di rumah adat kita dan menjadi bahan tontonan serta panutan orang kampung namun bagi paman tidak ada rasa simpatik. Tidak ada yang diharapkan darinya. Setelah jadi manusia dengan enak melupakan kampung tempat ari-arinya dikuburkan. Apa yang dibangunnya untuk kampung ini.

"Tapi Paman, ini adalah cita-cita saya dan guru Dadu membuat saya tetap bersemangat. Guru Dadu sudah membuka jalan untuk aku dan cucu Paman supaya kelak dapat menjadi Guru dan dapat membuat pintar generasi berikut. Coba Paman lihat sudah cukup banyak yang Guru Dadu berikan untuk kampung ini meskipun belum pernah ia datang ke kampung. Bendungan yang dibangun untuk mengairi air ke sawah paman, generator untuk penerangan, traktor untuk mengemburkan tanah dan rumah adat yang dibangun ulang." Aku sedikit membela Guru Dadu.

"Paman tahu hal itu, sebelum kamu lahir bendungan sudah ada hanya dipugar ulang saja. Billi kalau itu cita-cita kamu silahkan teruskan saja. Paman tidak beri sesuatu yang lebih hanya ini saja yang paman punya silahkan kamu jual untuk biaya sekolahmu." Paman menunjuk ke arah kebau yang sedang diikat.

Aku senang karena paman sudah mendukung cita-citaku menjadi seorang guru. Keputusanku untuk lanjut di SPG akhirnya terkabulkan. Bersama waktu yang berlangkah akupun berjalan melewati masaku di SPG hingga akhirnya tamat dan menjadi seorang guru bantu di salah satu SD Katolik di Kota Waitabula. Impianku untuk menjadi seperti Guru Dadu akhirnya terkabulkan.

Tak terbayangkan olehku bahwa kelak aku akan bertemu bersama beliau. Setelah dua tahun mengajar aku mendapat kesempatan lagi untuk belajar di perguruan tinggi Katolik di Kota Yogyakarta. Bersama dua orang teman dari Sumba, aku menghabiskan sarjanaku dalam kurun waktu empat tahun.

Rindu pada Sumba sungguh membuat aku berusaha untuk membawa satu hal yang baru dari kota ini. Sehabis studi aku pulang dan melanjutkan mengajar pada sebuah SD di pedalaman. Aku sangat bangga karena aku adalah generasi yang cukup berhasil dari kampungku. Guru Dadu memberikan semangat untukku meski aku sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung.

Waktu berjalan dan akupun mulai menunaikan tugasku sebagai seorang guru. Dalam tugas pelayananku sebagai guru aku mulai berpikir untuk meminang salah satu gadis desa yang bekerja dibidang kesehatan. Perasaan cintaku pada Martha membuat aku berani untuk mengatakan. Saat itu tak ada kepalsuan untuk mencintai orang.

Perasaanku mendapat respon dari kedua orang tuanya. Menikah pada zamanku dulu adalah satu kesiapan untuk membentuk rumah tangga. Keputusanku sudah matang untuk mengambil Martha menjadi istriku. Tanpa Aku duga Guru Dadu sosok yang aku dambakan turut hadir pada acara pernikahanku saat itu.

Aku heran tapi nyatanya Guru Dadu hadir karena diminta oleh PEMDA untuk membawakan seminar tentang peranan guru saman ini. Waktu kunjungan Guru Dadu ke kampung bertepatan dengan hari pernikahanku dan Guru Dadu hadir saat itu. Ia bangga karena aku adalah generasi kedua dari kampungku yang menjadi seorang guru. Satu kalimat yang ia katakan, "Mengapa generasi Sumba tak ada yang berminat jadi guru?" Lalu ia kembali menyambung mungkin karena terlalu luhur.

Zaman sekarang orang banyak mengejar uang dengan menipu karena itu pekerjaan paling gampang."

Terkesan dan menambah motivasi itulah yang aku alami saat itu. Kini Guru Dadu menggenapkan keinginanku untuk bertemu dengannya untuk kedua kali ia sudah dalam keadaan kaku dalam peti mati di tanah Jawa. Satu penyesalan bagi kampungku karena Guru Dadu tidak dikubur di Sumba.

Namun aku menyaksikan bagaimana nuansa adat kematian orang Sumba dapat ditampilkan di tanah Jawa. Kini foto hitam putih seakan menjadi ikon yang terus diabadikan untuk mengenangya. Dalam kalimat terakhir, Guru Dadu mengatakan bahwa ia sangat rindu untuk melihat anak-anak Sumba menjadi guru. (Untuk Almarhum Guru Dadu, Kelompok Sastra Seminari Tinggi St. Mikhael)


Keterangan:
---------------

* Kaleku pamamanya; tempat menyimpan sirih pinang.
* Ama; panggilan untuk orang tua laki-laki.
* Gasing;alat mainan yang terbuat dari kayu.
* Orang Barat; panggilan untuk orang asing.
* SR; Sekolah Rakyat.
* Guru Dadu; Nama Guru pertama dari sebuah kampung di SBD.
* Batavia; Jakarta.
-----------------------------------------------------------------------------------


Pos Kupang Minggu 10 Januari 2010, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda