Gus Dur 2010

Parodi Situasi oleh Maria Matildis Banda


"APA yang paling dikenang dari Gus Dur?" Demikianlah topik renungan rohani yang disyeringkan menjelang tahun 2010. Masing-masing mencari jawaban pasti. Demikian pula bagi Jaki yang baru saja lulus PNS.

Dia berupaya mendapat jawaban yang tepat. Meskipun pada dasarnya dia tidak suka sama Gus Dur -gara-gara pamannya dicap anak taman kanak-kanak, ketika duduk di kursi senayan tahun-tahun bersama Gus Dur dulu- dia tetap ingin memberikan jawaban terbaik.

"Taman Kanak-Kanak!" Demikian jawab Jaki. "Gara-gara anak TKK, sampai sekarang aku masih marah. Masak sih Gus Dur cap pamanku sama dengan anak TKK. Lucu sih lucu, tetapi malunya itu. Muka ini mau taruh dimana?" Kata Jaki. "Sebagai PNS aku marah! Soalnya temannya eksekuif itu legislatif bersama yudikatif bukan?"

"Ha ha ha, Jaki... Jaki! Baru satu hari jadi PNS dan masih calon lagi, kamu sudah keluarkan jurus defensif menanggapi kritik Gus Dur!" Potong Benza.

"Kenapa mesti marah? Aku justru sangat bersyukur dicap anak TKK! Namanya juga anak-anak, lugu, polos, jujur, bersih, suci dan sejenisnya, bukan? Ambil hikmahnya sajalah. Bahwa dalam hal-hal tertentu kita yang sudah tua ini, perlu dalam tanda petik menjadi anak-anak!" Sambung Nona Mia.

"Apa? Mana ada lugu polos jujur bersih suci pada jaman sekarang? Itu kuno! Pokoknya aku tidak mau pamanku dicap TKK, masak orang besar seperti pamanku dicap anak-anak! Maaf saja ya!"
***
"Yang paling kukenang dari Gus Dur guyonannya tentang pertanyaan presiden kepada Tuhan tentang AS, Inggris dan Indonesia. Presiden tanya kepada Tuhan, kapan AS makmur? Tuhan menjawab sepuluh tahun lagi dan presiden As pun menangis. Kapan Inggris makmur? Tony Blair bertanya dan Tuhan menjawab, 15 tahun lagi. Tony Blair pun menangis.

Kapan Indonesia makmur? Tanya Presiden Soeharto. Aduh, gantian Tuhan yang menangis tanpa mampu menjawab". Nona Mia bercerita dengan wajah gembira soal kenangannya tentang Gus Dur.

"Wah, guyonan Gus Dur menyakitkan hati," Jaki memperlihatkan wajah empat lima. "Kira-kira Tuhan menangis kenapa ya?"

"Tuhan menangis terharu, sedih, gembira, jawabannya ada padaku, padamu, pada Benza dan Jaki," jawab Nona Mia. "Kalau aku langsung tahu kenapa Tuhan menangis! Rasanya Tuhan menangis karena karena orientasi Indonesiaku hanya jadi PNS. Berkali-kali testing, testing berkali-kali, tetap tidak lulus. Mungkin Tuhan sedih melihat orientasi Indonesiaku hanya menunggu dan menunggu dari tahun ke tahun!"

"Kamu sudah berapa kali testing?" Tanya Rara.
"Tiga kali!"
"Aku sudah tujuh kali," jawab Rara. "Mudah-mudahan tahun depan aku lulus testing. Ya, biar bisa pakai seragam PNS seperti Jaki dan Benza.

Selamat ya Jaki kamu sudah lulus," Rara langsung mengucapkan salam kepada Jaki. "Tahun baru yang membahagiakan, bukan? Tahun baru, status baru, wah serba baru nih!"

"Tentu saja!" Jawab Jaki bangga bukan main.
"Apa cita-citamu?" Tanya Benza.

"Pokoknya aku sudah bisa utang sekarang. Maksudku bisa utang dengan tenang. Bisa lebih gampang kredit, bisa lebih gampang pinjam sana-sini, karena aku sudah punya jaminan. Hmmm aku bisa utang dan bisa cicil setiap bulan! Mudah-mudahan kelak aku juga bisa nyambi kerja sana-sini karena punya banyak waktu. Itulah cita-citaku!" Jaki bangga bukan main.

"Tuhan pasti menangis sedih sebab orientasi Indonesiamu mirip Century?" Kata-kata Rara terlontar dan Jaki marah bukan main, dan terjadilah adu jotos pada malam tahun baru.
***
"Bagimu sendiri, apa yang paling dikenang dari Gus Dur!" Tanya Nona Mia kepada Benza.
"Matanya yang buta," jawab Benza. "Dia melihat dengan hatinya yang sungguh-sungguh bercahaya. Sebagai PNS yang sudah mengabdi masyarakat bertahun-tahun, aku ingin belajar dari Gus Dur untuk terus-menerus melatih menyebarkan cahaya hati dalam kerjaku, dalam pelayananku. Apalagi sebagai penyuluh yang terlibat langsung dengan pemberdayaan masyarakat. Tahun 2010 ini aku ingin mata kepalaku dan mata hatiku lebih melihat dan lebih memikat..."

"Pasti kamu sudah tahu Tuhan menangis terharu karena orientasi Indonesiamu benar-benar mengabdi..." Rara mengejab-ngejabkan mata.


"Waduh! Itu terlalu tinggi. Aku ingin biasa-biasa saja, sebab aku bukan Tony Blair dan sejawatnya yang masuk dalam guyonan seru versi Gus Dur!" Benza menjawab. "Kamu sendiri bagaimana? Apa kenanganmu tentang Gus Dur?" Tanya Benza kepada Rara.
***
"Kuburannya! Gus Dur pulang kampung halaman, itu yang paling menarik bagiku," jawab Rara pasti. "Aku bisa berziarah ke Pesantren Tebuireng di Jombang, kampung halamannya Gus Dur..."

"Tuhan pasti menangis gembira karena orientasi Indonesiamu yang berpijak di bumi tempatmu tumbuh dalam kearifan kampung halaman..."

Selamat memasuki tahun 2010 bagimu, bagiku, bagi kita! Semoga Jaki Rara Nona Mia dan Benza memiliki kesempatan pulang kampung halaman dan menemukan kembali kearifannya demi motivasi hidup 2010. *


Pos Kupang Minggu 3 Januari 2010 halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda