Jagung Bose

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa


SORE itu ibu tampak sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Seperti yang sudah dijanjikan, nanti malam Paman akan mampir dan makan malam di rumah.

Selama ini Paman tinggal di Jakarta, namun karena tugas dari kantornya maka dia berkesempatan datang ke NTT. Di sela-sela urusan kantornya itulah Paman menyempatkan diri untuk mampir di rumah sekedar bertemu dan melepas rasa kangen dengan ibu dan seisi rumah.

Melihat ibu bekerja sendirian, Ginsha pun menuju dapur untuk membantunya..
"Masak apa Bu untuk malam nanti?" Ginsha ingin tahu.
"Ibu memasak jagung bose," jawab ibu.

"Jagung bose? Apa tidak salah Bu, kita menyambut tamu dengan jagung bose?" Ginsha heran mendengar jawaban ibu.
"Apa salahnya Ginsha? Bukankah itu makanan khas kita masyarakat NTT? Lagi pula Paman sendiri yang menginginkan ibu memasakkan jagung bose untuknya. Menurut Paman, dia kangen dengan rasa khas jagung bose," tutur ibu.

Ginsha mengangguk-angguk mendengar jawaban ibu. Namun jauh di dalam hati dia penasaran, apakah benar Paman yang kini telah menjadi orang Jakarta itu masih mau menikmati jagung bose masakan ibu?

***
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ternyata Paman tidak datang sendirian. Dia datang bersama dua temannya.
"Maaf, kak. Ketika saya pamit dan katakan hendak makan makanan khas NTT, kedua teman ini ingin mencobanya dan memaksa ikut. Terpaksa saya bawa mereka ke sini," jelas Paman.

Kedua teman Paman itu lalu memperkenalkan diri mereka.
"Saya Sugeng asal Yogya. Mungkin bapak dan ibu sudah mengenal masakan khas dari daerah kami, namanya gudeg," kata Pak Sugeng. Ibu mengangguk sambil tersenyum

"Saya Anwar, Pak, Bu. Asal saya dari Palembang, Sumatera Selatan. Makanan khas dari daerah saya mungkin belum dikenal luas di NTT ini. Tetapi makanan ini sangat digemari orang di Jakarta. Namanya pempek, atau lebih dikenal dengan pempek Palembang," ujar Pak Anwar.

"Nah, kini giliran kita menikmati makanan khas NTT, jagung bose. Silahkan, Pak," Bapak mempersilahkan Paman dan kedua temannya itu menikmati jagung bose.

Dari balik tirai kamar makan, Ginsha memperhatikan Paman dan kedua temannya itu itu menyantap jagung bose dengan lahap. Ginsha tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Oh ya kak, Ginsha mana?" tanya Paman.

"Itu ada di belakang. Dia malu karena banyak tamu," jawab ibu. Paman lalu ke belakang menemui Ginsha.

***

"Maafkan ibu, ya Paman. Ibu hanya menyuguhkan jagung bose untuk Paman dan teman-teman," kata Ginsha.

"Tidak apa-apa Gin, Paman dan teman-teman sangat menyukainya. Buktinya jagung bose yang dihidangkan ibu habis. Selama ini di Jakarta Paman hanya menikmati makanan dari daerah lain. Sudah dicari keliling tapi tidak ada restoran di Jakarta yang menyajikan jagung bose," jawab Paman sambil tertawa.

"Syukurlah kalau Paman tidak marah," tukas Ginsha senang.
"Ginsha lihat kan tadi, Pak Sugeng dan Pak Anwar begitu bangga akan makanan khas daerahnya? Sebagai anak NTT, Ginsha juga seharusnya bangga dengan jagung bose sebagai makanan khas dari daerah ini. Ginsha juga harus bisa memasak jagung bose seperti ibu. Suatu hari kelak jika ada rezeki, Ginsha dapat membuka restoran di Jakarta dengan sajian utama jagung bose.

Jika restoran itu sudah dibuka, maka Paman akan menjadi pelanggan pertamanya. Dengan dibukanya restoran itu, maka jagung bose akan dikenal luas dan digemari masyarakat Jakarta, seperti halnya gudeg dan pempek dari daerah Pak Sugeng dan Pak Anwar itu," harap Paman.

"Mulai saat ini, Ginsha tidak malu lagi untuk menyajikan jagung bose di hadapan tamu, Paman," Ginsha bertekad. Paman tersenyum bangga. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda