Kasihan Indonesia

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


KASIHAN Indonesia! Pintar sekali mengalihkan perhatian dari satu fokus ke fokus yang lain. Sayangnya, pengalihan itu sungguh mengganggu, bahkan merusak pikiran perasaan beberapa orang.

Selagi perhatian difokuskan pada Robert Tantular, mantan bos Century, menurut JK merampok banknya sendiri- yang diinterogasi Pansus Century, hari itu juga Satgas Mafia peradilan bongkar Pondok Bambu, dan mendapati kamar mewahnya beberapa koruptor dan bandar narkoba. Televisi pun gencar kejar semua soal.

***
"Bagaimana pengalamanmu jadi anggota pansus?"
"Pengalaman jadi anggota pansus?" Rara balik bertanya. "Kamu nonton televisi bukan? Pikiran, perasaan, tujuan tersurat, tujuan tersirat dari setiap orang, setiap kelompok, setiap kepentingan, terbaca jelas bukan? Ha ha ha, waktu aku jadi anggota pansus tentu saja yang kuperjuangkan adalah kepentingan kelompokku dan kepentinganku! Wajar sekali bukan? He he he, dibuat wajar sajalah. Pokoknya segala cara kasar maupun halus, beretika maupun tidak beretika saya upayakan dengan tujuanku tadi.

Mau dikatakan beretika atau tidak beretika, memangnya gua pikirin? Oh ya, memangnya kamu bisa menilai sendiri bukan? Pansus itu sama dengan siapa lebih kuat siapa lemah. Siapa lebih banyak siapa lebih sedikit, siapa punya kuasa dan siapa tidak, siapa yang mau diuntungkan dan siapa tidak. Begitu jelas sekali bukan? Jadi berjuanglah sedemikian rupa biar tujuanmu yang gool terlepas salah atau benar!" Rara berapi-api.

"Bukankah pansus dibentuk untuk membongkar segala bentuk mafia, membongkar segala bentuk perampokan, membongkar segala bentuk manipulasi? Bukanlah pansus dibentuk untuk menemukan kebenaran?" Tanya Jaki.

"Kebenaran? Ha ha ha...," Rara terbahak-bahak. "Hari gini kamu ngomong kebenaran? Tidak ada itu! Yang ada hanyalah kepentingan. Lihat saja bagaimana pandainya oknum-oknum anggota pansus bersilat lidah, materi pertanyaan, cara bertanya, dan tujuan dari setiap pertanyaan?" Rara terus tertawa.
"Jadi upaya untuk menemukan keadilan di atas kebenaran tidak ada lagi?"

"Jawab sendirilah! Ngapain sih repot-repot bertanya. Saya yang anggota pansus saja tidak peduli kok, kamu yang repot!"
"Apa enaknya jadi anggota pansus?" Tanya Jaki lagi.
"Memangnya enak jadi anggota pansus? Jawab sendirilah!" Jawab Rara sambil mengerutkan wajahnya.

***

"Menurutmu, lebih enak mana jadi anggota pansus dan jadi narapidana?" Nona Mia sekadar bertanya sebab dari tadi perasaannya sudah tidak enak mendengar penjelasan Rara.
"Bagiku sama enaknya!" Jawab Rara enteng. "Dua-duanya duit kok, jadi sama enaknya. Aku kan punya kuasa, punya relasi dengan kekuasaan, dan punya uang. Kalau punya uang segala-galanya bisa kubeli. Pansus bisa kubeli, penjara pun bisa kusulap jadi hotel mewah. Pokoknya sepanjang ada duit, duit kubeli, semuanya jadi enteng-enteng saja! Siapa mau lawan aku?" Rara sangat bersemangat.

"Itulah kebenaran menurut Rara," Benza menyambung. "Mau kamu arahkan ke mana pun teman kita yang satu ini, Rara tetaplah Rara. Bagi Rara duit nomor satu, pansus nomor satu, penjara pun nomor satu! Jadi, jangan heranlah, Nona Mia! Keadilan bagi Rara berdiri di atas kepentingan diri dan kelompok kepentingannya, dan kepentingan kelompoknya," suara Benza terdengar sedingin es batu.
"Bukankah keadilan tegak di atas kebenaran?" Tanya Nona Mia.
"Itu tidak berlaku untuk Rara. Bagi Rara kebenaran adalah segala hal yang penting dan menyelamatkan dirinya, kelompoknya, dan kepentingannya. Itu saja!"
"Terima kasih Benza. Engkau sungguh-sungguh mengerti isi hatiku dan isi kepalaku!" Rara bangga bukan maen.
"Kasihan Indonesia melihat orang sepertimu hidup dalam penjara pansus!"
"Enak sekali. Bukankah sudah kubilang, di penjara dan di pansus sama enaknya?" Rara tetap dengan pendiriannya. Baginya caranya putar balik pertanyaan dan kepentingannya bertanya dan mendapatkan jawaban, jadi tontonan jutaan pemirsa televisi justru membanggakan.
"Rara, pansus, dan penjara sama mewahnya! Sekaligus sama merananya! Juga sama bentuknya uang dan kekuasaan... Hebat bukan maen si Rara," Kata Benza.
"Nah, dengar sendiri! Benza saja memuji aku!" Rara bangga sekali.

***

"Kasihan Indonesia! Melihat kamu tidak malu-malu membanggakan diri!" Nona Mia pasang jurus kesal nian dengan gaya Rara.
"Tidak malu-malu membanggakan diri? Maksudmu apa? Oh, jangan khawatir temanku Nona Mia yang cantik dan baik hati, stok maluku masih segudang, jadi santai saja lagi!" Rara tetap tegar.
"Bagi-bagi dong rasa malunya..." Pinta Jaki.
"Enak saja! Kalau habis bagaimana? Aku mau cari rasa malu di mana?" Tangkis Rara. "Di penjara habis, di pansus juga habis! Apakah kamu jual malu? Berapa harganya? Aku mau beli!"
"Kok repot-repot sih. Buat saja pansus untuk membeli rasa malu," kata Benza yang disetujui Nona Mia dan Jaki.
"Ide hebat! Sungguh hebat! Tunggu saja tanggal maennya ya..." Rara tertawa. *


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda