Kupang Bakal Punya Tempat Wisata Modern


POS KUPANG/ALFRED DAMA
HIJAU--Pimpinan Flobamora Mall, Ventje Yapola melihat pohon-pohon dan rumput yang ditanam pada proyek pembangunan water boom-Flobamora Mall


TERIK mentari terasa begitu menyengat di arena bagian belakang Flobamora Mall- Kupangi awal Desember 2009. Tanah putih timbunan di arena itu membuat suasana terasa lebih panas.

Sementara dari kejauahn, tiang-tiang beton sudah berdiri kokoh. Beberapa tiang masih besi beton yang belum ditutupi semen. Beberapa pekerja juga terlihat sedang sibuk mondar-mandir untuk melakukan beberapa aktivitas.

Di beberapa sudut proyek itu sudah nampak hijau dengan tanaman-taman dan rerumputan yang sengaja ditanam. Di tempat inilah sedang dibangun Area Wisata Water Boom. Tempat ini diproyeksikan menjadi salah satu tempat wisata hiburan dan bermain modern berkonsep global, dan salah satu terbesar di Indonesia bagian timur.

Beberapa tempat pemandian dan bermain akan dibangun di tempat ini, seperti kolam renang yang dilengkapi dengan pancuran, seluncuran, bahkan pantai buatan serta fasilitas outbond. Menurut rencana, proyek ini dirampungkan tahun 2010 ini sehingga warga Kota Kupang dan sekitarnya, j dari berbagai daerah di NTT bisa menikmati tempat hiburan ini.
Pimpinan Flobamora Mall-Kupang, Ventje Yapola, yang ditemui di lokasi proyek tersebut belum lama ini mengatakan, pihaknya sudah menyediakan lahan seluas 10 ribu meter persegi untuk membuat kawasan bermain untuk orang dewasa dan anak-anak.

Tempat ini terdiri dari beberapa kolam ukuran besar dan kecil dengan konsep pembangunan tidak saja asal jadi atau asal ada. Namun, tetap mengacu pada konsep estetika yang bernilai seni arsitektur. "Jadi, orang datang ke sini bukan saja mau mandi atau bermain, tetapi juga bisa melihat karya seni," ujarnya.

Lebih penting dari itu adalah pembangunan water boom. Ini tetap menggunakan konsep dasar, yaitu lingkungan hijau sehingga konsep pembangunan ini adalah water boom yang bernuansa alami. Para pengunjung nanti saat datang tidak merasakan kalau mereka berada diantara tiang-tiang beton dan besi-besi baja. "Kita ingin membuat kawasan wisata yang berkonsep hijau dan alami. Orang datang ke tempat ini merasakan suasana alam," jelasnya.

Dari 10 ribu meter persegi luas lahan di area tempat wisata tersebut, 50 persennya akan ditanami aneka tanaman guna mewujudkan konsep hijau. "Kita tidak tanggung-tanggung untuk benar-benar menjadikan kawasan wisata ini berkonsep hijau. Hampir sebagian lahan ini akan kita tanam dengan aneka tanam-tanaman sehingga benar-benar hijau. Jadi, orang ke sini akan menikmati suasana hijau yang alami," kata Ventje.

Tanam Pohon
Ventje yang didampingi arsitek pembangunan water boom tersebut, Melkianus Chung, menjelaskan, pembangunan ini berkonsep hijau sehingga pelaksanaan pembangunan dilakukan bersamaan dengan penanaman anakan pohon. Saat proyek ini jadi, anakan pohon yang ditanam sudah bertumbuh besar.

Ventje mengatakan, ia sudah menyiapkan 1.000 anakan pohon pinang yang sudah ditanam di beberapa tempat. Rencananya semua sisi tempat hiburan ditanami pohon ini. "Saya sendiri yang menanam dan mengembangkan pohon pinang ini. Jadi, kita ingin membuat pemandangan yang asri," ujarna. (alf)




Atasi Banjir dengan Biopori

HUJAN selalu dinantikan oleh banyak orang, namun hujan yang berlebihan terkadang mengkawatirkan mulai dari bencana alam hingga air yang tergenang di mana-mana.
Air yang tergenang tidak hanya dalam jumlah banyak atau banjir. Air dalam jumlah kecil pada kubangan-kubangan di sekitar rumah juga terkadang tidak menyenangkan, karena dari kubangan-kubangan itu kerap menjadi sumber penyakit seperti malaria atau dan demam berdara atau penyakit lainnya.

Bahkan kubangan air yang berada di sekitar rumah juga menjadi tempat bermain anak- anak yang biasanya membuat para orangta ikut resah. Sebenarnya ada cara agar halaman atau pekarangan rumah tidak menjadi tempat genangan air dalam waktu lama. Cara tersebut adalah dengan membuat teknologi inovasi baru atau teknologi ramah lingkungan untuk mengatasi banjir. Teknologi tersebut dikenal dengan Biopori.


Teknologi ini mengunakan lubang resapan di dalam tanah untuk menampung air. Lubang-lubang tersebut terbentuk akibat berbagai akitivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, , perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang itu akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.

Konsep inilah yang kemudian dikembangkan dengan membuat lubang resapan sendiri. Teknologi ini otomatis membuat tempat resapan air semakin besar. Daya resapan air yang meningkat merupakan salah satu solusi mengatasi banjir. Selain itu, Lubang Resapan Biopori (LRB) dapat mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan). Dengan memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, cara ini bisa mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.

Ide cemerlang ini diciptakan oleh Kamir R. Brata, dosen ilmu tanah, air, dan konservasi lahan, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Ide tersebut akhirnya menginspirasi beberapa pihak, termasuk institusi pendidikan untuk membuat LRB di sekitar lingkungannya.

LRB bisa dibuat di beberapa tempat, misalnya sekeliling pohon, dasar saluran dan batas tanaman. Aplikasi ini memang cukup sederhana dan mudah dilakukan. Terlebih, di kota-kota besar, lubang resapan air semakin berkurang. Untuk itu, diperlukan lubang resapan yang dibuat sendiri, untuk menampung air yang mengalir.

Arti definisi dan penmgertian lubang biopiro menurut organisasi.org adalah lubang yang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan.

Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang biopori resapan air:
1. Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb.
2. Di sekeliling pohon.
3. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.

Cara Pembuatan Lubang Biopori Resapan Air:
1. Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm.
2. Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 centimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada anak kecil atau orang yang terperosok.
3. Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.
4. Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam). (alf/ biopori.com)


Tips Mengurangi Global Warming

SEMUA pasti pada tahu tentang Global Warming, kan? Kalau kamu mengaku peduli pada lingkungan, kamu juga harus ikut menjaga lingkungan. Hal kecil bisa berdampak besar untuk lingkungan kita.
1. Hemat air. Jangan berlama-lama ketika mandi. Ingat! Hemat air bisa mengurangi efek global warming.
2. Di rumah suka menggunakan mesin cuci? Jangan gunakan mesin pengeringnya. Lumayan kan bisa hemat CO2 sampai 300kg/tahun.
3. Sering laundry baju di binatu? Sebaiknya tolak plastik pembungkusnya. Atau khusus pesanan kamu, minta dimasukan ke kantong yang bisa dipake berulang-ulang. Mengurangi penggunaan plastik, juga membantu mengurangi Global Warming, loh.
4. Pilih TV flat screen monitor dibandingkan monitor tabung. Selain hemat energi, bikin mata tidak cepat lelah juga.
5. Finish your food! Jangan pernah sisakan makanan, karena sisa makanan merupakan sumber sampah yang besar. Jadi, pesan makanan sesuai kemampuan kamu.
Masih banyak lagi hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Yuk, mulai sekarang, perhatikan apa yang kita lakukan dan efeknya bagi lingkungan sekitar kita. (kompas.com)


Pos Kupang Minggu 10 Januari 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda