Ling-Ling

Cerpen Christo Ngasi

AKU sendiri. Berteduh di bawah pohon evergreen. Sunyi tanpa ada yang menemaniku. Terlintas di pikiranku seseorang yang dapat mengisi waktu senggang ini. Pak Tono seorang penjaga sekolah tempat untuk diajak bercerita.

Aku tahu Pak Tono adalah seorang penjaga di sekolah kami namun ia adalah orang yang paling kami hormati. Aku menemuinya yang sedang mengurusi hewan peliharaannya.

Pak Tono menyambut aku dengan satu ungkapan yang sudah lasim digunakannya bagi kami. "Rokok ada Koh" itulah ungkapan yang selalu dilontarkan kepada seluruh siswa di sekolah. Dari kebiasaannya ini membuat kami tidak pernah lupa dengannya.

Dengan ruangan yang berukuran tiga kali empat itu, aku duduk bersama Pak Tono sambil bercerita tentang sekolahku ini. Aku baru tahu bahwa Pak Tono sudah bekerja seusia sekolah ini. Begitu banyak pengalaman yang ia ceritakan.

Ia mengatakan bahwa dulunya tetanggaku yang sekarang sudah cukup terkenal dan berpengaruh di kalangan masyarakat sebagai seorang anggota DPRD, juga tamatan dari sekolah ini. Namun, tambahnya lagi bahwa yang saat ini menjabat sebagai seorang kepala bagian di salah satu kantor juga tamatan dari sekolah ini, hanya tidak pernah ada sumbangan yang mereka berikan.

"Sungguh sayang menghasilkan orang yang tidak tahu membalas budi". Tandasnya kepadaku yang lagi termangu mendegar ungkapannya. Aku tersenyum dan Pak Tono menyambung ungkapannya lagi. "Kalau kamu nanti jadi orang besar seperti ayahmu, jangan seperti mereka itu. Ingatlah juga kami yang kecil ini". Tandasnya. Aku tersenyum dan mengangguk.

Sekolah sungguh sunyi semua siswa sudah pulang kampung untuk mengisi hari liburan. Tujuanku hanya satu yakni ingin bertemu sahabatku Peter namun aku terlambat karena Peter telah berlibur ke kampung.

Waktu bergulir aku tetap sendiri. Berlibur tanpa ada yang menghibur. Aku sadar bahwa aku adalah anak rumah yang tidak terlalu suka bergaul dengan teman yang lainnya. Itu sebabnya aku tidak memiliki banyak teman, selain Peter.

Aku mulai merasa jenuh berada di rumah, sendiri tanpa kedua orang tuaku yang menemani. Aku adalah anak seorang pengusaha yang serba berkecukupan, namun aku miskin dalam pergaulan.

Ayah dan ibuku kurang memperhatikanku. Mereka hanya mengurusi usaha dan bisnis mereka yang nantinya juga untuk masa depanku. Tapi aku tidak mengharapkan itu. Aku hanya ingin mereka dapat berbagi bersamaku.
Aku sadar bahwa aku membutuhkan orang lain sebagai teman untuk mengisi kesendirianku.

Aku memaksakan diriku untuk bisa bergaul dengan orang lain. Aku berlangkah keluar rumah. Pagar besi yang selalu membatasi gerakanku terbuka lebar-lebar.

Tampak seorang pemuda memegang bola menuju lapangan yang berada di samping rumahku. Aku mengikutinya dan sapaku, ""Hai kawan boleh gabung bermain bersama?".

"Eh, kamu anak siput!!! Koh baru keluar dari rumah siputmu?"

"Maaf aku bukan anak siput. Namaku Cang." Aku menyodorkan tangan ke arah pemuda itu.

"Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu, kawan. Namaku Antus."

Kami berjabatan tangan. Antus menendang bola ke tengah lapangan. Aku tak menyangka bahwa semua pemuda seusiaku berkumpul di lapangan itu untuk bermain bolakaki. Aku merasa senang karena dapat berbagi bersama mereka. Hingga sore tiba aku bergegas ke rumah.

Aku kembali memikirkan ucapan Antus kepadaku "Anak siput". Heran dan penuh tanda tanya akan semua ungkapannya itu. Aku keluar rumah dan melihat siput yang menempel pada pohon kayu. Memandang tanpa ada satu jawaban. Kembali dan diam sambil memikirkan perkataan Antus tadi "Anak Siput".

Tiba-tiba aku mendengar suara ayah dan ibuku. Mereka sudah pulang dari toko. Aku keluar kamar tapi tak kutemui mereka entah kemana aku tak tahu. Aku bertanya kepada seorang pekerja di rumahku.
"Mba Tina, ayah dan ibu tadi kemana" tanyaku.

"Bapa dan mama ke pesta nikah di hotel," jawab Tina.
"Lagi-lagi hotel." Aku berlalu dan melanjutkan pengalamanku bersama mimpi malam itu.

Dingin pagi itu membangunkanku. Aku menarik gorden jendela kamarku dan melihat bahwa siput itu tetap berada di tempatnya.

Aku mengerti akan ungkapan Antus bahwa aku tidak boleh seperti siput yang terus terkurung dalam rumah.

Aku menuju ruangan televisi tapi aku merasa bosan terus berhadapan dengan layar besar ini. Aku memutuskan untuk pergi menemui Antus.

Aku berlangkah tapi tak ada yang menghiraukan aku. Aku terus berlangkah malah ada yang mencibir "Jangan terlalu di rumah saja Koko, keluar sedikit supaya tahu suasana di luar rumah.

Masa terkurung terus!!!". Ungkapan keluar dari mulut seorang ibu. Aku hanya tersenyum dan terus menuju rumah Antus.

"Hai Kawan. Kamu dari mana" Tanya Antus kepadaku.
"Aku sengaja datang kemari untuk bertemu dengan kamu" jawabku menarik tanganya.

"Ah, yang benar saja. Di rumahmu semua sudah lengkap, apa lagi yang kurang. Kamu bisa buat apa saja yang kamu mau dibanding dengan aku, Cang" Antus tertawa memandangku.

"Tapi aku miskin dalam hal teman. Semua aku miliki, tapi kebahagian tak ada. Aku selalu dibatasi, orang tuaku sibuk dengan urusan bisnis. Kakakku juga sibuk dengan bisnis. Mereka semua tidak memperhatikan aku.

Apa yang kuharapkan dari mereka kian hari kian sirna. Aku bersyukur ada Mba Tina yang selalu memperhatikanku."

"Tapi itu semua yang dilakukan orang tuamu demi dan untuk kamu juga Cang." Antus kembali berucap.

"Memang itu semua untukku Antus. Kalau saja kamu berada dalam posisiku mungkin kamu akan mengatakan hal serupa".

Aku dan Antus saling bertukar kisah. Banyak pengalaman yang aku dapat untuk mengubah sikapku. Tak sadar bahwa seorang telah mendengar pembicaraanku dengan Antus. Ling-Ling, seorang gadis keturunan Tionghoa datang menghampiri Antus dan aku.

Aku gugup dan tak bersuara. Memandanginya hingga iapun menyapaku untuk meneguk minuman hasil buatannya.

"Ka, silahkan diminum". Tegurnya membuatku malu.
"Trims nona," balasku. Antus memperkenalkan bahwa Ling-Ling adalah saudari sepupunya. Jujur saat itu aku langsung jatuh hati. Tapi aku malu untuk bercerita dengannya. Antus kembali berkisah tapi aku terus menanyakan tentang Ling-Ling. Aku sangat penasaran. Aku sadar bahwa aku tidak punya nyali untuk berkata bahwa aku jatuh hati kepada Ling-Ling.

Pertemuannya singkat tapi aku tambah penasaran. Aku coba berbagi perasaanku kepada Mba Tina karena aku tahu Mba Tina adalah tempat aku berkeluh kesah. Jika dibandingkan dengan orang tuaku, Mba Tina adalah orang terdekat dalam hidupku. Maklum sejak aku bayi Mba Tinalah yang mengurusi aku hingga saat ini.

Aku bergegas dari tidurku, membersihkan badanku dan langsung menuju gereja untuk mengikuti perayaan misa minggu palem. Aku mencoba untuk menawarkan tumpangan kepada sebagian tetanggaku tapi hanya ungkapan terima kasih yang dilontarkan.

Aku bertanya dalam hati "Oh Tuhan apa salahku sehingga mereka tidak mau menerima tawaranku?". Aku berlalu dan menuju gereja.
Arak-arakan umat membawa daun palma begitu meriah diiringi dengan nyanyian "Hosana Putra Daud". Aku merasa begitu lain dalam hidupku. Tampak dari banyaknya umat Antus bersama Ling-Ling dan Meme adiknya serta kedua orang tuanya mengikuti arakan itu.

Aku mencoba untuk mendekati tapi tak bisa hingga memasuki pintu gereja. Misa begitu meriah. Selesai pemberkatan terakhir dari pastor, aku berlangkah keluar.

Meme gadis kecil lari mendekatiku dan memberi selamat. Aku tersenyum dan mencubit pipinya yang imut. Antuspun menyusul dan aku bergegas menemui orang tuanya untuk memberi selamat. Tak kusangka Ayah Antus bertanya kepadaku.

"Cang orang tuamu tidak ikut misa hari ini?"
"Aku hanya terdiam dan mengangkat wajahku lalu berucap. Ayah dan ibuku mengikuti misa di Paroki St. Mikhael."

Antus kemudian mengalihkan pembicaraan. Ling-Ling datang bersama Mema si kecil mungil dan menyodorkan tangan manisnya." Mat hari Minggu Ka" Aku balas dengan tersenyum. Waktu memisahkan dan aku pun berlalu bersama mobil kijang yang kukemudikan.

Siangpun tiba karena alur waktu yang mengiringi. Orang tuaku menghabiskan hari minggu ini untuk istirahat tapi besoknya pasti sambung kembali bisnis. Aku bosan dengan hidup seperti ini. Jalan yang kutempuh yaitu berani untuk keluar dari rumah dan bergaul dengan siapa saja, meski orang tua melarangku.

Terlebih ayahku yang sangat tidak menyukai aku bergaul dengan orang lain ini semua karena ayahku takut aku terpengaruh dari teman-teman. Namun lebih dari itu ayah takut kalau aku menghabiskan hartanya untuk bersenang-senang. Kini Antus menjadi teman dekatku, selain Peter.

Aku menemuinya juga sekalian untuk mengungkapkan perasaanku kepada adik sepupunya. Namun hanyalah kesia-siaan, Ling-Ling telah pulang ke Surabaya. Aku bertanya kenapa? Antus hanya mengatakan bahwa sepupunya hanya datang libur.

Hatiku sakit mendengar hal itu. Baru pertama aku merasakan jatuh cinta dan ingin terkabul perasaan ini namun pupus seketika. Aku pun beranikan diri untuk mengatakan bahwa aku jatuh hati pada sepupunya.

Antus mengerti akan perasaanku ini. Antus mengatakan bahwa Ling-Ling juga sering menanyakan tetang aku dan Antus mengatakan semua yang ia tahu tentang aku.

Aku tak dapat tinggal dalam posisi yang serba rumit akhirnya aku membuang pergi segala perasaan sakitku bersama bunyi ombak yang memecahkan karang.

Satu harapanu ke depan yaitu orang tuaku dapat memperhatikanku karena aku tak dapat melangkah tanpa restu dari mereka. Aku baru sadar bahwa semua yang mereka lakukan supaya aku dapat mengurusi diriku sendiri dan juga supaya aku mandiri.

Tapi itulah aku yang lain dari pikiran mereka. Semoga waktu dapat menjawab semuanya. Aku berjanji pada diriku untuk dapat mandiri sekali pun Mba Tina sudah pulang ke daerahnya Banyuwangi. Namun satu harapan yang tidak akan pernah pudar dariku bahwa kelak aku akan menemui Ling-Ling di Kota Surabaya.

* Kelompok Sastra St. Mikhael


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda