Mau nikah, Terhalang Calon Kakak Ipar

Dokter Valens Yth,
Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010. Sebagaimana harapan semua orang akan adanya perubahan di tahun 2010 nanti, saya pun demikian. Nama saya Tria, gadis Kupang berumur 26 tahun sudah bekerja pada salah satu perusahaan swasta yang cukup bonafid. Sesudah punya gaji sendiri, langkah berikutnya adalah memikirkan untuk berumah tangga.

Dahulu ketika masih mahasiswi saya pernah berpacaran dengan seorang pemuda ganteng, tapi Tuhan punya kehendak lain. Tuhan telah memanggilnya lebih awal. Dia meninggal dalam satu kecelakaan lalu lintas sehingga saya pun lama tidak berpacaran lagi. Sejak delapan bulan lalu saya mulai pacaran dengan Galy, seorang pemuda gagah yang juga sudah bekerja.

Walaupun masih ada luka lama yang belum sembuh benar dari pacar saya yang terdahulu, kehadiran Galy sudah bisa memberi sedikit warna baru dalam hidup. Menurut saya, Galy itu cukup setia dan nampaknya diapun sangat mencintai saya. Dia sudah sering datang mengapeli saya di rumah. Orangtua dan saudara-saudara saya juga memberikan dorongan besar.

Jadi rasanya saya mulai terhibur dan bahkan berat badan saya mulai naik, kata orang itu tandanya ada sedikit kebahagiaan. Namun perjalanan cinta kami ini mulai sedikit terganggu ketika saya mulai dikenalkan pada keluarganya.

Orangtua Galy nampaknya antusias saja. Tetapi kesulitan justru datang dari saudara-saudarinya. Untuk diketahui orangtua Galy sudah pensiun dari pegawai negeri. Galy adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Dan, Galy adalah laki-laki pertama. Kakaknya yang perempuan belum menikah. Sedangkan adik-adik ada yang masih kuliah dan ada satu yang cacat bawaan sehingga sangat bergantung pada keluarganya.

Kehadiran saya di antara saudaranya nampaknya seperti saya sedang mengambil sesuatu dari mereka. Terutama kakak-kakaknya yang perempuan sama sekali memberi respons yang berbeda. Apalagi ketika saya dan Galy mencoba mengutarakan keinginan dan niat kami untuk nikah tahun 2010. Terus terang, kakak-kakaknya keberatan karena mereka belum menikah.

Dan, bila Galy menikah, mereka akan kehilangan tempat bergantung. Dokter, saya melihat ini semua sebagai suatu rintangan yang berat. Walau saya mencintai Galy, tapi akan lebih berat lagi menghadapi keluarganya. Saya ingin memutuskan hubungan saya dengan Galy.

Dua minggu yang lalu saya utarakan secara jelas pada Galy bahwa kami lebih baik putus. Galy tidak menerima keputusan saya ini. Dan, dikatakannya berulang-ulang bahwa dia sangat mencintai saya. Pada hari raya ini pun Galy tetap ke rumah saya untuk salaman. Dokter, bagaimana saya harus berbuat dalam hal ini? Galy tidak terima keputusan saya (dia datang terus), dan sayapun bersikeras lebih baik kami putus. Mohon jalan keluar. Saya tunggu jawaban dokter.
Terima kasih. Salam, Trisna - Kupang.


Saudari Trisna yang baik,
Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010. Cinta dan pernikahan adalah dua tahap yang berbeda. Cinta adalah konsep sebanyak perasaan. Cinta bisa bikin senang, bisa bahagia, tapi cinta juga bisa bikin pusing 'delapan keliling'. Bagaimana Anda menjabarkannya dan apa yang Anda harapkan dari cinta akan mempunyai kaitan yang jelas dengan pasangan yang Anda cari.

Menurut John Money, seorang pakar Seksual dari Universitas Johns Hopkins, USA, kita semua membawa dalam pikiran kita sebuah tuntunan luhur yang unik menuju pasangan ideal kita. "Peta cinta" ini ditanamkan dalam aliran otak kita pada waktu kita mencapai kedewasaan kita.

Apabila kita mengalami sejumlah kecocokan atau kesamaan antara kekasih kita dengan peta kita, kata Money, maka kita mengalami cinta. Makin besar kesamaan, makin tinggi perubahan unsur-unsur kimia (chemistry) dalam diri Anda, sehingga oleh Ethel Spector Person, menyebutkan bahwa mereka yang sedang kasmaran sebagai keadaan yang High Chemistry.

Akan tetapi Cinta juga tidak statis, tulis Abrhms Spring, PhD dalam After The Affair, bila keadaannya dirasakan tidak memuaskan maka ada keinginan untuk menjauh. Manakala keadaannya membaik, afeksi kembali dan kita bisa bersatu lagi. Sebagian orang karena tidak mengetahui proses ini secara baik sehingga mereka menjauh ketika saat-saat baik berakhir dan mengira saat-saat buruk akan berlangsung selamanya.

Sebagian lagi melihat jatuh bangunnya hubungan mereka sebagai bagian dari proses dinamis, yang kalau diantisipasi dan dipahami dapat memperkaya hubungan mereka. Sedangkan pernikahan adalah suatu komitmen,keputusan dan janji, untuk hidup bersama dalam suka maupun duka. Tentu saja sebagai manusia Anda inginkan duka dan kesulitan dalam keluarga harus seminimal mungkin.

Selama pacaran ada kesulitan yang dianggap sebagai sesuatu ujian, namun dalam situasi tertentu sinyal kesulitan harus bisa dilihat sebagai warning agar Anda perlu memperhitungkan betul kesulitan itu bila ingin maju terus. Satu faktor penting dalam keluarga "timur", adalah bentuk Extended Family (keluarga besar), sehingga Anda patut memperhitungkan peran dan pengaruh orang tua, saudara-saudari Galy, bahkan Om dan Tantenya. Mencintai Galy berarti harus mampu mencintai keluarganya.

Bila kesulitan menyangkut extended family tidak bisa dihindari dan membuat Anda sangat kesulitan maka Anda boleh berpikir ulang dan dapat menyatakan diri untuk mundur. Soal Galy yang tidak mau menerima keputusan Anda, itu hanya soal waktu karena dia belum memahami benar apa yang Anda maksudkan. Bicarakan hal ini lebih intens dan terbuka.

Jangan ada nuansa memperhalus kalimat-kalimat Anda. Saya maksudkan omong terus terang, apa yang disukai dan yang tidak disukai. Bila Galy bisa memahami secara baik maka dia akan memaklumi keputusan Anda. Selanjutnya juga jangan ada kesan bahwa Anda kesal dan tidak suka dengan keluarga Galy. Ada ungkapan, Mencintai tidak harus memiliki. Dan bila tidak memiliki bukan berarti harus membuat pernyataan perang. Demikian jawaban saya, semoga Anda tidak tambah kusut. Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010.
Salam, dr. Valens Sili Tupen,MKM.


Pos Kupang Minggu 3 Januari 2010, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda