Oleh-oleh dari Amsterdam


Foto ist cutratestravel.wordpress.com
Salah satu sudut Kota Amterdam-Belanda



Oleh Prof. Dr. Mien Isu Ratoe Oedjoe, M.Pd


SELAMA tiga bulan mengikuti Program Academic Recharging (PAR) di Amsterdam-Belanda (Netherland- 15 September -15 Desember 2009), tentu banyak pengalaman yang bisa dijadilan oleh-oleh untuk dibagikan kepada masyarakat NTT, terutama bagi pada dosen perguruan tinggi swasta dan negeri (PTS/PTN) gelombang 2010 nanti.


PAR merupakan program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) dengan manfaat ganda, yaitu pengembangan kelembagaan perguruan tinggi (PT) melalui program kemitraan dengan perguruan tinggi luar negeri, dan pengembangan sumberdaya, staf pengajarnya melalui pengayaan akademik atau kerja sama penelitian dengan mitra luar negerinya. PAR ke luar negeri diperuntukkan bagi dosen tetap Perguruan Tinggi Indonesia (PTN dan PTS) yang telah berpendidikan S3 dan/atau Guru Besar.

PAR gelombang pertama tahun 2009 adalah Dr. J.F.B.Therik, MS mengikuti PAR A di Utah State Univ-USA selama dua minggu, Prof. Dr, Mien Isu Ratoe Oedjoe mengikuti PAR B di Vrije Universiteit (VU) - Amsterdam selama tiga bulan, Ir. Maria Lobo, M.Math, Ph.D mengikuti PAR C di The University of Adelide-Australia selama tiga bulan, Ir. Herianus J.D.Lalel, M.Si., Ph.D dan Ir.Lince Mukkun, MS., Ph.D mengikuti PAR C di Curtin University Of Technology Perth Australia selama tiga bulan.

Pengalaman di Belanda
Tanggal 16 September tepat jam 6.06 waktu setempat tiba di Bandara Schiphol - Amsterdam, terasa sangat asing karena Bandara Schiphol besar, indah, bersih, moderen dan nampak orang-orang "Bule" yang berjalan cepat bahkan ada yang berlari-lari kecil dengan wajah serius.

Hari pertama setelah mendapat tempat tinggal serta mendapat fasilitas termasuk akses internet serta kebutuhan lainnya dan istirahat pada hari pertama.

Aktivitas sebenarnya baru dimulai pada hari kedua, 17 September 2009. Awal aktivitas saya adalah bertemu Directur Universiteit Amsterdam (CIS-VU) dan sekaligus orientasi VU. Saya diberi ruang kerja lengkap dengan telepon dan Internet. Hari itupun kami berdiskusi untuk mengatur rencana kegiatan saya selama tiga bulan. Saya menjelaskan tujuan PAR B dan aktivitas yang akan saya lakukan selama tiga bulan. Di sini menuntut keaktifan , kemandirian dan kedisiplinan peserta PAR B untuk memimpin diskusi, mengusul, mengatur serta memutuskan kegiatan dalam arti tidak diatur karena yang mengetahui kebutuhan PAR adalah saya.

Apalagi PAR tidak menyediakan biaya kuliah atau honor bagi supervisor di VU sehingga, peserta PAR harus mandiri dan bersedia menyumbang pemikiran/ide dalam diskusi atau paper (take and give). Sebagai gambaran apabila peserta PAR minta didampingi oleh supervisor VU maka paling tidak harus membayar tenaga Supervisor sejam Euro 100, Oh my God... its very expensive.

Saya memilih studi Perempuan- Gender in Educational Sector. Untuk menyegarkan dan meningkatkan pengetahuan dibidang Perempuan-Gender, saya memutuskan untuk mengikuti beberapa kegiatan, yaitu kuliah (Sit In), obervasi/kunjungan ke universitas, TK, SD. SMP, SMA, Sunday School, dan perkumpulan sosial perempuan. Diskusi dengan gender expert, mengumpulkan literatur termasuk soft copy dan mengikuti seminar.
Kegiatan Kuliah
Saya mengikuti kuliah di Van Hall Larenstein-Part of Wageningen Uv, karena disitu ada program studi Gender dalam kelas International (berbahasa Inggris). Sebelum mengikuti kuliah, saya harus menghadap Programme Directornya, mohon izin mengikuti kuliah yang terkait dengan Perempuan-Gender dan Rural Livelihood sekaligus menjelaskan maksud PAR-B. Puji Tuhan, Director mengijinkan saya mengikuti kuliah sesuai dengan kebutuhan/hal-hal yang relevan dengan subyek yang saya minati dan tidak perlu bayar alias FREE. Mengawali kuliah di Wageningen, saya diundang mengikuti ujian thesis mahasiswa S2 dari Oxfam Kupang yang kebetulan memilih judul terkait dengan perempuan pengungsi di NTT.

Saya mengikuti kuliah selama tiga minggu karena tujuh mata kuliah program S2 yang saya pilih selesai dalam tiga minggu (full time), dan sebagai sumbangan maka saya menulis paper sekaligus sebagai bahan diskusi berjudul Role of Women in Rural Communities in NTT. Perjalanan ke Wageningen menggunakan train dengan harga Euro 25 pergi pulang. Pagi-pagi jam 6 dan dingin sekali, sudah harus ke stasiun agar tidak terlambat masuk kuliah, kemudian kembali ke Amstredam jam 17.00.


Kegiatan Observasi
Saya kunjungi beberapa sekolah (kelas internasional) dari TK sampai SMA, beberapa Sunday School (sekolah minggu), dan aktivitas sosial perempuan. Di kelas, saya duduk mengikuti aktivitas pembelajaran dari awal sampai selesai selama seminggu, dan tentunya saya mendapat waktu beberapa menit untuk memperkenalkan diri dan memperkenalkan Indonesia serta NTT termasuk tempat pariwisata setiap kabupaten se NTT melalui foto- foto. Aktivitas sosial perempuan, saya ikut mendampingi orang tua jompo di Randerode Ugchelen, berdoa bersama mereka dan membawa mereka (sambil duduk di kursi roda) menonton opera di aula panti, kemudian membawa mereka pulang ke kamar masing-masing.

Kegiatan Diskusi
Saya berdiskusi dengan pakar gender dan kurikulum di Wageningen University, Leiden University, Vrije University, Nuffic, kepala sekolah, dosen, mahasiswa, guru dan masyarakat.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas, ada beberapa hal yang patut dikemukan berikut ini: Komitmen pemerintah Netherlands tentang implementasi gender mainstreaming tidak hanya pada tataran political will tetapi telah menjadi political action.

Terkait dengan kegiatan pembelajaran, kurikulum dirancang oleh ahli yang sensitif gender dan nampak dalan buku-buku maupun bahan ajar yang responsif gender. Guru dan dosen sangat sensitif gender sehingga action dalam kegiatan pembelajaranpun responsive gender, baik melalui bahasa, gambar, nilai, norma dan relasi di dalam dan diluar kelas. Metoda pembelajaran yang digunakan baik oleh dosen maupun oleh guru-guru bervariasi dan dilengkapi oleh media pembelajaran yang bervariasi pula.

Metoda pembelajaran yang variatif memberikan peluang bagi perempuan dan laki-laki berpartisipasi secara aktif (Anne Marie, 2009). Metoda pembelajaran berpusat pada siswa bukan pada dosen/guru. Dosen/guru lebih sebagai fasilitator.

Sebagai gambaran dalam mata kuliah Pengembangan teori, mahasiswa S2 berdiskusi dan menyajikan hasil diskusi kelompok dalam bentuk simulasi, flipchard, demonstrasi, powerpoint, gambar tempel. Mereka berdiskusi 15 menit, dan menyajikan, kemudian dosen merekap hasil diskusi dengan cara tanya jawab guna mengambil kata/kalimat kunci untuk kemudian diformulasikan kembali oleh kelompok dengan merujuk pada teori-konsep yang diperoleh dari buku teks dan tentunya dilandasi oleh kemampuan analitis. Mahasiswa perempuan dan laki berpartisipasi secara aktif dalam kelompok dan mempertahankan hasil temuannya dalam diskusi -debate kelas.

Tujuh mata kuliah yang saya ikuti betul-betul student oriented, dan suasana kelas S2 tidak kaku dan formal. Demikian pula jarak sosial dosen dan mahasiswa sangat dekat (dosen berperan sebagai fasilitator), bahkan dosen mengatakan kalau pendapat saya salah atau anda tidak setuju dengan pendapat saya, silakan komentar.

Penilaianpun sangat transparan, aspek-aspek yang dinilai sangat jelas, sehingga baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan merasa puas karena tidak ada diskriminasi atau subjektifitas dari dosen.

Dosen-guru termasuk guru Sunday School menggunakan modul/hand out sehingga tidak ada peluang untuk keluar dari subjek yang direncanakan pada setiap tatap muka, termasuk tidak ada hidden kurikulum yang sering kali memberi peluang bias gender (L. Grijpma 2009). Lingkungan sekolah/kelas ramah gender, antara lain toilet terpisah bagi laki dan perempuan dan di dalam toilet perempuan pasti ada tempat sampah, dan cermin.

Keseluruhan temuan di atas tentunya tidak mudah diterapkan oleh kita di NTT karena berbagai kendala namun konsep pemikiran yang perspektif gender bisa di adopsi dengan penyesuaian-penyesuaian kondisional. Secara jujur menurut pengamatan saya, keadilan dan kesetaraan gender (KKG) di Netherlands belum tercapai, namun mereka sudah jauh lebih maju dari "kita" . Beberapa Pakar Gender di Netherlandspun mengakui bahwa:

"Perjuangan dan perubahan guna mencapai KKG di Netherlands memerlukan waktu ". Perubahan tidak saja melalui peningkatan pengetahuan personal, dan institusional tetapi juga perubahan ideologi-norma-value patriachis yang menjadi akar persoalan (L.Grijpma 2009). Akar ini disosialisasikan secara formal, informal dan nonformal kepada generasi muda secara solid.

Apa yang saya pelajari selama tiga bulan akan di kumpul dan direkam dalam Buku Ajar/Modul yang berjudul Panduan Menulis Materi Pembelajaran yang Adil bagi Anak Perempuan dan Laki-Laki.

Demikian pengalaman saya. Sekali lagi diharapkan melalui oleh-oleh ini teman-teman dosen di NTT mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti program PAR angkatan ke dua tahun 2010. Saya merasakan manfaat yang sangat besar bagi diri saya, yakni peningkatkan pengetahuan, penyegaran dan menjalin relasi akademik dengan dosen-dosen di luar negeri.

Amsterdam, 14 Desember 2009

Pos Kupang Minggu 10 Januari 2010, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda