POS KUPANG/ALFRED DAMA
KELOLA AIR--Danau kecil di halaman Komples SMK t.Pius X Insana-Kabupaten Timor Tengah Utara ini dijaga dan dikelola dengan baik oleh para siswa dan guru di sekolah ini demi kerlangsungan danau ini.



Oleh Harry Surjadi

APAKAH ada hubungannya antara terjadinya pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim dengan air dari segi ketersediaan maupun keberlimpahan (baca: banjir)? Secara umum sulit mendeteksi perubahan pada ketersediaan air yang diakibatkan ooleh perubahan iklim atau karena sebab lainnya.

Di pegunungan tinggi, seperti di Bhutan atau Tibet, yang sumber air bersihnya berasal dari gletser atau es yang mencair perlahan-lahan, sangat jelas bisa dikaitkan dengan perubahan iklim. Karena udara semakin panas es/gletser di di Pegunungan Himalaya mencair lebih dahulu, air hujan di musim dingin tidak menjadi es/gletser cadangan suplai air tetapi langsung mengalir ke sungai-sungai sampai ke India dan Bangladesh.

Berarti saat musim panas, air sungai berkurang karena es/gletser yang ada berkurang. Padahal pada musim panas kebutuhan air meningkat dibandingkan musim dingin.
Selain di kawasan Himalaya, Peru, salah satu negara di Amerika Selatan, misalnya kawasan tutupan gletsernya berkurang 25 persen dalam tiga dekade terakhir ini.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah lembaga yang dibentuk untuk mempelajari dan mencari dasar pertimbangan ilmiah dari pemanasan global dan perubahan iklim, memperkirakan pada pertengahan abad ke-21, aliran sungai dan ketersediaan air tahunan diproyeksikan akan meningkat di wilayah tropis yang basah dan kawasan dataran tinggi, dan menurun di wilayah kering di tropis.

Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, yang cenderung kering, akan mengalami perubahan pola hujan. Hujan akan lebih lebat tetapi waktunya pendek. Akibatnya, lebih banyak air yang mengalir ke sungai dalam waktu singkat. Dampak selanjutnya pada musim kemarau, ketersediaan air akan berkurang karena tidak cukup waktu untuk mengisi saat musim hujan meskipun jumlah air hujannya banyak.

Prediksi ini bukan mitos atau akal-akalan negara maju, seperti biasanya reaksi dari para aktivis organisasi non-pemerintah yang dengan mudahnya menyalahkan negara maju. Kalau pun sekarang berlum dirasakan karena memang proses perubahan iklim itu proses yang perlahan.

Proses perubahan iklim tidak hanya berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih pada musim kering, ketika air yang terganggu, maka akan ada dampak lanjutan yang akan diterima manusia. Pengelolaan air yang buruk akan menambah persoalan air ini.

IPCC dalam laporannya menyampaikan pengelolaan air yang ada sekarang ini tidak cukup baik untuk bisa menghadapi dampak perubahan iklim pada suplai air. Pengelolaan air yang ada bahkan tidak mampu mengatasi persoalan air yang disebabkan oleh persoalan lokal.

Apakah di Kupang pengelolaan air sudah bisa menghadapi persoalan lokal? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini bisa sedikit mengungkapnya. Apakah PDAM sudah bisa menyediakan air bersih yang layak dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari? Apakah ada program yang matang bagaimana caranya menghadapi kemarau?

Apakah ada program penyadaran pada masyarakat akan pentingnya mengkonservasi air? Apakah ada data inventori debit air sepanjang tahun? Apakah ada hitungan berapa pertumbuhan kebutuhan air di Kupang? Bagaimana mengantisipasi kenaikan penduduk yang berarti meningkatkan kebutuhan air? Apakah Kupang memiliki program atau rencana adaptasi perubahan iklim, terutama terkait dengan air?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bisa menggambarkan apakah Pemda Kota Kupang (dan mungkin Pemda Provinsi NTT) siap menghadapi terjadinya perubahan iklim.

Pengelolaan Air
Kesiapan pengelolaan air di Kupang akan berdampak juga pada banyak kebijakan di bidang lainnya seperti energi, kesehatan, kedaulatan pangan, dan pelestarian alam. Ketika pendudukan bertambah, maka kebutuhan air bersih akan bertambah. Pengelolaan air harusnya sudah mempertimbangkan peningkatan kebutuhan air bersih sejalan dengan naiknya jumlah penduduk.

Jika pengelolaan air gagal mengantisipasi pertambahan penduduk yang akan meningkatkan permintaan air, persoalan akan melebar ke masalah kesehatan. Kelompok masyarakat miskin yang paling rentan lebih dahulu menderita. Mereka yang akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk air bersih. Mereka yang akan lebih dahulu merasakan sakit karena mengonsumsi air yang tidak layak.

Pengelolaan air tidak hanya mempertimbangkan air untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga mempertimbangkan konsumsi untuk pertanian. Pertumbuhan kebutuhan air, selain memasukkan pertimbangan pertumbuhan pendudu, juga harus mempertimbangkan kebutuhan pertanian. Jika pengelolaan air buruk, akan berdampak pada pasokan pangan.
Penelitian menunjukkan perubahan iklim akan berdampak produksi pangan 2,5 persen sampai 10 persen pada tahun 2020. Wilayah NTT berisiko menghadapi gagal panen, berkurangnya lahan yang layak ditanami, dan ujungnya warga NTT akan selalu tergantung dari provinsi lain untuk suplai makanan.

Air adalah sumber kehidupan di bumi ini dan sumber daya akan akan memberikan dampak pada lingkungan alam, sosial, dan ekonsistem. Air sangat mendasar sebagai jembatan antara perubahan iklim, masyarakat, dan lingkungan.

Perubahan iklim bukan lagi bualan negara maju, seperti banyak masyarakat yang skeptis dan tidak percaya sedang terjadi perubahan iklim, bukan juga bualan ilmiah. Perubahan iklim sesuatu yang nyata dan saat ini sedang terjadi.

Meskipun tidak ada perubahan iklim, pemerintahan di wilayah kering seperti NTT ini, membutuhkan pengelolaan air yang baik. Pengelolaan air yang baik bukan sekedari pemerintah daerah memiliki peraturan, bukan sekedar memiliki perencanaan atau program, tetapi bagaimana melaksanakan aksi atau program yang nyata.

Menunda-nunda bertindak nyata, seperti yang terjadi saat ini di Copenhagen para kepala negara menunda bertindak, berarti kehilangan kesempatan dan waktu. Harusnya persoalan air, yang akan semakin memburuk karena perubahan iklim, menjadi persoalan seluruh lapisan masyarakat termasuk penduduk. Bagaimana penduduk bisa lebih menghargai air dan menyiapkan diri untuk keadaan terburuk. (*)


Pos Kupang Minggu 3 Januari 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda