Dokter Valens Yth,

Salam Damai. Saya Agus, pemuda 18 tahun, pelajar kelas III pada salah satu SMU di Kota M, Flores. Saya berasal dari keluarga baik-baik. Kedua orang tua saya bekerja. Ayah sebagai guru sekolah dasar, Ibu sebagai karyawan pada salah satu yayasan.

Dengan pekerjaan seperti itu, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga yang semuanya tujuh orang. Kami selalu diajarkan tata cara hidup yang baik, sopan santun dan segala macammnya. Pokoknya anak guru jadi musti sopan.

Cuma ketika saya di SMU ini saya merasa banyak hal yang saya lihat tidak cocok. Banyak diantara teman harus berlatih bela diri agar tidak diganggu orang lain. Kamipun secara berkelompok ingin berkelahi dengan anak kelompok atau sekolah lain.

Dan yang lebih heboh, cewek-cewek manis justru lebih senang dekat /pacaran dengan cowok yang memang kelihatan macho, merokok dan kalau bisa jadi peminum, suka ugal-ugalan dan lain lain yang sifatnya bertolak belakang dengan yang diajarkan orangtua.

Inilah the real life, man”, kata seorang teman pada saya. Dan, pak dokter, ini semua ternyata perlu biaya ekstra. Dan kalau bicara soal duit, saya pasti kalah karena di rumah kami diajarkan untuk memenuhi kebutuhan dengan apa yang ada, tidak boleh menuntut lebih. Di bagian inilah yang saya benar-benar kalah.

Di sekolah ini saya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Memang di kelas dan dalam ilmu, saya bisa dibilang mampu, tapi kenyataannya, hidup yang nyata, seperti yang disampaikan teman saya di atas ternyata lain.

Kita perlu uang, kita perlu melawan etika dan justru tak perlu terlalu baik jadi orang agar tidak terlihat lemah. Selama di sekolah kami tidak pernah diajarkan bagaimana cara kita mencari uang dengan mudah.

Apakah dengan ilmu pengetahuan yang tinggii uang dengan sendirinya datang? Saya sepertinya tidak percaya. Selanjutnya dokter, cita-cita saya, memang tidak muluk-muluk.

Yang saya inginkan hidup kelak lebih baik dari orangtua, tentu punya uang banyak dan bisa punya pengaruh besar di masyarakat. Pertanyaan saya adalah :

Apakah apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya ini salah? . Dokter, mungkin surat saya ini agak aneh dari orang lain tapi benar saya butuhkan balasan dokter.

Mungkin tahun depan saya kuliah mungkin juga tidak tergantung kemampuan keuangan ortu. Akhirnya salam dari saya di kota M.
Salam Agus, Flores.


Saudara Agus yang baik,
Salam Damai juga buat Anda. Saya menilai surat Anda sangat menarik karena, Anda menyampaikan apa yang ada dalam pikiran Anda secara jujur dan tulus.

Apa yang dirasakan, itu yang ditulis. Banyak kali orang lebih memilih menyembunyikan sesuatu yang bergulat dalam pikirannya, terutama menyangkut keinginan yang agak berbeda dari orang lain. Cara yang saya sebut terakhir ini akan membuat orang jadi munafik karena banyak basa-basinya. Lain di bibir lain di hati, lain di pikiran lain yang ditulis.

Saudara Agus yang baik, secara jujur Anda menilai keadaan realita di sekitar Anda bahwa hampir semua hal dalam kehidupan ini dihubungkan dengan uang; tetapi mengapa pada level pendidikan umum yang kita hadapi bertahun tahun tidak pernah mengajarkan kepada siswa bagaimana uang bisa diperoleh dengan benar dan menguntungkan dan dengan cara yang gampang.

Pendidikan kita hanya mengajarkan agar kelak setelah selesai sekolah mudah-mudahan kita dapat mencari pekerjaan yang baik agar bisa hidup baik, punya sopan santun dan berbudaya dan berilmu pengetahuan yang tinggi.

Dan, sepertinya tersirat bahwa di dalam semua itu akan ada uang yang bisa diperoleh dengan mudah. Pendidikan kita tidak mengajarkan agar orang bisa melek finansial”.

Bahkan Robert T. Kiyosaki, penulis buku yang terkenal Rich Dad, Poor Dad, pernah menulis buku pertamanya yang agak ekstrim dengan judul If You Want To Be Rich and Happy, Don’t Go To School. Aneh memang, tapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang yang bukan berpendidikan tinggi tapi hidup kaya (raya).

Dalam surat nampaknya Anda begitu pesimis memandang masa depan Anda sendiri hanya karena satu soal yakni uang. Pada kesempatan ini perlu saya tekankan bahwa pada dasarnya manusia memiliki unsur jiwa dan raga sehingga dalam pemenuhan kebutuhanpun perlu ada keseimbangan (balance) antara kedua unsur ini.

Anda patut beruntung karena datang dari keluarga yang membekali Anda dengan banyak hal menyangkut etika hidup (budipekerti). Ini juga modal yang amat konstruktif untuk hidup. Anda bisa berpengaruh besar karena memiliki sifat dasar yang baik.

Soal pendidikan yang sedang Anda hadapi saat ini lebih merupakan bekal agar Anda dapat memahami berbagai fenomena yang terjadi dalam hidup ini. Kalau soal menggapai cita-cita Anda untuk bisa menjadi orang yang berduit dan berpengaruh, ada banyak cara dan banyak orang sukses mempunyai jalan pikiran yang berbeda-beda.

Dalam buku Rich Dad, Poor Dad (Juni 2002), ditulis bahwa orang kaya tidak bekerja untuk uang tapi oleh cara mereka mengelola uangnya sehingga pada gilirannya justru uanglah yang akan bekerja untuk mereka. Nah, hal ini tidak diajarkan ayah yang miskin (Poor Dad) kepada anaknya.

Oleh karena itu dari dalam hati Anda perlu ditimbulkan semangat baru untuk meyakinkan diri sendiri bahwa sekolah yang sedang Anda jalani akan memberi arti besar bagi Anda untuk membentuk mental dan spirit Anda agar kelak dim kemudian hari Anda bisa lebih pintar mengelola situasi di sekitar Anda agar bisa ”survive” dalam perjuangan menjadi orang yang ”kaya arti”. Anda menjadi sosok yang berarti bagi keluarga, bagi daerah dan negara. Ada ungkapan yang mengatakan demikian:

Orang pintar adalah orang yang biasa mengerjakan hal-hal yang tidak biasa dikerjakan oleh orang biasa . Selanjutnya dalam buku Big Things Happen, 1998, Don Gabor mengutip Hellen Gurley Brown, pengarang dan Editor kepala Majalah Cosmopolitan yang mengatakan bahwa :

Satu-satunya hal yang memisahkan orang yang sukses dari orang yang tidak sukses adalah kesediaan untuk bekerja keras sekali.” Nah saudara Agus, dengan demikian sebagai seorang muda yang penuh energi dan vitalitas tidak perlu merasa salah ataupun merasa berbeda manakala Anda memiliki idealisme yang tinggi.

Justru itulah yang dikehendaki sebagai tujuan hidup yang sudah jelas tergambar untuk dicapai. Alangkah tidak berartinya hidup bila tidak memiliki arah atau tujuan untuk dicapai. Banyak hal-hal besar terjadi kalau Anda dapat melakukan hal-hal kecil dengan benar. Sukses itu hadir dari hasil perkalian antara Impian dan Kerja Keras .

Baiklah saudara Agus, demikian jawaban saya terhadap pertanyaan dan persoalan yang sedang berkecamuk dalam pikiran Anda. Selamat belajar. Kabarkan bila Anda telah sukes di kemudian hari. Semoga.
Salam, dr. Valens Sili Tupen,MKM.


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda