Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App, Sc, Ph.D


Foto ist
Frans Umbu Datta bersama istri

Jatuh Cinta pada Peternakan

PROF.Ir. Frans Umbu Datta, M.App, Sc kembali memimpin Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang setelah dilantik, Jumat (6/11/2009), di Aula Utama Depdiknas di Jalan Sudirman-Senayan Jakarta. Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet Undana) ini akan menjalani masa jabatan kedua sebagai Rektor Undana hingga 2013 nanti.

Selama periode pertama, 2005-2009, banyak hal yang sudah dilakukan oleh Umbu Datta. Yang paling fenomenal adalah membuka Fakultas Kedokteran Undana. Selain itu, Umbu Datta juga tampil dengan pemikiran cermerlang di tingkat nasional dengan ikut menggagas pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPT). Sebagai alumnus Undana, Umbu Datta juga terus berupaya memajukan Undana dan NTT.

Di balik penampilan yang bersahaja, siapa sangka sosok ini menghabiskan masa kecil bersama hewan seperti kuda dan kerbau? Ia kerap bermain dan menggembalakan kerbau di padang sabana bumi Sumba. Masa kecil yang terbiasa dengan hewan itu pula yang membuatnya jatuh cinta pada dunia peternakan.
Ternak kerbau pula yang membuatnya menolak secara halus saran paman-pamannya untuk memiliki menjadi pilot, dokter maupun masuk ke AKABRI. Untuk mengenal lebih jauh dengan Frans Umbu Datta, berikut petikan perbincangannya dengan Pos Kupang belum lama ini.

Anda seorang guru besar yang memimpin lembaga pendidikan terbesar di NTT. Apakah ini hasil didikan orangtua Anda? Bagaimana masa kecil Anda?
Saya lahir tahun 1960. Ibu saya seorang ibu rumah tangga yang disiplin, keras dan pernah tinggal dengan orang Belanda juga. Kalau ayah saya memang berpendidikan OVO, zaman Belanda juga. Jadi mereka punya cara didik keras pada kami. Ayah saya seorang guru sekolah dasar. Saat ini dia 81 tahun, dengan harapan tetap berumur panjang. Tanggal 14 Oktober lalu genap 81 tahun. Dia seorang pensiunan guru SD. Ia mengajar sejak zaman Belanda, salah satu muridnya adalah Pdt. Yewangoe. Saya terlahir dari keluarga guru. Meskipun ayah saya guru, tidak otomatis cita-cita kami menjadi guru juga.

Mengapa Anda memilih masuk Fakultas Peternakan Undana?
Karena sejak kecil, hampir setiap hari saya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ternak, ke sawah tunggang kuda, ke kebun tunggang kuda, pergi ke kali yang jaraknya 3-4 km itu dengan kuda. Ke kampung kakek dan nenek juga tunggang kuda. Jadi keseharian saya dengan ternak. Saya juga pernah menggembalakan kerbau meski saya hanya anak seorang guru. Mestinya tidak biasa anak seorang guru menggembalakan kerbau. Tapi saya mendaftarkan diri pada paman-paman saya, saudara-saudara ayah saya agar saya ikut menggembalakan kerbau. Dari situ tumbuh minat pada ternak. Saya berpikir, oh.. punya ternak itu bagus, apalagi ini berhubungan dengan kehidupan ekonomi dan kehidupan masyarakat NTT. Dan, di kampung kita itu kerbau memiliki fungsi yang sangat banyak di antaranya untuk adat-istiadat, yaitu untuk mempertahankan tradisi dan tenaga kerja di bidang pertanian tanaman pangan, untuk status sosial dan bisa untuk tabungan. Kalau anak-anak kuliah, anak sekolah itu membutuhkan banyak ternak. Kalau musimnya anak-anak kuliah, maka ternak di Sumba cari uang.

Bagaimana dengan sekolah Anda?
Saya masuk SMA Kristen Waikabubak, SMP saya di Ibu kota Kabupaten Sumba Tengah sekarang yaitu Waibakul. Tapi SMP Kristen Wailolong. Saya tidak memuji diri, mulai kelas I itu saya tidak belajar banyak, saya bisa tahu banyak pelajaran. Dulu masih ada ilmu ukur, aljabar tidak pernah nilai saya kurang dari sembilan. Saya juara umum terus. Kadang-kadang untuk Bahasa Inggris, ilmu ukur saya mesti harus bantu anak-anak di atas kelas saya. Tapi tidak pernah berpikir bahwa saya itu bisa. Bahkan keluar dari sekolah walau sudah SMP, masih main-main sama dengan anak- anak yang lain. Karena tinggal di paman saya maka saya hampir tidak pernah main. Karena paman saya itu seorang pendeta sehingga saya kerja berat. Kita di dapur, menyapu, ya seperti pembantulah. Padahal jarak rumah orangtua saya dan paman saya itu cuma 8 km. Cuma ayah saya menitipkan saya ke rumah paman saya untuk pembelajaran ini. Jadi rupanya mereka ada maksud-maksud untuk menumpang di rumah orang. Padahal kalau jalan kaki langsung itu juga tidak jauh juga.

Kalau tinggal di rumah orangtua, apakah Anda tidak perlu bekerja?
Kerjas keras sekali, karena saya yang sulung maka ibu saya sangat keras. Cuma nanti tidak belajar karena adik-adik saya merepotkan saya juga. Ketika sudah di SMA Kristen Waikabubak, ada pertukaran tahun ajaran dan selanjutnya saya pindah ke SMAK Andaluri di Waingapu. Saya berinteraksi dengan sejumlah orang yang lulusan atau alumni sekolah yang sama dan saat ini sudah menjadi pejabat di berbagai kabupaten termasuk Bupati SBD, Bupati Sumba Timur itu dari SMA yang sama. Dan, banyak pejabat-pejabat lain dari SMA yang sama, tapi sembunyi-sembunyi.

Di SMAK Andaluri, Anda juara umum II. Bagaimana cara Anda belajar?
Saya menggunakan uang yang dikirim orangtua untuk memesan buku-buku. Buku ini saya gunakan untuk membaca dan belajar. Mungkin karena saya juga suka membaca. Ada pengalaman saya gunakan, saya gunakan uang kiriman dari orangtua untuk beli buku atau pesan buku. Pernah ada teman-teman di SMAK Andaluri ejek-ejek saya, we pesan buku.Tapi buku pelajaran yang di dalamnya sudah ada soal-soal multiple choice, pilihan ganda. Jadi banyak sekali membantu saya juga untuk memahami soal- soal ujian, walaupun dulu ujian sekolah tapi sangat berat.

Anda punya kemampuan di atas rata-rata teman-teman Anda, tentu semakin banyak pilihan untuk bersekolah. Tapi mengapa Anda memilih ke Kupang?
Waktu di Waingapu ayah saya tanya mau sekolah di mana. Opsi dulu mau masuk AKABRI, mau masuk sekolah penerbang atau mau menjadi penyuluh peternakan. Saya bilang sudah biasa dengan ternak, apa salahnya saya ke Kupang saja untuk ambil sekolah yang ada hubungan dengan peternakan. Ya, sudah sampai di Kupang, saya memang dapat rekomendasi Kepala SMAK Andaluri, karena saya juara dua di SMA itu. Juara I Norbert Kaleka yang saya kurang tahu di mana. Selanjutnya datang di Kupang masuk Fakultas Peternakan. Pertama kali saya injak kaki di Kupang tanggal 17 Mei 1981, ini tanggal yang tidak pernah terlupakan karena pertama kali dalam hidup bisa naik pesawat. Pesawat waktu itu adalah Jamrud (jenis Dacota-red) dan Mr. Jack yang menjadi capten pilotnya. Itu orang bule. Pesawat ini adalah sisa-sisa perang. Waktu itu dari kampung saya, di Perwatana ke Waingapu diantar oleh sanak keluarga dengan menggunakan dua unit truk, diantar sampai bandara. Paman saya, saudara- saudara saya ikut, keluarga dekat semua. Selanjutnya sampai di Kupang, saya tidak harus ikut tes di Undana. Waktu itu saya ditawari untuk memilih jurusan pendidikan Biologi di FKIP, tapi tanpa menolak saya secara halus menyatakan ingin memiliki Fakultas Peternakan saja. Karena mereka cari kalau bisa tanpa test masuk di FKIP. Waktu itu favoritnya biologi. Saya sudah memilih peternakan.

Berapa lama Anda kuliah?
Hanya tiga setengah tahun saya sudah menyelesaikan semua SKS dan bukan Oktober 1985 saya sudah ujian skripsi. Kemudian pada April 1986, saya diwisudah. Waktu kuliah itu saya dapat beasiswa ada dua macam, saya dapat beasiswa Supersemar, juga dan Beasiswa TID (tunjangan ikatan dinas). Rupanya, PD I Pak Ginting sekaligus pembimbing utama saya, pembimbing saya lainnya Dr. Saramoni. Saat itu Dekan Faperta, drh. JHC.Hatu. Dengan beasiswa TID, saya akhirnya menunggu untuk menjadi dosen di Undana, sambil sibuk di urusan pemuda Gereja Paulus.

Apa kesibukan Anda di organisasi Pemuda Gereja?
Waktu itu saya Ketua Pemuda Rayon Paris (Pasar Inpres). Kami yang beri nama Rayon Paris. Sekaligus Sekretaris Umum Pemuda di GMIT Paulus. Sementara saya juga Pengurus Karang Taruna di Kelurahan di Naikoten I dan Pengurus Forum Komunikasi Karang Taruna Propinsi NTT di Kanwil Depsos. Giat juga di GMKI, saya lebih banyak di organisasi kerohanian. Sampai ikut persekutan doa, melayani di mana-mana. Itulah pengalaman rohani yang menempah saya.

Setelah selesai S1, mengapa memilih tetap di Kupang?
Itu tadi karena adanya ikatan dinas, jadi beasiswa ikatan dinas. Jadi semacam kontrak bahwa dengan menerima beasiswa itu kita sudah harus siap jadi dosen. Tapi ada penerima TID yang tidak mau jadi dosen. Tapi waktu itu saya mungkin bakat guru dari orangtua, akhirnya saya mau ambil beasiswa itu dan akhirnya setelah lulus, sampai dengan sebelum wisudah saya masih terima beasiswa. Dulu itu saya ingat Rp 32 ribu satu bulan. Itu banyak, dan bulan Maret 1987 saya dapat SK untuk jadi CPNS di Undana.

Apakah Anda langsung mengambil S2 setelah menjadi dosen?
Perjuangan dari waktu ke waktu, akhirnya tahun 1988 ada wawancara dari Dikti untuk mengirimkan calon yang bisa mendapatkan beasiswa dari Australia dari Dikti tapi dibiayai dari Bapenas khususnya dari Bank Dunia. Saya lulus tes dengan beberapa orang dari Undana, seperti Pak Wayan Mudita, Ibu Yeni Raja Kana. Kami tiga orang saja yang lulus. Akhirnya kami berangkat ke Bogor untuk tiga bulan ikut kuliah basic sains dan Bahasa Inggris di IPB selama tiga bulan. Saya jadi matang juga di basic sains. Bahasa Inggris tidak terlalu mendalam karena yang mengajar kita itu orang Indonesia semua. Jadi teman-teman tidak serius mengikuti, saya serius mengikuti tapi teman-teman kelas yaitu dosen-dosen dari perguruan tinggi yang lain tidak serius. Jadi akhirnya Bahasa Inggris kurang terlalu baik. Tapi karena saya juga punya minat dengan Bahasa Inggris, apalagi buku-buku saya juga banyak berbahasa Inggris dan Belanda yang saya baca. Kembali ke Bogor tadi, setelah tiga bulan kursus itu ternyata kami berbagi. Saya ke Australia, Pak Wayan ke Kanada. Saya baru ke Australia setelah ikut kursus intensif lima bulan di Indonesia-Australia Language Foundation (IALF) di Rasuna Said-Kuningan. Dulu namanya Australia Langunge Centre (ALC).

Sepertinya perjalanan dan karier Anda lancar-lancar saja
Ah..., berangkat ke Australia juga tidak mulus. Ada hambatan juga. Mungkin ada orang yang tidak senang, karena saya masih CPNS, tapi sudah berangkat sekolah. Jadi radiogram yang dikirim itu hampir-hampir tidak dikirim pada saya, memang saya baru habis nikah. Saya baru nikah 10 hari itu, tapi langsung berangkat ke Bogor lagi teman-teman saya yang sama-sama dapat beasiswa dari bank dunia dari perguruan tinggi lain berangkat tanggal 17 Januari 1990 ke Australia. Saya baru berangkat tanggal 26 atau 27. Itu hanya tekad dan nekat mau belajar. Kalau bukan jalan Tuhan mana mungkin saya berangkat dan kalau teman-teman sudah berangkat mana mungkin saya berangkat sendiri? S2 saya di Charles Stuarth University, setahun saya langsung selesai Post graduate Diploma, di sini semua ilmu pertanian dipelajari termasuk agronomi harus lulus, ilmu tanah, tanaman makanan ternak. Jadi Post graduate Diploma lebih tinggi dari S1 tapi di bawah S2. Umumnya di Australia S1 dari Indonesia tidak boleh langsung master.

Anda menikmati saat belajar di Australia?
Ya...pengalaman saya dengan S2, supervisor saya minta bantu mengajar jadi asisten. Padahal Bahasa Inggris masih terbatas. Tapi mungkin ada substansi yang lain yang masih bisa terbantu. Mahasiswa S2 itu, teman-teman saya adalah orang bule juga, tapi mungkin ada hal lain yang membuat saya bisa seperti itu. Jadi saya bisa dapat uang. Ada saja caranya. Tanggal 30 Juli 1992 saya pulang. Kemudian menjadi counter pada Proyek Australia di Undana.

Bagaiman dengan S3?
Tahun 1993 juga sudah lulus test untuk berangkat ke Australia untuk S3. Tapi ada juga hambatan yang mirip. Tapi itu namanya pembelajaran, tapi saya tidak pernah jemuh, karena saya sudah tahu bahwa tantangan sebesar apa pun saya bisa lewati, akhirnya saya bisa ikut tes lagi di AusAid. dan akhirnya tahun 1994 saya bisa berangkat lagi untuk belajar selama empat tahun. Tahun 1998, 8 Agustus saya tiba kembali di Kupang.

Apakah sekarang ada dosen Anda yang masih mengajar?
Dosen yang ada Pak H Lawalu, PR 4 saya. Dia dosen saya.

Dulu Anda sebagai mahasiswa, dan dosen-dosen Anda dulu kini menjadi bawahan Anda. Apa perasaan Anda?
Saya kira respek terhadap rektor tetap ada.Ttetapi saya juga respek sebagai senior, seorang kakak tetap saya lakukan. Dan, justru itu yang membuat semuanya masih terpelihara dengan baik. Saya tidak pernah merasa bahwa dosen-dosen saya yang dulu yang secara akademik di Fapet, kini jadi bawahan, tidak pernah saya lakukan mereka seperti itu. Senior-senior saya di Fapet itu saya tetap menghormati mereka sebagai senior, apalagi mereka adalah mantan dosen saya. Maka saya tetap menghormati mereka sebagaimana apa adanya. Sebagai orangtua yang sudah tua sekali, sebagai kakak yang beda umur tidak terlalu beda dengan saya. Dan, karena itu pula mereka sangat respek pada saya. Dan, kalau ada satu dua yang tidak senang pada saya, ya biasalah.

Setelah menjadi dosen, apakah Anda punya keinginan menjadi guru besar?
Saya tidak ada keraguan bahwa tidak akan bisa, karena saya sudah menyusun kebutuhan persyaratan menjadi guru besar itu sejak saya S2. Tanpa orang tahu, karena perencanaan saya cukup sistematis, sehingga dalam waktu 12 tahun setelah saya kembali dari S2, atau tahun 2004, keluar SK guru besar.

Kalau jadi rektor?
Saya tidak pernah membayangkan atau mimpi, apalagi bercita-cita menjadi Rektor Undana. Sehingga selama ini saya sering bilang bahwa menjdi guru besar itu adalah mimpi dan cita-cita seorang dosen. Tapi menjadi rektor itu bonus dari Tuhan. Kenapa? karena kalau kita belajar filosofi bonus, maka bonus itu hanya diberikan Tuhan pada orang-orang tertentu saja. Karena dia bonus maka tidak boleh juga dipertahankan dengan segala cara. Banyak orang yang mendapat jabatan tinggi, dia kira itu hak. Itu bonus. Kalau bonus kenapa harus dipertahankan, cukup dipelihara kalau sudah dipercayakan. Coba Anda perhatikan, waktu saya dikukuhkan jadi guru besar itu saya buat pesta dan saya undang banyak orang, tapi waktu dilantik jadi rektor periode pertama dan kedua, tidak ada pesta. Karena saya tahu jadi rektor adalah bonus. Jadi saya cukup angkat hati pada Tuhan, kami bikin nazar di gereja.

Di kampus Anda Rektor, di rumah Anda kepala rumah tangga. Apakah di rumah juga masih memperhatikan anak-anak belajar?
Saya masih tetap menyempatkan diri, tapi istri sayalah yang paling dominan mendidik anak-anak, termasuk untuk mencarikan mereka sekolah yang baik, mendapatkan tempat les yang baik, sedangkan saya juga sempat mendampingi bahkan antar jemput anak-anak ke tempat les, saya masih sempatkan. Masalah yang paling inti adalah membina kedekatan antara orangtua dengan anak. Jangan sampai jadi anak sopir atau anak apa. Kami juga tidak ada pembantu di rumah.

Apakah masih membantu anak-anak kerjakan PR?
Memang tidak sering, tapi kalau anak-anak saya mengeluh seperti anak saya yang SMP kelas I, IPA di SMP kelas I saja sudah berat, tapi dia sering tanya saya. Kalau dia tanya tentang listrik atau IPA yang sulit, tentu saya bantu. Kan filosofi ilmu eksakta ya cukup untuk itu. Walaupun tidak memahami rumus secara detail tetapi saya bisa memberi dia penjelasan meski tidak sering sekali. Kalau anak saya yang SMA juga tidak terlalu membutuhkan bantuan dalam belajar. Tapi kalau mereka membutuhkan bantuan tentu kami selalu siap untuk membantu. Hal-hal yang sifatnya rumit itu bagian dari tugas saya.


Apa sebenarnya hobi Anda?
Saya suka olahraga. Dulu saya setelah di Kupang itu saya ikut Kempo, sekarang tidak ikut lagi setelah menjadi dosen. Terakhir saya dikasih coklat, tapi apakah pantas saya pegang coklat? Saya waktu itu belajar tiga tahun. Tapi praktik di rumah banyak. Di rumah untuk kesehatan, saya tidak pernah gunakan ilmu bela diri untuk berkelahi, meski waktu saya kuliah itu perkelahian antarpemuda sering terjadi. Saya gunakan untuk kesehatan. Waktu di Australia, saya ikut kungfu sekitar dua tahun. Kalau ada serangan mendadak, tentu gerakan-gerakan reflek masih jalan. Tapi saat ini saya sudah yakin bahwa tidak akan ada orang yang menyerang kita kalau kita menunjukkan sikap agresif. Mulai dari sikap sampai pada ucapan. Selama kita tidak pernah agresif dengan siapa pun, tentu tidak ada agresor. Kalau ada agresor pasti ada respon. Kan hidup ini berkaitan dengan stimulasi dan respon. Kalau stimulasi datang dari kita maka orang akan respon. (alfred dama)


Kegelisahan Seorang Guru Besar

LAHIR dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengandalkan peternakan telah memberi motivasi tersendiri bagi Frans Umbu Datta untuk menjadi seorang ilmuwan peternakan. Sekedar ingin menjadi seorang "mantri hewan", kini Frans Umbu Datta bahkan menjadi seorang guru besar.

Apakah ia puas dengan gelar itu. Tidak! Ada kegelisahan dalam dirinya sebagai seorang guru besar yang melihat populasi peternakan di NTT yang cenderung turun. Belum lagi, peternakan di NTT tidak dinikmati oleh petani peternak atau pemilik ternak. "Saya gelisah sekali karena berkurang jumlahnya, kualitasnya juga berkurang," jelasnya.

Dalam berbagai perbincangan, Umbu Datta selalu menyampaikan ide agar NTT sebagai sumber ternak benar-benar berfaedah bagi masyarakat. Pemerintah Propinsi NTT sudah mencanangkan pembangunan peternakan untuk mengembalikan NTT sebagai gudang ternak, namun tidak banyak yang bisa dilakukan bila dukungan dari para bupati sebagai pemimpin daerah otonomi minim. "Upaya upaya menambah jumlah jumlahnya terutama oleh bupati dan kepala daerah yang harus bergerak," jelas Umbu Datta..

Pria yang memiliki moto SMS: senang melihat orang lain senang atau susah melihat orang lain susah ini menjelaskan, Gubernur NTT boleh memimpin gerakannya tapi implementasi harus dilaksanakan di tingkat kabupaten. Koordinasi ini yang harus dilaksanakan. "Jadi ini kegelisahan saya. Semua program besar dari pemerintah Propinsi NTT sulit terlaksana dengan baik kalau belum mendapat dukungan penuh dari para bupati karena semua dukungan rakyat secara de fakto di lapangan adalah bupati," jelasnya.

Meski gelisah, Umbu Datta tidak pesimis dengan jumlah ternak di NTT yang terus turun. Menurutntya, dengan kerja keras semua elemen maka dalam waktu 10 hingga 20 tahun mendatang, NTT bisa menjadi gudang ternak lagi. "Kalau kita kerja keras maka paling lambat 20 tahun, jumlah ternak dan jumlah penduduk sudah sama," jelasnya.(alf)

Data Diri -------------- Nama : Prof.Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc, Ph.D Tempat Tanggal Lahir : Sumba 9 Februari 1960 Menjabat Rektor Undana Sejak Oktober 2005 Istri :Ny. S.M Umbu Datta-Loasana Anak-anak : Sandra Clarissa, Alfredo Amadeo dan Dian Angelica

Pos Kupang Minggu 3 Januari 2010, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda