Puisi-Puisi Pion Ratulolly

Testimoni Puitik
(Sebuah Catatan Buat Bara Pattyradja)

Karena secara niat mulia
Maka berlayar hijralah kau
Dari tanah Prambanan
Menuju tanah karang

Satu tekad yang senantiasa kau bara dan kau patrikan
Bahwa puisi musti kokoh di atas karang
Puisi harus tegar di samping lontar
Puisi patut meraja di hamparan pasir

Maka karang berbunga puisi
Lontar berhelai syair
Pasir bertabur sajak
Demikianlah deklarasi batinmu yang satu

Revolusi sastra telah kau mulai
Proklamatik puitik telah kau kumandangkan

Kendatipun untuk semua itu
Kau kerap menghalau badai
Menentang gelombang
Bahkan sesekali terkaram
Di bibir pantai
Sunyi, sepi, sendiri
Dan akhirnya kau asing
Segala itu tak sejengkalpun menyurutkan langkahmu

Maka itu sambutlah testimoni kami
"Jiwa-jiwa kami rela mati demi puisi"
(Rumah Poetica 2008)



Embun
(Sekedar Kado Buat Fren)


Sahabat....
Setitik embun kembali menitik
Di pepucuk rimbun
Titipkan kegembiraan
Atas sebuah kemenangan

Reguklah, nikmati
Dan hapus segala dahagamu
Hingga hilang segala keru, segala penat

Tapi kumohon dengan amat
Kau tak lena
Sebab di pinggir kota
Si 'alif' masih memulung duka
Di sudut desa
Si Kiden masih menyulut nestapa

Sahabat.....
Lewat puisi kuketuk mata batinmu
Ku tahu kau merakyat
Maka rakyatah kami

Mari bahagiamu bahagiakan kami
Biar tak ada lagi sedu sedan
Hilang peluh jadi teduh

Sahabat.....
Sekalah air mata kami
Yang sepancawarsa telah menimbun
Hingga jadi mata air kasih sayang

Guyurlah kami dengan setitik embunmu
Agar tak ada lagi kemarau gersang
Di tanah karang

Sahabat...
Kutunggu kau di gapura mimpi dan harapan
Tentang arti berpuluh-puluh jiwa
Yang bersimpuh melata menanti bahagia
(Rumah Poetica, 2008)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda