Saferius Banggung dan Merry Suria Jelamu


ISTIMEWA
Merry Suria Jelamu bersama suami dan ketiga anaknya

Anak Sebagai Teman

MEMBERIKAN kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan mengambil keputusan merupakan salah satu konsep mendidikan yang diterapkan pasangan Saferius Banggung dan Merry Jelamu.

Pasangan yang sama-sama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini tidak pernah mengintervensi anak-anaknya dalam menentukan pilihan. Keduanya memberikan kebebasan kepada anak-anak mereka dengan catatan harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan.

Pasangan ini memiliki tiga anak. Anak pertama, I'in Banggung, lahir di Kupang, 4 Februari 1985, bekerja di Bank Bukopin Kupang. Anak kedua, Paulus Januar Banggung, lahir di Kupang, 25 Januari 1991, kini semester III Program Studi Teknik Pertambangan- Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Anak ketiga, Maria Vianey Banggung, lahir di Kupang, 6 Agustus 1998, kelas I SMP Katolik Giovanni Kupang.

Kepada Pos Kupang di sekolahnya, SD Bertingkat Oeba 5 Kupang, Jumat (15/1/2010), wanita setengah baya yang menjabat Kepala Sekolah SD Bertingkat Oeba 5 Kupang itu mengatakan, salah satu kebiasaan di rumah yang selalu dilakukan keluarganya menjalin kerja sama satu sama lain, baik orangtua maupun anak. Juga menjaga komunikasi yang baik sehingga hubungan yang terjadi adalah hubungan pertemanan.

"Kami tidak pernah menjaga jarak dengan anak-anak. Anak-anak seperti teman saja di rumah. Mereka tidak pernah merasa risih menyampaikan persoalan atau hal-hal yang paling sulit yang mereka hadapi kepada kami. Kami juga mencoba untuk terbuka tentang apa saja kepada anak-anak sehingga tidak ada jarak," kata Merry, yang pernah menjabat Wakil Kepsek SD Inpres Bertingkat Perumnas III.

Wanita kelahiran Manggarai yang suka menyanyi ini, menuturkan, kemajuan teknologi saat ini yang begitu pesat tidak menutup kemungkinan bagi keduanya untuk selalu was- was. Apalagi, ketiga anaknya sudah beranjak remaja dan dewasa. Namun, semua itu ditanggapi dengan fundasi yang kuat dalam rumah tangga yakni keterbukaan.

Menurut Merry, keduanya selalu menceritakan kepada anak-anaknya tentang kisah perjalanan hidup mereka hingga mencapai apa yang dimiliki saat ini. Hal ini dilakukan agar anak-anak memahami bahwa kesuksesan dan keberhasilan tidak bisa digapai dengan main-main saja, tetapi dengan kerja keras dan penuh pengorbanan.

"Anak-anak selalu terbuka jika ada teman-teman yang mendekati mereka. Mereka menceritakan apa adanya. Sebagai orangtua kami tidak pernah melarang mereka untuk berteman dengan siapapun. Tetapi, kami memberi masukan dan rambu-rambu yang perlu mereka lakukan dalam pertemanan," katanya. (nia)


Beri Kepercayaan


TAMATAN SPG Katolik St. Aloysius Ruteng dan lulusan program D2 PGSD Undana ini mengisahkan, pada suatu saat pernah melarang anak keduanya jangan berteman dengan anak-anak yang suka mabuk dan anak-anak jalanan.

Ia khawatir kalau anaknya keluar dan membuka internet. Ia takut bila anaknya melakukan hal-hal yang negatif jika selalu bergaul dengan internet dan anak-anak yang tidak jelas. Namun apa yang dijawab anaknya? Putra keduanya membantah semua kekhawatiran tersebut dan berusaha menguatkan hatinya. Putranya malah membalik semua pikiran negatif yang ada di benaknya.

"Saya terharu dengan pendapatnya. Dia katakan, mama, kalau mama melarang saya untuk berteman dengan orang-orang seperti itu, apa sebenarnya yang harus saya lakukan. Apakah saya harus pergi kuliah dan pulang duduk manis di rumah. Padahal, kalau saya bisa bergaul dengan mereka, mungkin sesuatu yang positif yang saya miliki saya bisa bagikan dengan mereka. Merupakan rahmat kalau mereka kemudian mulai berubah, walaupun perlahan-lahan. Minimal kehadiran saya bisa merasuki mereka, daripada tidak sama sekali," tutur Merry menirukan anaknya.

Pemikiran anaknya inilah yang membuatnya sampai saat ini tidak pernah melarang anak- anaknya untuk melakukan sesuatu. Ia percaya bahwa ketiga anaknya tidak akan berbuat macam-macam di luar. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan mereka di bangku sekolah.
Dalam hal belajar, ia memberikan kepercayaan penuh dan tidak pernah intervensi apalagi membuat jadwal terhadap waktu belajar anak. Anak-anaknya sangat tahu kapan haru belajar dan maju mundurnya hasil belajar di sekolah. Sehingga, dengan sendirinya mereka mengatur waktu main, belajar maupun membantu keduanya di rumah.

Merry menuturkan, anak pertama dan kedua memiliki kesadaran yang sangat tinggi dalam setiap pekerjaanya. Sedangkan yang ketiga memang masih membutuhkan perhatian yang serius, karena masih belum mampu membedakan waktu bermain dan belajar. Ketiga anaknya juga memiliki potensi luar biasa di bidang musik, terutama piano sehingga sering bermain di gereja.

Semula, ketiga anaknya memang tidak berniat untuk belajar musik, tetapi karena dirinya biasa menyanyi bahkan menjadi dirigen, akhirnya ia berinisiatif untuk memberikan kursus musik bagi ketiga anaknya. Ia bersyukur saat ini tidak ada hambatan jika da kegiatan paduan suara di gereja atau di mana saja.

Keinginan memberikan kursus musik bagi ketiga anaknya juga berawal dari pemikiran bahwa suatu saat anak-anaknya tidak bisa mengandalkan PNS saja sebagai mata pencaharian. Keterampilan inilah yang diberikan kepadanya sebagai bekal untuk masa depan anak-anaknya. (nia)

Pos Kupang Minggu 24 Januati 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda