San Diego Hills Lekebai

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

PUISI Karawang Bekasi milik Chairil Anwar disadur begitu saja, dan dibacakan dengan suara lantang. "Karawang Lekebai!" Waduh, memang orang kita selalu saja ada cara untuk menarik perhatian.

Yang pasti diyakininya adalah Chairil Anwar tidak akan marah puisinya Karawang Bekasi digubah menjadi Karawang Lekebai. Bukankah Bapak Frans Seda kini terbaring di Karawang? Bersama pahlawan perang yang diabadikan melalui pena pelopor Angkatan 45, jasadnya kini bersatu, dari tanah kembali kepada tanah.

"Karawang Lekebai.... Kami yang kini terbaring di antara Karawang Lekebai! Tidak bisa berteriak merdeka dan angkat senjata lagi... Kami Cuma mayat yang berserakan, tetapi adalah kepunyaanmu. Kenang-kenanglah kami, teruskan, teruskan jiwa kami... Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Syahrir, menjaga Frans Seda..."
***
"Bagus puisimu! Tetapi rasanya jauh amat ya," Jaki menyambung. "Karawang Lekebai. Langgar pulau dan langgar laut, jalur air, udara, dan darat panjang amat untuk sampai di Kerawang maupun untuk sampai ke Lekebai..."

"Antara Karawang Lekebai..." Rara masih melanjutkan puisinya. "Jika dada terasa hampa... Dan jam dinding kembali berdetak. Darat, air, dan udara adalah jiwa kami. Kami yang terbaring di antara nusantara... Kami adalah kepunyaanmu. Kenang-kenanglah kami... Teruskan, teruskan jiwa kami. Menjaga Frans Seda, menjaga El Tari, menjaga Bung Kanis Pari..."

Tepuk tangan meriah, begitu Rara selesai membacakan puisinya. "Apa yang dapat dikenang dari Frans Seda?"

"Banyak! Pejabat negara. Mantan menteri perkebunan, menteri pertanian, menteri keuangan, menteri perhubungan. Beliau juga menjabat sebagai penasehat ekonomi untuk tiga presiden, Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati. Dia adalah sosok nasionalis lintas agama, beliau adalah salah satu pengamat ekonomi yang diperhitungkan di tanah air! Dia pantas jadi pahlawan!"
***
"Saya akan menulis novel tentang Frans Seda. Judulnya Dari Lekebai ke San Diego Hills Karawang. Keren kan judulnya?

Variasi bunyi San Diego Hills dan Lekebai, kedengarannya gimanaaa gitu," kata Nona Mia. "Serasi dengan judul novelku yang lain, Dari Tebuireng Jombang ke Jakarta... Novelku pasti laris sekali nanti. Tetapi bukan soal variasi bunyi, pilihan nama, sosok-sosok tokoh ini yang akan kutulis."

"Apa yang akan kamu tulis?" tanya Benza.
"Sosok Frans Seda yang selalu memikirkan ekonomi kerakyatan!" Jawab Nona Mia. "Sosok yang terkenal bersih dari yang namanya kasus-kasus korupsi yang sekarang selalu menjadi wajah tanah air dan tanah NTT!"

"Beliau juga sosok yang selalu menghargai dan menghormati orang lain, siapa pun dia! Apapun latar belakangnya!"
"Sebagai sosok yang bersih apakah Frans Seda juga menghormati para koruptur? Apalagi koruptor yang meraup uang rakyat dengan sesuka kuasanya?"

"Hormat pada orang lain, itu pasti! Tetapi tentu saja beliau tidak mengajarkan kita untuk menaruh hormat pada keangkuhan, kesombongan, manipulasi, apalagi korupsi!"

"Apakah itu semua akan kamu tulis dalam novelmu?" tanya Benza.

"Ya!" tegas Nona Mia. "Hormat dan belas kasih itu tidak pernah memilih orang. Akan tetapi hormat dan belas kasih tidak dihadirkan untuk menghancurkan kebenaran. Apalagi berdiri tegak di atas kepentingan segelintir orang yang terang-terangan menggerogoti penderitaan rakyat.

Apalagi untuk membebaskan koruptor yang benar-benar terbukti mengkorup uang rakyat. Jadi setiap orang, tua muda, mesti bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan dan buah dari perbuatannya...baik ataupun buruk!"

"Itu akan kamu tulis dalam novelmu?"
"Ya! Novel pertama, judulnya Dari Lekebai ke San Diego Hills Karawang dan novel kedua Dari Tebuireng Jombang ke Jakarta..."
***
Lain lagi dengan Jaki. Dia membacakan puisi dengan judul Catatan Tahun 2010 yang disadur utuh dari puisinya Chairil Anwar juga. "Ada tanganku. Sekali akan jemu terkulai... Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut dan suara yang kucintai kan berhenti membelai.

Kita koruptor di buru. Yang pasti tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau diranjang...Kita koruptor diburu tidak tahu membaca Frans Seda di Karawang dan Gus Dur di Tebuireng..." Jaki berapi-api.

"Stop Jaki!" Rara marah. "Chairil Anwar marah besar kalau tahu saduranmu tidak memperlihatkan estetika puisi yang sebenarnya!"
"Namanya juga saduran, bebaslah! Lisencia poetika!" tangkis Jaki.

***
Selanjutnya, Benza menyampaikan kenangannya dalam bentuk pantun kepada Frans Seda dan Gus Dur Judulnya San Diego Hills Lekebai. "Jalan-jalan ke Tebuireng, pasti mampir di Jombang. Jalan-jalan ke San Diego pasti mampir di Lekebai. Kalau Gus Dur ke San Diego, jangan lupa Lekebai. Kalau Frans Seda ke Tebuireng, jangan lupa Jombang..."

"Wah, pantunmu kurang nyambung. Kasihan Gus Dur kalau diminta mampir ke Lekebai. Jauuuh sekali kan? Tebuireng di Jombang, gampang mampirnya. San Diego di Karawang bukan Lekebai, bagaimana cara mampirnya?" Protes Nona Mia. "Kalau punya duit sih oke saja. Tinggal terbang ke sana...kalau tidak bagaimana dong?"

"Oooh maaf," Benza memukul testanya. "Kukira San Diego Hills Karawang itu adanya di Lekebai...Maaf, sekali lagi maaf ya..." (*)


Pos Kupang Minggu 10 Januari 2010, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda