Sejenak Menikmati Suasana Gua Monyet Alak


POS KUPANG/ALFRED DAMA
MONYET ALAK -- Monyet-monyet yang berkeliaran di kawasan wisata Gua Monyet Alak merupakan pemandangan keseharian bagi pengguna jalan menuju Pelabuhan Tenau-Kupang.


SEKELOMPOK monyet (macaca mulatta) berlarian dengan bebas ketika melihat sebuah truk barang berhenti di tepi jalan, Selasa (12/11/2010). Beberapa ekor monyet langsung saja naik ke atas bak truk, sementara beberapa lainnya hanya memperhatikan pengemudi truk dan dua kondektur yang duduk di kabin pengemudi.

Monyet-monyet itu semakin mendekat ketika pengemudi melempar kacang ke arah monyet-monyet itu. Beberapa monyet yang lebih besar bahkan saling berebutan hingga saling gigit untuk mendapat beberapa kacang, sedangkan monyet yang lebih kecil hanya melihat dari jauh untuk menunggu kesempatan mengambil sisa kacang dari hasil rebutan. Tidak berapa lama, sebagian monyet itu meninggalkan truk tersebut ketika truk itu meninggalkan tempat itu.

Demikian pemandangan yang hampir setiap hari di Kawasan Wisata Gua Monyet-Alak di Kelapa Satu, Kelurahan Alak-Kecamatan Alak, Kota Kupang.
Pemandangan yang sama juga ketika sebuah sepeda motor yang pakir persis di pintu masuk ke kawasan itu. Belasan monyet menyambut kejadiran pengendara motor tersebut meski sang pengandara tampaknya berhenti hanya untuk istirahat sejenak.

Beberapa warga di sekitar kawasan itu mengatakan, pada umumnya monyet langsung menyambut orang yang datang ke tempat itu. Monyet-monyet itu mengira orang yang datang adalah pengunjung yang membawa makanan buat mereka.

Perilaku monyet-monyet di kawasan wisata milik Pemerintah Kota Kupang ini menjadi daya tarik tersendiri. Perilaku monyet yang saling berkejaran, bergelantungan dan melompat dari dahan ke dahan, saling bercengkrama dan berguling, berkelahi memperebutkan sesuatu, adalah pemandangan yang unik dan lucu.

Tidak heran bila perilaku monyet-monyet ini membuat pengendara sepeda motor atau mobil pribadi yang kebetulan melintas, berjalan perlahan atau berhenti sejenak untuk melihat perilaku hewan primata ini. Beberapa induk monyet itu setia menggendong bayi mereka.

Taman wisata gua monyet ini merupakan satu dari taman wisata dengan keunikan hewan monyet yang cukup jinak. Salah satu tempat lainnya adalah taman wisata Gua Monyet di Jalan Kartini-Kelutahan Kelapa Lima yang dikelola Pemerintah Propinsi NTT.

Menurut pejaga kawasan ini, Filmon Kay, jumlah monyet yang ada dalam kawasan ini sebanyak 327 ekor yang terbagi dalam empat kelompok. Kelompok terbanyak berjumlah sekitar 180 ekor, sementara kelompok terkecil hanya sekitar 40 ekor saja.

Setiap harinya, monyet-monyet ini diberi makan 8 kg
jagung. "Setiap hari kita harus memberi makan delapan kilogram jagung, cukup atau tidak cukup tergantung monyet-monyet ini juga," jelas Kay.
Kawasan ini mulai di kelola secara baik sejak tahun 1998 dan sejak saat itu mulai dilakukan penataan-penataan seperti mendirikan beberapa lopo dan naungan bagi pengunjung.

Kepala Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata (Budsenpar) Kota Kupang, Dra. Nova A.Bessy didampingi Sekertaris Dinas Budsenpar Kota Kupang, Lukas Luhi menjelaskan bahwa sejauh ini Pemkot Kupang melalui Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata Kota Kupang belum menetapkan tarif bagi pengunjung. Ini karena kawasan ini merupakan bagian dari Hutan Lindung Kali (RTK) 174, belum menjadi kawasan konservasi.

Hingga ini, Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Kupang terus melakukan koordinasi dengan intansi terkait pengelolaan hutan agar bisa mengelola secara baik kawasan ini.

Terlepas dari permasalahan itu, kawasan wisata gua monyet ini menyediakan alternatif hiburan lain. Dengan kehadiran monyet-monyet ini, sedikit banyak bisa membuat para pengunjung melepas kepenatan.

Sayangnya, kawasan ini belum dimaksimalkan. Padahal banyak kawasan wisata di Indonesia menjual satwa liar ini sebagai obyek yang sangat menjanjikan dalam dunia pariwisata.(alf)


Kembangkan Wisata Alam

KAWASAN wisata gua monyet merupakan kekayaan alam yang dimiliki Kota Kupang. Untuk itu, Dinas Kebudayaan-Pariwisata dan Seni akan menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata alam.

Kepala Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata (Budsenpar) Kota Kupang, Dra. Nova A Bessy yang ditemui di kantornya di Jalan Perintis Kemerdekaan- Walikota Baru Kupang, Jumat (15/1/2009), menjelaskan, kawasan wisata Gua Monyet merupakan salah satu andalan obyek wisata Kota Kupang.
Pengelolaan objek wisata ini belum optimal karena kawasan tersebut merupakan kawasan milik instansi lain yaitu Balai Pemantapan Kawasan Hutan. Dan, tinggal menunggu perkkembangan lebih lanjut. "Kawasan ini berada dalam wilayah Kota Kupang, tapi bukan milik lembaga ini, kita sementara cari aturan-aturan dan terus membangun komunikasi dengan kehutanan supaya kawasan ini bisa kita kelola," jelasnya.

Menurutnya, kawasan tersebut merupakan satu kesatuan dari RTK 174, namun pihaknya akan meminta pengelolaan kawasan ini seluas lima hektar atau sesuai dengan penyebaran monyet-monyet tersebut. Bila, pihaknya sudah mendapat persetujuan dari berbagai pihak terkait, maka kawasan ini akan dikelola secara maksimal.

Nova menjelaskan, sejauh ini pihaknya hanya bisa mendata dan mengawasi monyet-monyet yang ada, namun tidak memiliki kompeten untuk melarang perburuan monyet atau aksi penebangan kayu dalam kawasan itu.

Namun bila sudah aturan yang jelas bahwa kawasan itu sepenuhnya dikelola oleh Budsenpar Kota Kupang, maka pengawasan dan larangan terhadap pengambilan kayu dan perburuan monyet akan diperketat, bahkan akan dikenakan sanksi.

Menurutnya, pada tahun 2010 ini, pihaknya sudah merencanakan menata semua objek wisata di Kota Kupang termasuk kawasan wisata gua monyet itu. Hal ini menjadi program kerja lembaga yang dipimpinnya. Dan, kawasan tersebut juga akan dikelola lebih baik lagi.

"Kami akan menambah lopo-lopo, membangun fasilitas- fasilitas penunjang dan berbagai kebutuhan untuk pengunjung," jelasnya. (alf)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda