Utopia

Cerpen Mario F Lawi

JIKA diizinkan Tuhan untuk memilih satu dari antara dua permintaan ini, apa yang akan kau minta, Sahabatku? Meminta padaNya untuk mengembalikan apa yang telah dirampas daripadamu dan membiarkanmu berjalan sendiri? Atau memintaNya untuk tetap menjagamu seperti yang selama ini telah dilakukanNya terhadapmu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanyalah beberapa pengandaian, Sahabatku. Engkau bahkan tak perlu memedulikannya. Apa pun permintaanmu, segalanya tergantung padamu.

Tapi, sebelum engkau memutuskan, dengarkanlah dulu kisahku ini.
Angan-angan itu seperti matahari; tak dapat kita jangkau ketika kita merasakan panasnya, tapi dialah yang membuat kita tetap mampu membedakan gelap dari terang. Ketika dia terbit dari sisi timur, kita tahu bahwa terang akan segera bersinar. Saat dia hendak terlelap di sisi barat, kita pun tahu, senja akan melahirkan malam. Itulah angan-anganmu, yang membuatmu tetap mampu berjuang di tengah kegelapan yang menaungimu, sebab engkau pun tahu, sinar terangnya hanyalah masalah waktu.

Angan-angan adalah sinar harapan. Dialah matahari masa depan yang harus engkau kejar selama duniamu yang sekarang masih terlelap dalam gelap. Dialah setitik cahaya yang membuat engkau selalu memiliki semangat menapaki hidup. Bahkan ketika angan-angan itu hanya bagaikan secercah kerlip, engkau dapat tetap melangkah. Selangkah demi selangkah. Setapak demi setapak. Lagi dan lagi. Atau, masihkah hidup ini menarik dan menggairahkan ketika apa yang kelak terjadi di masa depan telah kita ketahui dari sekarang?

Kisah ini berkaitan dengan angan-angan seekor laron yang ingin memberikan seluruh hidupnya bagi kekasih hati yang begitu dicintainya seperti ia mencintai cahaya. Namakanlah dia Bhisma, sebab dia pun ditakdirkan untuk menentukan kematiannya sendiri, seperti Bhisma Dewabharata yang menunggu matahari berada di belahan utara khatulistiwa sebelum memutuskan untuk melepaskan jiwa dari raganya yang telah terpasung ditancapi anakpanah-anakpanah Srikhandi dalam mahaperang Bharatayudha.
Takdir memang telah ditentukan, tapi bukankah tak satu makhluk pun dapat mengetahui seperti apa wujud takdirnya sebelum ia sendiri mengalaminya, Sahabatku?

Baiklah kuceritakan kisahnya padamu. Sebelum menetas, Bhisma telah ditakdirkan untuk menjadi seekor rayap pekerja, bahkan jauh sebelum protozoa-protozoa dalam saluran pencernaannya belajar mencerna kayu-kayu yang dimakannya. Bersama rayap-rayap yang lain, dia begitu setia melayani sang ratu yang memang hanya ditugaskan untuk makan dan bertelur sepanjang hidupnya.

Begitu setia mereka berada dalam dekap lindap gelap. Membanting tulang untuk menjaga hidup sang ratu dan telur-telur yang kelak menetas, entah yang ditakdirkan untuk menggantikan sang ratu atau hanya ditakdirkan sekadar menjadi tentara atau pekerja seperti dirinya dan teman-temannya yang lain.

Setiap perjalanan pekerja seperti mereka ditentukan untuk mengeroposkan sedikit demi sedikit kayu yang mereka hinggapi demi menciptakan rumah-rumah labirin dengan campuran kotoran dengan zat yang mereka keluarkan. Mereka harus giat bekerja sebelum hujan datang menyongsong kering bumi. Sebelum sayap-sayap mereka membawa mereka terbang mencari cahaya. Dalam giat bekerja itulah, ketika Bhisma dan teman-temannya sedang giat mengumpulkan bakal-bakal jamur sebagai cadangan makanan, ia melihat seekor laron pekerja yang membuatnya tak mampu beranjak dari tempatnya berpijak. Pujaan hatinya yang bernama Rina. Bhisma pun merasakan jatuh cinta; sebuah cinta yang lengkap dengan segenap daya sengat dan cahaya yang menyala-nyala.

Maka tak ada alasan bagi Bhisma untuk bersedih ketika musim hujan hampir menjelang. Seiring dengan tumbuhnya dua pasang sayap di pundaknya, ia tahu inilah saat bagi dirinya, Rina dan teman-temannya yang lain untuk terbang mencari cahaya yang menuntun mereka membentuk kerajaan baru. Dengan sayap-sayapnya, Bhisma seakan berkata pada pujaan hatinya, "Terbanglah kekasihku, dan lepaskanlah sayap-sayapmu saat aku terjatuh, sebab kaulah yang akan menuntun perjalanan kita menuju kerajaan baru."

Tepat semalam sebelum hujan pertama membelai bumi, kawanan laron itu terbang mencari cahaya, seperti migrasi kawanan burung dari barat mencari kehangatan di arah timur. Dari kejauhan, setitik cahaya terlihat di sebuah gubuk tua. Maka terbanglah kawanan itu mendekat. Mengitari cahaya lilin itu seperti menikmati pesta pora cahaya temaram yang keemasan.

Bhisma pun bernyanyi dan bersenandung, sambil membayangkan wujud kerajaan barunya nanti. Dalam kegirangan itulah, Bhisma kehilangan jejak-jejak sang permaisuri hati. Tak jauh dari meja yang menyimpan cahaya lilin, ia lihat Rina telah melepaskan sayap-sayapnya. Dengan kepolosan itu, pujaan hatinya seolah berkata padanya, "Marilah".

Bhisma pun tahu bahwa dirinya harus melepaskan kedua pasang sayapnya sebelum mereka menciptakan koloni baru. Namun, dalam temaram cahaya lilin, dia kembali kehilangan jejak pujaan hatinya. Betapa ia merindukan ujung abdomen sang kekasih untuk menuntunnya mencari tempat yang aman bagi anak-anak mereka nanti. Bhisma pun terbang mencari bagaikan menari di antara cahaya-cahaya lilin yang keemasan. Ketika samar-samar ia lihat Rina sedang melintas pelan menuju cahaya sebatang lilin, seekor cicak jatuh dari dinding dan berdiam diri tepat di dekat lilin, menunggu makan malamnya berjalan mendekat.

Bhisma pun terbang rendah, melintas beberapa ekor laron yang terlihat berjalan mendekati lilin. Nalurinya mengatakan, inilah saat yang tepat baginya untuk mati, meski ia tak tahu dengan cara apa kelak ia mati. Ia sempat berpikir untuk menubrukkan dirinya pada sumbu lilin agar cahaya di sekitarnya semakin benderang dan mereka dapat melihat malaikat kematian itu menunggu mereka di dekat lilin. Namun, tepat ketika ia berteriak meminta teman-temannya untuk menjauhi lilin, cicak itu melompat dan mendekapnya dengan rahangnya yang lapar. Laron-laron pun kemudian melihat sang maut yang sejak tadi mengintai. Karena itu, mereka pun berpencar menjauhi lilin, berusaha menghindari bahaya yang mengintai di antara reremang cahaya lilin dan kegelapan.

Sebelum tubuh Bhisma remuk dalam saluran cerna sang cicak, ia lihat sang pujaan hatinya berlari, diiringi seekor laron jantan lain yang menggigit ujung abdomen sang kekasih hatinya sambil mencari tempat bagi kerajaan rayap yang baru. Saat itulah ia dipaksa mengerti arti cinta yang tak harus memiliki. Tapi Bhisma bahagia telah menjadi sebentuk arti bagi Rina. Sebentuk arti yang menyelamatkan. Sebentuk arti kehidupan. Kebahagiaan yang bahkan melampaui kebahagiaan Bhisma Dewabharata setelah bebas dari supata Dewi Amba.

Demikianlah sepenggal kisah yang ingin kubagikan kepadamu. Pilihan sepenuhnya ada padamu, meski tak ada seseorang yang tahu seperti apa wujud takdirnya sebelum ia mengalaminya sendiri, Sahabatku.*


Kupang, Akhir 2009-Awal 2010
Untuk Protus Hyansintus Asalang (Kehilangan bukanlah akhir segalanya).


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda