TAK sedikit program di tempat penitipan anak atau prasekolah yang menawarkan program pengajaran pengenalan alfabet dan angka dengan beragam konsep.

Tapi, sebenarnya pada usia berapa anak bisa menerima pelajaran seperti itu? Menurut Robin Goldstein, Ph.D, dalam bukunya yang bertajuk Buku Pintar Orang Tua, penekanan pada aktivitas pembelajaran tersebut adalah bagian dari tekanan masyarakat luas supaya anak-anak dapat belajar lebih banyak, lebih dini.

Ditambah lagi, penerbit-penerbit membuat buku-buku pelajaran dan piranti lunak untuk membantu anak belajar, bahkan di usia bayi. Padahal, para orangtua masih merasa bahwa anaknya yang berusia 2, 3, atau 4 tahun belum siap belajar bentuk, warna, huruf, dan angka.

Menurut Robin, seorang anak berusia 3 tahun mungkin mengetahui bahwa menyebutkan 1, 2, 3, 4 disebut berhitung, tapi mungkin tak memahami angka 6 mewakili 6 benda. Bukan tak mungkin untuk anak belajar mengingat dan mengulangi kembali serangkaian daftar singkat angka dari satu sampai sepuluh dan huruf-huruf. Tetapi, pemahaman akan konsep demikian biasanya tidak dapat dimulai hingga anak berusia 4-6 tahun.


Dijelaskan lebih lanjut oleh Robin, bahwa seorang anak tak dapat diajar memahami konsep angka dan huruf sebelum ia benar-benar siap.

Secara perlahan, setelah mencari tahu dengan benda, bertanya kepada orangtuanya dan orang lain, mengamati lingkungan sekitarnya, dan menjelajah, anak akan belajar arti dari angka dan hurut itu.

Bila keingintahuan alamiahnya didukung dan diberikan benda-benda yang membantunya mencari tahu, ia akan mempelajari konsep angka dan huruf dengan mudah.

Tetapi, terlalu banyak penekanan pada pendidikan dini akan melemahkan dan menghilangkan dorongan alamiah anak untuk belajar.

Orangtua seharusnya menunggu hingga anak menunjukkan minat spontan terhadap huruf, kata, dan konsep angka, kemudian menindaklanjuti dengan apa yang dilakukan anak.

Warna, bentuk, angka, dan huruf adalah bagian dari keseharian yang dilihat anak, ia bisa mempelajarinya secara alamiah, apalagi jika dibantu oleh orang di sekitarnya. Sebenarnya, tak perlu benar-benar memasukkannya ke sekolah khusus.

Orangtua bisa membantunya belajar dengan kata-kata dan aktivitas sehari-hari, misal, "Sini, kamu hari ini pakai celana biru ini, ya?" atau, "Untuk langitnya, kamu mau beri warna apa? Krayon jingga atau biru ini?" atau, "Ini, Mama beri 3 keping biskuit."

Anak terus belajar dari pemaparan konsep itu dalam kesehariannya. Anak mendengar orang dewasa menghitung, membaca, dan mengamati kata-kata dan angka di mana-mana.

Anak belajar mengenal aksara kala orangtuanya membacakan cerita kepadanya setiap hari, atau dengan mengulang cerita kesukaannya.

Secara bertahap, Anda akan mendengar anak bertanya, "Berapa banyak krayon ini?" atau "Ini warna apa?" Saat keingintahuannya makin besar dan didorong dengan bantuan alat tulis oleh orangtuanya, ia akan mencoba menulis, meski belum sempurna.

Jangan lantas mengoreksinya jika ada kesalahan. Lebih baik mendukungnya untuk tetap berhitung dan menulis.

Anaka akan belajar dengan pemahamannya sendiri tanpa tekanan dari siapa pun karena dia tertarik dan termotivasi oleh dirinya sendiri. Kemudian, saat ia berada di taman kanak-kanak dan tingkat pertama, Anda akan melihat anak membuat langkah yang pesat dalam memahami bahasa dan matematika.(kompas.com)


Pos Kupang Minggu 17 Januari 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda