Bayangan

Oleh Capestrano (7nop09)

SEPERTI biasa, Desember yang kemarau itu pun kembali. Dan sekelebat bayangan itu pun turun bersama kabut dan mengembun di pucuk pagi. Hanya sejenak bayangan itu mendekap di ujung dedaun, dan ketika datang matari ia pun berangkat entah ke.

Lalu, ketika malam mencumbui bumi, bersama kabut pula ia kembali membawa nyeri. Nyeri bagi bumi dan juga nyeri bagi aku. Awalnya, ingin kukemas tapak dan menggegas langkah guna memburunya. Tapi, lamat-lamat aku pun insyaf bahwa mengejar bayangan adalah mengejar sesuatu yang sia-sia.
Dengan kecewa, aku pun berusaha melupakan bayangan itu. Melupakannya bersama kalender Desember yang usai.

Melupakannya dalam musim-musim yang lewat. Bersama tanggal-tanggal yang baru, aku pun memulai sesuatu yang baru pula. Sesuatu yang tak pernah sama dengan tahun-tahun yang menjauh. Aku memulai sesuatu yang baru bukan untuk apa-apa, pula bukan untuk siapa-siapa. Aku seperti seorang gila, yang yakin dengan kesadaran, tapi yang sebenarnya tak sadar.

Ke utara, aku kembara, ke timur aku menuju, tapi tak tahu siapa yang kuharap, apa yang kutuju. Lalu, banyak orang mengagumiku dengan keheranan. Mengagumi dengan tawa layaknya ringkikan kuda. Perlahan aku pun merasa asing dengan diriku sendiri, asing dengan orang-orang di sekitarku. Aku sepertinya terlempar ke sebuah kota purba, kota dengan wajah dan gegerak yang aneh. Kota dengan matahari yang selalu redup, bulan yang selalu buram. Tak ada gemintang, komet. Hanya kabut dan kabut.

Di kota itu pun, aku hampir tak bisa bedakan, mana yang dinamakan malam dan mana yang dinamakan siang. Aku sepertinya lupa dengan sesuatu yang dinamakan waktu. Banyak hari kuhabiskan untuk sesuatu yang sia-sia. Selusin kisah kupena, sajak demi sajak kugubah, tapi sepertinya tak kutemukan suatu makna. Lalu, aku pun membenamkan diri di keramaian dan mengambil tempat di sebuah warung kopi.

Teguk demi teguk kuseruput dan mengembusnya penuh hati-hati. Ada tawa terlepas, ada suara terdengar, ada sentuhan terasa, ada aroma terhirup. Semuanya mengalir dari keramaian itu. Sengaja kusimak semua itu, demi melupakan bayangan itu. Bayangan apa? Bayangan siapa?
Yang pasti, bukan bayangan apa-apa, bukan bayangan siapa-siapa. Bukan bayanganku, bukan bayanganmu, bukan bayangannya, bukan bayangan kita, bukan bayangan kami, bukan pula bayangan mereka. Bukan dan bukan.

Sepeninggalnya dari warung kopi, aku pun menyusuri lorong-lorong kota, bebarisan pertokoan. Dari sana kuperhatikan buruh-buruh pertokoan, yang dengan keluh wajah menahan umpatan dari majikannya. Tak tahu aku, entahkah harga dirinya sebanding dengan upah sebulan. Dari sana pula kubaca duka wajah orang-orang desa, yang seharian utuh menjajaki jualan di emperan-emperan pasar, yang segera mengemasi kembali bila dagangannya tak selesai terbeli. Dan bila datang senja, mereka pun menyirna dalam kecewa.

Tak terasa sore telah tumpah di atas kota itu, perlahan aku terus menyusuri hingga remang menungguku di sebuah pantai. Seperti kebiasaanku masa kanak, yang selalu mengambil tempat di keteduhan pohon. Aku pun menyepikan diri di keteduhan pohon ketapang.

Dalam rasa puitik, kuperhatikan senja yang sedang berkemas, ombak-ombak kecil yang berkejaran, buih-buih gelombang yang mendesah, serta walet-walet yang menganyam kelam. Entah, aku sepertinya melihat kembali bayangan itu dalam arakan gemawan. Dan ketika bulan memendar, ia pun bersimpuh di bibir pantai. Memampatkan pasir serupa bukit-bukit mungil. Berdiri, berjingkat, lalu menari melingkari bebukit mungil itu. Selebihnya, ia duduk dan memandang keanggunan rembulan.

Membaca ribuan cahaya-cahaya kecil. Tak tahu sebab, ketika itu, aku jadi terkenang masa remajaku. Terkenang pada permainan dan gelak tawa yang berhamburan ke langit lepas. Terkenang pada ombak, rasi biduk, langit biru, serta ikan-ikan.

Terkenang pada rumah, ayah, ibu, karena harus melahirkan dan membesarkanku sebagai anak nelayan. Tapi, yang lebih penting, terkenang pada sebentuk rupa yang tingkah dan geraknya menyerupai bayangan itu, bayangan yang kini sedang kusimak.
Lalu, kutanya pada diri "Mengapa di dunia ini selalu ada yang mirip: mirip tingkah, mirip gerak, mirip rupa? Dan mengapa kemiripan itu selalu membangkitkan sesuatu yang ada di kalbu?"
Entah apa sesuatu itu, tak bisa aku bahasakan. Kini, kembali kusimak bayangan itu. Makin lama tersimak, bayangan itu makin nyata. Dalam langkah yang sunyi, kudekatkan diriku pada bayangan itu. Perlahan dan tenang.

Kujingkat, jingkat. Makin dekat, dekat dan hanya kabut yang kudekap. Serentak, aku pun terjaga dalam kecewa. Kecewa yang amat. "Adakah ini yang orang namakan dengan ilusi? Ataukah sesuatu yang disebut sebagai fatamorgana? Sesuatu yang nyata di kejauhan, tapi hampa di kedekatan?"

Bersama malam, aku pun kembali ke rumah. Kususuri lagi jalur pertokoan. Aku terkesima dengan beberapa tempat yang kala siang, kelihatan biasa. Tapi, ketika malam menjadi sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang pantas dinamakan malam.

Dari sudut ke sudut, pojok ke pojok, banyak bayangan yang tersayup di kegelapan. Bebayang yang sibuk dengan transaksi. Entah apa namanya. Kuperhatikan lampu-lampu yang berebut kegelapan, lampu-lampu yang merebut wilayah kuasa kunang-kunang langit. Gelegar musik, suara-suara gombal, tawa-tawa serak berhamburan tak tentu arah. Aku hanya berharap bila di suatu musim, sesuatu yang bernama keheningan masih bisa kudengar. "Akan kutunggu keheningan itu."

Sebagaimana waktu yang selalu berarak melingkar, kini aku pun tiba lagi di sebuah Desember. Desember yang tak sama dengan yang sudah-sudah. Desember yang lain. Desember yang tak kemarau lagi. Dan bayangan itu pun menjelma gerimis yang renyai. Menjelma ribuan jejarum hujan. Aku tak tahu, mengapa tiba-tiba kupahami itu sebagai rerupa yang muram. Rerupa yang kelabu, murung bagaikan mendung. Murung yang menyisir sepanjang Desember.

Tak terasa bahwa aku telah melangkahi setahun bersama bayangan itu. Dari Desember yang lalu, yang kemarau hingga Desember yang ini, yang kelabu. Dan kini, aku telah mengambang di pengujung Desember, sebentar lagi kalender-kalender akan kutanggal dan menggantikannya dengan yang baru. Hanya satu yang kupinta pada waktu : "Melupakan bayangan itu, melupakannya secara abadi." *


Pos Kupang Minggu 31 Januari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda