Berkenalan dengan "Musuh" di Sekitar Kita


Foto ilustrasi/fotografi.kompas.com Jalan tanpa alas kaki membuat kaki lebih rileks



ZAT-ZAT penyerbu tubuh kita berada di mana-mana, di udara, di makanan, tanaman, hewan, di air, dan hampir di berbagai permukaan lainnya. Zat-zat itu bisa terdiri dari organisme mikroskopis hingga parasit yang lebih besar.
Meski setiap hari kita terpajan jutaan kuman, kita tetap sehat dan afiat karena sebagian besar organisme penyerbu tersebut berada dalam kendali sistem kekebalan tubuh. Bila sistem imun melemah atau kita berhadapan dengan mikroorganisme yang belum dikenali tubuh, maka kita akan terkena penyakit.
Mari berkenalan dengan berbagai jenis mikroorganisme penyebab penyakit menular.


1. Bakteri
Bakteri adalah organisme bersel satu yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Mereka ada yang berbentuk batang pendek (basilus) atau sel bulat (kokus). Ketika bakteri menular berhasil memasuki tubuh, jumlahnya akan bertambah dan berpotensi memproduksi sejumlah zat kimia yang kuat, yang biasa disebut toksin. Toksin akan menghancurkan sel-sel tertentu pada jaringan yang diserangnya sehingga membuat kita sakit. Tidak semua bakteri berbahaya. Beberapa bakteri yang tinggal dalam tubuh, seperti pada mulut dan saluran usus, malah menguntungkan.

2. Virus
Virus merupakan organisme subseluler karena ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri sehingga virus tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri.
Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Ketika menyerang tubuh manusia, virus memasuki beberapa sel tubuh dan menguasainya, memerintahkan sel inang memproduksi bagian-bagian yang diperlukan untuk memperbanyak diri.

3. Jamur (fungi)
Kapang, ragi, dan jamur payung semuanya termasuk jamur/fungi. Sebenarnya mushroom tidak menular, tetapi ada jenis yeast dan kapang tertentu yang bisa menular. Kandida merupakan salah satu contoh yeast yang bisa menimbulkan infeksi. Kandida dapat menyebabkan sariawan pada bayi, pada pengguna antibiotik, dan pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu.

4. Protozoa
Protozoa adalah organisme bersel satu yang hidup sebagai parasit dalam tubuh. Banyak protozoa yang hidup pada saluran usus dan tidak membahayakan. Namun, ada protozoa lain yang dapat menyebabkan penyakit. Organisme ini hidup dalam makanan, tanah, air, atau serangga.

5. Cacing
Cacing termasuk dalam jenis parasit besar. Apabila jenis parasit ini atau telurnya memasuki tubuh manusia, biasanya ia akan tinggal di saluran usus, paru-paru, hati, kulit, atau otak, dan hidup dari nutrisi yang ada dalam tubuh manusia. Jenis cacing paling umum yaitu cacing pita dan cacing gelang.(kompas.com)


Lari Bertelanjang Kaki Lebih Baik

HASIL studi teranyar menyebutkan, lari dengan telanjang kaki lebih bermanfaat untuk tubuh karena kaki kita menginjak tanah secara langsung. Selain itu, pelari yang bertelanjang kaki lebih rendah risiko cedera karena anatomi kaki saat menjejakkan kaki lebih baik.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature ini dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Harvard University. Mereka membandingkan dua kelompok pelari, yakni mahasiswa dari Amerika Serikat dan Kenya. Mereka diminta berlari minimal 20 km setiap minggu.
Dua kelompok pelari ini memiliki perbedaan signifikan. Kelompok dari AS memang terbiasa menggunakan sepatu hampir setiap saat dan jarang bertelanjang kaki. Sedangkan pelari dari Kenya terbiasa bertelanjang kaki. Para peneliti juga membandingkan dua kelompok remaja Kenya, yakni yang tidak pernah memakai sepatu dan terbiasa memakai sepatu.
Para peneliti mengamati bahwa saat orang berlari dengan berbagai variasi, pelari yang tak memakai alas kaki cenderung menggunakan seluruh kakinya atau saat menjejakkan kaki bagian yang lebih dulu menyentuh tanah adalah bagian telapak, baru tumit.
Sebaliknya dengan pelari yang memakai sepatu, 75 persen mendaratkan tumit mereka terlebih dahulu. Cara ini lebih berisiko menimbulkan cedera. "Mendaratkan kaki dengan cara bagian tengah atau depan telapak kaki lebih dulu memang membutuhkan otot kaki dan betis yang kuat, tetapi guncangan pada otot lebih kecil," kata William L Jungers, Kepala Departemen of Anatomical Sciences, AS.
Ia menambahkan, kaki manusia berevolusi secara khusus dan memiliki karateristik anatomi karena berjalan tanpa alas kaki. Hal ini terjadi terjadi kira-kira 4-6 juta tahun lalu. "Namun, kira-kira 2 juta tahun lalu manusia mulai jinjit karena mulai berlari," kata Jungers.
Mereka yang lari tanpa alas kaki cenderung menghindari mendaratkan tumit terlebih dahulu karena bila dilakukan berulang-ulang bisa membuat kaki sakit. Sedangkan sepatu menawarkan kenyamanan sehingga mereka tak lagi mendaratkan bagian kaki depannya.
Lalu, apakah kita harus mulai menanggalkan sepatu? Tidak juga ternyata. Namun, para peneliti menyarankan agar kita secara perlahan mulai belajar untuk mendaratkan bagian tengah telapak kaki saat berlari.
Di luar persoalan alas kaki, banyak manfaat yang bisa kita raih dari kegiatan berlari. Antara lain melatih sistem kardiovaskular atau melancarkan aliran darah di seluruh pembuluh darah, termasuk ke jantung. Dan yang pasti, lari merupakan kegiatan yang efektif untuk membakar lemak.(kompas.com)



5 Penyakit yang Timbul Akibat Stres Panjang

TUBUH manusia masih bisa beradaptasi dengan baik untuk menangani stres jangka pendek. Namun jika stres yang Anda alami cukup lama, bisa berdampak serius pada kondisi kesehatan. Berikut 5 penyakit yang sering ditimbulkan oleh stres.

1. Gangguan Saraf
Ketika Anda stres, sinyal otak memicu kelenjar adrenal untuk melepaskan berbagai bahan kimia alami pada otak, termasuk epinefrin (adrenalin) dan kortisol. Tingginya bahan kimia tersebut dapat mengganggu ingatan dan risiko depresi sangat besar.

2. Masalah Endokrin
Hormon stres (adrenalin dan kortisol) memicu hati untuk menghasilkan lebih banyak gula dalam darah untuk memberikan energi. Hal ini sangat berbahaya karena peningkatan kadar gula (glukosa) bisa membuat Anda terkena diabetes tipe 2.

3. Gangguan Pernafasan
Saat stres tinggi, Anda cenderung bernafas lebih cepat. Hal ini bisa memicu sesak nafas dan membuat tubuh lebih rentan terhadap virus. Terutama virus yang menyerang sistem pernafasan.

4. Kardiovaskular
Stres yang terjadi pada waktu tertentu dan hanya sementara, cenderung membuat jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Tetapi jika stres jangka panjang, hal yang bisa terjadi lebih dari itu, bisa berupa pembuluh darah, peningkatan kadar kolesterol, dan membuat Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung dan stroke.

5. Masalah reproduksi
Stres bisa memperpanjang atau memperpendek siklus menstruasi dan membuat menstruasi lebih sakit. Bahkan, stres bisa membuat siklus haid terhenti selama beberapa waktu. Tingkat stres yang tinggi juga membuat bakteri vaginosis (BV) selama kehamilan levelnya menjadi lebih tinggi. Hal ini membuat janin berisiko terhadap penyakit asma dan alergi.(viva.com)


Pos Kupang Minggu 31 Januari 2010, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda