Cewek Hibrida

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

DAPAT cewek hibrida? Ini dia yang dicari-cari si petani yang satu ini. Konon katanya dapat memperbaiki keturunan. Kulitnya yang hitam gelap dipadukan dengan hibrida putih mulus, maka akan lahir anak blasteran Timor barat yang wah, pasti aduhai cantik.

Rambutnya yang keriting golong dipadukan dengan rambut hibrida yang lurus keemasan, pasti akan menghasilkan keturunan rambut gelombang hitam kepirangan. Anak-anaknya kelak bakal jadi aktor dan artis. Karena itulah dia putuskan hubungannya dengan Nona Mia demi Kareen Woooof si cewek hibrida. Sebagaimana dia tidak peduli semua bibit jagung lokal demi hibrida.

"Tega benar kamu putuskan hubunganmu dengan Nona Mia!" komentar Jaki.

"Soalnya dia cewek lokal sih, aku pinginnya dapat dari luar pulau lah, kalau bisa sih dapat dari jauh," Rara santai saja saat menjawab.
"Hebat benar kamu! Kamu orang impor ya? Sombong!"

"Ini menyangkut bibit bebet dan bobot," sambung Rara.
"Bibit bebet bobot ya? Jadi yang bagus dan berkualitas harus dari luar ya?"

"Tentu saja! Aku maunya dapat cewek hibrida?"
"Cewek hibrida?"

"Ya, sekitar itulah! Maksudnya cewek dari luar pulau. Biar bisa gonta-ganti yang selalu baru. Kalau cewek lokal hanya itu-itu saja seumur-umur hidup. Bosan bukan? Sebagai petani berdasi aku juga harus jaga reputasiku bukan? Ganti bibit ganti cewek!"

***
Ternyata Rara kena pengaruh jagung hibrida yang benihnya datang dari luar. Sayangnya Rara belum tahu bahwa hibrida itu setelah panen tidak dapat disimpan untuk jadi benih musim berikutnya.

Seperti yang dijelaskan Bapak Viator Parera dari Sikka. "Setiap kali tanam kita harus pesan bibit, sehingga kita ini tergantung pada perusahaan-perusahaan besar yang menyediakan bibit, dan harus terus tergantung pada mereka."

"Dari zaman dulu kala jagung kita tidak tergantikan!" Demikian Benza. "Umur jagung lokal sudah sangat tua, bahkan lahir bersamaan dengan lahirnya leluhur turun temurun. Jadi jangan heran jika Pak Viator dan para pencinta jagung lokal agak kecewa dengan bibit jagung yang didatangkan dari luar."

"Ya, kata Pak Viator kita ingin NTT menjadi propinsi jagung. Tetapi kita miskin gagasan. Karena kita tidak pernah pikir, bahwa kedaulatan pangan itu berarti kita harus memberikan kedaulatan kepada petani untuk mengatur penyediaan bibitnya secara mandiri!" Itulah kata-kata Pak Viator yang membuat Benza terharu.

"Jadi Pak Viator tidak setuju dengan jagung hibrida!" Tanya Jaki.
"Setuju! Katanya, silahkan saja tanam jagung hibrida besar-besaran. Tetapi untuk jagung rakyat, pakailah jagung rakyat, dengan bibit jagung yang teruji yang ada pada petani! Begitulah kira-kira... pikiran yang meyakinkan dari Bapak dari Sikka ini! Silahkan hibrida, tetapi hormatilah jagung lokal peninggalan leluhur! Bukankah yang paling penting petani bisa makan dan menghidupi keluarganya?" tanya Benza.

***
"Betul Benza," demikian Rara bergabung dan salah sambung. "Jagung saja didatangkan dari luar, apalagi cewek! Di mana-mana kita lebih suka yang impor bukan, yang berbau asing, yang dari luar, yang agak berbau globalisasi begitu," demikian Rara.

"Makanya saya gantikan Nona Mia dengan Kareen Wooof. Yang satu berbau import yang satu lagi bau lokal. Keren mana hibrida atau jagung lokal si Nona Mia!"

"Jadi kamu mau samakan Nona Mia dengan jagung lokal!" pancing Jaki.

"Ya, begitulah! Mau setia bersama Nona Mia seumur hidup? Bisa kiamat hidupku ini. Kalau dapat yang hibrida dan bisa ganti setiap musim kenapa tidak? Asyiiik"

"Jadi kamu sudah putus sama Nona Mia?"
"Ya ialah. Patah tumbuh hilang berganti," Rara bangga bukan main. "Siapa mau sama jagung lokal!"

"Oh, jadi kamu samakan saya dengan jagung lokal?" sambar Nona Mia. "Mau cari cewek hibrida dan mau injak-injak yang namanya cewek lokal?" Sekejab saja Jaki sudah terkapar termakan satu jurus karatenya Nona Mia.
***
"Aduuuh Nona Mia, maksudku jagung hibrida bukan cewek hibrida. Maksudku kamu itu gadis kampung kita cintaku yang tak tergantikan," Rara meringis kesakitan.

"Jagung lokal bukan gadis lokal," Jaki segera membela Rara. "Eh, jagung hibrida yang berbau asing. Ini soal jagung, bukan soal kamu Nona Mia! Pokoknya dia hanya mau bibit dari luar negeri, pupuk dari luar negeri. Kalau bibit dan pupuk belum datang, dia tidak mau berbuat apa-apa. Diserahkannya nasibnya pada apa yang akan terjadi, dengan catatan tunggu bibit dan pupuk luar negeri," kata Jaki.

"Kamu jangan main-main sama aku pencinta potensi lokal dan kedaulatan pangan lokal termasuk pencinta jagung lokal sejak jaman para leluhur. Soal hibrida, boleh saja sayang, tetapi jangan pernah hilangkan cintaku pada jagungku!" kata Nona Mia.
"Cintaku padamu lebih dari jagung jenis apapun," Rara memohon.
"Kita putus!" Nona Mia berkata tegas.

"Jangan Nona Mia. Aku petani selaras alam? Bibit dan pupuk selaras alam," Rara mulai membual. "Tetapi tidak ada salahnya kalau aku juga suka jagung hibrida eh maksudku Kereen Wooof eh bukan!"

***
"Oh silahkan pergi dengan hibridamu," Nona Mia menjauhkan diri dari Rara dan bergabung dengan Jaki dan Benza.
"Demi cintaku padamu Nona Mia. Aku sungguh pencinta jagung hibrida eh lokal eh maksudku lokal juga hibrida juga tetapi sungguh-sungguh lokal," Rara kebingungan. Kasihan Rara, petani kita yang satu ini jadi bingung. "Aku cinta cewek lokal tetapi suka cewek hibrida..." Rara tambah bingung. (*)


Pos Kupang Minggu 31 Januari 2010, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda