Drs. Kasimirus Kolo, M.Si


Bawa Ilmu ke Ranah Praktis

SEBAGAI dosen tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik (FISIP), dosen mata kuliah kebijakan publik pada Program Pasca Sarjana Magister Manajemen Unwira Kupang, Pembantu Rektor (PR) III Unwira dan pengurus Partai Golkar NTT, membuat Drs. Kasimirus Kolo, M.Si, benar-benar sibuk.

Sebagai PR III bidang kemahasiswaan, ia terus bergumul dengan persoalan kemahasiswaan yang tak pernah henti. Hampir semua waktu tercurah ke sana. Ia berdikusi dan memberi pikiran- pikiran bernas bagi kemajuan kampus, terutama menghadirkan berbagai pelatihan bagi mahasiswa sebagai program unggulan. Konten pelatihan itu antara lain aspek karakteristik.

Mengapa pelatihan karakteristik dipandang perlu? Jawabannya karena pengelola negeri ini sudah tak berkarakter lagi. Karena itu mahasiswa sebagai calon pemimpin, perlu dibekali dengan ilmu karakter agar tak mengulangi lagi kesalahan para pemimpin terdahulu. Kepada mahasiswa juga diberikan latihan berwirausaha. Aspek kepemimpinan pun tak lepas dari pandangannya.

Untuk menggali pikiran-pikirannya, Pos Kupang mewawancarainya di kampus Unwira Kupang, Jalan A Yani, Kupang, Selasa (19/2/2010) siang. Berikut petikannya:

Bisa Anda jelaskan, apa saja yang menjadi tugas PR III?
Sesuai Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, tugas PR III adalah membantu rektor di bidang kemahasiswaan.

Apa saja yang menjadi ruang lingkup pengembangan kemahasiswaan?
Dikti mendesain pola pengembangan kemahasiswaan (Polbangmawa) bagi semua perguruan tinggi di Indonesia. Di dalamnya diatur tentang kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Pertama, pengembangan penalaran dan keilmuan. Ini berkaitan dengan aspek kognitif mahasiswa, seperti mengadakan seminar dan diskusi panel. Kedua, pengembangan minat dan kegemaran atau pengembangan minat dan bakat, seperti olahraga, seni, mahasiswa pencinta alam (Mapala) dan jurnalistik. Ketiga, pengabdian pada masyarakat. Mahasiswa sebagai salah satu elemen penting dituntut tak hanya belajar atau menimba ilmu pengetahuan di perguruan tinggi, tetapi diharapkan dengan ilmu pengetahuan, skill, keterampilan-keterampilan di bangku kuliah dapat diabdikan kepada masyarakat. Salah satu pengembangan pengabdian kepada masyarakat di Unwira adalah KKBM (kemah kerja bakti mahasiswa). Suatu program yang diberikan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki kepada masyarakat. Di Unwira memang tak ada program kuliah kerja nyata (KKN) sehingga kompensasinya sebetulnya melalui KKBM itu. Keempat, pengembangan kesejahteraan dan kewirausahaan. Pengembangan di bidang ini, antara lain kerohanian dan pemberian beasiswa. Cakupan pengembangan kesejahteraan cukup luas. Kita membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan biaya hidup dengan memberikan beasiswa. Dan, salah satu beasiswa yang dimiliki dan dikelola secara mandiri oleh Unwira tiap tahun adalah Beasiswa Solidaritas Unwira. Beasiswa itu dihimpun dari mahasiswa pada setiap semester yang dikelola oleh mahasiswa lalu dikembalikan kepada mahasiswa. Prinsip dana solidaritas itu, yakni dari, untuk dan oleh mahasiswa.

Khusus di bidang penalaran, Unwira telah melakukan berbagai gebrakan. Apa saja gebrakan yang sudah dilakukan?
Intinya bahwa kita melakukan empat kegiatan ini secara berimbang. Khusus penalawan, Unwira melakukan suatu kegiatan yang diberi nama Pisma (Pekan Ilmiah Mahasiswa) Unwira. Suatu program bagi mahasiswa untuk mengembangkan penalaran dan keilmuan. Ada lomba debat ilmiah, lomba debat dalam bahasa Inggris, lomba debat dalam bahasa Indonesia, presentasi karya ilmiah dan lomba membuat poster. Kita lakukan pada setiap tahun pada bulan Agustus dan September. Selain pengembangan penalaran mahasiswa kita mempersiapkan mahasiwa untuk mengikuti Pisma Tingkat Propinsi NTT. Di tingkat Pisma propinsi, Unwira pernah meraih juara umum pada tahun 2006 karena memenangkan lomba debat bahasa Inggris, lomba presentasi karya ilmiah dan lomba vokal grup. Khusus pengembangan minat dan bakat juga di bidang olahraga. Tahun 2009 kita menggelar invitasi bolakaki. Itu merupakan ajang pengembangan bakat dan minat bolavoli. Waktu itu kita melibatkan mahasiswa pelajar se-Kota Kupang dan daratan Timor. Ada juga pengembangan karakter mahasiswa. Ini merupakan program khas dan menjadi unggulan di Unwira yang diberi nama pengembangan karakter mahasiswa (PKM) Unwira. Mahasiwa sebagai generasi muda kini memang perlu kita siapkan karaternya. Saya kira keterpurukan bangsa ini juga disebabkan karena kita kehilangan karakter. Disiplin, tanggung jawab komitmen, orientasi pada prestasi. Karakter-karakter seperti ini perlu kita bekali pada mahasiswa. Program ini juga dilakukan pada perguruan tinggi Aptik se-Indonesia (Asosiasi PT Katolik Seluruh Indonesia). Kita sudah lakukan pada beberapa tahun terakhir.

Berapa banyak mahasiswa yang memperoleh beasiswa ini?
Setiap tahun kita berikan kepada 100 orang mahasiswa. Pemberian ini dilakukan sebelum saya menjadi PR III. Saat saya menjabat PR III, kita naikkan jumlah mahasiswa penerima beasiswa dari 50 menjadi 100 orang. Khusus kewirausahaan, kita buat pelatihan-pelatihan bagi mahasiswa. Tujuannya setelah ia tamat bisa berwirausaha. Berjiwa enterpreneur.

Model pelatihan seperti apa?
Ada delapan jenis karakter yang kami adopsi dari buku Stephen R Covey berjudul, The 7 Habits of Highly Effective People (tujuh kebiasaan yang sangat efektif) yang kita anggap cocok. Pikiran Covey itu, yakni jadilah proaktif, menunjuk pada tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, berusaha mengerti terlebih dahulu baru dimengerti, wujudkan sinergi dan asahilah gergaji/pembaharuan diri. Instrukturnya dari Unwira. Kita buat kegiatan bertahap, per angkatan. Kepada tiap mahasiswa baru pada saat Ospek kita berikan program PKM ini. Kita berikan materi ini agar ia siap memasuki PT, ia mampu menyesuaikan diri, berinteraksi dengan dosen, seniornya dan pegawai. Setelah itu kita berikan kepada mahasiswa lama. Program ini tak sekadar membuat mahasiswa Unwira tampil beda, tetapi kita ingin memberi sumbangan kepada masyarakat.
Di samping itu Unwira juga pernah mendapat program kompetisi PHK, program hibah kompetisi dari Dikti. Namanya program membangun kecerdasan holistik (PMK) mahasiswa. Dikti mempercayakan Unwira untuk menggelar kegiatan ini baru-baru ini untuk tingkat propinsi. Kegiatannya dilakukan di Belo. Kita melibatkan semua PT di NTT. Kecerdasan holistik itu adalah latihan mengenai kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritualnya dan pengembangan keterampilan olahraga.

Pelatihan boleh banyak tapi kerapkali juga sikap dan mental seseorang tak berubah, meski ia mencapai tingkat pendidikan yang tinggi. Tanggapan Anda?
Menurut saya, upaya yang kita lakukan adalah tetap memberikan pelatihan. Semua itu juga tergantung apakah dia mau berubah atau tidak. Tetapi pada dasarnya kita memberikan dasar-dasar atau muatan pengetahuan bagi seseorang. Ilmu itu akan berkembang kelak. Kadangkala saat ini tak terasa tetapi lama kelamaan ilmu akan muncul ketika kita sudah berada di lapangan, di masyarakat.

Mengapa Unwira mempersiapkan mahasiswa dengan begitu banyak "bekal"?
Akhir-akhir ini pasar tenaga kerja bukan saja berorientasi pada kemampuan kognitif atau berapa indeks prestasi kumulatif (IPK) atau biasa disebut hard skill atau penguasaan akademik. Sekarang bukan saja hard skill atau kognitif skill yang menjadi permintaan pasar, tetapi soft skill, keterampilannya. Leadership skill-nya, comunication skill dan analitical skill-nya. Karena itu PT juga sudah harus merancang program-program pengembangan kemahasiswaan menuju ke sana.

Banyak pihak yang berkomentar bahwa dari segi disiplin mahasiswa Unwira mengalami kemunduran. Tanggapan Anda?
Baru-baru ini Pater Rektor mencanangkan disiplin kampus. Pencanangan tata tertib dan disiplin kampus. Sebetulnya pencanganan disipilin ini bukan hanya untuk mahasiwa, tetapi dosen dan pegawai. Memang ada penilaian internal kampus bahwa disiplin dosen, karyawan dan mahasiswa agak menurun.

Sejauh mana peran mahasiswa terhadap berbagai persoalan di luar kampus?
Mahasiswa kita selama ini juga tak pernah diam. Mahasiswa Unwira cukup peduli juga. Mereka cukup sensitif terhadap persoalan-persoalan sosial, politik kebudayaan di luar sana. Mahasiswa cukup tanggap, terbukti mereka terlibat secara aktif pula dalam aksi menyuarakan keprihatinan. Sebagai kekuatan moral mahasiswa mengekspresikan, mengartikulasikan harapan- harapan masyarakat. Kita memberikan dorongan-dorongan kepada mahasiswa berlatar belakang akademik. Bukan hura- hura. Mahasiswa boleh berdemonstrasi, boleh berorasi dan berpidato di mana-mana, tetapi harus memiliki konsep akademik yang kuat.

Sebagai dosen FISIP dan PR III, Anda juga sebagai pengurus DPD I Partai Golkar NTT. Apa yang menjadi alasan Anda terjun pada partai politik?
Pertama, karena latar belakang saya belajar politik sehingga ilmu ini bisa berkembang. Itu merupakan ranah praktik. Kalau hanya belajar saja di ranah abstrak, kemudian kita tak masuk dalam ranah yang praktis, ilmu itu kurang berkembang. Kita juga belajar teori-teori tentang partai politik dan kita juga ingin tahu kira-kira pengelolaan partai-partai politik itu sebagai sebuah institusi demokrasi seperti apa? Kedua, parpol merupakan salah satu media. Saya punya keinginan sebagai orang kampus tentu ruang gerak saya jangan terbatas di kampus saja. Kita juga ingin terlibat dalam dunia praktis. Di sana selain kita ingin mengembangkan ilmu barangkali juga dengan pengetahuan-pengetahuan kita bisa memberi sumbangan pikiran. Parpol juga sebagai media bagi kita untuk masuk dalam dunia legislatif atau eksekutif kalau kita sudah terlibat, apalagi latar belakang saya pada kebijakan publik. Kalau saya ingin ke sana, saya ingin mengetahui kira-kira DPRD dan pemerintah mengelola kebijakan publik seperti apa? Saya ingin tahu seperti apa teori-teori kebijakan publik yang saya pelajari kemudian diaplikasikan di legislatif dan eksekutif. Yang saya inginkan jika suatu saat saya terlibat di sana saya ingin memberikan muatan- muatan akademik dalam rumusan-rumusan kebijakan publik. Inilah beberapa alasan mengapa saya terlibat di parpol.

Saat ini Anda disebut-sebut sebagai salah satu calon pemimpin di Kabupaten TTU. Tanggapan Anda?
Pertama, saya memberikan rasa hormat dan penghargaan saya kepada masyarakat TTU yang telah menyebut nama saya. Ini indikator masyarakat sudah cukup mengenal saya. Terus terang dalam dua kali pemilu legislatif saya ikuti, saya meraih suara signifikan. Tahun 2004 saya dapat 17 ribuan suara. Tahun 2009 kemarin 10 ribuan suara. Walau saya tak lolos, namun data itu menunjukkan bahwa masyarakat mungkin mengenal saya. Mereka mengenal saya karena punya dasar. Mungkin karena saya adalah dosen, atau kader partai dan karena pergaulan saya dengan semua kalangan. Saya memberi apresiasi seperti itu. Dan, saya akan melihat situasi. Bila sudah sampai pada waktunya dan partai juga memberikan dukungan, partai mengakomodir saya dan masyarakat juga memberi harapan agar saya juga ikut terlibat dalam suksesi itu, maka saya boleh mengatakan itu sebagai panggilan dan saya siap untuk maju.

Apakah sudah ada calon yang meminang atau melirik Anda?
Belum ada. Ada juga, tapi pembicaraan masih sangat terbatas. Ada satu dua teman yang meminta untuk berpasangan. Saya belum bisa menyebut namanya karena terlalu prematur. Saya belum memberikan tanggapan karena saya harus mempelajari dulu.

Menurut Anda, seperti apa figur yang pantas memimpin TTU ke depan?
Kalau TTU mau maju, maka perlu perpaduan birokrat dan akademisi. Itu perpaduan yang cocok. Pertimbangannya pemerintah daerah ke depan perlu melakukan reformasi, perlu melakukan pembaharuan-pembaharuan. Dan, reformasi gagasan-gagasan pembaruan itu datang dari akademisi. Birokrat dengan pengalaman kepamongprajaannya, pengalaman manajemen pemerintahannya akan bagus. Kita saling mengisi. Pengalaman pemerintahan ditunjang dengan pikiran-pikiran yang bagus dari akademisi akan menjadi sebuah kekuatan luar biasa.

Sedikit evaluasi terhadap kepemimpinan Pak Gabriel Manek (Bupati TTU) sekarang?
Pak Gabriel Manek menurut saya cukup baik. Dalam arti apa yang beliau lakukan selama ini belum ada gejolak. Dengan kata lain, kebijakan publik yang dilakukan Pak Gabriel selama ini telah berjalan di atas rel aturan. Ini merupakan indikator yang saya pakai. TTU masih aman-aman, berjalan normal. Hanya perlu catatan, benahilah birokrasi ke depan. Yang saya lihat dan merupakan keberhasilan Pak Manek adalah menata Kota Kefamenanu yang merupakan gagasan bersama dengan Pak Hengky Sakunab. Tinggal lengkapi yang masih kurang. Bagi saya, Pak Gabriel Manek sukses membangun TTU terlepas dengan berbagai kekurangan sebagai manusia. (paul burin)

--box--
Biodata:

Nama : Drs. Kasimirus Kolo, M.Si
TTL : Sainoni, Kecamatan Miomafo Timur, TTU,
2 Maret 1964
Agama : Katolik
Istri : Maria Margareta S Nduru, S.Sos
Anak : Ronald Kristiaan Kelu dan Alexandro Timotius Kolo
Pendidikan:
* SD Katolik Tes, TTU (1977),
* SMPK St Yoseph Kupang (1982)
* SMAK Giovanni Kupang (1985)
* S1 Unika Widya Mandira Kupang (1990)
* S2 UGM Yogyakarta dengan bidang keahlian Kebijakan Publik (2002).

Riwayat Pekerjaan:
* Dosen tetap pada FISIP Unwira
* Dosen mata kuliah kebijakan publik pada program pascasarjana magister manajemen Unwira
* Tahun 2002 menjadi instruktur dasar-dasar kebijakan publik pada PIM II Diklat Propinsi NTT
* Tim pakar Yayasan Penegak Kebenaran dan Keadilan Viktory, Kupang
* Sejak 2006 sampai sekarang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unwira, Kupang


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 03

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda