Dokter Valens Yth,
Salam dalam Damai. Saya Anik, gadis 18 tahun, kelas III salah satu SMU. Saya dari keluarga biasa saja dan rumah kami berada agak di luar kota. Setiap hari ke sekolah saya musti naik angkot (angkutan kota). Dari sanalah awal mula saya mengenal Karl.

Pemuda ini pernah kuliah tapi DO (drop out ) dan pergi merantau ke Malaysia. Dua tahun lalu pulang kampung dan menjadi supir angkot milik keluarganya.

Persahabatan kami berlanjut dan sudah setahun ini kami pacaran. Masa pacaran kami ini sangat romantis. Karl berusaha pagi pas jam sekolah dia lewat di depan rumah sehingga bisa jemput saya.

Begitu juga saat pulang sekolah pasti saja ada kesempatan untuk menjemput saya. Melihat kebaikan hatinya saya pun mulai tertarik dan akhirnya saya benar-benar jatuh cinta. Ketika ulang tahun saya, teman kelas saya tidak tahu tapi Karl menjemput saya pagi-pagi kami keluar kota. Kami merayakannya di suatu tempat berdua saja.

Saya pun mulai malas sekolah karena saya pikir, mungkin lebih baik saya keluar saja dari sekolah dan menikah dengan Karl. Saya tahu persis walaupun saya tamat SMUpun tidak mungkin saya lanjutkan sekolah.

Namun urusan kami menjadi rumit ketika orangtua saya tahu kalau saya sering bolos sekolah dan ikut pergi dengan Karl. Bapak saya pergi menemui orangtuanya dan berkata keras. "Kalau berani Karl kawin dengan Anik, kalian akan bayar dengan belis mahal ". Begitu tegas orangtua saya.

Dokter tahu sendiri di daerah Flores kalau belisnya mahal berarti akan berat bagi keluarga Karl. Pernah sekali saya dengan Karl berencana akan pergi saja diam-diam ke tempat kakaknya di Denpasar. Kalau perlu kami akan menikah di sana.

Setelah punya anak baru kami pulang, pasti orangtua tidak akan marah lagi. Tapi Karl malah takut ketika kami kembali belis bisa ditagih lebih mahal lagi. Dokter, Mengapa cinta harus jadi rumit begini? Sejak ada masalah begini, saya selalu diawasi oleh keluarga.

Kalau sampai mereka tahu saya pergi dan bertemu Karl, maka ketika pulang saya dipukul. Dokter, Apakah saya harus putus dengan Karl yang sangat saya cintai.

Dia pun begitu mencintai saya. Apalagi semua "milikku" sudah kuserahkan padanya. Dokter, bantu saya dengan nasehat yang dapat saya pakai untuk menghadapi situasi ini. Akhirnya atas bantuan dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Anik



Saudari Anik yang Baik

Salam damai juga buat Anda. Anda saat ini berumur 18 tahun. Dalam umur seperti ini Anda dikategorikan dalam kelompok remaja tua atau dewasa muda.

Karena Anda belum dewasa penuh, maka Anda masih di bawah pengawasan dan kendali orangtua. Di negara barat, seorang anak di atas dua puluh tahun dianggap sudah dewasa dan mulai diberi kebebasan mengambil keputusan untuk menentukan jalan hidupnya.

Untuk kita di Indonesia, pengelompokan umur semacam itu tidak seragam untuk setiap daerah, karena masih tergantung pada adat dan budaya setempat. Menurut para pakar, kematangan psikologis di negara barat lebih cepat dibanding dengan negara-negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia.

Dari pandangan ini, Anda masih termasuk belum matang dan belum bisa mengambil keputusan sendiri. Dengan demikian campur tangan orangtua masih pantas Anda perhitungkan.

Dari surat Anda saya melihat bahwa reaksi keras orangtua, sebetulnya didasarkan pada kasih sayang yang besar dari mereka buat Anda. Orangtua Anda memahami bahwa manusia adalah makluk sosial yang dalam kehidupannya sehari-hari berinteraksi dengan orang lain.

Anda cenderung mengecilkan kehidupan sosial itu. Pandangan Anda saat ini dikaburi oleh cinta (pertama?) sehingga dunia pun dianggap hanya berisi Anda dan Karl.

Orangtua mencoba membuka mata Anda (dengan agak keras bahkan dengan sedikit cara paksa), agar Anda mampu melihat bahwa kalau Anda dapat menyelesaikan sekolah, maka setidak-tidaknya selain Anda berarti buat Karl, juga berarti buat orang lain.

Dengan sekolah Anda pun akan lebih mudah memahami orang lain dalam arena kehidupan sosial itu. Oleh karena itu solusi pertama yang perlu Anda ingat adalah selesaikan sekolah dulu, baru pikir soal nikah dengan Karl.

Saya mengibaratkan perbuatan Anda berdua saat ini seperti sedang bermain api dan air ditepi jurang (Anda terlalu berani bermain cinta). Ada kemungkinan resiko, Anda berdua bisa terbakar, Anda berdua bisa basah dan lagi Anda berdua bisa jatuh tergelincir ke dasar jurang.

Kekasaran orangtua terhadap Anda saat ini perlu Anda pahami sebagai bagian dari uluran tangan untuk menyelamatkan Anda, agar tidak terbakar, agar tidak basah dan agar tidak terkapar ke dasar jurang. Apakah Anda masih juga menampiknya? Cinta yang benar harus tumbuh dari kematangan, bukan dari keterlanjuran.

Masih ada waktu untuk Anda bertahan agar cinta Anda dan Karl bisa tumbuh dan menjadi matang secara bertahap. Keterlanjuran yang sudah ada jangan diulangi dan diperparah. Yakinkan diri Anda berdua bahwa waktu Anda masih panjang, tak perlu sesegera ini menikah.

Toh, Anda berdua masih muda. Dengan mengerem laju cinta Anda, maka banyak hal tersembuhkan oleh waktu. Diantaranya, Anda bisa tamat SMU, Karl masih bisa kumpul lebih banyak uang untuk masa depan kalian, kemarahan orangtuapun bisa redah, Anda masih bisa bermain dengan teman-teman sebaya Anda di sekolah.

Dan yang juga penting adalah Anda masih cukup waktu memperlihatkan senyum remaja Anda. Bila sudah nikah maka itu semua tak dapat diulangi lagi.

Soal belis yang dilipat-gandakan, itu adalah bagian dari hukuman dan denda terhadap ketidakmampuan Anda dan Karl mengikuti kehendak orangtua saat ini.

Saya yakin bila Anda bisa menunggu sampai dewasa benar dan mampu menggunakan cara-cara yang simpatik maka semua itu akan menjadi lebih ringan dan menyejukkan hati. Tak lari gunung di kejar, kalau memang Karl jodoh Anda, tak perlu setengah mati berkorban. Selamat merenung.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu 7 Februari 2010, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda