Malaikat Tercantik

Cerpen Engky Pukan

"WAKTU kamu lahir, pasti hujan deras di sana," ujarku sambil menatap seseorang wanita cantik yang duduk di hadapanku. Ia adalah sesosok dara jelita kekasihku, Gyta.

"Kenapa kamu bisa tahu, say? Apakah waktu aku lahir kamu ada di sebelah ibuku?" Gyta terlihat penasaran dengan apa yang kuucapkan.

"Hmm....(ku pegang leherku, sengaja mengulur - ulur waktu)". "Jangan buat aku penasaran, please." Gyta memelas. "Kamu mau tahu, mengapa hujan turun dengan derasnya saat kamu lahir? Jawabnya, karena para malaikat surga menangis melepas satu-satunya kawan tercantik mereka turun ke bumi," kataku sambil tersenyum.

"Frengky, kamu punya kantong plastik?" Gyta tersenyum genit. "Kalau aku punya, kenapa?," kataku sambil mengerutkan dahi.
"Berikan padaku, sebab aku mulai mual-mual setelah mendengar rayuan gombalmu." Gyta berpura-pura seolah ingin muntah. Kemudian kami berdua beradu pandang, tersenyum. Lalu Gyta memegang tanganku dan akupun langsung merangkulnya untuk memberikan pelukan hangat.

Sabtu, 14 Februari 2009
Tempias hujan bak pantulan manik-manik kaca sudah reda. Aku duduk di dekat jendela kaca, memperhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Ditemani dengan secangkir kopi panas dan sepiring pisang goreng, terlintas dalam benakku, entah bagaimana caranya aku berhasil melepaskan panah cinta yang ku pinjam dari "Cupid", sang dewa cinta, tepat di hati Gyta, sehingga ia menjadi kekasihku kini.

Hujan mengguyur tempat tinggalku, menderas seketika dengan anggunnya. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi.

Hujan membuat para "Bala Tentara" dingin bangkit. menyerang tubuh setiap insan yang tak "bertameng" hingga ke sum-sum tulang. Aku kedinginan. Barangkali segelas teh panas bisa menghangatkan tubuhku. Ketika sedang menuangkan inspirasiku ke atas secarik kertas, terdengar olehku suara bising, sepertinya ada sesuatu yang besar terjadi di luar sana. Kulangkahkan kaki segera ke teras depan.

Seorang wanita cantik tergeletak tak berdaya, di sampingnya tergeletak pula sebuah sepeda motor Honda Vario. Di sekitar tubuhnya terlihat olehku air hujan yang menggenang berwarna merah. Itu adalah darah segar yang keluar dari tubunya bercampur dengan dinginnya air hujan.

Tanpa berpikir panjang, kugendong dia yang sedang pingsan ke dalam rumahku. Kubaringkan ia di sofa. Kuambil selembar handuk putih, kuusapkan ke muka dan sekujur tubuhnya.

Kemudian kuambilkan sepasang pakaian dan kukenakan membalut tubuh wanita yang putih itu. Kuobati luka-lukanya dan membuatkannya secangkir teh. Setelah itu kuselimuti dia dan duduk di sampingnya hingga dia tersadar.

"Di mana aku ????" kata wanita itu setengah kaget. "Jangan takut, sekarang kamu aman. Tadi aku menemukanmu tergeletak tak berdaya di jalan depan rumahku. Lalu aku membawa kamu ke sini. Aku juga mohon maaf, kalau aku telah menggantikan pakaianmu. Bukannya mau berbuat lancang tetapi karena aku kasihan melihat kamu yang tengah basa kuyup," sahutku.

"Oh, tidak apa-apa. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih karena kamu mau menolong aku," katanya. Lalu aku menyodorkan secangkir teh sambil berkata," Ini diminum dulu. Mumpung masih hangat." Tanpa berpikir panjang, ia langsung meminumnya. Setelah itu, berkatalah ia "Terima kasih banyak atas pertolonganmu."

"Oh, apakah kita boleh berkenalan?" Tanyaku. "Tentu saja boleh. Namaku Gyta." Katanya spontan sambil mengulurkan tangannya. "Namaku Frengky," kataku sambil menjabat tangannya. "Oh ya mumpung hujan telah reda dan hari telah menjelang malam, bolehkah kamu kuhantar pulang?" Kataku. Lalu ia menjawab, "Baiklah".

Seiring dengan berjalannya waktu, entah mengapa akhirnya, "benih cinta" telah tumbuh subur di antara aku dan Gyta. Dan, akhirnya kami berduapun sepakat untuk menjalin cinta sebagai sapasang kekasih.

Lamunanku pun buyar seketika setelah ibundaku memukul bahuku dengan lembut dan berkata "Nak, apakah kamu jadi pergi dengan Gyta malam ini?" Jawabku, " Jadi bunda. Sekarang aku akan menelepon Gyta." Oke deh kalau bagitu. Ibu pergi dulu ya," kata ibuku.

Setelah itu, kuangkat handphone ku dari atas meja dan menelepon Gyta. "Hallo sayang, ada apa?" terdengar suara wanita yang sementara kurindukan. "Ada aku, ada kamu, ada cinta." Aku menjawab disusul derai tawa.

"Lucu ya pangeran gombal?" Tanya Gyta gemas. Aku tak menjawabnya, selagi derai tawa bahagia yang masih terus mengalir dari mulutku dan belum menemukan tempat berlabuh. Kemudian, setelah meredakan tawa, akupun berkata "Say, kamu ada acara dengan keluarga mu malam ini? Kalau tidak, aku ingin mengajakmu ke pesta Valentine di rumahnya Dion".

Gyta berkata, " Malam ini, aku tak ada acara. Jadi aku bisa pergi sama kamu. Tapi kamu harus jemput aku tepat jam tujuh malam. Janji ya ?." "aku janji, sampai jumpa nanti malam, " kataku. Setelah tak kedengaran lagi suaranya, akupun mencium handphoneku, seolah mencium seorang Malaikat Tercantikku, Gyta.

Malam Valentine di rumah Dion.
Alunan musik mengalir seperti air, mengiringi alunan kaki para pasangan Valentine. Saat itu, semuanya larut di lantai dansa, termaksud aku dan Gyta.

Di tengah alunan musik klasik yang mengiringi pasangan muda-mudi berdansa, akupun berkata padanya, "Kamu memang Malaikat Tercantik, Gyta.." Iapun menanggapi "Sayang, aku yakin hujanpun turun saat kamu dilahirkan."

Dengan percaya diri, aku berkata, " Itu pasti sayang. Sebab teman-teman malaikatku merasa kehilangan sahabat terbaik mereka yang telah turun ke bumi." Sambil tersenyum Gyta berkata, "Bukan, bukan itu sayang. Para malaikat tak merasa kehilangan, melainkan kasihan karena Malaikat Tercantik harus dijodohkan dengan setan terjelek dari neraka.

Aku hanya dapat tersenyum. Dalam hatiku, terbesit kegembiraan yang sulit diungkapkan bahwa betapa bahagianya hatiku, karena ada seorang wanita yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana aku bisa berbagi dunia dengannya.

"Kalau kita menikah dan punya anak, kira-kira anak kita akan seperti apa ya?" tanyaku pada Gyta. "Seperti aku, seperti malaikat. Sebab setan tak pernah mengungguli malaikat." katanya.

"Tapi, setan lebih unggul dari manusia. Buktinya, aku berhasil mendapatkan cinta seorang malaikat tercantik." Sahutku. Gyta pun tersenyum mendengar perkataanku.

Kemudian kami berduapun melarutkan diri dalam keberadaan. Malam masih panjang. Seperti cintaku pada Gyta yang tiada akhir.
*Seminari Sint. Rafael Oepoi, Kupang


Pos Kupang Minggu 7 Februari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda