Obsesi Sr. Cicilia Menhijaukan Sabu


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Sr. Susilwati Cicilia Laurentia



WILAYAH Kabupaten Sabu-Raijua yang masih gersang bisa diubah menjadi daerah yang hijau dan subur. Dan itu bukan hal mustahil. Hanya diperlukan kerja sama dan kerja keras masyarakat Sabu untuk mejadikan pulau ini sebagai pulau yang hijau dan berlimpah air.

Suter (Sr) Susilawati Cicilia Laurentia memiliki obsesi untuk menghijaukan Pulau Sabu. Menurutnya, mimpinya adalah membuat Pulau Sabu menjadi pulau yang hijau namun mimpu itu bukan mustahil. Menghijaukan Sabu tidak memerlukan waktu 20 hingga 40 tahun, melainkan hanya butuh delapan hingga 10 tahun.

Ketertarikan biarawati yang meraih gelar Master (S2) Teknik Hidrologi dan Lingkungan Universitas Delft, Belanda serta Doktor (S3) Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan-Bandung ini ketika ia pertama datang ke NTT Tahun 1999 lalu. Semula ia mengembangkan sistem irigasi di kawasan pengungsi Weberek, Timor Timur.

Ia mencoba mengembangkan sistem irigasi untuk lahan tidur yang banyak terdapat di sana. Belum sempat terealisasi terjadi insiden mencekam, yaitu bentrokan antara TNI dan gerilyawan Falentil yang membuat dia terpaksa harus pergi dari wilayah itu.

Sejak 2002 Susi memilih pindah bertugas di Kupang setelah mengetahui Ordo PI membuka cabang baru di sana. Di daerah ini ia menyadari bahwa potensinya sebagai biarawati sekaligus ilmuwan bisa difungsikan secara maksimal.

Untuk mengasah ilmu hidrotekniknya, selain ke Belanda, dia juga berkunjung ke Malang, Jawa Timur, dan Bandung, Jawa Barat. Sejak 2006 ia kerap bolak-balik Kupang-Sabu dan Raijua untuk mengembangkan risetnya, bersamaan dengan mengambil program doktor di Unpar.

Saat berkeliling di Pulau Sabu, ia trenyuh melihat kondisi masyarakat setempat yang kebutuhan pangannya bergantung pada daerah lain. Karena tanah yang tandus dan ekstremnya kondisi cuaca, di mana kekeringan bisa terjadi di sepanjang tahun, tanaman pangan yang membutuhkan cukup air, seperti padi dan jagung sangat sulit tumbuh di sana.

"Pertama saya ke Sabu itu yang ada hanyalah pohon lontar dan beberapa palawija, seperti sorgum dan kacang hijau," ucap biarawati ini saat ditemui di kampus Fakultas Teknik-Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) ini.

Kondisi wilayah yang sulit dijangkau kian memperberat kondisi ekonomi warga setempat. Dari Kupang ke Sabu butuh waktu perjalanan 15 jam dengan kapal feri.

Itu pun hanya ada seminggu sekali. Jika sedang musim angin barat dan timur, praktis tidak ada transportasi umum karena ombak sangat besar dan berbahaya.
Menyadari beratnya kondisi ekonomi di pulau kecil itu, Susi bertekad mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti sistem pengelolaan terpadu air hujan untuk pertanian.
Pertanian Terintegrasi
Ia mengembangkan konsep pemanfaatan model pengelolaan air hujan untuk pertanian yang terintegrasi dengan sistem prasarana, operasional dan pemeliharaan, kelembagaan, serta pemberdayaan masyarakat dengan sistem informasi manajemen terpadu. Dia meyakini, hanya dengan integrasi ini kekeringan di pulau kecil itu bisa diatasi secara teknis.

Konsep ini sekaligus merupakan penyempurnaan sistem embung (waduk kecil) yang dikembangkan pemerintah daerah setempat selama 20 tahun terakhir. "Beberapa embung tidak lagi berfungsi karena penuh dengan sedimen, sementara yang lainnya kosong karena dimensinya tidak sesuai dengan daerah tangkapan hujan," paparnya.

Sistem embung yang telah dikembangkan ini juga tidak mendapat dukungan memadai dari masyarakat pengguna. Sebab, pendekatan pengelolaannya masih bersifat top-down. Dengan kata lain, pengelolaan pemanfaatan air hujan di Pulau Sabu-Raijua selama ini dinilainya masih jauh dari sentuhan teknologi dan, yang lebih buruk, pendekatannya pun elitis.

Untuk itu, dalam aplikasi studinya, ia memanfaatkan kearifan-kearifan lokal yang telah lebih dahulu tumbuh.

Ini misalnya pembuatan jebakan-jebakan air atau cekdam-cekdam kecil berantai serta sumur-sumur gali yang telah digunakan di Desa Daieko yang terletak di ujung barat Pulau Sabu.

Dengan alat berbasiskan data dan sistem informasi yang dikembangkannya, dapat ditentukan secara tepat teknis dan posisi keberadaan jebakan-jebakan air. Prasarana semacam ini relatif lebih murah ketimbang membangun embung-embung yang hasilnya belum tentu juga efektif.

Meskipun fisiknya melemah karena harus berjuang melawan penyakit mastitis tuberkulosis, Susi bertekad mewujudkan mimpinya menghijaukan Pulau Sabu-Raijua.(alf/kompas.com)


Butuh 10 Tahun

MENJADIKAN Sabu sebagai pulau yang tidak kekurangan air bukan hal yang sulit. Hanya diperlukan teknologi pengelolan tanah dan air serta menyatukan dengan kearifan lokal.

Susilawati menyebutkan, karakteristik sungai di daerah semi arid (Pulau Sabu dan Pulau Raijua) sebagian besar merupakan sungai musiman. Air hanya ada saat musim hujan dan setelah hujan berhenti, maka akan kering kembali.

Hal ini juga dipengaruhi oleh karakteristik hujan dan topografi wilayah, dimana hujan yang jatuh mempunyai karakteristik sebagai hujan badai sehingga aliran air limpasan permukaan sangat besar dan cepat terbuang menuju ke laut.

Karakteristik ini mengakibatkan bahwa pada musim kering tidak ada ketersediaan air dari aliran permukaan, juga dalam aliran air tanah karena air kurang memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah.

Untuk memperbaiki situasi ini, maka diperlukan adanya suatu usaha konservasi air berupa memasukkan air hujan yang jatuh sebanyak mungkin ke dalam tanah sebagai imbuhan akan cadangan air tanah.

Di wilayah Sabu dan Raijua, tidak banyak terdapat mata air yang cukup besar. Mata air yang ada kecil, kurang dari 10 liter per detik. Kebanyakan mata air ini tertampung dalam suatu kolam.

Daerah yang mempunyai mata air cukup besar adalah di wilayah Sabu Timur dimana terdapat pertanian padi sawah. Di Raijua, mata air yang ada bermuara di daerah pantai sehingga sulit dimanfaatkan, karena membutuhkan pompa untuk menaikan air yang ada agar dapat dimanfaatkan.

Di wilayah Pulau Sabu dan Raijua telah dikembangkan banyak embung untuk memenuhi kebutuhan air. Dari kajian, analisis dan evaluasi pengembangan sistem embung, khususnya di Pulau Sabu dan Pulau Raijua, yang meliputi tinjauan sistem prasarana, operasi dan pemeliharaan, kelembagaan, pemberdayaan masyarakat, sistem informasi dan analisis nilai manfaat, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan sistem embung di Pulau Sabu dan Pulau Raijua memberikan nilai manfaat yang positif, namun secara teknis sistem prasarana perlu beberapa perhatian terhadap perencanaan target layanan yang tepat, kondisi pengisian air di embung dan kecepatan laju sedimentasi.

Sistem operasi dan pemeliharaan kurang diperhatikan sehingga embung setelah beberapa waktu yang pendek tidak berfungsi lagi. Begitu pula sistem kelembagaan yang kurang jelas karena keterbatasan sumber daya manusia.


Dari bebagai hal di atas menurut Sr. Susi, konservasi pengelolaan air bisa dilakukan dimana diperlukan beberapa pembenahan. Langka pertama yang harus dilakukan adalah menyadarkan dan mengajak masyarakat untuk mau melakukan hal-hal teknis terkait pengelolaan air.

Caranya, masyarakat diajak untuk memodifikasi tanah dan membuat semacam terasering untuk menjebak air pada musim hujan. Dengan teknik khusus, cara ini bisa mengoptimalkan penyerapan air pada musim hujan. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan penananam pohon-pohon tertentu.

Dengan teknologi ini, maka air tidak langsung mengalir ke laut, melainkan tersimpan dibawa permukaan tanah. Dan, ini bisa dimanfaatkan untuk menanam. Bila cara ini konsisten dilakukan oleh masyarakat maka, dalam waktu sekitar 10 tahun, Sabu bukan lagi daerah yang tandus. "Saya yakin, kalau ini bisa berjalan maka dalam 10 tahun, Sabu sudah hijau," jelasnya. (alf)

Pos Kupang Minggu 7 Februari 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda