Pelajarpun Peduli Lingkungan


POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
TANAM POHON--Kepala SMKN 3 Kupang, Dra. Lusia Mandala, para guru dan pegawai, menanam pohon di Jalur 40, Fatukoa, Rabu (20/1/2010).




Siswa SMKN 3 Kupang menanam pohon

DUA unit bus Damri yang penuh siswa, satu pick up dan satu mobil sedan, tiba di Jalur 40-Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Alak-Kota Kupang, Rabu (20/1/2010) pagi sekitar pukul 09.00 Wita. Tepatnya 100 meter dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai, Kelurahan Fatukoa.

Awan hitam tebal yang membuat Kota Kupang menjadi mendung tidak menyurutkan semangat sekitar 130 siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Kupang untuk melakukan aktivitas di alam terbuka.
Para siswa ini berhamburan di sekitar kawasan itu untuk mulai melakukan penggalian tanpa perintah dan aba-aba. Mereka tersebar dalam area 20 x 20 atau 400 meterpersegi yang sudah dipagari.

Mereka akan menanam aneka jenis tanaman keras yang sudah mereka siapkan. Tidak lama berselang hujan pun turun di tempat itu, para remaja yang sebagian besar para gadis ini tidak surut semangat, bahkan mereka semakin bersuka ria melakukan aktivitas penanaman. Para siswa ini datang bersama para guru untuk menanam aneka jenis tanaman di wilayah tangkapan air tersebut. Kegiatan penanaman pohon ini sudah direncanakan jauh hari sebelumnya bersama kepala SMKN 3 Kupang, Dra. Lusia Mandala, para guru dan pegawai di sekolah tersebut. Para yang yang mengenakan seragam olahraga sekolah ini membawa sendiri anakan pohon dari rumah yang disimpan di kantong plastik.

Anakan pohon yang dibawa anak-anak ini, antara lain mangga, beringin, angsano, sukun dan mahoni. Mereka langsung menggali lubang dengan kayu seadanya untuk menanam. Ukuran dalam dan panjangnya lubang juga disesuaikan saja dengan besar kecilnya tanaman. Maklum, mereka hanya membawa empat linggis saja untuk menggali, sementara mereka harus memacu dengan kondisi alam yang terus hujan. Jarak tanam pun tidak lagi diperhatikan.

Ada anak-anak yang menanam langsung dengan polibek yang menutupi akar tanamam. Beberapa diantara mereka mengambil gambar mereka untuk dokumentasi sekolah. Yang memiliki Hp juga tak lupa mengambil gambar untuk dokumentasi pribadi.
Semangat para pelajar ini tak bisa dibendung oleh para guru maupun kepala sekolah sehingga mereka pun mengikuti anak-anak ke lokasi untuk langsung menanam anakan pohon yang juga dibawa sendiri dari rumah.

Namun hal ini tidak membuat Kepala SMKN 3 Kupang, Dra. Lusia Mandala, diam saja, karena walau sibuk menanam, ia juga memperhatikan para siswa untuk menanam dengan baik. "Hei, plastik polibek tanaman dikupas dulu baru masukan tanaman. Jangan tanam dengan plastik sekalian. Kamu tahu, plastik tidak bisa hancur," kata Lusia. Beberapa anak yang kemudian cepat-cepat mengupas plastik polibek yang melekat pada akar tanaman. Hal ini membuat siswa lainya saling mengomentari.

Yah, begitulah acara penanaman pohon yang dilakukan oleh siswa kelas X, SMKN 3 Kupang. Keakraban, persaudaraan dan keleluargan terjadi di sana. Seakan-akan mereka melupakan kesan formal di sekolah antara kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa. Semuanya terlihat akrab antara satu dan yang lainya, walau tetap menghormati para guru dan pegawai mereka.

Beberapa siswa kepada Pos Kupang, yakni Astrid Naid, Andrianto, Silvester Moruk dan Ayu Hartono, usai menanam anakan pohon, mengatakan, sangat senang sekolah melaksanakan kegiatan penanaman anakan pohon. Penanaman anakan pohon ini sebagai salah satu kegiatan positif bagi siswa untuk memahami dan mencintai lingkungan. (nia)


Berikan kenyamanan

ASTRID dan Ayu mengatakan, lingkungan yang indah dan hijau memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekitarnya. Pelestarian lingkungan harus dipupuk terus agar bisa memberikan manfaat baik penghuninya.

Masyarakat, kata Astrid, tidak saja tahu menebang tetapi juga harus tahu menanam agar lingkungan tetap dilestarikan. Apalagi, saat ini kondisi alam semakin tidak menentu. Penghijauan yang dilakukan oleh para siswa ini sebagai salah satu bentuk antisipasi terjadinya pemanasan global.

Andrianto dan Silvester Moruk, mengatakan, sangat senang bisa mengikuti kegiatan penghijauan di lokasi ini. Karena selain melestarikan lingkungan Kota Kupang yang kering pada musim hujan, mereka juga bisa menikmati udara segar di daerah ini.

"Setiap hari kami sibuk dengan rutinitas sekolah yang padat sehingga kami tidak sempat jalan-jalan. Makanya, hari ini kami senang sekali bisa datang ke tempat ini walau ada hujan," kata Astrid yang didukung teman-temanya.

Menurut Andrianto, penanaman pohon ini juga dilakukan untuk mendukung kegiatan pemerintah Kota Kupang. (nia)

Tumbuhkan Sikap
Peduli Lingkungan

KEPALA SMKN 3 Kupang, Dra. Lusia Mandala, mengatakan, penghijauan ini dilakukan untuk mendukung program penghijauan yang dicanangkan Pemerintah Kota Kupang. Selain itu, menumbuhkan rasa peduli lingkungan bagi anak didik dan semua komponen sekolah khususnya kegiatan penghijuan di musim hujan

Ia mengatakan, manusia sangat mebutuhkan oksigen (udara), sehingga penghijauan dilakukan untuk ketersediaan udara yang bersih. Para siswa yang mengikuti kegiatan ini adalah siswa kelas X saja, karena siswa kelas XII sedang mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional (UN).

Sekolah, kata Lusia, punya inisiatif untuk membawa sendiri anakan dari rumah masing- masing seperti anakan angsono, mangga, mahoni, beringin dan sukun. Jumlah anakan pohon yang ditanam saat ini sebanyak 130 anakan yang ditanaman di atas lahan seluas 20x20 meter.

"Kami tidak menunggu anakan dari pemerintah karena prosesnya lama. Sehingga, kami berinisiatif bersama siswa untuk membawa sendiri anakan dari rumah, dan mengajak anak untuk mencintai lingkungan. Apalagi sekarang sedang musim hujan sangat cocok untuk menanam," ujarnya.

Salah satu guru, Flora Tosela, mengatakan, penghijauan ini sangat penting dilakukan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Permasalahan pemanasan global saat ini membuat semua komponen untuk secara sadar melakukan penanaman pohon sehingga bisa menjaga keseimbangan lingkungan.

Apa yang dilakukan oleh siswa SMKN 3 Kupang ini menunjukan bahwa para pelajar sebenarnya bisa diajak untuk peduli lingkungan sekaligus proses pembelajaran tentang kegunaan alam. Meskpun area penanaman hanya 400 meter persegi, para siswa ini sudah belajar tentang cinta lingkungan, cinta bumi dan cinta masa depan.

Hal kecil ini akan menjadi memori dalam pikirannya. Mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang cinta lingkungan dan cinta langit biru. Bila semua pelajar peduli lingkungan maka tidak mustahil bila suatu saat ancaman pemanasan global bisa diminimalisir. (nia)



Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda