Puisi Buyung

Kaulah Sempurna Untukku

Air mataku jatuh menindih bumi
Dan teresap hilang menjiwaiku
Membuka kalbu
Dikala aku menepi dan meredup
Memanggil Tuhan memohon cintaku

Purnama wajahku
Hilang dari kejujuran hatiku yang putih
Tercurah dari kedua lantera mata hatiku
Terpuruk cinta yang tumbuh tak bertepi

Kesunyian terisik dari bibir rapuhku
Yang berlagu
Dari firman hati yang berbudi dan tinggi kebesaran cintaku yang tak berdosa
Yang kudoakan

Lukisan air mataku tak membawaku pula
Namun, aku terus menari di bawah awan putih
Hingga kunantikan rintikan hujan yang lembut
Membasuh tubuhku
Sebagai bahasa cintamu untukku


Pos Kupang Minggu, 7 Februari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda