Puisi Mario F Lawi

Delapan Kuatrin Persaudaraan

ARI K
Berapa lama kita menjadi api
Terbakar duka dan airmata
Sehebat itulah kaumaknai sepi
Dan doa diammu adalah senjata

ALLAN L
Sebaris embun mencuci wajahmu
Tapi api di matamu tetap berpijar
Berderailah seperti hujan yang mekar
Bukankah semua di bumi adalah semu?

JUAN
Kaulukis Tuhan dengan hidup
Bahagia tak ada yang menjamin
Demikian pun duka terang-redup
Tapi di situlah kelak kita bercermin

DEDE
Jadilah penari di padang hijau
Dengan bola takdir di bawah kaki
Pahit kenangan kelak akan kautinjau
Setelah bukit terjal keberhasilan kaudaki

ANGELO
Selaksa malaikat turun ke bumi
Sudahkah mereka menemuimu?
Ketulusanmu seperti ajaib jamu
Ketika kering tenaga jiwa kami

INO
Engkau datang dari padang jauh
Seperti musafir melintasi sengat gurun
Batas dermagamu di ujung jalan menurun
Berharaplah kapalmu belum lempar sauh

YANO
Tertawakanlah segala yang menyenangkan
Untung dan malang ibarat roda pedati
Di kedua sisi itulah kita semua digulirkan
Entah dibiarkan hidup atau digilas mati

YOPPY
Keteguhan ada dalam genggaman
Keinginanmu gelora lautan Lamalera
Berjalanlah terus, jangan pernah jera
Mereka menunggumu di sebuah taman
(Naimata, 2009-2010)



Pos Kupang Minggu 31 Januari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda