Puisi-puisi Ferdy Lelan

Rokok

Untuk setiap barisan puisi
Dia perlukan sebatang rokok, katanya

Disulut dengan api sedapatnya:
Puisi juga butuh penyulut
Apa pun bahannya, apa pun merknya
Barangkali buat pembangkit gairah


Dihisap sedalam-dalamnya:
Biar penat amblas
Jiwa pun sejuk
Lalu raga pun meregang mengikuti irama

Ditahan sebentar di dada:
Sejenak menempati nurani
Biar nafas tertahan memaknainya
Hingga tak kuat menahan gejolak ide di ujung kalimat

Hembuskan lagi...
Tak perlu menegang
Bodoh jika mengganggu
Sejenak keluar untuk masuk lagi

Lagi, lagi dan lagi

Aku percaya kata-katanya
Dari masuk perlu ada keluar
Masuk keluar lagi
Dan perlu pengulangan lagi

Tapi ada yang baru pada pengulangan itu
Ada waktu untuk aku menyaksikan
Ia meregang menjemput kematian.

St. Mikhael, 2010



Aku

Garis-garis bengkok menyusun hidupku

Bagaimana menjawab?
Tentang masalah hari kemarin

Ada penat seolah terpuruk
Siap ditendang bagai sampah
Cuma satu, menyelesaikan soal kemarin
Hanya bingung ketika ditanya soal kebenaran

Bersiap berontak
Juga katanya harus untuk kebenaran
Pembelaan diri pun jangan demi kemormatan
Lalu untuk apa bersoal

Garis-garis bengkok menyusun hidupku

Bagaimana menjawab?
Aku tak tahu tentang kesalahan itu

Aku tersusun untuk hidup
Jika tentang kebenaran aku tak tahu
Aku bersaksi tentang kesalahan
Biar kamu tahu bagaimana garis itu bengkok

Hingga tak mengerti arti kebenaran
Aku cuma terlempar dalam ide
Garis-garis bengkok itu menyusun hidupku

St. Mikhael, 2010

Pos Kupang Minggu 31 Januari 2010, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda