Siti, Avia dan Century

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

AH, Siti! Namamu begitu manisnya. Siti Nirmala. Sayangnya engkau keburu tua begitu diahirkan. Keburu penyakitan sebelum mulai berlayar. Terlalu cepat lelah dan tidur sebelum senja. Ah, sayang! Terlalu banyak tangan yang membuatmu tak berdaya.

Apa hendak dikata menemukan nasibmu merana. Siang terbakar matahari, malam berselubungkan embun, sepanjang waktumu angin darat dan laut membuatmu kian lama kian membisu. Siti! Sungguh mengenaskan nasibmu!

Seandainya engkau dapat kubawa pergi bertamasya keliling Nusa Bunga. Seandainya engkau baru lahir dan tumbuh bagai kembang yang senantiasa dikejar-kejar kumbang. Duh, Siti...

"Cukup!" Potong Jaki. "Puisimu kepanjangan dan mubasir dan gombal lagi!"

"Bagus sebetulnya. Pilihan kata, permainan bunyi dan suasana yang coba dibangun cukup mengesankan," sambung Nona Mia. "Aku merasa tergetar. Tetapi yang membuat puisimu jadi nggak enak didengar itu adalah kalimat kembang yang dikejar-kejar kumbang!"
"Justru di situ makna puisi yang ingin kuungkapkan!" Rara sangat serius.

"Memangnya ada berapa ekor kumbang yang kejar-kejar kembang?" Tanya Jaki.

"Satu Siti tetapi ada seribu satu kumbang," jawab Rara. "Oh Siti seandainya yang jadi kumbang itu aku, engkau pasti jadi kembang terharum. Seandainya yang kumbang itu aku, engkau pasti kembang termanis.

Seandainya yang kumbang itu aku, engkau pasti kembang termahal

harganya...Tetapi sayang, engkau begitu rapuh..."
"Pasti cantik sekali ya yang namanya Siti Nirmala," Benza terharu mendengar bagaimana Rara begitu terhanyut dalam puisi yang ditulis dan dibacanya sendiri. "Betapa bahagianya si gadis yang bernama Siti Nirmala. Kamu lagi jatuh cinta ya?"

"Ya, sangat jatuh cinta," Rara terharu. "Terima kasih ya Benza, kamu begitu mengerti perasaanku. Siti Nirmala bagiku adalah segalanya..." Rara terdiam.
***
"Sekarang giliran Jaki membaca puisi buah karya sendiri". Nona Mia memberi komando.
Ah, Avia! Namamu begitu manisnya. Avia Batavia. Sayangnya engkau begitu tinggi menjulang langit.

Keburu melesat sebelum belajar terbang. Terlalu cepat menjauh dan lenyap di balik awan. Ah, sayang! Terlalu banyak tangan yang membuatmu sulit dipegang. Apa hendak dikata menemukan nasibmu bahagia.

Siang menantang matahari, malam berselubungkan tidur, sepanjang waktumu awan dan langit membuatmu kian lama kian berkibar. Avia! Sungguh aku cinta padamu.

Seandainya engkau dapat kubawa pergi bertamasya keliling Nusa Bunga. Seandainya engkau baru lahir dan tumbuh bagai kembang yang senantiasa dikejar-kejar sekelompok kumbang. Duh, Avia... seandainya engkau menjadi milikku saja.

"Aduh, puisi si Jaki buat aku frustrasi," Benza tersenyum pahit karena tidak ada bakat buat puisi. Bayangkan, bertahun-tahun jatuh cinta sama Nona Mia, Benza tak sanggup ungkap isi hati. Apalagi lewat puisi. Hm.

Kasihan Benza. Jaki dan Rara begitu percaya diri mendapat apresiasi dari Benza dan Nona Mia.

Sayangnya Siti Nirmala dan Avia Batavia hanya mengendap dalam angan kedua bujang itu. Maklumlah keduanya termasuk bujang dara alias dada rata dan bujang sara alias saku rata. Tetapi tak apalah, yang penting bisa ungkap isi hati melalui bait-bait puisi.
***
"Rara! Dimana Siti Nirmala cintamu itu? Orang mana dia? Sudah bertemu berapa kali? Kenalkan kekasihmu itu kepada kami, teman!" Pinta Nona Mia.

"Kekasihku ada di Nagi le, orang Nagi tentu saja. Engkau tahu kecantikan gadis-gadis Nagi, bukan? Jamin engkau akan jatuh cinta pada pandangan pertama," Rara berbunga-bunga. "Sudah berkali-kali aku bertemu dan menatapnya dari jauh, sayang Siti Nirmala ku hanya membisu..."

"Mengapa?" Tanya Benza prihatin.
"Nasibmu Siti Nirmala... hanya sanggup membisu menyimpan derita. Kini, Nirmalaku tenggelam dalam pelukan laut bumi pertiwi. Kasihan Siti Nirmala..."
"Jadi Siti Nirmalamu sudah tiada... Aduh, teman! Aku turut berduka cita," Benza menjabat

erat-erat tangan Rara.
***
"Jaki! Dimana Avia Batavia cintamu itu? Orang mana dia? Sudah ketemu berapa kali? Kenalkan kekasihmu kepada kami, teman!" Pinta Nona Mia kepada Jaki.

"Oh sayang sekali. Kekasihku sudah lari ikut pilot, satu-satunya pilot dari kampung kita ini. Aku tak bisa menjangkaunya, sebab kamu tahu bukan? Hanya pilot saja yang dapat membawanya pergi. Dari Waioti ke Kupang dan terus kemana-mana sepanjang waktu! Oh nasibku tak bisa bercinta dengan Siti Nirmala... dan tak sanggup mencumbu Avia Batavia..." Jaki menahan tawa menatap wajah Benza yang bengong tidak mengerti.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Benza saat ketiga sahabatnya meledak tertawa.

"Lihat sana! Batavia mengangkasa dari Waioti. Wow boeing lima ratus sekian masuk Maumere. Hebat bukan? Konon pilotnya orang kita lagi! Aku bisa terbang pakai Avia Batavia eh Batavia."
"Terus Siti Nirmala itu yang mana dan apa lagi?" Benza penasaran.

"Tenggelam di tepian kota Larantuka!"
"Oooooooooh akhirnya..." Benza menganga.
Ha ha ha asyik juga melihat Benza yang biasanya pintar menangkis semua soal, kini begitu bingungnya. Maklum, Benza lagi keranjingan nonton pansus Century, sampai pusing tujuh keliling...*


Pos Kupang Minggu 24 Januari 2010, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda