Telent Mark Daud dan Flora Daud


FOTO/ISTIMEWA
Telent Mark Daud foto bersama istri dan salah seorang anaknya


Tanamkan Sikap Demokrasi pada Anak

MENANAMKAN sikap demokrasi dan kejujuran kepada anak sejak dini menjadikan anak-anak pasangan Talent Mark Daud dan Flora Daud tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri. Anak- anak dalam keluarga ini sudah mampu mencari uang saku sendiri.

Walau kehidupan keduanya pada awalnya serba sulit, namun berkat kesabaran dan keterbukaan yang selalu dibangun dalam keluarga, keduanya bisa melewati masa-masa sulit bersama anak-anaknya dengan sukses.

Pasangan ini memiliki tujuh anak. Pertama, Desy Daud, lahir di Kupang, 30 Desember 1985, saat ini sedang melanjutkan studi S2 Teknik Lingkungan di Undana Kupang. Putri pertamanya ini sudah mandiri dan memiliki usaha sendiri.

Anak kedua, Esry Daud, lahir di Kupang, 17 Oktober 1988, saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir di Politeknik Negeri Kupang. Putra ketiga dan keempat kembar, yakni Rendi dan Reksi Daud, lahir di Kupang, 19 November 1992, saat ini duduk di bangku kelas II SMA Kristen Mercusuar Kupang.

Kelima, Febrian Daud, lahir di Kupang, 5 Februari 2000, saat ini duduk di bangku kelas IV SD Bertingkat Naikoten Kupang. Keenam, Timuty Daud, lahir di Kupang, 12 November 2002, saat ini duduk di bangku kelas II SD Bertingkat Naikoten dan si bungsu, A'aron Daud, lahir di Kupang, 12 Mei 2007.

Kepada Pos Kupang di kediamanya, Jalan Hati Suci, Obobo, Telent yang saat ini menjadi anggota DPRD Kota Kupang didampingi sang istri, mengatakan, demokrasi yang ditanamkan adalah demokrasi yang jujur. Kejujuran dan keterbukaan ini membuat keluarga ini layaknya sahabat dan teman ketika berhadapan dengan anak-anaknya.

Ketujuh anaknya, kata Telent, bebas melakukan apa saja dan tanpa ada tekanan dari keduanya. Ketujuh anaknya dididik untuk mandiri sejak kecil sehingga apa pun yang diperbuat harus bisa dipertanggungjawabkan. Sejak si sulung sampai dengan anak keenam yang sudah sekolah, tidak pernah keduanya mengantar jemput ke sekolah. Anak-anaknya setiap hari sendiri pergi dan pulang sekolah.

Selain itu, sejak berusia satu tahun setengah, anak-anaknya dididik untuk makan sendiri. Sejak pra sekolah, keduanya tidak pernah menunggu anak di sekolah, keduanya mempercayakan kepada guru-guru, namun tetap mengomunikasikanya kepada guru jika ada perilaku anak yang tidak wajar atau pekerjaan rumah. Kehadiran keduanya sebagai orangtua di sekolah hanya pada saat penerimaan rapor atau ada rapat-rapat dengan orangtua di sekolah.

"Saya tidak ingin mereka menjadi tergantung kepada orangtua. Makanya sejak kecil kami didik untuk mandiri. Makan, mandi, ke sekolah dilakukan sendiri. Saat makan diwajibkan duduk makan sampai habis dan tidak diperkenankan jalan-jalan saat makan," kata keduanya.

Demokrasi yang dikembangkan dalam keluarga ini mengharuskan mereka untuk tidak membuat janji-janji. Bahwa janji yang dibuat kepada anak-anak atau istri harus dipenuhi karena kalau tidak dianggap tidak jujur lagi dan mendidik anak menjadi tidak jujur. Lebih baik bilang tidak ada atau tidak bisa daripada mengatakan janji namun tidak ditepati.

Makanya, hal ini tertular kepada anak-anak ketika dalam pergaulan bersama teman-temannya. Apa yang diberikan adalah sesuatu yang benar-benar berasal dari kemampuan yang ada dan bukan janji.

Kehidupan keluarga yang berangkat dari kesusahan membuat anak-anaknya tidak malu-malu untuk menjual kue di sekolah, bahkan membuka warung di pinggir jalan. Keuntungan dari hasil jualan digunakan untuk keperluan anak sendiri, sedangkan modal pokok dikembalikan kepada keduanya. Ini juga yang membuat kehidupan keluarga ini menjadi sangat terbuka satu dengan yang lainnya.

Ketika anak-anaknya masih kecil, keduanya tidak pernah mempekerjakan pembantu. Semua pekerjaan rumah dilakukan secara bersama baik sebagai ayah, ibu maupun anak-anak. Keduanya juga tidak pernah membuat satu jadwal khusus kepada anak-anaknya. Soal belajar, keduanya menyerahkan sepenuhnya kepada anak-anaknya karena mereka yang paling tahu maju mundurnya mereka di sekolah.

Meski demikian, katanya, karena demokrasi dan kejujuran yang ditanamkan sejak kecil anak-anaknya selalu menjaga komitmen tersebut. Walau tidak menjadi the best di sekolah, tetapi mereka termasuk anak-anak yang berhasil.

Menurut keduanya, rasa ingin sekolah bukan karena desakan keduanya, tetapi anak merasa bertanggung jawab bahwa sekolah itu sangat penting untuk kehidupan dan masa depan mereka. Sebagai orangtua, keduanya selalu mengatakan kepada anaknya kalau warisan yang bisa diberikan keduanya kepada anak- anaknya hanyalah pendidikan, bukan yang lain.

"Kami memiliki tujuh anak kandung, tetapi kami tidak pernah tertutup dengan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kami. Makanya kami juga mengasuh empat anak yang berasal dari luar Kupang. Dengan komitmen anak-anak ini harus sekolah," katanya.

Anak-anak yang sudah tumbuh remaja dan dewasa dan kemajuan teknologi informasi saat ini yang sangat cepat tidak membuat keduanya khawatir, karena keduanya percaya dasar pendidikan dalam rumah sudah sangat cukup untuk membentengi anak-anaknya menghadapi tantangan yang ada di luar rumah.

"Saya sama sekali tidak khawatir karena saya yakin anak-anak sudah dididik dengan keterbukaan dan kejujuran dari dalam rumah. Makanya kalau ada sesuatu di luar yang mereka lakukan, anak-anak akan memberitahukan secara terbuka kepada saya. Di antara kami tidak pernah ada jarak karena kami sudah seperti teman dan sahabat. Saya sebagai ibu bisanya dijadikan tempat curhat bagi anak-anak," kata Flora. (nia)

Wajib Menabung

KONDISI keluarga yang awalnya susah membuat pasangan ini mewajibkan anak-anaknya memiliki celengan untuk menabung. Setiap anak wajib memiliki satu tabungan. Sejak keduanya mengelola uang gaji Rp 150.000 sampai saat ini dengan gaji yang lumayan, tidak menyurutkan keduanya untuk tetap mendidik anaknya disiplin dalam pemakaian keuangan.

Alhasil, anak-anaknya juga tidak pernah menggunakan uang sesuka hati. Uang tabungan di celengan hanya akan dipakai jika anak-anaknya benar-benar ada keperluan yang sangat penting.

Memiliki anak yang banyak tidak berarti bisa seenaknya satu dengan yang lainya. Keduanya mendidik anak-anaknya untuk saling menghargai dan menghormati. Makanya, antara satu dan yang lainya belum pernah saling bertengkar ataupun merasa iri antara satu dengan yang lainya.

Ketujuhnya dididik untuk saling menghormati dan wajib memanggil yang lebih kakak dengan sapaan kakak, bukan namanya. (nia)


Pos Kupang Minggu 31 Januari 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda