Toleransi

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

WAKTU istirahat tiba, anak-anak berhamburan keluar dari kelas. Tidak terkecuali Kris dan Dharma. Kedua sahabat itu langsung menuju kantin. Namun mereka terkejut saat melihat pintu, jendela dan kaca etalase kantin ditutupi kain. Mulanya mereka mengira kantin itu tutup.

"Wah, celaka, Kris. Kantinnya tutup. Di mana lagi aku harus mengisi perutku yang keroncongan ini? Tadi pagi aku tidak sempat sarapan," kata Dharma.

"Sama Dhar, aku juga tidak sempat sarapan tadi di rumah. Tapi mana mungkin kantinnya tutup? Apalagi hari ini kan bukan hari libur," timpal Kris sambil melongok ke dalam kantin.

"Nak Kris, ayo masuk, kantinnya buka, kok. Ayo nak Dharma masuk. Pintu dan etalase sengaja ibu tutupi kain, untuk menghormati orang yang berpuasa. Bukankah hari ini umat muslim mulai berpuasa?" jelas Bu Mar, pemilik kantin.

Penjelasan Bu Mar itu bukannya masuk dalam sanubari mereka dan dilaksanakan. Kedua sahabat itu justru melihatnya sebagai peluang untuk mengusili Ahmad dan Jalal, kedua teman mereka yang Muslim.

***

"Wah, enak sekali makan es krim di siang bolong seperti ini. Terasa sejuk dan segar sampai ke dalam hati," kata Kris ketika mendekati taman, tempat Ahmad dan Jalal sedang duduk santai.

"Sungguh terlalu. Nikmatnya luar biasa. Memangnya duduk di taman bisa menghilangkan rasa lapar dan haus?" ujar Dharma ketika melintas di hadapan Ahmad dan Jalal.

Namun kedua anak itu tetap asyik mengobrol dan tidak menggubris perkataan Kris dan Dharma. Merasa tidak dihiraukan, Kris dan Dharma kembali melintas dan mengulangi perkataan yang sama. Pada saat yang bersamaan Pak Guru PPKN melintas di dekat mereka. Langkah Pak Guru terhenti ketika melihat perilaku buruk Kris dan Dharma itu. Kedua anak itu langsung digelandangnya masuk ke kelas. Tidak lama berselang bel tanda masuk berbunyi.

***

"Anak-anak, kedua teman kalian ini adalah contoh yang tidak baik," kata Pak Guru sambil menunjuk pada Kris dan Dharma yang berdiri di depan kelas.

Pak Guru melanjutkan. "Mereka sama sekali tidak menghargai teman Muslim mereka yang sedang berpuasa. Orang-orang dengan perilaku seperti ini tidak layak untuk tinggal di Indonesia. Karena Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman suku, agama, ras dan golongan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh rasa toleransi. Di saat satu suku melakukan kegiatan sukunya, suku lain harus
menghormatinya. Begitu juga dengan agama, jika salah satu agama melaksanakan ajaran agamanya, umat dari agama lain harus menghormatinya," urai Pak Guru.

"Contohnya, Pak?" tanya salah seorang murid.
"Ya, salah satunya seperti Bu Mar itu. Menutup pintu, jendela serta etalase kantin agar tidak mengganggu puasa teman kalian. Selain itu kalian kan sering menyaksikan di televise, saat Natal, pemuda Muslim bersama pemuda dari agama lain menjaga keamaanan gereja dan lingkungan sekitarnya.

Sebaliknya pada saat Idul Fitri, pemuda Kristen bergabung bersama pemuda dari agama lain menjaga keamanan mesjid maupun tempat lain yang digunakan untuk melaksanakan Sholat Id. Tindakan kedua teman kalian ini hanya merusak hubungan antar umat beragama yang selama ini harmonis dan penuh toleransi tersebut," tutur Pak Guru.

"Kami mohon maaf Pak, atas kekhilafan kami berdua," kata Kris.

"Kalian seharusnya memohon maaf pada kedua teman kalian yang telah kalian ganggu puasanya. Bukan kepada bapak," kata Pak Guru. Kris dan Dharma lalu menghampiri Ahmad dan Jalal.

"Maafkan kami, Mad, Jalal. Kami berdua telah mengganggu puasa kalian. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi," pinta Kris. Ahmad dan Jalal langsung menjabat erat tangan kedua temannya itu.

"Kalian sudah kami maafkan. Karena kalau kami menaruh dendam pada kalian, maka puasa kami akan batal," jawab Jalal.
Kris dan Dharma sangat bahagia karena telah dimaafkan kedua temannya itu. Jauh dalam lubuk hati mereka mereka ingin menjadi anak Indonesia yang baik. Anak yang mau bertoleransi dengan teman yang berbeda suku, agama, ras maupun golongan dengan mereka. (*)


Pos Kupang Minggu 7 Februari 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda