Bekerja Sama

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

SORE itu Greg menuju sungai dengan langkah gagah. Di bahunya tersandang sebuah senjata dari kayu. Gayanya tidak ubahnya tentara yang sedang menuju medan tempur. Dia ingin mencoba senjata penembak ikan buatan ayahnya itu di sungai.

"Hai Herman, lihat senjataku ini," seru Greg kepada Herman yang sedang mandi
"Bagus benar senjatamu. Siapa yang membuatnya?" tanya Herman.



"Ayahku yang membuatnya. Bagus, kan?" jawab Greg.
"Bagus sekali, mirip senjata asli. Bagaimana kalau aku mencobanya? Aku ingin menyelam dan menembak ikan besar di tengah itu. Boleh, kan?" pinta Herman.

"Tidak boleh. Kata ayah, senjata ini tidak boleh dipinjamkan ke sembarang orang. Nanti rusak," jawab Greg.
"Ya sudah, tidak apa-apa," ujar Herman pasrah. Greg mulai mencoba senjatanya dengan menmbak ikan-ikan kecil di pinggir.

***

"Ayo tembak ikan-ikan besar di tengah itu," ajak Herman sambil menunjuk ke tengah sungai di mana banyak ikan berkumpul.
"Aku tak bisa menyelam, Man. Aku hanya bisa menembak ikan yang di pinggir saja," jawab Greg.


"Wah payah. Percuma saja memiliki senjata bagus kalau tidak bisa menyelam," kata Herman.
"Aku punya senjata, kau bisa menyelam. Bagaimana kalau kita bekerja sama?" tawar Greg.

"Hei, hei nanti dulu. Bagaimana kalau aku ikut bergabung?" tawar Ito. Dia baru saja tiba di sungai. Dia membawa kacamata selam, sebatang kawat panjang dan sejumlah karet gelang.

"Mulanya aku ingin menembak ikan sendirian. Tetapi melihat kalian membawa senjata, aku jadinya ingin bergabung dengan kalian. Kalian bisa gunakan kacamata selamku. Jika kalian lelah, aku bisa menggantikan kalian menyelam. Bagaimana, setuju?" tanya Ito.

Herman dan Greg mengangguk hampir bersamaan.
"Bagaimana dengan hasilnya nanti?" tanya Greg.
"Gampang, tinggal dibagi tiga," jawab Ito enteng.

***

Herman mulai menyelam jauh ke dalam mendekati tempat ikan-ikan berkumpul. Gerakannya perlahan agar ikan tidak terganggu oleh kehadirannya. Dengan cepat panahnya menembus tubuh ikan yang besar. Ikan lain berlarian. Herman berenang kembali ke permukaan.

Kawat panah berisi ikan diserahkannya kepada Greg. Greg lalu mengambil ikan itu dan menusuknya dengan kawat yang dibawa Ito tadi. Herman kembali menyelam mencari sasaran berikutnya.

Setelah cukup lama menyelam, Herman akhirnya minta digantikan Ito. Greg memperhatikan ikan hasil buruan mereka, ternyata sudah mencapai tiga perempat panjang kawat yang dipegangnya. Belum lama menyelam Ito sudah memberikan hasil buruan kepadanya.

Karena kawatnya sudah penuh, maka ikan-ikan yang sudah mati terpaksa dikeluarkan dari kawat dan ditaruh di atas batu. Sementara kawat itu kembali digunakan untuk menusuk ikan yang baru.

Tanpa mereka sadari hari hampir malam. Mereka pun menghentikan perburuan mereka dan membagi hasilnya secara adil. Greg lalu menusukkan ikan-ikan bagiannya pada kawat senjatanya. Dia ingin menunjukkan hasil buruannya pada ayah.
"Wah, banyak benar ikannya Greg. Tak percuma ayah buatkan senjata untukmu," puji ayah.

"Sebenarnya ikan-ikan ini bukan hasil dari tangan Greg sendiri. Ikan-ikan ini diperoleh dari hasil kerja sama Greg dengan teman-teman yang pandai menyelam dan yang mempunyai kacamata selam, yah," jawab Greg jujur.

"Anak ayah yang satu ini sungguh cerdas. Saat kamu ke sungai tadi ayah sudah menduga kamu akan pulang tanpa hasil. Karena ayah tahu kamu tidak bisa menyelam. Tapi berkat kecerdasanmu kamu berhasil memperoleh ikan sebanyak ini. Berikan ikan-ikan ini kepada ibumu untuk dijadikan lauk kita malam ini," kata ayah bangga. (*)

Pos Kupang Minggu 28 Februari 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda