OBSESI untuk bermain musik dan mendirikan studio rekaman, Calvin Record sudah menyata. Bermain musik sudah bertahun- tahun ia jalani. Sedangkan studio rekaman baru sekitar tiga tahun ini. Kini, nama Lamber Seran, atau yang populer dipanggil Berlan sudah menjadi brand.

Menyebut namanya, siapa pun akan mengakui debutnya dalam dunia musik. Beberapa musisi dan penyanyi nasional mengakui kelebihannya bahkan ingin memboyongnya ke ibu kota. Berlan menolaknya. Meski kondisi tubuhnya tak sempurna-- sebagai penyandang tunanetra-- tak menjadikannya patah semangat.
Bahkan ia jauh sempurna bila dibanding dengan manusia normal. Begitu banyak pendapat yang mengakui kelebihan Berlan.

Berlan menapaki perjalanan hidupnya dengan suka cita meski diakuinya duka pun tak pernah sepi. Dinamika inilah yang membentuknya menjadi seperti ini. Tegar dalam menghadapi "warna- warni" kehidupan. Yang pasti bahwa lelaki kelahiran Besikama, Kabupaten Belu, ini memiliki begitu banyak keterampilan. Meng-arranger musik dan keterampilan lain yang ia peroleh selama bergabung di Panti Sosial Kupang sekitar 10 tahunan.

Suatu ketika Pos Kupang mengontak dan menanyakan seadanya. "Apakah Bung Berlan sudah bangun tidur atau belum tidur?" Ia menjawab, "Oh, saya sudah bangun tidur sejak kemarin." Pertanyaan ini diajukan karena hampir tiap malam ia mete (begadang) di studio. Semua aktivitasnya berkaitan dengan recording. Atau terkadang bersama sesama musisi kota ini berdiskusi untuk saling memberi masukan atau saling meneguhkan.
Berikut petikan wawancara Paul Burin dari Pos Kupang dengan lelaki yang sudah menggarap puluhan, bahkan ratusan album ini. Petikan wawancara dilakukan di kediamannya di Penfui, Kupang, pekan kemarin.

Sebagai seorang tunanetra, Anda ternyata jauh sempurna. Mampu memainkan alat musik seperti drum, gitar elektrik, akuistik dan keyboard secara sempurna. Tanggapan Anda?
Penilaian itu berlebihan. Semua ini biasa saja. Saya jalani sebagai panggilan hidup. Sama dengan Anda menyuruh saya menyetir mobil kan tak bisa. Hidup ini saling mengisi. Saya bisa bermain musik, tapi tak bisa menyetir mobil atau sepeda motor. Atau sama dengan Anda menyuruh saya membaca, sungguh tak mungkin.

Apakah kondisi ini terbawa sejak lahir?
Sejak usia tiga tahun saya terserang serampah. Mama membawa saya berobat ke dukun. Dengan sirih pinang sang dukun menyemburkan ke mata saya kemudian membalutnya dengan sehelai kain. Tiga hari kemudian dua mata saya tak bisa melihat lagi. Itu menurut cerita orangtua dan keluarga saya di kampung. Saya sendiri sudah tak ingat lagi.

Anda menyesal dengan kenyataan ini?
Saya tak menyesal, bahkan tak menyalahkan siapa-siapa. Saya terima karena mungkin Tuhan memiliki kehendak lain atas jalan hidup saya. Bisa jadi ketika mata saya normal, saya tak bisa bermain musik secara baik. Jadi, ini sebenarnya jalan Tuhan. Kita memiliki jalan hidup berbeda-beda. Mata saya memang "mati", tapi kedua tangan dan seluruh perasaan saya hidup.

Kapan Anda berminat pada musik dan siapa yang mendorong Anda?
Sejak saya berusia 11 tahun saat mulai menghuni Panti Sasana Rehabilitasi Sosial di Kupang. Saya punya minat tinggi dan sungguh tertarik ketika mendengar bunyi keyboard. Hasrat dan keinginan saya tumbuh dengan sendirinya. Sampai- sampai saya pernah terkunci selama satu hari di kamar tempat alat musik itu tersimpan. Awalnya, saya bersembunyi di kamar itu. Tujuannya ingin bermain musik keyboard yang ketika itu masih menggunakan batu baterai. Sampai keesokan harinya saya terkunci di kamar itu. Tak juga makan dan minum. Ini karena keinginan saya yang begitu kuat untuk bermain alat musik ini. Ketika petugas membuka pintu keesokan harinya mereka terkaget-kaget. Yang menjadi soal adalah saya tak makan selama sehari. Saya seolah tak merasa lapar karena tenggelam dalam aktivitas latihan alat musik ini. Tetapi semua ini karena saya bermimpi bermain drum. Mimpi itu datang ketika saya masuk ke panti itu sedang ramai-ramainya latihan untuk mengikuti berbagai pertunjukan. Akhirnya saya minta instruktur agar diperkenankan bermain. Beberapa saat kemudian ketika saya mulai mahir, saya mengikuti berbagai pentas di berbagai kabupaten terutama di daratan Timor. Meski demikian, saya tetap mengikuti pendidikan di sekolah dasar luar biasa (SDLB) dan pelatihan keterampilan lain di panti.

Berapa lama Anda belajar musik keyboard hingga mahir?
Seperti saya ceritakan tadi, pertama saya belajar drum menyusul keyboard. Tahun 1986 saya masuk panti sosial. Ya, saya cukup mahir bermain keyboard sekitar tahun 1988. Tapi bermain musik bukan menjadi kewajiban. Di panti kami mengikuti begitu banyak latihan keterampilan. Tujuannya dan sesuai moto panti agar setelah keluar panti tak menjadi beban sosial bagi keluarga atau masyarakat. Harus mandiri. Banyak solusi yang ditawarkan. Kita membuat kasur, keset, anyaman dan masih banyak lagi.

Apakah Anda menguasai semua keterampilan itu?
Ya, harus. Karena itu menjadi hal yang utama. Sedangkan musik hanya ekstra saja. Kadang dalam seminggu kita tak latihan musik karena fokus pada kegiatan utama. Seorang tunanetra juga dikatakan profesional bila bisa memijit. Itu keterampilan yang mendatangkan uang. Memijat itu kebutuhan yang hampir sama dengan makan.

Bisa Anda ceritakan pengalaman awal saat mulai mengenal musik?
Soal musik ini banyak ceritanya. Ada yang saya lupa. Awalnya susah minta ampun. Pertama, kita masih banyak belajar, kedua, bersaing dengan banyak orang yang punya ambisi yang sama. Ketiga, dilema pengasuh antara ragu dan percaya. Keempat, saya mengalami dilema berkomunikasi. Bahasa Indonesia saya tak sempurna. Masih jatuh bangun. Jujur saja, saya anak dari desa. Bagaimana menyesuaikan diri dengan situasi di panti itu banyak sulitnya. Tapi, itu berjalan cuma sekitar enam bulan. Setelah penyesuaian di sana sini, saya akhirnya bisa bersosialisasi diri, apalagi potensi diri mulai muncul.

Siapa yang berjasa membesarkan Anda di bidang musik?
Saya menyebut nama Pak Frans Dethan dan Pak Anus Mesak. Dua orang ini juga tunanetra. Mereka lebih senior dan telah menguasai alat musik itu. Saya belajar banyak dari mereka. Mereka penyabar dan tak sungkan-sungkan memberi ilmunya kepada kami. Bagi saya, sepanjang ada kemauan kita akan sukses. Dan, instruktur melatih kita sesuai tren musik. Musik apa yang sedang tenar, ya kita dilatih.

Dalam bermain musik, apakah ada patron? Maksudnya apakah ada aliran musik tertentu yang Anda geluti atau minati?
Justru hal itu dilarang. Kita jangan terpaku pada salah satu jenis musik. Kita diberi kebebasan untuk belajar berbagai jenis musik. Yang penting kuasai dasar-dasarnya.

Sejak kapan Anda mulai terjun ke musik komersial?
Sejak tahun 1997 itu pasar rekaman. Kalau komersil, ya, sejak usia 12 tahun kami dibawa keliling daerah ini untuk bermain musik.

Bagaimana Anda memperdalam ilmu bermusik?
Kita sudah diberikan dasar-dasar bermain musik. Kemudian kita kembangkan. Belajar sendiri. Otodidak begitu. Mungkin karena kita punya bakat dan hobi sehingga dengan belajar sendiri kita bisa berkembang. Yang penting itu tadi, ada keinginan dan kemauan yang keras. Saya belajar not juga secara otodidak, otobemo, ototruk dan oto-oto yang lain (Berlan bercanda).

Kapan memulai bisnis rekaman?
Saya kemudian bergabung dengan Om Polce Pello dan Apris Hailitik di Studio Rekaman Galaxi di BTN Kolhua. Saya bekerja di sana selama tiga tahun atau hingga tahun 2000. Saya berprinsip, ilmu yang saya peroleh selama 10 tahun rasanya tak pernah habis. Saya mau lihat dunia luar seperti apa. Selama ini saya terkurung. Di studio saya sebagai arranger dan operator rekaman.

Lepas dari Pak Polce, Anda ke mana?
Saya ke Kefamenanu karena ada yang menawarkan menjadi operator rekaman. Yang bersangkutan ingin membuka studio. Sekitar tiga sampai empat bulan saya berada di sana. Selama itu saya berpikir mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Dan, ini menyalahi moto yang diajarkan di panti dulu. Jangan menjadi beban pada orang yang saya tumpangi. Akhirnya saya pulang Kupang dan masuk ke Studio Rekaman Verbum. Saya temui Bung Sisko dan meminta apakah boleh saya bekerja di sana. Saya menghilangkan semua beban rasa di pundak saya karena sebelumnya entah sadar atau tidak di Kupang hanya ada dua studio rekaman, yakni Verbum dan Galaxi. Jadi, tentu saja ada kendala-kendala psikologis, persaingan. Bung Sisko menjawab, "Nah, ini yang kami tunggu- tunggu." Saya bekerja di Verbum dari tahun 2000 sampai pertengahan tahun 2002. Saat bersamaan saya juga bekerja sama dengan Duta Musik, Kupang. Di Verbum saya sebagai operator dan pemain musik. Sedangkan di Duta Musik saya hanya sebagai pemain musik. Di Duta musik inilah saya mulai mengenal komputer. Saya mendapat tantangan luar biasa karena ada yang mengatakan bahwa saya tak bisa berkomputer karena rumit, apalagi saya tak bisa melihat. Dalam hati saya agak kecewa, tapi itu menjadi lecutan. Saya mulai berusaha. Saya cari solusi, metode untuk bagaimana menguasai komputer.

Bagaimana cara Anda mulai berlatih komputer?
Saya mendengar kabar bahwa di India sudah ada komputer yang dirancang khusus untuk tunanetra. Pertanyaannya, apakah software-nya bisa connect dengan multimedia di windows? Suatu ketika saya ke Atambua untuk garap musik. Di sana saya diajak oleh seorang teman untuk belajar komputer. Dia adalah Pak Remi Bria. Ia bertanya apakah saya mau belajar komputer. Saya jawab mau karena itu menjadi keinginan saya. Pak Remi mulai menunjuk perangkat komputer seperti mouse, monitor, printer, scan dan perangkat lain. Setelah pulang Kupang saya siap duit. Tak lama Pak Remi datang. Saya ajak ke toko dan kami beli komputer. Ternyata uang saya kurang. Teman saya membantu kekurangan itu. Total harga perangkat Rp 8 juta-an, uang saya cuma Rp 5 juta. Guru yang mau mengajar juga penuh kebimbangan. Ia ragu apakah bisa sukses menuntun saya? Dan, ternyata Pak Remi ini begitu sabar melatih saya. Malam pertama sampai malam keempat dia perkenalkan program windows. Masuk minggu kedua eksperimen ada yang datang minta garap album. Dan, saya merasa tertantang sebagai operator dan musik. Ini pengalaman pertama saya dengan komputer. Saya garap albumnya Pak Sius Manek. Dengan keberanian dan keyakinan dia bahwa beta bisa, maka semuanya berjalan. Sukses sampai master. Tentu Pak Remi masih memandu saya. Masuk minggu ketiga Pak Remi lepas tangan. Dia pulang Atambua. Saat pulang dia bilang, bulan kedua dia datang dan menguji secara tertulis. Saya terus belajar selain tetap bekerja di Duta Musik, Verbum dan Studio Rekaman Merpati milik Pak Daud Ludji. Saat ujian Pak Remi bertanya fungsi program ini apa saja? Setelah itu saya mulai menjalankan studio rekaman Calvin Record, milik saya. Nama studio ini saya ambil dari nama putra pertama saya.

Sejauh mana perkembangan musik di daerah ini?
Dulu, lagu daerah hanya disukai segelintir orang. Sekarang 65 persen disenangi semua kalangan. Ini karena sudah banyak studio rekaman yang tumbuh sehingga memudahkan siapa saja untuk membuat album pop daerah. Dulu, semua berkiblat ke Nirnawa Record atau studi rekaman lain di Jawa.

Sejauh pengamatan, banyak pihak yang menggarap musik dan merekamnya di Studio Calvin Record. Tanggapan Anda?
Saya tak tahu. Itu pilihan orang. Orang memberi kepercayaan kepada beta. Barangkali juga karena pelayanan saya yang baik atau terserah apa yang menjadi pertimbangan mereka. Selain itu mungkin karena nama. Saya menggunakan nama Berlan ini sejak tahun 1997. Artinya, jam kerja, jam terbang tak terlalu tua dan tak terlalu muda.

Anda menggunakan nama Berlan, apakah ada ceritanya?
Pada masa itu memang banyak yang menggunakan nama samaran. Nama Berlan ini diberikan Pak Polce Pello. Lamber dibalik menjadi Berlan. Kalau Pak Polce dibalik menjadi Ecape. Saya senang dengan nama ini. Tak menjadi soal.

Mungkin ada kritik terhadap lagu-lagu daerah kita?
Saya melihat secara keseluruhan baik lagu daerah maupun nasional. Sejauh pengamatan kami, kita di Indonesia ini memang jago menjiplak. Saya juga terjebak di dalamnya. Semua ini karena tekanan untuk hidup. Tapi kalau mau ikut kerja profesional, saya tak mau. Kalau mengambil sesuatu yang ada, lalu diadakan lagi itu menipu hati. Menipu rasa.

Sebenarnya kaitan antara lagu dan musik seperti apa?
Musik itu tak bisa dijiplak. Musik itu lahir berdasarkan lagu. Kalau ada yang datang mengatakan bahwa tolong garap musik dengan gaya Pance atao Obbie Messakh, saya tolak. Ini soal karakter. Pance atau Obbie Messak saat membuat lagu sedang dalam suasana batin lain. Akhirnya lahirlah lagu-lagu seperti itu. Dan, saya yakin sikap batin setiap pencipta lagu berbeda- beda. Jadi, agak sulit untuk meng-copi gaya musik itu. Saya boleh mengatakan bahwa karakter musik Bambang Santos di Nirwana Record tak sama dengan karakter musik saya. Boleh lagu itu seperti Obbie Messakh tapi yang nyanyi kan bukan Obbie Messak atau Pance.

Berapa lama Anda menggarap musik?
Tergantung suasana, situasi batin dan rasa. Musik itu lahir kalau kita sedang enjoy. Jangan dipaksanakan karena hasilnya nanti tak maksimal. Musik juga tergantung situasi dan kondisi kita. Hari ini saya menggarap lagu ini, namun entah mengapa ter-delete. Terhapus. Ketika saya garap lagi esok warnanya akan lain. Musik sangat tergantung situasi. Dulu situasi demikian, sekarang berbeda. Ketika kita putus pacar maka musik yang kita hasilkan sangat romantis. Datang lagi lagu yang sama tapi kita dalam kondisi riang. Otomatis musik yang kita hasilkan pun riang.

Ada yang berpendapat bahwa ketika lagu itu semakin baik, semakin menginspirasi arranger untuk bermain bagus. Tanggapan Anda?
Ini pendapat pribadi juga bisa, pendapat umum juga bisa. Musik atau lagu juga tergantung faktor usia. Sekarang siapa yang saya ajak kerja sama. Musik sebenarnya cerminan jiwa. Lagu juga merupakan cerminan jiwa seseorang. Saya tahu lagu ciptaan orang ini, saya akan tahu seperti apa jiwanya, karakternya.

Tugas seorang arranger itu apa?
Tugas itu berat. Sungguh berat. Harus bereinkarnasi dengan diri sendiri. Artinya, tak boleh terpengaruh dengan ini atau itu. Harus bebas dari segala pikiran. Perasaan yang membelenggu. Saya sendiri pun belum bisa. Masih di bawah pengaruh. Lagu-lagu daerah yang dibawakan masih itu-itu saja. Datang lagu tebe-tebe, dangdut, ya dangdut saja. Artinya, kita sebagai musisi masih bekerja di bawah tekanan pasar. Tugas kita sebagai arranger itu adalah menghasilkan musik yang tak ada menjadi ada. Sama dengan Tuhan membuat bumi ini. Dari yang tak ada menjadi ada.

Supaya musik bisa berubah?
Seorang arranger tak bisa kerja sendiri. Penulis lagu juga begitu. Kedua-duanya harus kerja sama. Artinya, ketika seseorang membawa lagu dan meminta tolong mengerjakan musik saya seperti Pance. Tinggal kita membangun argumen. Saya selalu katakan bahwa musik itu lahir dari lagu dan musik tak boleh diatur. Kalau mirip tak soal. Tapi kan tak sama kan? Saya bilang, semakin kita ditekan atau tertekan, improvisasi makin kurang.

Apa imbauan Anda terhadap musisi daerah ini?
Kita semua belajar lebih banyak. Belajar itu banyak aspek. Belajar tentang karakter penulis lagu sehingga kita akan dengan mudah membawa lagi itu kepada karakter atau jiwa penulis dan jiwa lagu itu. Dengan belajar dari waktu ke waktu, kita semakin berkembang. Kita semakin diterima dari aspek obyektivitas dan bukan karena sudah kelaziman. Seringkali karena musik yang ada itu ya diterima saja.

Siapa musisi yang Anda kagumi?
Kalau ditanya saya menyenangi musisi siapa? Saya jawab hanya Ricky Pangkarego. Dia itu sempurna.

Musik itu apa?
Dulu hiburan. Sekarang sumber nafkah yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Sebenarnya musik tak bisa membuat orang kaya, tapi yang membuat orang menjadi kaya adalah karyanya. Menjadi arranger itu karunia. Maka yang dibayar mahal adalah arranger dan bukan bermain musik. Kita memberi seluruh jiwa, hasrat dan kemampuan. Bukan separuh jiwa atau separuh hasrat atau separuh hati. *


Biodata:
Nama : Lamber Seran
Lahir : Besikama, Belu, 2 Juli 1976
Bapa : Salomon Leki (alm)
Ibu : Maria Hoar (alm)
Saudara : Lima orang
Istri : Matrona Papo
Anak : Calvin Seran (4), Mario Aranjer Seran (9 bulan)
Moto : Kami bersedia ditipu tapi tidak boleh menipu.


Minggu 28 Februari 2010

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda