Foto Ist
RABU ABU--Umat Katolik menerima abu pada Rabu Abu sebagai tanda permulaan masa puasa dan prapaskah


Tradisi Umat Kristiani Memasuki Masa Praspaskah

* Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Pakaianmu!!

Oleh Amanche Franck Oe Ninu, Arnold Ale Lema, Ama Damian Kii

UMAT Kristiani telah memasuki masa prapaskah. Masa prapaskah akan berlangsung selama 40 hari dengan kekhasannya sendiri. Masa prapaskah menjadi masa persiapan sebelum umat Kristiani merayakan hari raya paskah. Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari dihayati umat Katolik secara lain.

Pekan-pekan masa prapaskah disebut juga waktu ret-ret agung. Mengapa demikian? Ketika memasuki masa prapaskah umat beriman Kristiani dihadapkan dengan permenungan tentang sengsara Kristus. Berpuasa dan berpantang selama 40 hari menjadi warna yang khas dalam masa liturgi ini.

Asal-usul dan isi prapaskah sendiri sudah lama hidup. Pada abad ketiga atau awal abad keempat, praktek ini sudah muncul di Mesir. Awalnya bukan untuk mempersiapkan paskah tetapi untuk merayakan puasa Tuhan di padang gurun, sesudah pembaptisan-Nya di Sungai Yordan. Kisah biblis memberikan gambarannya.

"Yesus yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya...selama di situ Ia tidak makan apa-apa" (Lukas 4: 1-2, Bdk. Matius 4: 1-11, Markus 1:12-13). Kemudian Prapaskah segera mendapat bentuknya berupa persiapan tobat untuk merayakan wafat dan kebangkitan Tuhan.

Pada awalnya puasa ini dilakukan dengan keras, orang hanya diizinkan makan satu kali menjelang petang, tanpa boleh makan daging, ikan, dan makanan yang berasal dari susu.
Orang-orang Kristiani dari Gereja Timur masih mempertahankan disiplin puasa yang ketat seperti di atas. Gereja Bizantium sendiri memiliki penekanan khusus terhadap pekan-pekan masa prapaskah.

Minggu prapaskah pertama adalah pesta ortodoksi, yang menandai kemenangan terhadap kaum Ikonoklas dan bidaah-bidaah yang lain. Minggu kedua adalah pesta Santo Gregorius Palamas (1296-1359 ); dan pada minggu ketiga diadakan penghormatan salib. Pada hari Jumat pekan kelima dinyanyikan Akatistos (salah satu nyanyian pujian yang paling tua dan indah. Biasanya pujian ini dinyanyikan sambil berdiri dalam ibadah hari Sabtu sore menjelang minggu kelima masa prapaskah di Gereja Yunani). (Gerald O Colins, SJ dan Edward G. Farrugia, SJ, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996)
Dalam tradisi Kristen, puasa yang berlangsung selama 40 hari ini dirayakan juga beberapa upacara.

Rabu abu menjadi perayaan pembuka seluruh rangkaian puasa selama 40 hari. Praktek yang sekarang berlangsung dalam Gereja ditetapkan pada abad ke-7. Disebut rabu abu karena pada pembukaan masa prapaskah umat katolik seluruhnya menerima abu pada dahi yang diberikan oleh para imam. Abu melambangkan kefanaan manusia, ketakberdayaan manusia, lambang metanoia, dan tanda bagi umat Kristen untuk mengarungi padang gurun menuju oase sejati Paskah Kristus.

Jalan Salib
Selama masa Prapaskah umat Kristiani melaksanakan upacara jalan salib. Upacara jalan salib ini dalam tradisi Kristen Katolik dijalankan pada hari jumat setiap pekan selama masa pra paskah. Dengan menjalankan jalan salib, umat dihantar untuk merefleksikan tentang kisah sengsara Tuhan.

Jalan salib adalah kesempatan merenungkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus. Ini melibatkan umat Kristen Katolik secara menyeluruh. Tema dasar pertobatan selama masa Prapaskah ditunjukkan juga dengan warna dasar liturgi yang ada.

Warna ungu menjadi warna liturgi untuk masa Prapaskah. Bacaan-bacaan yang diperdengarkan dalam perayaan selama masa Prapaskah juga selalu berisikan pesan pertobatan. Hal ini sekaligus mengarahkan umat untuk menghayati secara mendalam dimensi pertobatan itu. Tidak hanya bacaan, dan warna liturgi yang mengggambarkan pertobatan. Konsistensi nyanyian juga turut memaknai prapaskah sebagi masa hening yang agung.

Dalam jangka waktu 40 hari ini, orang dihantar untuk sungguh menghidupi semangat pertobatan. Pertobatan itu merupakan pembaharuan yang integral. Pembaharuan yang integral itu mencakup tiga relasi utama manusia. Relasi manusia dengan Tuhan, relasi dengan sesama dan relasi dengan seluruh alam semesta. Selama masa Prapaskah manusia perlu berjuang untuk memperbaiki tiga relasi utama tersebut.

Metanoia dengan Tuhan ditunjukkan dengan puasa yang berlangsung selama 40 hari. Melalui bacaan, nyanyian, doa, puasa,dan aksi nyata, umat disadarkan untuk membangun relasi yang harmonis dengan Allah. Itu berarti masa puasa dilihat sebagai tindakan berbalik dari dosa dan mengarahkan diri kepada Allah.

Bagaimana metanoia dengan sesama manusia dan alam semesta? Ketika seorang berbalik kepada Allah sebenarnya dia harus memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia dan juga dengan seluruh alam semesta. Untuk orang Katolik, pembangunan kembali hubungan yang harmonis dengan sesama bukan suatu hal yang baru selama masa Prapaskah.

Kepedulian dengan sesamanya menjadi bukti konkret bagaimana manusia kembali membangun relasi yang mantap dengan sesamanya. Secara suka rela orang memberikan sumbangan. Pemberian dengan suka rela kepada yang membutuhkan menggambarkan kepedulian dengan sesama manusia.

Membangun hubungan yang harmonis dengan sesama saja tidak cukup. Kepedulian dengan alam semesta juga sangat diharapkan. Penghijauan tempat-tempat tertentu dan bentuk perhatian tertentu terhadap lingkungan sekitar memberikan nuansa yang mendalam selama masa prapaskah.

Kegiatan Hidup Dalam Keluarga
Untuk mewujudnyatakan Puasa Tahun ini, Gereja katolik mengangkat tema umum: Kesejatian Hidup Dalam Keluarga.Tema ini diharapkan mampu menghidupkan nilai-nilai Kristiani sejati dalam keluarga, serta menjadikan keluarga sebagai lingkungan yang melahirkan pribadi sejati yang beriman, cinta keadilan dan perdamaian. Keluarga-keluarga Katolik diharapkan pula membangun jaringan kerja sama menggereja dan memasyarakat demi kebaikan bersama, serta mampu mengupayakan kemandirian dalam iman dan karya.

Prapaskah adalah jalan salib menuju jalan kemuliaan. Prapaskah adalah perjalanan iman menuju inti keimanan Paskah. Prapaskah adalah kesempatan kairos untuk berbenah diri dalam tata menggereja dan memasyarakat. Prapaskah seturut seruan Sang Nabi Yoel adalah mengoreksi isi hati, lubuk kehidupan terdalam dan bukan sekadar mengubah tampilan jasmaniah.

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!! Selamat menjalani masa prapaskah. Selamat mengarungi padang gurun iman kita. Per Crucem Ad Lucem. Melalui Salib Menuju Kemuliaan.

Trio Penulis adalah Frater Calon Imam, tinggal di Unit Filadelphia Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui Kupang.


Pos Kupang Minggu 28 Februari 2010, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda